Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 112


__ADS_3

" Maaf sebelumnya, dalam pembahasan yang dikatakan Mbak Wulan ini, Kok saya merasa akan dirugikan oleh anda ya." ucap Sarla dengan beraninya mengatakan hal yang membuat hatinya ragu.


Wulan berusaha menanggapi pertanyaan istri kedua Daniel, dengan tetap tersenyum. Berusaha mencari cara lain agar Sarla tertarik.


" Padahal saya merasa tidak ada yang dirugikan loh, dari pembahasan saya ini semua dapat keuntungannya masing-masing."


Sarla berusaha mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Wulan, di mana Ia tetap yakin pada hatinya bahwa rencana yang diberikan oleh Wulan, pada ujungnya akan merugikan dirinya sendiri. "


" Jadi gimana Sarla, apa kamu setuju dengan perkataan saya begitu rencana saya."


keraguan saat ini benar-benar menyelimuti hati dan pikiran Sarla, dengan ketegasannya ia kini menolak.


" Maaf sekali lagi mbak. Sepertinya saya tidak bisa menjalankan rencana yang Mbak berikan kepada saya, karena tidak ada jaminan yang membuat hati saya tergiur."


Wulan tampak kesal dengan tutur kata yang diberikan oleh istri kedua Daniel itu. " kenapa kamu malah menolak rencana saya. Apa kamu tidak akan menyesali semuanya, saya berniat baik membantu kamu untuk bebas dari jeratan suami saya."


"Saya tahu, niat anda memang baik, tapi apa anda bisa menjamin, setelah saya bebas dari jeratan Daniel, apa saya akan menikmati hidup saya."


Perkataan Sarla, membuat Wulan diam, wanita muda yang menjadi istri kedua Daniel ini memang bijak dalam mengambil sebuah keputusan.


"Mbak Wulan."


Sarla menyentuh tangan Wulan, membuat wanita itu tersadar akan lamunannya, " Eh, iya."


"Loh, kenapa anda malah melamun, apa anda mencerna perkataan saya. "


Wulan tampak malu, memang apa yang dikatakan ada benarnya, menyusun rencana tanpa melihat resiko akan membuat seseorang malah terjatuh dari kesengsaraan, atau malah menderita pada unjungnya.


"Mbak Wulan, mbak jangan kuatir, saya ini bukan wanita yang plin plan, setelah memiliki seorang anak, saya pasti akan pergi jauh jauh dari kehidupan kalian, bukannya yang diminta Daniel hanyalah sebuah anak."


Menatap ke arah Sarla, perkataannya sungguh menyentuh hati, " Oh ya, Mbak Wulan, saya sebenarnya heran, kenapa Daniel ingin sekali mempunyai anak dari saya, sedangkan Mbak sudah mau melahirkan anak Daniel?"


Perkataan Sarla sebenarnya sulit untuk dijawab oleh Wulan, karena kenapa, ada kesalah yang membuat anak dalam kandungan Wulan tak di terima Daniel.


"Mbak."


"Ahk, iya. "


"Perasaan dari tadi Mbak diam saja, kenapa?"


"Jika aku berkata jujur kepada kamu, aku takut kamu malah mentertawakanku!"

__ADS_1


Sarla merasa heran dengan jawaban Wulan, ia mengerutkan dahi, " Mentertawakan, bukannya kita ini sesama wanita ya, ada baiknya saling menyadari diri sendiri. "


"Ya, kita sama sama wanita, tapi terkadang banyak wanita yang saling menjatuhkan satu sama lain. "


Perkataan mereka kini berpacu dalam ketenangan, tak ada keributan dan saling hina satu sama lain.


"Memangnya apa yang mbak inginkan, sampai menyusun rencana beresiko itu."


"Aku ingin Daniel utuh menjadi miliki, tidak terbagi dengan kamu."


Deg ....


Mengusap dada, Sarla mengerti perasaan Wulan, karena sejatinya ia juga terpaksa.


"Sarla."


Wulan memegang kedua punggung tangan Sarla, berharap kepadanya, mencari jalan solusi agar Daniel tidak membenci Wulan dan anaknya.


Tapi Sarla tak mengerti, karena ia tak tahu cerita sebenarnya, hingga melepaskan tangan Wulan," Saya belum tahu cerita mbak dan alasan mbak. "


Wulan menarik napas, mungkin dengan berkata jujur, wanita bercadar dihadapannya akan mengerti.


Perlahan air mata jatuh, setiap kali penjelasan dan ceritanya Wulan ia katakan pada Sarla, tampak istri kedua Daniel itu tak menyangka, ia baru tahu ceritanya yang sebenarnya.


Pantas saja Sarla sering merasa jika Daniel kadang menyindir istrinya pertamanya dihadapan Sarla dan menekan Sarla untuk membuat anak.


"Apa kamu akan mempertahankan Daniel setelah tahu ceritaku dari awal, memang aku ini terhina, menjijikan. Melakukan perbuatan keji itu, tapi percayalah ini diluar dugaanku."


Sarla hanya bisa menangkan hatinya, " Mbak Wulan, mbak tak usah takut, saya sudah katakan berulang ulang, sata tidak akan mempertahankan Daniel setelah kontrak saya selesai, karena saya hanya menikah dengan suami Mbak, hanya sebatas kontrak."


Wulan berharap jika perkataan Sarla tak berubah setelah munculnya seorang anak dari rahimnya, karena sejatinya ucapan manusia dan pikiran manusia bisa berubah ubah, apalagi jika membahas tentang perasaan.


"Oke, saya pegang ucapanmu itu. Tapi jika nanti kamu memiliki anak dari Daniel, tolong tinggalkan dia segera mungkin, jangan mengambil pilihan yang malah akan membuat saya sakit hati."


"Baik Mbak."


Terlihat sekali, Sarla seperti orang yang bisa dipercaya oleh Wulan, dimana senyuman tergambar dari diri mereka berdua.


Sarla kini berkata," bagai mana kalau kita mengerjai Daniel habis habisan. "


Wulan tersenyum sinis, ia setuju dengan ide yang dikatakan Sarla," bisa bisa, kayanya bakal seru."

__ADS_1


" Mbak Wulan tahu sendirikan, kalau Daniel itu orangnya keras, dia pengen enak sendiri, tak merasakan perasaan istrinya. "


"Benar apa kata kamu, aku juga sadar, saat ini. Jika Daniel bukan lelaki yang harus di kasihani, karena dia sudah tidak mempelakukan aku dengan baik, apalagi Daniel sudah berniat balas dendam hanya karena satu kesalahanku."


"Begitulah laki laki egois."


Dari percakapan mereka berdua, kini Wulan dan Sarla berdrama. Karena Daniel bangun dari pingsannya.


"Sarla."


Memegang Kepala, Daniel melihat Sarla menjambak Wulan, dimana Wulan sengaja meringis kesakitan.


"Wulan, Sarla."


Berusaha bangkit, untuk menenangkan mereka, kini Daniel berteriak memanggil Satpam.


"Satpam."


Teriakan Daniel seakan diabaikan oleh pak Satpam di luar, dimana Daniel murka dan juga kesal, karena tak ada yang membantunya memisahkan istri istrinya itu.


"Dasar kamu istri pertama tak berguna."


Sarla demi membantu Wulan agar di mengerti dan disayang lagi oleh Daniel, terpaksa menyiksanya, karena ini jalan satu satunya agar melihat kepedulian Daniel pada Wulan.


"Sayang, tolong aku, sakit. "


Meringis kesakitan, Daniel berusaha melepaskan tangan Sarla yang semakin mencekaram rambut panjang Wulan.


"Sarla, tolong lepaskan Wulan sekarang juga."


"Tidak akan, siapa suruh dia datang ke sini, mengangguku saja. Kamu juga harusnya adil dong, jika sekarang ada di rumah istri pertamamu, jangan malah ke sini terus. "


Sarla seakan menasehati Daniel untuk sadar akan kelakuannya yang selalu menyakiti istri pertamanya, " Daniel, tolong aku. Kenapa kamu malah diam saja cepat lepaskan tangan istri keduamu ini. "


Daniel tampak kebingungan sekali, ia baru kali ini menangani keributan seorang wanita dihadapannya, karena bagi dirinya ini semua terasa sulit.


"Sarla, ayolah hentikan, Wulan ini sedang hamil, jangan siksa dia."


Sarla berpura pura semakin menjadi jadi, dimana Daniel, terpaksa medorong istri keduanya, hingga terjatuh pada sofa.


"Daniel, tak akan aku biarkan ya."

__ADS_1


__ADS_2