Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 123


__ADS_3

"Bagus, rencana sudah berjalan dengan sempurna, tinggal Mama Dera merasakan amarah papah, enak saja dia selalu menjadi yang terdepan, sedangkan aku dan kak Sarla seperti tak di pedulikan. " Gerutu hati Lilia, setelah memberi tahu pembantunya itu.


Lilia kini berjalan untuk melihat pemandangan yang akan terjadi antara Mama tiri dan papa kandungnya.


"Sepertinya akan seru."


Gunawan mulai memperhatikan istrinya yang tengah mengobrol, dimana Lilia berusaha memberi kode tatapan pada Sarla, agar melayangkan aksi mendadaknya itu.


Satu jempol diperlihatkan Sarla, waktunya beraksi, "Mama memangnya tak pernah dibelikan barang mewah sama papah apa?"


Dera terlihat kebingungan antara berkata jujur dan berbohong, jika memang pada kenyataanya Dera tak pernah dibelikan barang mewah begitupun dengan keinginannya. Dan lagi bukan hal itu saja, untuk mengganti giginya yang ompong, Gunawan begitu pelit.


Padahal mengganti gigi palsu tak butuh uang meliaran, hanya jutaan saja, sampai Dera hanya menambal dan menambalnya lagi, terus menerus, hingga susunan giginya itu seperti cap tembok yang bergumpal di tengah tengah.


Dera mulai membalas perkataan anak tirinya, sembari mengusap ngusap guci mewah milik Sarla, ia begitu terpana akan barang unik yang ia pegang.


"Papah kamu pelit, boro boro beliin barang ke gini, minta buat ganti ni gigi gak di dengarnya."


Tersenyum sinis di balik cadarnya, sang mama tiri kini terpangkat dalam jebakan Sarla dan Lilia.


"Sarla kira papah baik sama mama, soalnya papah sama almarhun dulu royal banget loh."


Dera seperti memedam rasa benci, setelah mendengar hal itu. " Masa ia, kamu hanya melihat dari sisi di mana Papa kamu sedang baik. "


Gunawan yang mendengar perkataan Dera, membuat kedua tangan mengepal erat, sebagai seorang suami memberikan apapun untuk Dera seperti tak di hargai.


Padahal apapun yang diinginkan Dera selalu dipenuhi oleh Gunawan, walau mungkin waktunya yang cukup lumayan lama untuk menunggu.


Dera masih memperlihatkan kesedihannya, Iya sengaja melakukan hal itu, agar mendapatkan rasa kasihan dari anak tirinya.


"Karena Mama suka dengan itu. Ya sudah Mama ambil saja."


Sarla memberikan Guci yang berharga ratusan juta itu kepada Mama tirinya, memang selama menikah dengan Daniel, barang unik apapun yang Sarla suka selalu dibelikan olehnya.


kebutuhan keinginan sudah terpenuhi oleh Daniel, Sarla selalu merasa cukup, makanya ia tak pernah menuntun.


Dera yang sembari memeluk Guci itu dari tadi, membuat ia merasa senang. " Yang benar. "


"Iya."

__ADS_1


mengganggukan kepala hingga di mana.


"DERA."


Suara sang suami terdengar nyaring pada kedua telinga Dera, tampak wanita tua itu terkejut sembari menatap sekilas ke arah suaminya


"Gawat, Mas Gunawan. Apa dia tadi mendengar perkataanku ya?" Gumam hati Dera.


Ya mulai mendekati Sarla, sembari memegang guci itu, " Sarla, kamu tak usah repot-repot membelirikan guci ini pada mama."


Sarla mengerutkan dahi, mendengar perkataan mama tirinya yang berbeda. Dimana Gunawan terus mendekat ke arah mereka berdua.


Berdiri di hadapan sang istri, Gunawan kini merogoh kedua saku celananya, ia memperlihatkan raut wajah kemarahan di hadapan sang istri.


Sarla mencoba membuat suasana semakin panas," loh. Bukannya mama tadi yang ngomong ya, katanya mau guci seperti ini? soalnya kan Papa tidak pernah membelikan kemauan mama."


Deg ....


Dera mencoba memberikan kode pada anak tirinya agar tidak mengatakan hal yang tadi diungkapkan olehnya, beberapa kali memperlihatkan telunjuk tangan yang ia tempelkan pada bibir.


Sarla berpura-pura tak mengerti, ia semakin membuat suasana tak berpihak pada mama tirinya.


Sarla berusaha membuat sang mama tiri terpojok dan tersalahkan.


"Anak ini kenapa sih nggak mengerti kode kerasku ini. " Gerutu hati Dera.


Sarla mencoba memegang mata sang mama, melihat apa yang sudah membuat kedua mata Dera mengedip ngedip.


"DERA."


Panggil kembali Gunawan, membuat hati dan pikirannya Dera tak karuan, Gunawan membulatkan kedua matanya, melipatkan kedua tangan.


Sarla yang memang berpura-pura sok polos, kini berucap, " ma, kok diam aja, itu Papa manggil loh dari tadi. "


Dera seakan membuang muka di hadapan suaminya, ia terlihat begitu ketakutan sekali. Jika Gunawan akan memarahinya dan banyak bertanya, jika itu terjadi, hilanglah jatah bulanan untuk Dera pergi ke salon.


Dera berharap jika anak tirinya itu tidak terus memancing keributan antara kedua orang tuanya, tapi ternyata Sarla semakin menjadi-jadi, ia memojokan Dera bersama Gunawan.


"Sarla, Kamu ini bagaimana sih. Bukannya kamu yang memaksa Mama untuk mengambil guci ini?"

__ADS_1


Saat itulah Lilia datang, semakin mengarahkan Dera agar bertengkar dengan Gunawan sang papa." Mama, jangan gitu dong, jelas Mama yang memohon-mohon ingin guci itu dari Kak Sarla, Mama juga kan yang bilang, kalau Papa itu pelit tidak pernah membelikan keinginan Mama yang Mama mau."


Dera membulatkan kedua matanya pada Lilia, ia berusaha menutup mulut anak tirinya itu.


"Pah, Kamu jangan terlalu percaya dengan anak kecil, dia itu kadang-kadang suka berbohong. "


Dera berusaha mencairkan suasana, dengan lekukan senyuman pada bibirnya.


Gunawan masih saja tetap terdiam, ia menatap ke arah istrinya terus-menerus," mama, Lilia itu selalu berkata jujur, dia tak pernah berbohong loh, beda sama mama yang selalu berbohong."


Dera tidak punya tempat untuk dirinya membela diri, ia kini sendirian, tanpa perlawanan.


"Dera.Sudahlah akui apa yang kamu ucapkan tadi, aku sudah mendengar semuanya. "


Begitulah ketikan Gunawan sedang marah, ia selalu menyebut nama istrinya dengan panggilan nama.


Dera kini memegang tangan sang suami, memohon dengan penuh harapan, kalau perkataannya itu tidak benar.


"Papah, papa itu salah dengar, Mama tidak mungkin mengatakan hal itu. "


Gunawan menghempaskan tangan sang istri, ia terlihat benci sekali terhadap Dera, " Jangan pernah membohongiku lagi Dera, cepat katakan yang sejujurnya atau aku akan memberi kamu hukuman. "


Deg ....


Jalan satu-satunya Dera layangkan saat ini, ialah menangis lalu memohon-mohon meminta harapan, agar suaminya tak mendengarkan perkataan kedua anak anaknya.


" papah, tolong dengarkanlah perkataan Mama saat ini, jangan terlalu percaya dengan mereka berdua."


Sarla terus saja membela diri, di mana Gunawan hanya diam dan tak menjawab perkataan istrinya.


Bersujud, berharap jika Gunawan mau memaafkannya," Papa. "


Gunawan pergi begitu saja, Iya ingin menenangkan pikirannya, dari perkataan Dera yang menyakiti hatinya.


Dera berteriak memanggil sang suami, berharap jika suaminya itu menoleh kembali ke arahnya.


Namun, siapa sangka. Gunawan tetap saja acuh dengan teriakan Dera.


Sarla dan Lilia tertawa terbahak-bahak, setelah kepergian sang Papa yang sudah jauh dari hadapan mereka.

__ADS_1


Dera yang mendengar suara mereka berdua tertawa, menunjuk memberi isyarat ancaman," Kalian awas aja ya, aku akan memberikan kalian perhitungan."


__ADS_2