
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Daniel tak sabar ingin segera bertemu dengan Sarla, ia takut terjadi apa apa dengan sang istri.
"Semoga kamu baik baik saja, Sarla. "
Langit ternyata menurunkan hujan di jam malam, membuat jalanan sedikit tak terlihat, menyorotkan lampu, Daniel berusaha hati hati. Ia tak sabar ingin bertemu dengan Sarla.
Perjalanan yang cukup lumayan menguras tenaga, karena terlalu memikirkan Sarla, akhirnya Daniel sampai di tempat tujuan.
Membuka gerbang, pintu depan rumah terbuka, Daniel penasaran ingin melihat ke dalam rumah.
Sosok Sarla ternyata tengah dikelilingi satpam dan pembantu di rumah, sedangkan Lilia menangis.
"Sarla, bagaimana keadaanya."
Daniel melihat pembantu di rumah sudah basah kuyup, kemungkinan datang dengan terburu buru karena mendengar kabar dari Lilia.
"Kenapa kalian tidak membawa Sarla ke rumah sakit."
Pembantu hanya menundukkan pandangan begitupun dengan Satpam, dimana Sarla batuk lalu berkata, " aku tidak sakit parah kok, hanya lemas saja."
Daniel begitu menghuatirkan sang istri, terlihat ia menggenggam erat tangan Sarla. " apa kamu sudah makan?"
"Sudah!"
Daniel mulai bertanya kepada pembantunya itu," Bi, bukannya kata bibi tadi siang Sarla baik baik saja?"
Pertanyaan yang membuat pembantu itu tak bisa berbohong, " maaf Tuan. "
Sarla berusaha membela pembantu di rumahnya, " sudah sudah jangan salahkan pembantu di rumah, tubuhku saja yang lemah. "
Rasa mual itu tiba-tiba datang lagi setelah Sarla mencium bau minyak wangi.
"Huek, huek. "
"Sarla kamu kenapa?"
Wanita bercadar itu mulai bangkit dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Daniel merasa heran dengan perubahan istrinya, hingga satpam di rumah tanpa sengaja berucap, " apa jangan jangan Nyonya Sarla hamil."
Mendengar hal itu membuat Daniel terkejut apa lagi Sarla. Dimana pembantu di rumah sengaja menyenggol lengan tangan Satpam yang berada di sampingnya.
Memberi kode jika Sarla tidak mau kehamilannya diketahui Daniel. Mengerutkan dahi, " apa yang dibicarakan Pak Satpam ada benarnya, sebaiknya aku akan panggilkan dokter pribadi untuk kamu."
Sepertinya Daniel begitu bersemangat sedangkan Sarla hanya terdiam, ia takut jika Daniel tahu kehamilannya, akan semakin menjauhi Wulan dan membuat Wulan menderita.
"Tidak usah, besok akan aku cek lewat tespek saja. "
__ADS_1
"Kenapa? Hanya tespek. "
Pembantu di rumah ikut campur akan perkataan majikannya, " karena lebih akurat. "
Daniel yang memang tak pernah memiliki seorang anak hanya menganggukkan kepala tanda ia setuju dengan perkataan sang istri.
"Apa Wulan tahu, kamu datang ke sini?" tanya Sarla, mulai duduk di atas ranjang.
Mendengar hal yang diungkapkan Sarla, membuat Daniel menjawab. " Ya dia, tahu."
"Terus apa katanya. Apa dia tidak mengamuk. Bukannya sekarang masih jatah Wulan. "
Daniel sempat ragu, dengan terpaksa ia berbohong, "Mm. Dia mengizinkan aku datang ke sini. "
Sarla kini tak berkutik lagi, dimana ia menerima pesan dari Wulan yang sedikit tak menyenangkan.
( Apa bisa kamu menyuruh Daniel pulang, aku kesal padamu, apa bisa kamu berpura pura baik saja, jangan sok lebai seperti itu.)
Sarla memaklumi jika Wulan marah, walau mereka berdua sudah akur setidaknya, Wulan juga mempunya hak bersama Daniel sampai batas giliran Daniel ke rumah Sarla.
(Ya aku akan buat Daniel pulang, kamu tenang saja. )
Daniel mendekat, lalu memegang tangan Sarla dan berkata, " aku akan menemani kamu tidur. "
"Sebaiknya kamu pulang saja, aku bisa tidur sendiri. "
"Tapi keadaan kamu sedang tidak baik baik saja."
Daniel menundukkan pandangan, terlihat ia nampak menurut dengan perkataan Sarla, " baiklah aku akan menuruti apa perkataan kamu. "
Daniel menarik napas mengeluarkan terasa berat, malah ini ia ingin sekali menemani sang istri dan mendekapnya.
Melangkahkan kaki, lalu pergi dari hadapan Sarla, " aku pamit."
Daniel menatap ke arah Lilia, anak gadis berumur sepuluh tahun itu hanya melihatnya sekilas. " Lilia kak Daniel titip Kak Sarla ya. "
Lilia hanya menganggukkan kepala lalu berkata, " hati hati dijalan kak Daniel."
. Daniel begitu berat melangkahkan kaki, ia kuatir sekali dengan sang istri, pembantu di rumah yang biasanya pulang pergi kini berkata pada Daniel.
"Tuan, hati hati di jalan, takut licik. Hujannya deras."
"Terima kasih ya, bi. Saya titip Sarla. Kalau ada apa apa kabarin saya. "
"Baik Tuan. "
Daniel lalu pergi untuk segera menaiki mobil, dimana Sarla mendapat pesan lagi dari Wulan.
__ADS_1
(Aku harap kamu sadar akan setatusmu sebagai istri kontrak.)
Sarla sudah menyadari hal itu, makanya ia tak pernah berharap lebih pada Daniel.
(Ya Mbak, saya menyadari diri saya sendiri.)
(Bagus, jika kamu menyadari jika dirimu siapa.)
Sarla mulai melihat kepergian sang suami, dimana Wanita tua itu berkata pada Sarla. " Kenapa Nyonya malah biarkan tuan pergi, kasihan Tuan Daniel karena malam ini hujan begitu deras, beserta angin,"
" Sebenarnya aku menyuruh Daniel untuk menginap di rumah, tapi karena pesan dari istri pertamanya, membuat aku menyuruh dia untuk pulang."
pembantu tua itu tak bisa berkata apa-apa, Iya hanya bisa diam lalu pergi di hadapan sang nyonya.
Sedangkan Sarla masih berdiri di hadapan jendela, melihat kepergian Daniel yang sudah jauh.
Perasaanya tak karuan, hatinya merasa sesuatu akan terjadi pada sang suami.
"Mudah mudahan Daniel tidak kenapa kenapa. Hujannya begitu lebat. "
Wulan seakan puas setelah mengirim pesan pada madunya, yakini merebahkan tubuh sembari mengusap-ngusap pelan perutnya," papah kamu akan pulang. "
Wulan seperti tak punya rasa kuatir terhadap Daniel, ya tak tahu jika jalanan yang di tempuh Daniel sedikit berbahaya.
Wulan kini mengirim pesan lagi pada Sarla. ( Aku harap kamu selalu mengigat bahwa yang berhak memiliki Daniel itulah aku seuutuhnya.)
Sarla tak mengerti dengan pesan yang dikirim oleh Wulan, baru saja kemarin Wulan mengemis ngemis kepada Sarla menceritakan semua aibnya, sekarang Wulan malah mengirim pesan seakan miliknya tak ingin di rebut.
"Aku heran dengan Mbak Wulan ini. Dia kaya perempuan aneh, kaya depersi akut ya. Sifatnya bisa berubah begitu cepat."
Daniel mulai menelepon Sarla, dimana wanita bercadar itu langsung menganggkat panggilan telepon dari sang suami.
"Halo."
"Halo. Apa anda kerabat yang mempunyai nomor ponsel ini?"
"Iya saya istrinya, ada apa ya?"
"Suami anda mengalami kecelakaan tunggal di jalan mawar pertigaan bintang!"
Sarla tak menyangka jika pirasatnya benar benar terjadi, Daniel kini mengalami kecelakaan.
Ia tampan syok berat, perasaanya tak menentu, menjatuhkan ponsel, dimana pembantu di rumahnya langsung mengambil ponsel itu.
"Nyonya kenapa?"
Suara seseorang dari ponsel Sarla membuat pembantu yang selalu dipanggil Bibi itu kini menjawab. " Halo. "
__ADS_1
"Kami sudah membawa suami anda ke rumah sakit. "
"Baik baik, kami akan ke sana segera mungkin."