
Setelah mendapat panggilan telepon dari Alenta. Bi Siti begitu sibuk menyiapkan semuanya di rumah, ia mulai menyuruh para pelayan untuk tutup mulut agar tidak mengatakan jika Wulan habis pulang dari rumah sakit.
Lanjut Bi Siti perlahan mengajarkan Wulan untuk bisa berjalan normal, karena setelah selesai operasi caesar, Wulan harus banyak berhenti berdiri dan juga berjalan.
"Sakit bi, aku nggak sanggup jalan. "
"Nyonya, kalau nyonya nggak bisa jalan sekarang, Tuan Daniel akan curiga."
"Tapi bi, aku tak sanggup kalau harus bisa berjalan sekarang, apa tidak ada alasan lain?"
Bi Siti sebenarnya tak tega jika harus memaksa Wulan untuk bisa berjalan, ia berusaha mencari alasan agar Daniel tak curiga dengan keadaan Wulan.
"Ya sudah, Nyonya Wulan tak perlu memaksakan diri, Bibi nanti membuat alasan, agar Tuan Daniel percaya."
Wulan hanya menganggukkan kepala, sedikit meringis kesakitan, karena perutnya yang belum sehat seperti sedia kala.
Semua hidangan sudah tersedia di atas meja, waktunya menunggu Daniel untuk pulang ke rumah, perasaan gugup menyambut kedatangan sang tuan rumah, dirasakan wanita tua itu.
Apalagi dia merasa khawatir, dengan keadaan Wulan yang kurang baik. Bi Siti mendekat pada sang nyonya, " Nyonya, tenang ya."
Bi Siti melihat, raut wajah gelisah dari Wulan, mungkin ia ragu berhadapan dengan Daniel saat keadaannya seperti sekarang.
"Saya tahu Nyonya Wulan pasti memikirkan Tuan Danielkan, Nyonya Wulan takut berhadapan dengan tuan, karena keadaan nyonya yang seperti sekarang. "
Tebakan Bi Siti selalu benar.
Entah kenapa Bi Siti selalu tahu apa yang dirasakan Wulan, " Iya, bi."
Wanita tua itu berusaha menenangkan Wulan, agar tidak gugup dan tetap rileks. Merangkul bahu sang nyonya dengan bersikap santai.
"Gimana sekarang perasaanya?"
"Agak mendingan, bi. Terima kasih ya!"
"Syukurlah kalau agak mendingan, sebentar lagi tuan datang, nyonya siap siap ya."
"Iya bi. "
Mendapatkan pesan dari Alenta, membuat Wulan mempesiapkan diri, ia akan bertemu dengan Daniel, lelaki yang menjadi suaminya.
"Wulan."
Teriakan Daniel terdengar oleh Wulan, dimana lelaki berbadan kekar mencari keberadaan sang istri.
Alenta berharap jika Wulan dalam ke adaan normal, dimana ia tak mempelihatkan dirinya. Bahwa ia baru saja pulang dari rumah sakit.
"Wulan sayang."
__ADS_1
Wulan menampakan diri, dimana ia duduk pada kursi roda, tentunya membuat Daniel berpura pura terkejut.
"Apa yang terjadi dengan kamu?" Pertanyaan Daniel membuat Wulan terdiam, ia kebingungan sendiri.
Sampai akhirnya Bi Siti datang dan menjawab." Maaf sebelumnya Tuan, Nyonya Wulan trauma jadi ia tak bisa menjawab. Tadi nyonya tergelicir di kamar mandi, mengakibatkan kedua kakinya susah digerakan."
Daniel memegang kedua pipi istrinya," kenapa kamu tidak hati hati?"
Wulan merindukan perkataan manja Daniel, sampai sekarang ia mendapatkan lagi kemanjaan itu. "Aku merindukan Daniel yang dulu, dan sekarang sekarang Daniel yang dulu kembali lagi. " Gumam hati Wulan.
"Sayang, apa kejadian tadi membuat kamu tak bisa berbicara juga?" tanya Daniel pada Wulan.
Wulan tersenyum lalu menjawab, " tidak sayang, hanya saja aku merasa bahagia dan terharu melihat kamu sembuh lagi. "
"Aku kira kenapa? Kamu buat aku sedikit syok tahu tidak, " ucap Daniel, mencubit pipi Wulan.
Daniel berusaha melupakan rasa cintanya pada Sarla, ia harus menjalani hidup bersama Wulan, walau mungkin hatinya pernah tersakiti karena istri pertamanya sendiri.
Daniel juga harus sadar, jika mencintai Sarla adalah hal yang salah, karena ia terlalu memaksakan pernikahannya dengan Sarla.
Apalagi pernikahan itu di atas sebuah kertas perjanjian.
Bi Siti melihat pemandangan keduanya, merasa tenang dan bahagia, ia baru kali ini melihat pemandangan yang sudah lama ia ingin lihat.
Keakuran keduanya.
"Bagaimana promilnya, menyenangkan?"
Alenta duduk dengan wajah tegangnya, melihat Daniel berbicara seperti itu, membuat Alenta memberikan kode agar Wulan tetap santai menghandapi sang suami.
Menganggukkan kepala lalu membalas, " lumayan."
Daniel merasa bingung dengan sang ibunda Alenta, kenapa juga harus berbohong. Jika Wulan menjalani promil jelas jelas Daniel sudah tahu jika Wulan selesai melahirkan dan membuat janinnya mati.
"Ya sudah ayo kita makan, menikmati hidangan di atas meja," ucap Daniel. Suasana memang nampak tegang, mereka harus berpura pura menutupi semuanya, dimana Daniel pernah menikah dan menjalani rumah tangga dengan wanita lain.
********
Wulan merasa senang perlakuan Daniel kembali seperti dulu, kehagatan dan kasih sayang ia rasakan.
Hingga dimana. " Bekas apa ini?"
Pertanyaan Daniel membuat Wulan lupa, jika masih terlihat bekas luka ceasar walau sedikit.
"Ini hanya luka goresan."
"Oh."
__ADS_1
Mereka menjalani hari hari begitu penuh kebahagian, namun kebahagian itu terasa hambar bagi Daniel yang berpura pura hilang ingatan.
Semakin Daniel melupakan Sarla, semakin rasa cintanya semakin kuat, ia berusaha menjadi sosok lelaki yang berpegang teguh pada pendirianya.
Alenta datang dan berkata, " Daniel. "
"Ya bu. "
"Selama tiga bulan ini, apa kamu mengigat sesuatu?"
"Mengigat apa?"
Alenta berusaha mengigatkan Daniel akan Sarla secara perlahan, namun terhalang oleh Wulan.
"Bu, sudah jangan bahas hal itu."
Daniel sudah menduga jika istrinya tahu bawa Daniel hilang ingatan akan berusaha menjauhkan
"Bahas soal apa, memangnya Wulan?" tanya Daniel.
Membuat Wulan menjauhi topik pembicaraan dari sang ibu.
Wulan menarik tangan Daniel, untuk segera pergi dari hadapan sang ibunda.
"Wulan, tunggu. Bisakah kamu menjadi seorang istri yang tidak egois, karena ada hak seseorang yang harus Daniel tunaikan. Bukannya saya pernah bilang untuk sementara waktu kamu memposisikan diri membuat Daniel tidak terlalu memikirkan apapun, tapi kamu malah serakah."
"Bu, aku ini tidak egois, sebagai istri sah Daniel dan istri pertama Daniel. Aku punya hak sepenuhnya terhadap suamiku, bukannya ibu yang menyuruhku untuk menjadi diriku seperti dulu, tapi kenapa setelah aku menjadi diriku seperti dulu, ibu malah mengingatkan lagi Daniel kepada wanita itu. "
Daniel terdiam mencerna perkataan keduanya.
Wulan berusaha membela dirinya, agar tidak di sebut serakah. " Asal ibu tahu, Sarla datang menemuiku. "
"Cukup, Wulan."
Sang ibunda berusaha menegaskan Wulan untuk tidak berbicara lagi, apalagi membahas tentang Sarla.
" Aku tak peduli jika Ibu menyuruhku untuk diam aku akan meneruskan perkataanku tentang Sarla."
Daniel lelaki yang berpura pura amesia itu, hanya berdiri, ia penasaran dengan perkataan Wulan.
"Teruskan Wulan. "
" Aku berharap jika aku bercerita tentang ini kepalamu tidak akan sakit, aku akan menceritakan semua yang dikatakan wanita itu."
"Sarla, berhenti untuk tidak berbicara lagi,"
"Sarla sudah menyerahkan anaknya kepadaku, saat anak itu lahir. Dia akan meninggalkan Daniel, sudah cukup perkataanku ini, menyadarkan kalian, bahwa Sarla terpaksa menjalankan pernikahan bersama pria beristri?"
__ADS_1
Wulan tak bisa mengontrol diri, dimana Daniel yang berpura-pura amnesia itu, hanya bisa pasrah dengan kepura puraanya.