Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 179


__ADS_3

Ternyata percakapan keduanya didengar oleh Lilia, dimana gadis yang kini berumur 11 tahun itu, sudah menduga akan rencana yang disusun oleh mama tirinya.


" Sudah aku duga, pastinya Mamah Dera dan juga Lani sudah merencanakan sesuatu ketika mereka balik lagi ke rumah ini, tapi apa ya yang mereka rencanakan? Aku begitu penasaran sekali dengan bisikan Mamah Dera pada telinga Lani." gumam hati Lilia yang tengah mengentip pada balik tembok.


Sarla yang melihat adiknya, berjalan mendekat lalu mengagetkan Lilia begitu saja. " Dorrr. "


"Ahkk."


Lilia langsung menutup mulutnya, menatap ke arah Sarla. " kakak, kaget tahu." Lilia menempelkan telunjuk tangannya di hadapan Sarla.


"Husst."


Sarla mengerutkan dahi melihat tingkah adiknya sendiri, " ngapain sih lamu pakai acara, nempelin jari telunjuk segala. "


Sarla yang begitu jahil pada sang adik, kini meng -gerakan telunjuk tangan Lilia, menempelkan jari tangan itu pada hidungnya.


"Ihk, kakak jorok, ahkk." Lilia merengek seperti anak kecil di hadapan Sarla.


"Cup, cup. " Sarla malah sengaja, memukul-mukul punggung adiknya, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Idih, Kak Sarla malah ketawa lagi, kagak seru tahu. "


Sarla mengusap-ngusap rambut kepala adiknya," kamu ini lagi apa sih, serius banget. Pakai acara namplok di tembok segala, kayak cicak tahu. "


Lilia kini menarik tangan sarla untuk sedikit menjauh, " Lilia, ada apa?"


William membawa sang kakak menuju ke kamarnya, " Kakak diem jangan banyak tanya? Hust, Hust. "


Sarla menggaruk belakang jilbabnya, " apa sih Lilia Kamu ini nggak jelas banget dari tadi!"


Lilia menyuruh sang kakak untuk duduk, yang ingin memberitahu sesuatu hal yang sudah ia dengar.


"Kakak duduk dulu di sini, Lilia ingin memberitahu Kakak sesuatu, tapi Kakak jangan sampai marah, tahan emosinya dulu. Oke."


"Mm, kamu ini ada-ada aja." Sarla mencubit kedua pipi adiknya. " Aduhh, kak Sarla, sakit tahu. "

__ADS_1


Sarla kini kembali tertawa terbahak-bahak, " habisnya kamu ngegemesin sih dek, jadi kakak pengen cubit deh. "


"Idih, Lilia itu sudah besar kak, Lilia itu bukan anak kecil lagi, yang bisa digendong ke mana-mana dan dibilang orang-orang itu lucu-lucuan."


Sarla kembali tertawa mendengar sang adik berkata seperti itu. " Ya sudah sekarang kakak dengarkan dulu cerita Lilia, oke. "


"Mm." melipatkan kedua tangan lalu menatap sang adik. " Ya sudah Kakak sekarang diem nih, coba kamu mau menceritakan soal apa sama Kakak?"


"Oke, sekarang Lilia mau bercerita kepada kakak, Kakak sabar dulu. Lilia mau lihat ke depan."


Lilia takut jika percakapannya itu sampai didengar oleh sang mamah tiri begitupun dengan adik tirinya.


"Kamu ini kenapa sih, kayak orang yang habis maling tahu nggak."


"Ih kakak, kalau meledek adiknya itu bisa saja."


"Ya sudah, cepat ceritakan apa yang kamu mau ceritakan kepada kakak, sekarang kakak penasaran sekali."


Lilia mulai duduk di samping sang kakak, di mana ia mulai menceritakan semua yang ia lihat dan juga terdengar pada kedua telinganya.


Sontak cerita yang dilayangkan sama adik membuat Sarla terkejut, " ya ampun de, kamu jangan bercanda."


Mendengar perkataan sang adik, membuat Sarla langsung berdiri, ia memikirkan ucapan yang terlontar dari mulut adiknya, " Apa yang kamu katakan memang ada benarnya sih de, pertama kita melihat Mamah Dera itu terlihat masih sama saja seperti dulu, tidak ada perubahan sedikitpun. kesombongannya masih terlihat. "


Lilia mulai beranjak berdiri menyusul sang kakak, " itulah yang kini dirasakan Lilia Kak, kita yang tinggal di sini harus berhati-hati dan jangan sampai dibodoh-bodohi oleh mereka berdua. "


"Benar juga apa yang kamu katakan, kita harus waspada dan juga bertindak, sebelum Papa mempercayai mereka lagi. "


"Benar kak. "


Tok .... Tok .... Tok ....


Tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar, di mana Lilia dan juga Sarla yang berada di dalam kamar terkejut.


"De, Coba kamu lihat siapa yang datang."

__ADS_1


"Baik kak. "


Lilia menganggukkan kepala, untuk melihat seseorang yang mengetuk pintu pada kamarnya.


Setelah melihat pada jendela dalam kamar, Lilia mulai membuka pintu kamarnya," ternyata cuma Mbak Tari saja."


Tari tersenyum lalu menundukkan pandangan," maaf Nona Lilia, kalau Bi Tari menganggu, Ini pesanan Nona Lilia."


"Ya sudah, taruh saja di atas meja Bi. "


Tari mulai menaruh minuman yang dipesan oleh Lilia di atas meja, di mana pembantu baru itu berdiri di hadapan keduanya.


Sarla dan juga Lilia melihat Tari tiba-tiba saja berdiri di hadapan mereka, membuat keduanya saling menatap satu sama lain.


"Maaf sebelumnya, Nyonya Sarla dan Nona Lilia, saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin membuat kalian terkejut. '


Sarla penasaran dengan nada bicaranya, " mengatakan apa bi, coba Bibi katakan saja sekarang. Jangan membuat kita berdua ini penasaran. "


"Baik, saya akan katakan sekarang juga, dan maaf saja sebelumnya saya akan membahas tentang Nona Lani dan juga Nyonya Dera."


Mendengar pembahasan tentang Mamah tiri dan juga adik tirinya itu, Sarla dan Lilia, penasaran dengan cerita yang akan dikatakan oleh Tari.


"Coba katakan Bi, Kenapa dengan mereka berdua. apa mereka berdua sudah membuat bibi sakit hati atau membuat .... "


Tari memotong pembicaraan keduanya," bukan maksud saya memotong pembicaraan kalian berdua, ini bukan masalah tentang sakit hati. Tapi tentang kelakuan mereka semua semalam. "


" Memangnya mereka sudah melakukan apa?"


Tari mulai menceritakan semuanya, di mana Dera dan juga Lani merencanakan sesuatu yang jahat kepada keluarga Gunawan.


setelah mendengar cerita yang terlontar dari mulut Tari, Lilia kini menjawab," sudah Lilia duga dari kemarin, tangan mereka hanyalah sebuah bencana besar bagi kita."


" Kenapa ya mereka itu tidak ada habis-habisnya, selalu berbuat jahat kepada kita berdua. Apa tidak ada pikiran untuk menjadi sosok manusia yang baik. Padahal mereka itu sudah kita terima dikeluarga ini dengan baik, kita maafkan kesalahan mereka, dari kematian Ibu Wulan, kita terima semua yang mereka lakukan terhadap keluarga kita dengan Ikhlas, tapi apa balasan mereka itu benar-benar keterlaluan. Sepertinya kita sudah harus membalaskejahatan mereka, memberi mereka pelajaran yang setimpal."


Sarla sepertinya sudah terlanjur kesal kepada Lani dan juga sang mama tiri, iya kini tak memberi lagi kesempatan dan juga kata maaf untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Bi Tari, apa bibi tahu rencana mereka berdua sekarang apa?"


Tari menggelengkan kepala," Saya tidak tahu rencana mereka itu apa, hanya saja tadi bu Dera merekomendasikan seorang pembantu untuk bekerja di rumah ini kepada Tuan Gunawan."


__ADS_2