
"Hey, Gunawan kamu jangan lupa jika aku ini adalah adik dari almarhum istri kamu. Tak berhak kamu memperlakukan aku tidak baik seperti ini. "
"Kamu bilang apa tadi, aku tak boleh mempelakukan kamu tidak baik, jadi kamu ingin aku perlakukan seperti apa?"
Melipatkan kedua tangan, Wina memalingkan wajah lalu berucap, " kamu harus memperlakukan aku layangkanya seorang saudara dan tamu di rumah ini. Karena aku berhak atas rumah ini. "
Sontak Gunawan terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Wina. Ia mendekatkan wajahnya dihadapan Wina, " Apa maksud dari Perkataanmu itu, kenapa kamu berbicara bahwa rumah ini adalah hak milikmu. "
Wina. Berusaha menjauhi diri dari tatapan Gunawan," ini rumah adalah peninggalan kedua orang tua kami berdua, dan aku yang memegang sertifikat rumah ini, sedangkan sertifikat yang kamu pegang itu, hanyalah sertifikat tanpa tanda tangan. "
Sudah lama memang Gunawan tidak pernah mengecek sertifikat rumah yang selalu disimpan rapi oleh istrinya, yang ia pikirkan adalah kebahagiaan dunia bersama Dera, setelah kematian istri pertamanya itu.
Dan ia tak tahu begitupun jelas dan kurang mengurusi masalah sertifikat. " Oh ya Gunawan kamu jangan lupa juga, jika perusahaan yang kamu kelola itu adalah perusahaan almarhum istri kamu sendiri, yang belum sepenuhnya diberikan dan dibagikan oleh kedua orang tua kami. "
Terlalu bekerja keras untuk menggapai sebuah cita-cita, Gunawan sampai lupa hak milik istri dan juga dirinya sendiri, sebenarnya Gunawan bukanlah orang kaya, dia hanya beruntung saja mendapatkan Maya dan bisa mengangkat derajatnya menjadi seorang CEO.
Wina kembali lagi bertanya pada lelaki yang berada di hadapannya itu," apa kamu belum paham dengan perkataanku, atau Kamu memang tidak mengerti sama sekali yang aku jelaskan. "
Mengepalkan kedua tangan dengan begitu erat, Gunawan tampak murka sekali dengan perkataan Wina," jika memang perkataanmu itu benar, Coba sekarang kamu buktikan semuanya."
Gunawan menantang wanita yang ada dihadapannya untuk menunjukkan bukti kuat tentang hak milik rumah yang ia tempati.
Wina tersenyum sinis, ia membalikkan badan untuk berjalan ke arah kamar, seakan ingin menunjukan hal yang tak terduga.
Mencari barang bukti yang ia maksud dan langsung menyerahkannya begitu saja pada Gunawana.
"Ini apa?" Perlahan Gunawan melihat satu lembar demi lembar dan membacanya.
Iya sudah berusaha melihatnya dengan sangat teliti dan hati hati, memang yang dibaca Gunawan adalah berkas asli dan tanda tangannya pun dari kedua orang tua Maya.
Wanita tua itu melipatkan kedua tangan, penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Gunawan, lelaki yang pernah menjadi suami dari sang kakak.
"Kenapa kamu diam saja, masih tak percaya bahwa berkas itu adalah berkas asli, atau kamu benar benar syok, sampai tidak bisa berkata kata. Hem. "
__ADS_1
Perkataan Wina membuat hati dan pikiran Gunawan semakin kacau, ia merasa tak tenang. Karena di rumahnya ada seorang adik dari almarhum istrinya.
"Kenapa, takut jika aku akan mengusirmu. Hem. Oh ya Gunawan, kamu tenang saja, selama kedua anak anakmu itu masih mempertahankanmu. Aku tidak akan mengusir kamu dari rumah ini, jadi santai saja. Tak usah ketakutan begitu oke, karena aku bukan wanita jahat yang ada dipikiran kamu, tapi jika kamu menggangap aku jahat, berarti pikiran kamu bermasalah dan harus dibenahi. "
Gunawan berusaha menahan emosi yang terus meluap luap, dikala ia mendengar perkataan yang kurang menyenangkan hatinya.
"Kamu pasti mau marah ya. "
Mengenggam erat berkas itu, dengan sigap Wina berucap. " Ee, hentikan jagan sampai kamu rusak berkas itu. Bisa bisa kamu menguasai semuanya. "
Gunawan melemparkan berkas yang ia genggam dari tangannya, pas mengenai wajah Wina. " Bisa bisanya kamu bermain licik denganku. Dari dulu memang kamu wanita yang membuat aku jengah."
"Waw, sepontan kamu langsung mengigat masa lalu kita berdua. Begitupun dengan masa lalu kakaku yang hanya kamu jadikan pelampiasan, karena perjodohan yang tak kamu inginkan. "
"Diam, aku sudah tak ingin lagi membahas masa lalu. "
"Hey, jangan begitulah Gunawan. Jangan egois. "
"Ya aku tahu itu, tapi kenapa kamu sampai membunuh kakaku dengan keji. "
"Aku hilaf, karena cintaku pada Dera sahabatmu itu membuat aku lupa diri. "
"Tapi kenapa kamu tidak menjauhi Dera dan malah membuat kakaku kecelakaan. "
"Sulit aku jelaskan, karena semua itu diluar kendali emosiku. "
"Hah, andai aku tahu dulu jika kamu menikahi kakaku mungkin aku tak akan merestui pernikahan itu, aku akan menyuruh kakakku meninggalkan kamu saat perjodohan terjadi. "
. Wina melipatkan kedua tangan dimana Gunawan sekilas memandangi wajah Wina, yang memang begitu percis dengan almarhum istrinya.
"Sudahlah jangan mengungkit masa lalu lagi, aku akan berubah dan menjadi ayah yang baik untuk anak anakku. "
Mendengar perkataan Gunawan, membuat Wina terlihat kesal, seakan kesalahan Gunawan tak bisa ia maafkan sama sekali.
__ADS_1
"Memaafkan, hanya untuk memafaakan sepertinya aku tak bisa, jadi akan ada masa dimana aku menderita. "
"Kenapa hatimu begitu keras seperti batu, apa kamu .... "
Menghentikan perkataan Gunawan, membuat Wina berucap, " kamu mengatakan hatiku sekeras batu, lantas dulu kamu apa. Tega menghianati kakakku dan merencanakan pembunuhan. "
Gunawan menundukkan wajah, ketika Wina membahas masa lalu lagi,
"Ya aku merasa diriku ini kotor dan tak berguna, jadi sekarang kamu puas mendengar aku berkata seperti itu. "
"Wah wah, tidak. Aku tetap ingin menjebloskan kamu ke penjara, agar hatiku ini tenang, tak ingin melihat orang jahat berkeliaran seenaknya. Apalagi menikmati perusahaan dan juga rumah milik orang yang sudah kamu ikhianati dan juga bunuh dengan cara sadis. "
Gunawan sudah tak tahan, ia takut jika tangannya menyakiti Wina yang selalu membuat emosinya meluap luap. Ia pergi masuk ke dalam kamar.
"Dasar pengecut, kamu pergi begitu saja. "
Mengepalkan kedua tangan, masuk dan Brakkkk .....
Pintu ditutup dengan begitu keras, membuat Gunawan mengacak kasar rambutnya.
"Keterlaluan si Wina itu, hampir saja, tanganku ini melayang pada pipinya. "
Gunawan duduk sembari menenangkan diri, ia tak mau jika dirinya malah berani membunuh Wina pada saat itu. Karena setan yang merasuki dirinya bisa saja membuat ia gelap mata dan membunuh wanita yang sudah membangkitkan amarahnya.
"Wina, kenapa dia harus hadir di rumah ini, kenapa dia malah menghancurkan dan membuka semua aibku, padahal aku berusaha menutupi semua dengan rapat rapat agar, kedua anak anakku tetap menyayangiku seperti biasa. "
"Ahkkkk."
Gunawan memukul mukul ranjang tempat tidur, ia berusaha tak menyakiti dirinya. Tapi apa daya, ia begitu lemah dan hampir saja menghancurkan ranjang tempat tidurnya sendiri.
Wina yang tak puas dengan jawaban Gunawan, berusaha mengetuk pintu dengan begitu keras, melayangkan kekesalan. Beberapa kali, seharusnya Wina harus lebih sabar menghadapi suami dari kakaknya.
Jangan sampai membangkitkan kejahatan lagi pada benak Gunawan. Jika itu terjadi, dirinya sendiri yang akan terancam menjadi korban selanjutnya dari aksi Gunawan.
__ADS_1