Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 122


__ADS_3

"Jadi kamu menyindir ibu?"


Sorot mata wanita tua itu menatap kebencian kembali kepada anak tirinya.


Di balik cadarnya ada senyuman sinis, yang membuat Dera tak menyadari hal itu." Loh kok mama, sewot. Dera enggak ada niat menyindir mama kok."


Sang mama tiri, malah semakin menjadi jadi," kalau memang kamu tidak menyindir mama, jadi Mama akan ambil alat kosmetik ini, ini dan juga ini."


Sarla melihat Mama tirinya seperti tak punya rasa malu, sudah di beri kode sindiran malah balik tanya dan mengambil sebagian alat kosmetik Sarla.


"Ya sudah, mama mau cuci muka dulu."


Wanita tua itu berjalan berlenggak-lenggok meninggalkan kamar Sarla, dengan senyum sumringah di bibirnya.


Sedangkan Sarla hanya menggelengkan kepala, tak menduga jika sang mama tiri begitu serakah, ingin selalu memiliki barang yang dipunya oleh anak tirinya.


Dera mulai berjalan ke arah dapur, di mana pembantu sudah menyiapkan makanan.


"Wah, bukan hanya kamar ruang tamu, dapur juga begitu mewah, luar biasa."


Sarla lalu mengikuti sang mama tiri, dia penasaran apa yang akan ia ambil lagi di rumah anak tirinya.


"Kemana dia?"


Berjalan dan terus berjalan, hingga akhirnya Dera melihat sebuah guci kecil yang begitu unik," wah indahnya?"


Wanita tua itu lalu memanggil sarla untuk datang ke arahnya, " Sarla, guci ini bagus sekali untuk mamanya?"


Lilia yang melihat pemandangan sang mama tiri begitupun dengan kakaknya, kini menghampiri mereka berdua.


"Mm, sudah Lilia duga, pasti Mak Lampir ini meminta barang-barang di sini."


Ucapan Lilia membuat wanita tua itu merasa kesal," diam kamu anak kecil jangan ikut campur. "


Sarla mencoba menyuruh Lilia untuk pergi dari hadapannya, ia membisikkan suatu perkataan, " Lilia, sebaiknya kamu pergi dulu dari sini ya, biar kakak yang meladeni Mak Lampir ini."


"Tapi kak, dia kan terlalu banyak mengambil barang-barang Kakak di rumah."


"Sudah tak apa. Nanti Kakak beri dia pelajaran. "


Pada saat itulah Lilia menurut, yang menganggukkan kepala lalu pergi lagi dari hadapan sang kakak.


Dera ingin tahu apa yang dibisikkan anak tirinya itu." apa yang kamu bisikan kepada Lilia sampai dia menurut? "


Di balik cadarnya itu Sarla kini tersenyum, " hanya sebuah nasehat kecil saja."

__ADS_1


Dera mulai tak memperdulikan perkataan anak tirinya itu, ia malah melihat-lihat lagi barang yang berada di rumah Sarla.


*****


Gunawan yang melihat Lilia berlari, kini memanggil anaknya itu. " Lilia?"


Lilia kini menghampiri sang papah, " Lilia, apa kamu melihat Kakak dan juga mama?"


Ini waktunya Lilia membuat adu domba antara Mamah tiri dan juga papah kandungnya. " Lilia tadi lihat mama sedang mengobrol dengan kak Sarla, hanya saja Lilia melihat Mama itu terlalu memalukan."


"Memalukkan? Apa maksud kamu?" mengerutkan dahi, Gunawan merasa penasaran.


"Masa tadi Lilia dengar, mama bilang papah pelit nggak pernah membelikan barang yang mama mau oleh papa. "


Deg ....


Gunawan merasa kesal dengan aduan yang terlontar dari mulut anak kandungnya sendiri, " yang benar Mama kamu bilang begitu?"


Lilia menganggukkan kepala ia melihat sang Papa terlihat begitu murka, ternyata rencananya untuk mengadu domba sangatlah berhasil.


"Papa liat aja sendiri, Mama itu banyak ngambil barang-barang di rumah Kak sarla tahu. Dengan alasan papah pelit pokonya. "


" Dia itu mamalukan sekali. Dimana sekarang mereka?"


Gunawan mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia melangkahkan kaki untuk segera menghampiri sang istri. Lilia melakukan rencana kecil itu hanya tertawa," rasain. Emang enak dimarahin sama papa, terus nantinya nggak dikasih uang jajan buat beli make up deh. "


Lilia tampak bahagia sekali setelah mengadu domba antara mama tiri dan juga papah kandungnya sendiri.


"Lilia."


Di tengah kebahagiaan itu ternyata datanglah sosok seorang adik kecil bernama Lani. Lilia yang melihat adiknya hanya mendelik kesal, " ngapain kamu manggil manggil, hah. "


"Aku tak habis pikir dengan kamu ya Lilia, bisa-bisanya kamu mengadu domba mama dan juga Papa, keterlaluan sekali kamu tidak punya hati. "


Bukannya menyesali perbuatannya, Lilia malah tertawa di hadapan sang adik. Iya kini semakin mendekat ke arah Lani, " aku tak peduli. "


Lilia begitu tega mendorong adik kecilnya itu, hingga Lani terjatuh ke atas lantai, tak ada satu pun orang yang membantunya, ia tampak sendirian di ruang tamu.


Melambaikan tangan, lalu berkata, " bay bay, adik manis. "


Lani berteriak terus-menerus Memanggil nama sang kakak, " Lilia, berhenti. "


Lilia tak mempedulikan hal itu, ia pergi untuk menyaksikan perdebatan kedua orang tuanya.


"Sepertinya akan seru, datang ke sana ah."

__ADS_1


Lani yang sudah melihat kakaknya pergi jauh, berusaha berdiri sendiri, bangkit dari atas lantai dengan menggunakan tongkat kayu.


Namun, kakinya terasa lemas, hingga ia terjatuh dan terjatuh lagi. "Aduh, Aw?"


kesakitan yang kini di rasakan Lani, membuat ia bersikeras untuk berdiri dan menghampiri sang mamah.


Tak mau melihat perdebatan kedua orang tuanya, yang malah membuat dirinya sakit hati.


"Kenapa kakiku tidak berguna sekali." Lani menangis karena tak ada yang membantu dirinya saat itu. "


"Ayolah, kaki berdiri. Aku ingin menyelamatkan Mama dari perdebatan dengan papa. "Tetap saja, kedua kaki Lani begitu lemah, membuat ia menangis.


Hingga seorang pembantu di rumah Sarla melihat Lani menangis, " Loh, Nona kenapa?"


Pembantu itu berusaha membantu Lani untuk berdiri, " sini, biar aku bantu?"


"Ya bi, terima kasih. "


Terlihat Lani, ingin berjalan menggunakan tongkatnya, namun apa daya tenanganya begitu lemah, kakinya merasa sangat kesakitan.


Berteriak dan menangispun percuma, tak akan menyebuhkan rasa sakit pada kaki Lani.


"Nona, mau minum?"


"Saya mau menghampiri mama saya, bi. Apa bibi bisa bantu saya menemui mama!"


"Bisa Non, cuman nona minum dulu, biar tak lemas."


Memang semenjak Lani datang ke rumah, Sarla, ia belum meminum apapun, terlihat wajahnya pucat sekali, seperti dehidrasi.


"Tapi."


Pada akhinya, Lani jatuh pingsang membuat pembantu Sarla, berusah tenang, membantu menyadarkan adik tiri majikannya itu.


"Ya ampun, dia pingsan lagi."


Membopong tubuh mungil, itu untuk membaringkannya pada kasur, Sarla merasa tak tega melihat Lani terkulai lemah.


"Aku harus memberitahu Nyonya sekarang juga, takut jika nanti aku yang disalahkan."


Pembantu itu terburu-buru hari untuk menghampiri, Sarla. Namun setibanya menghampiri sang nyonya, Lilia menghentikan langkah pembantu itu.


"Bi, sebaiknya Bibi jangan memberi tahu kak sarlah dulu, apalagi mama Dera, jika Lani jatuh pingsan."


pembantu itu kini menuruti perkataan Lilia, yang mencegahnya. " Baik Nona. "

__ADS_1


__ADS_2