Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 67 Memberontak.


__ADS_3

Sarla kembali memberontak, dimana Daniel mengikat keras kedua tanganya," lepaskan Daniel."


"Percuma saja kamu memberontak, saya tidak akan melepaskanmu begitu saja, " ucap Daniel, memperlihatkan senyuman lebarnya.


"Anda benar benar keterlaluan, hanya karena masalah semalam anda tega-teganya membuat saya seperti ini," balas Sarla, berulang kali menggerakkan kedua tangan yang terikat oleh tali tambang.


Daniel duduk di samping kiri istrinya, tersenyum kecil. " Siapa suruh kamu genit kepada keponakan saya?"


Membulatkan kedua mata, mendengar hal yang baru saja didengar oleh Sarla, " Anda bilang saya genit terhadap keponakan anda?"


"Iya, kenapa kamu malah bertanya balik kepada saya!?" tatapan mata Daniel tidak bisa dibohongi, lelaki berbadan kekar itu, nampak cemburu.


" Jelas anda yang sudah mengatakan bahwa saya tunangan Rafa, kenapa anda malah berbicara saya genit, memangnya saya wanita murahan yang asal pegang tangan laki laki?" menelan ludah, mendengar perkataan Sarla memanglah benar, Daniel terlalu posesif, hingga perkataannya melantur ke mana-mana.


"Ya, saya mengatakan hal itu, karena ingin menjaga image saya sebagai CEO," ucap Daniel yang terlihat begitu egois dengan dirinya sendiri.


"Kalau memang anda seperti itu, jadi sudahlah tak perlu Anda cemburu berlebihan kepada saya, Saya hanya istri kontrak anda yang akan anda tinggalkan sebentar lagi," balas Sarla, dengan nada ketusnya.


Perkataan Sarla tidak pernah melesat, dimana ada benih rasa malu pada diri sang CEO.


" Kenapa anda diam saja setelah saya mengatakan hal itu, bukannya anda juga berkata kepada ibu anda sendiri, bahwa tidak akan ada perasaan ataupun saling mencintai antara kita berdua." ucap Sarla kembali, semakin malunya Daniel saat itu.


"Cukup perkataanmu itu, saya tahu saya salah, " balas Daniel. Terdengar menyadari kesalahannya.


"Jika anda menyadari kesalahan anda sendiri, kenapa anda tidak melepaskan saya saat ini juga. Jangan seperti anak kecil yang selalu bermain permainan yang tak jelas, yang malah mempermalukan diri anda sendiri."


perkataan Sarla membuat Daniel merasa semakin malu.


"Sudah cukup," tegas Daniel, tak ingin mendengar apa yang dikatakan istri keduanya itu.


Daniel bangkit dari sisi kiri Sarla, dimana ia menatap perlahan kedua mata berbinar itu, jangan kekar mulai memegang pipi sang istri." Kamu tadi bilang apa?"


Daniel perlahan di atas tubuh sarla, di mana wanita bercadar itu, menendang sang keperjakaan suaminya.


Bruk ....


Terdengar bunyi tendangan itu, diiringi dengan suara teriakan Daniel.


Wanita tua yang nampak kuatir dengan keadaan menantunya, kini mendengar teriakan Daniel.


Dimana kekhawatiran itu hilang seketika, karena yang berteriak adalah Daniel bukanlah menantunya.

__ADS_1


"Sepertinya, Sarla sudah bisa menaklukkan Daniel."


Alenta mulai beranjak pergi dari depan pintu kamar anaknya, Iya segera merebahkan tubuh untuk beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.


******


Di dalam kamar mereka berdua terlihat tak akur, keduanya seperti musuh, yang sedang berkelahi.


"Ahk, kurang ajar kamu Sarla bisa-bisanya kamu menyakiti si udin ini," ucap Daniel meringis kesakitan sembari memegang dengan tangannya.


"Si udin?" tanya Sarla, tidak mengerti dengan sensor perkataan Daniel.


Daniel menepuk kepalanya, lalu berkata," kamu tidak tahu si Udin ini."


Menuju ke daerah sensitif, membuat Sarla tertawa terbahak-bahak.


" Astaghfirullahaladzim. "


Sarla berusaha sadar dari tertawanya yang berlebihan, dimana Daniel terkejut dengan tawa mengelegar itu.


"Wanita bercadar ternyata bisa tertawa juga. " Gumam hati Daniel.


Sarla mulai menutup mulutnya, ia berusaha mengontrol tawanya. Baru kali ini Sarla tertawa begitu bahagia, dimana hatinya tak merasakan luka.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menghentikan permainan ini. "


Sarla mengeluarkan napasnya, kini dadanya, merasakan perasaan tenang. Daniel pergi dari hadapannya, membuat Sarla berteriak. " Daniel, lepaskan dulu, ikatan ini. "


Daniel membalikkan badan dan menjawab, " tenang kamu tidak akan saya lepasakan, agap saja ini hukuman dari saya. "


"Apa, Daniel. "


Sarla berusaha mengerak gerakan tangannya untuk lepas dari genggaman tali yang mengikat tanganya, "Daniel, lepaskan tali ini."


Daniel keluar dari kamarnya, dimana ia pergi untuk mengambil air minum.


"Daniel, mana Sarla?"


"Sarla sudah aku ikat di dalam kamarnya, agar dia tidak banyak tingkah!"


"Daniel, kamu tega sama Sarla, kasihan dia."

__ADS_1


Wanita tua itu, mulai menghampiri Sarla dimana Daniel mencegah dengan berkata," berhenti bu, jika ibu menolong Sarla, aku akan lebih kejam pada dia. "


"Daniel, dia istrimu bukan perliharaanmu. Kamu tega ya sama wanita sampai mengikat dia segala, dimana akal sehat kamu Daniel. "


"Ibu tanya dimana akal sehatku."


Sembari menggelengkan kepala Daniel kini berucap kembali. " Akal sehatku sedang tidak baik baik saja. "


Sang ibu menggelengkan kepala, seraya berkata tegas kepada anaknya," Daniel ibu, benar benar heran kepada kamu, bisa bisanya kamu seperti orang jahat yang tega pada istri sendiri."


"Sudahlah bu, aku tak peduli, dia itu istriku. Bukan istrimu, jadi terserah aku, mau melakukan apapun. "


"Daniel, tapikan dia tetap seorang wanita yang harus kamu hargai, jadi kasihanilah dia, dia wanita baik baik."


"Ibu ini kenapa? Dramatis begitu, Daniel hanya memberi pelajaran untuk dia kok."


" Rasanya kamu itu tak pantas memberi pelajaran kepada Sarla, karena Sarla itu tidak melakukan kesalahan apapun, kamu saja yang cemburu dan posesi kepada istri kedua mu itu. "


" jaga bicara Ibu, Siapa yang cemburu kepada wanita itu, wanita aneh yang tidak mau memperlihatkan wajah cantiknya kah pada orang lain."


wanita tua itu nampak geram kepada anak yang ia lahirkan, mendekat ke arah Daniel lalu.


Palkkk.


" Bu, kenapa ibu malah menampar Daniel?" Daniel sedikit meringis kesakitan karena tamparan ibunya yang begitu keras.


"Ini pantas kamu dapatkan, karena sudah semena-mena terhadap menantu kesayangan ibu," Alenta terlihat murka dengan kelakuan anaknya sendiri, Iya tak habis pikir jika Daniel begitu tega menghukum sarla yang tidak punya salah apapun.


" ke mana Kuncinya biar Ibu temuin sarla."


telapak tangan mulai ia sodorkan kepada anaknya.


"Ayo cepat, " tekan Alenta kepada Daniel agar segera mungkin memberikan kunci kamar.


"Daniel."


Lelaki berbadan kekar itu tanpa cuek Ketika sang ibunda terus saja meminta kunci kamarnya, yang mengaduk-aduk kopi yang akan ia minum saat itu.


"Daniel, apa kamu dengar apa yang Ibu katakan? cepat kembalikan kunci itu biar Ibu temui sarla sekarang juga, Daniel dalam hitungan 3 detik kamu tidak mau memberikan kunci itu, ibu akan hancurkan ini."


Alenta nekat mengambil barang berharga yang dipunyai Daniel," Bu. Jangan begitulah, itu benda berhargaku.Jangan sampai Ibu rusak. "

__ADS_1


" Ibu tak peduli. Yang penting kamu sekarang kembalikan kunci kamar, agar ibu bisa menemui sarla sekarang juga, cepat kembalikan kuncinya."


__ADS_2