
Sarla kini bangun dari tempat tidur, melihat di samping kiri sang ibunda tengah tertidur pulas,
turun dari ranjang tempat tidur, wanita tua itu kini berkata." Kamu mau ke mana Sarla? Ini masih pagi sekali. "
Sarla membalikkan wajahnya ke arah sang Ibunda, dimana ia menjawab." Bu, sarla mau menjalankan ibadah salat subuh."
Alenta terdiam sejenak, setelah mendengar kata salat, sudah lama ia tidak mengerjakan perintahkan sang ilahi robbi, di mana yang menghentikan langkah sang menantu," tunggu Sarla. "
"Ya Bu, kenapa?"
" Ibu juga mau menjalankan ibadah salat!"
Wanita tua itu kini turun dari ranjang tempat tidur, mengikuti langkah Sarla menuju ke kamar mandi. Ia melihat tata cara berwudhu, hingga mengikuti gerakan yang dilakukan menantunya.
Setelah selesai, mereka menjalankan ibadah salat subuh berdua. Rasa tenang mulai menyelimuti hati wanita tua itu, air mata mengalir membasahi pipi, sudah lama iya meninggalkan rutinitas yang biasanya ia lakukan bersama suaminya.
*****
Sedangkan Daniel, nampak memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya. karena ia sudah terbiasa dengan sarla yang selalu mengajaknya untuk melakukan ibadah salat.
Perlahan demi perlahan keluarga itu mulai berubah, dari yang tak pernah menjalankan ibadah salat kini mereka begitu rajin.
Sarla bersyukur, jika ada perubahan dalam keluarga Daniel, walau hanya sedikit, tapi ia akan berusaha membuat mereka tetap mengingat sang ilahi robbi.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Sarla bergegas untuk mandi dan memakai baju untuk segera pergi kuliah.
Namun Sarla keluar dari kamar sang ibunda, terlihat sosok Daniel berdiri di hadapannya, sembari melipatkan kedua tangan," mau pergi ke mana kamu Sarla?"
Deg ....
Pertanyaan Daniel mengagetkan Sarla, di mana ia tanpak gugup menjawab perkataan Daniel, " Saya mau pergi kuliah!"
Alenta kini keluar dari kamarnya, " Ada apa lagi Daniel Kenapa kamu menghalangi jalan?"
Daniel tetap menatap ke arah istrinya itu," Sarla, Hari ini aku tidak akan izinkan kamu pergi kuliah."
Deg ....
Ucapan Daniel membuat Sarla kesal, " Kenapa anda sekarang melarang saya pergi kuliah."
"Kenapa saya melarang kamu pergi kuliah, ada alasan yang tidak bisa saya jelaskan saat ini."
__ADS_1
Mendengar perkataan Daniel, membuat Sarla membalas?" Perkataan yang tak bisa dijelaskan, apa segampang itu anda mengatakannya."
"Loh, hak saya lah mengatakan apa saja? kamu kan istri saya jadi kamu harus menurut kepada saya!"
" Tapi dalam perjanjian kemarin tidak dijelaskan seperti itu?"
Daniel terlihat tampak salah tingkah, ia mengacak rambutnya kasar, menarik tangan Sarla. Dimana Wanita tua itu menghentikan aksi anaknya.
"Daniel, apa bisa kamu tidak melakukan hal yang menyakiti perasaan istrimu, kasihan Sarla."
Daniel mengatur napasnya, menahan emosi, agar bisa mengontrol diri.
"Daniel?"
Sang ibunda terus memanggil nama anaknya agar Daniel sadar dari kesalahannya yang sudah menyakiti Sarla. " Apa kamu bisa sadar dengan kesalahanmu sendiri?"
" Bu. Sudahlah jangan ikut campur masalah rumah tangga Daniel dan juga Sarla, jadi hak Daniel mengatur Sarla mau bagaimanapun, diakan sudah ... . "
Belum perkataan Daniel terlontar semuanya, Sarla kini menarik tangannya sendiri, dari genggaman sang suami.
"Lepaskan tanganku, walaupun aku istrimu, tetap saja kamu tidak bisa seenaknya kepadaku, seharusnya sebagai seorang lelaki kamu ini bisa bertanggung jawab dan berkata lembut kepadaku. Jangan dengan berkataan kasar kamu bisa seenaknya kepadaku, aku juga punya hati. "
Daniel terdiam setelah mendengar perkataan Sarla, di mana ia malah semakin brutal, menarik tangan istrinya, membawa Sarla ke dalam kamar.
Kedua mata Sarla membulat, padahal Ia sudah bersiap-siap ingin kuliah, tapi malah dihadang oleh Daniel yang akan melakukan hal tak terduga padanya.
" Daniel apa yang akan anda lakukan kepada saya, kamu tahu sendiri kan saya sekarang mau pergi kuliah. "
Sarla berusaha menolak keinginan suaminya, karena ia tahu dalam kemarahan Daniel, Sarla akan tersakiti saat itu juga. "
Daniel sudah bersiap membuka jas kantor yang melekat pada tubuhnya, begitupun kemeja yang sudah rapi ya kenakan.
Dasi yang melingkar pada leher Daniel, kini diambil oleh tangannya, Sarla mendapat pukulan bertubi tubi dari dasi Daniel.
"Daniel, hentikan ini menyakitkan sekali.'
" Siapa suruh tadi malam kamu pergi dari kamar ini."
"Daniel."
Dengan amarahnya yang menggebu-gebu, Daniel meluapkan semuanya di atas ranjang tempat tidur, dengan beberapa kali mengulir Sarla.
__ADS_1
"Daniel."
Padahal Sarla, ingin sekali pergi kuliah saat itu juga, tapi keinginannya terhalang oleh Daniel, di mana lelaki itu begitu kejam menyiksa istri keduanya.
" Jika kamu melakukan hal seperti ini lagi, aku akan lebih parah menyiksa kamu di atas ranjang tempat tidur ini."
Daniel mencengkram kedua pipi sarla," Apa kamu mendengar perkataanku?"
Tatapan itu begitu menyeramkan, membuat rasa takut pada diri Sarla," Daniel apa bisa anda tidak melakukan hal seperti ini lagi?"
" Aku sudah bilang padamu, Jika kamu ingin aman dari penyiksaanku, kamu harus menuruti apa perintahku."
Menelan ludah, berusaha tetap tenang. Pada akhirnya Daniel kini meminta maaf kepada istri keduanya itu, padahal tatapannya begitu mengancam mengisyaratkan kebencian.
"Maafkan aku."
Kata-kata yang biasanya formal berubah menjadi menyeramkan, Sarla hanya bisa menangis menyelimuti tubuhnya, perasaannya kacau balau saat itu, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Waktu kuliah sudah berakhir, dia hanya menangis duduk di ranjang tempat tidur.
Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, tubuhnya terasa lemah, banyak bekas gigitan yang dilayangkan oleh Daniel.
" Apa yang sudah merasuki pikiran Daniel, sampai dia tega menyakitiku seperti ini, aku sudah tak tahan lagi, Ingin rasanya lari dari rumah ini. "
ketukan pintu terdengar dari kamar, suara sang Ibunda membuyarkan lamunannya," Sarla, nak , apa kamu baik-baik saja di dalam sana."
Alenta tidak bisa masuk ke kamar, karena Daniel mengunci pintu kamarnya.
"Bu, tenang saja, Sarla baik-baik saja kok di sini. "
Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi, kini mengeringkan rambutnya, mengusap perlahan sembari menatap ke arah Sarla yang masih memakai selimut.
" Biasanya kamu langsung mandi?" pertanyaan Daniel membuat sarla tak ingin menjawab, di mana lelaki itu tersenyum sini, ia menghampiri Sarla dengan tatapan liciknya.
"Apa kamu menikmatinya, sampai tak ingin turun dari ranjang tempat tidur. "
Daniel menarik selimut Sarla, hingga tubuh itu terlihat kembali olehnya."Daniel, kembalikan selimut itu. "
Menciumi selimut bekas tubuh Sarla, membuat Sarla jijik, " bagaimana kalau kita bermain lagi. "
"Jangan mendekat, aku tak mau di sentuh olehmu. "
"Waw benarkah. "
__ADS_1
Sarla mulai menjerit, ia ketakutan saat itu, karena pelakuan kasar Daniel, membuat hatinya trauma.
"Pergi, Daniel. Pergi. "