
" Kenapa kamu malah tertawa, tidak ada yang lucu
Wulan." urat leher diperlihatkan oleh Daniel di hadapan Wulan, di mana lelaki yang menjadi suaminya itu tampak murka sekali.
Wulan kini mencubit urat leher sang suami, membuat Daniel langsung kesakitan," Wulan, apa apaan kamu ini."
Wanita yang menjadi istri pertama Daniel malah terlihat senang, ia mencubit Daniel berulang kali, " Gila kamu Wulan."
Daniel merasa jika istri pertamanya itu sedang tidak baik-baik saja, biasanya jika Daniel memarahi Wulan, istrinya akan ketakutan sekali, apalagi ketika urat leher itu mulai diperlihatkan olehnya.
"Wulan, kenapa dengan sikap kamu yang sekarang," gumam hati Daniel.
Terlihat sekali, Wulan tampak tak suka. Ia mulai menjewer telinga Daniel," kamu ini, jangan mempelihatkan urat lehermu itu, aku gemas lihatnya."
"Aduhh."
Daniel seperti anak kecil yang tengah dimarahi, ia terlihat begitu lemah tak berdaya seperti biasanya.
"Wulan menyakitkan, apa kamu gila?"
"Ya aku gila, karena kamu!"
Wulan tertawa terbahak bahak, dimana Alenta bergidig ngeri dengan tingkah menantunya.
Semenjak pulang dari rumah Sarla perbedaan Wulan, tampak sekali terlihat.
"Apa yang sudah meracuni dirimu sampai kamu berani kepadaku, Wulan. "
Daniel berusaha menjadi sosok lelaki yang tegas, tapi ketegasannya itu malah dipukul oleh sang istri.
" Berani kamu memarahiku lagi, Daniel."
Wulan mulai menyuruh Bi Siti mengambil suatu benda, di mana wanita tua itu langsung menyerahkannya begitu saja," Ini nyonya."
"Sebuah kamoceng."
" Iya sayang ini kamu Kemoceng untuk mukul kamu."
Wulan sudah keterlaluan sekali terhadap suaminya, ia seperti seorang istri yang menyiksa suaminya dengan sengaja, " Hentikan Wulan, ini menyakitkan sekali apa kamu ini benar-benar tidak waras."
Wulan malah semakin keras untuk tertawa, ia menikmati apa yang selama ini ia inginkan, menaklukkan Daniel dengan kedua tangannya sendiri, bukan menjadi seorang wanita pecundang yang mampu menangis meratapi kesedihan.
Alenta berusaha Menghadang menantunya itu," Gila kamu ini wulan, apa yang sudah kamu lakukan terhadap suamimu sendiri."
"Ya ampun, anda tidak lihat dengan kedua mata anda sendiri, saya ini sedang memberi pelajaran untuk anak anda yang tidak bisa diatur ini."
__ADS_1
" Sejak kapan kamu menjadi seberani ini Wulan."
Wulan merasa bosan dengan pertanyaan yang setiap kali terlontar dari mulut ibu dan juga suaminya." sejak aku diperlakukan tidak baik oleh kalian."
Setelah Wulan puas memberi pelajaran kepada suaminya, ia melemparkan kemoceng itu di hadapan Alenta, terlihat sekali raut wajah penuh kebencian diperlihatkan oleh Wulan dihadapan keduanya.
Ia berjalan lalu menoleh ke belakang sekilas dan berkata," Kalian mau balas dendam terhadapku aku juga bisa melakukan hal itu."
setelah kepergian sang menantu, kini Alenta mendekat ke arah tangan anaknya, " Kenapa sih dengan kamu kok lemas seperti itu jadi laki-laki."
Daniel merasa kesal dengan perkataan ibunya bisa-bisanya seorang wanita tua yang sudah melahirkannya tega berkata hal yang tak menyenangkan.
"Semua gara gara ibu."
Wanita tua itu terkejut akan perkataan Daniel. "Heh, Daniel. Kenapa kamu malah menyalahkan ibu?"
Menelan ludah, Daniel kesal dan juga geram, ia pergi dari hadapan wanita tua itu. "Ahk."
"Daniel, kemana kamu?"
Bi Siti yang melihat pertikayan itu, hanya tersenyum lebar lalu pergi untuk segera menemui Wulan. Ia ingin mengucapkan kata selamat, karena sudah berhasil menjadi pemenangan akan rasa takutnya.
"Nyonya Wulan."
"Eh, Bi Siti?"
Wulan berdiri, ia berusaha tak terlena akan pujian Bi Siti," sebenarnya, Wulan melakukan ini, atas ide Sarla, karena cara membuat laki laki takluk dan takut, kita tak boleh kalah dengannya."
Bi Siti ikut berdiri, " Jadi Nyonya Sarla menyetujui rencana yang bibi susun?"
Wulan membalikkan badan ke arah Bi Siti, lalu berkata," Tidak bi."
"Loh, kenapa?"
"Entahlah, dia bukan wanita sembarangan! Tidak bisa mengambil rencana seenak yang kita susun."
"Kalau Nyonya Sarla tak setuju, bagaimana nanti kelahiran anak ini. "
Bi Siti mengusap pelan perut Wulan dengan lembut, ia begitu menghuwatirkan keadaan Wulan yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
"Bibi tenang saja, mungkin nanti ada jalan keluar."
"Bibi berharap seperti itu, nyonya tahu sendirikan, Tuan Daniel itu bukan lelaki sembarangan, dia bisa lakukan apapun yang ia mau."
"Apa yang dikatakan bibi memang benar, aku harus berhati hati dengan Daniel."
__ADS_1
Daniel yang belum puas dengan kemarahannya pada Wulan, kini datang lagi.
"Wulan, aku akan menghukum kamu, aku tidak akan biarkan kamu menjadi wanita pembangkang seperti sekarang. Dengar itu."
Wulan malah diam, dengan tangan ia sandarkan pada kedua bahu Daniel," kamu ngomong apa sih sayang, menghukum apa?"
Daniel mencoba menyingkirkan kedua tangan istrinya itu, " jangan sok polos kamu."
"Lah, memang aku polos. "
Mengepalkan kedua tangan, Daniel mencoba tetap tenang, ia kini menjambak rambut istirnya.
"Ayo ikut denganku."
Wulan yang tak mau kalah dengan lelaki kejam seperti Daniel, kini menendang pedangnya dengan lutut kaki lali berucap. " Sakit."
Daniel tak sanggup menjerit karena ia bukan seorang lelaki lemah, " kenapa diam saja, pasti menyakitkan bukan?"
"Kurang ajar sekali kamu Wulan."
"Yang kurang ajar itu kamu, bukan aku Daniel."
Daniel memegang pedangnya dengan raut wajah memerah, ia menahan rasa sakit yang begitu luar biasa tak bisa ia tahan lagi, " menyakitkan sekali pastinya. "
"Ke-na-pa."
"Apa mas aku tidak dengar. " Wulan malah semakin sengaja, ia memukul punggung suaminya dengan kepalan tangannya.
Brukkk ....
"Ahk." Daniel kini terkulai lemah, ke atas lantai, terlihat sekali raut wajahnya begitu pucat, ia sudah tak berdaya lagi menghadapi istri petamanya itu.
Wulan mencoba membuat satu tendangan pada perut Daniel, namun Daniel berusaha menghentikannya karena ia tak sanggup lagi," Cukup Wulan, jangan lakukan lagi. Ini menyakitkan."
Wulan berkacak pinggang di hadapan Daniel, ia menggerutuk masa lalu berkata," Jika kamu ingin dihargai sebagai suami, tolong hargai istrimu."
Daniel yang mendengar perkataan Wulan kini mengingat ucapan itu, dimana Sarla sering mengucapkan hal itu jika ia melawan.
"Daniel. Aku akan memaafkan kamu saat ini, tapi jika kamu berulah lagi, berusaha menyiksaku, aku tidak akan tinggal diam."
Wulan menarik tangan Daniel untuk pergi dari kamarnya, " sebaiknya kamu sembuhkan dulu pedangmu itu sebelum meminta maaf padaku."
Bi Siti berpamitan kepada Wulan untuk pergi ke dapur, dimana wanita tua itu melirik sekilas ke arah majikan. Daniel menyadari hal itu, lalu berkata," Bi tolong sediakan air hangat."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Wulan merasa akan ada sesuatu hal yang menyenangkan, hingga ia memberi kode pada Bi Siti.
Apa yang akan dilakukan Wulan?