
Ita masih memegang ponselnya, tangannya bergetar setelah mendengar perkataan terlontar dari mulut lelaki yang tidak ia ketahui.
"Apa maksud lelaki itu?" Gumam hati Ita, dia mencoba untuk tetap Waspada, agar tidak ketahuan oleh sang nyonya.
Tenang dan terus merekam percakapan itu.
"Kamu jangan sok mengaku ngaku, jika anak ini adalah anakmu. "
"Kenapa kamu malah berkata seperti itu, memang pada kenyataanya, kamu lupa apa? Kita sering berhubungan suami istri!"
Deg ....
Percakapan keduanya semakin membuat Ita, tak bisa tenang. Ia terkejut merasa tak menyangka.
"Jadi nyonya sudah berselingkuh dengan lelaki itu, " gumam hati Ita. Masih dengan ponselnya.
"Diam, jangan membahas hal itu? Aku muak dengarnya. "
Angga malah mencekram erat pipi Wulan, membuat mereka lalu bertatapan. Momen itu adalah momen Ita untuk mengetahui semuanya.
"Kenapa muak, bukannya kamu dulu menikmati hubungan kita. "
"Itu semua sudah menjadi masa lalu jangan dibahas lagi. Aku minta kepadamu, jangan pernah datang menemuiku lagi. "
Angga malah tertawa setelah mendengar perkataan Wulan. Ia bertepuk tangan, lalu menatap lagi ke arah Wulan.
"Masa lalu tetap membekas di hatiku Wulan, sayang. "
Wulan mulai menaruh jenazah anaknya di ranjang tempat tidur, di mana ia mendekat ke arah Angga yang masih berdiri.
"Sudah puas kamu menghancurkan rumah tanggaku, sebaiknya kamu menjauh dariku. Ingat dari dulu aku selalu menganggap kamu sebagai rekan kerja. "
Mendengar apa yang dikatakan Wulan, membuat Angga seakan tak terima, Angga dengan beraninya mencekik leher Wulan.
"Jaga ucapanmu, jika kamu terus berkata seperti itu, aku tak segan segan membunuhmu. "
Ita masih melihat pemandangan itu, yang menghentikan rekaman, dari ponsel mencari suatu barang untuk memukul punggung lelaki di ruangan bayi.
"Aku harus menyelamatkan nyonya, sekarang juga."
Ita akhirnya melihat sebuah benda, seperti pot bunga, iya langsung mengambil barang itu. Masuk dan Brukk, suara pot bunga yang menghantam punggung Angga begitu terdengar keras, membuat Wulan yang melihat keberanian Ita terlihat terkejut.
Angga jatuh ke atas lantai, dimana Ita membawa sang nyonya keluar dari ruangan untuk segera meminta tolong.
"Tolong."
Angga terlihat kesakitan, ia berusaha bangkit agar bisa pergi dari ruangan bayi itu.
"Sialan, beraninya dia memukulku. "
__ADS_1
Ita berusaha memanggil satpam, karena memang suasana di rumah sakit agak sepi, yang terlihat hanya satpam saja.
"Tolong."
Satpam datang mendekat ke arah Wulan dan Ita, dimana ia bertanya, " kenapa?"
"Ada orang jahat masuk ke ruangan bayi!"
Wulan begitu menghuatirkan jenazah bayinya, ia takut jika Angga membawa jenazah bayinya.
"Ayo pak cepat. "
Berlari menuju ke ruangan, Angga masih berada di sana," Pak tuh orangnya. "
Ita menunjuk ke arah orang itu, dimana Angga berusaha lari, namun tenanganya sudah melemah, pada akhirnya ia berhasil tertangkap.
"Syukurlah kalau ia berhasil tetangkap. "
Tatapan mata Angga memperlihatkan kebencian terhadap Wulan, di mana Wulan berusaha menundukkan pandangan, agar kedua matanya tak melihat kemarahan yang diperlihatkan oleh Angga.
Ita, mulai mengantarkan sang nyonya menuju ke ruangan, terlihat ada rasa sesal yang dirasakan Wulan, ia tak menyangka jika pembantunya sudah menyelamatkan dari kematian.
"Ita terima kasih?"
Ita terkejut dengan kata-kata sang nyonya. Padahal baru saja ia merasakan kemarahan Wulan.
Ita kini menyimpan rapat-rapat ponsel pada sapu jalanan. karena dalam ponsel itu terdapat banyak rekaman percakapan antara bulan dan juga lelaki saat di ruangan bayi.
Para perawat mulai membantu lagi Wulan untuk beristirahat di ranjang tempat tidur, di mana para suster sudah memindahkan jenazah bayi Wulan.
*****
Pagi hari sudah menjelang, Ita benar-benar tak tidur semalaman, ia menunggu sang majikan dan melayani setiap kebutuhan yang diperlukan oleh Wulan.
"Ita, Kenapa semalaman kamu tidak tidur?"
Ita menundukkan pandangannya, menjawab perkataan sang majikan, " saya kuatir sekali dengan keadaan nyonya, takut jika ada orang lain yang berniat jahat kepada nyonya.
Wulan tak menduga jika Ita yang sudah buat ya kesal, sudah menyelamatkan hidupnya, rasa perhatiannya dan juga kuatirnya tak jauh berbeda dengan Bi siti.
"Ita, jika kamu ingin tidur, tidur saja. Saya tak apa kok. "
"Tapi nyonya, saya takut jika nanti nyonya membutuhkan saya."
Wulan berusaha membuat Ita beristirahat untuk segera tidur," masih banyak suster dan juga perawat di sini, jadi kamu jangan kuatir, kalau saya butuh apa-apa saya tinggal manggil mereka saja."
"Baik kalau begitu. "
Ita dari tadi terus saja menguap, merasakan rasa ngantuk yang begitu parah, ia mulai berjalan melangkahkan kaki, menuju sofa panjang untuk segera tidur.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa tidur juga. "
Ita mulai menutup kedua matanya, tertidur.
Sedangkan Wulan kini memegang perutnya, mengusap perlahan lalu menangis. " Nak, sekarang kamu sudah tidak ada di dalam perut Mama. Kamu pergi begitu saja, padahal mama masih ingin menggendong kamu. "
Wulan mencoba mengusap pelan air matanya, untuk segera beristirahat kembali, dia tak tahu bagaimana hari esok ia menjalani kehidupannya.
Wulan juga belum mendapatkan kabar, keadaan Daniel yang sekarang, Iya ingin sekali berada di dekat sang suami, mencurahkan segala isi hati.
********
Bi Siti mulai berpamitan kepada sang nyonya, iya ingin menjenguk Wulan saat itu juga, karena perasaannya yang tak menentu dari semangat, membuat Bi Siti kuatir.
"Nyonya."
Alenta yang duduk sembari memandang Daniel, hanya bisa menerima segala cobaan yang ada.
"Nak, kenapa nasib kamu ke begini amat. "
"Nyonya."
Beberapa kali memanggil sang nyonya, wanita tua itu terus fokus memandangi anaknya.
"Nyonya."
Alenta memegang tangan Daniel, di mana Bi Siti mendekat dan berkata," Nyonya. "
Lamunan Alenta membuyar saat tangan Bi Siti memegang bahu, "Ada apa bi."
Mengusap perlahan air mata yang terus berjatuhan mengenai pipi, Bi Siti bertanya kembali kepada sang nyonya," Saya mau minta izin untuk menjenguk Wulan saat ini. "
Alenta merasa sebal ketika mendengar nama Wulan," BI Siti kan saya sudah ingatkan Bi Siti untuk menjaga Daniel di sini, menemani saya juga, jangan seenaknya. Bukanya Wulan sekarang tengah dijaga oleh Ita. "
Bi Siti sudah menduga jika dirinya tidak akan diizinkan, untuk menengok Wulan di saat keadaan Daniel yang sedang kritis.
Alenta berdiri mendekat ke arah Bi Siti, lalu berkata, " saya kok curiga dengan Bi Siti."
Bi Siti tampak diam ketika kata kata itu terlontra, " Curiga kenapa?"
"ya habisnya dari kemarin Bi Siti terus saja mengurusi Wulan, padahal saya sebagai mertuanya hanya menganggap keadaan Wulan biasa saja. Apa Bi Siti ada hubungannya dengan Wulan. "
" Hubungan apa maksud nyonya saya tak mengerti. "
"Sudahlah Bi siti jangan pura pura tak mengerti, apa Wulan anak bi siti selama ini?"
Deg ....
Apa jawaban Bi Siti
__ADS_1