
"Tapi nyonya?"
Raut wajah Bi Siti terlihat begitu gelisa. " Sudah bi, tak apa, jangan kuatikan saya. "
Menarik napas, setelah mendengar ucapan Wulan, pada akhirnya Bi Siti menurut, ia pergi dengan Ita keluar ruangan untuk membiarkan mereka mengobrol.
Saat melewati Sarla, tatapan Bi Siti mempelihatkan kebencian, ia tak suka dengan gaya dan perkataan istri kedua Daniel.
Pintu kini tertutup, di ruangan hanya ada mereka berdua, Wulan memulai percakapan. " Apa yang mau kamu bicarakan?"
Sarla mendekat dan bertanya, " Mbak Wulan sudah tahukah jika Daniel hilang ingatan?"
Wulan tersenyum dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut istri kedua Daniel. " Kenapa kamu malah bertanya hal yang sudah basi, aku sudah mengetahui semuanya, jelaskan. Daniel tetap mengigatku dari pada kamu?"
Deg ....
Mendengar perkataan Wulan tentu saja membuat hati Sarla sedikit teriris bagai diiris pisau.
Namun ya berusaha tetap tegar, menyadari dirinya bahwa ia hanyalah seorang madu. Yang sebentar lagi akan tersingkirkan dan tak dibutuhkan lagi setelah anak dalam kandungannya lahir.
"Aku malahan bersyukur jika Daniel mengingat Mbak Wulan, daripada harus mengingat saya yang hanya seorang istri kontrak. "
Mendelik lalu menjawab," Sudahlah jangan sok baik didepanku, aku tahu kok kamu itu wanita seperti apa. Wanita munafik?"
"Terserah Mbak Wulan mau menganggap aku seperti apa. Memang dari awal aku tidak berniat merebut suami orang untuk menjadi milikku sepenuhnya!"
"Sudahlah Sarla, jangan jadi wanita sok alim kamu, aku jijik dengarnya."
"Maafkan aku, jika perkataanku seperti ini. "
Wulan malah semakin kesal dan malas meladeni perkataan Sarla. " Sebaiknya kamu katakan apa kemauan kamu sebenarnya, sudahlah cukup jangan banyak basa-basi, Aku muak ketika berhadapan dengan orang munafik seperti kamu. "
Menelan ludah, Sarla tak menyangka akibat kejadian semalam, membuat Wulan benar-benar membenci dirinya.
"Baikalah, aku akan mengatakan niatku datang ke sini. "
"Cepatlah katakan, sebelum aku mengusir kamu sekarang juga dari ruangan ini."
Menarik napas, Sarla mulai mengucapkan semuanya, " Setelah Daniel melupakanku, apakah kamu mau menjaga anak dalam kandungan ini seperti anak kamu sendiri. "
Deg ....
Jadi dugaan Wulan selama ini sudah benar, jika Sarla tengah mengandung anak Daniel.
"Jadi dugaanku benar kemarin, kamu hamil anak Daniel, lalu sebelum kecelakaan itu terjadi apa Daniel sudah mengetahui. Kamu ini sedang hamil?"
"Tentu saja tidak. Aku sengaja menyembunyikan kehamilanku di hadapan Daniel, karena aku tidak mau menyakiti Mbak Wulan membuat Mbak Wulan menderita. "
Wulan terdiam, dimana Sarla meneruskan perkataanya.
__ADS_1
"Kenapa aku menyembunyikan kehamilan ini, bukan karena aku ingin bersama selama-lamanya bersama Daniel, aku takut jika Daniel mengetahui semuanya, Daniel akan menceraikan Mbak Wulan."
Deg ....
Mendengar hal itu Wulan kini berucap, " itu kan hanya rasa takutmu saja, belum terbukti jika Daniel mengatakan hal itu. "
"Mbak sadar tidak, jika Sifat manusia itu bisa berubah kapan saja, aku mengatakan semua ini karena aku mempunyai bukti bahwa Daniel mengatakan perasaannya kepadaku. "
"Perasaan, maksud kamu?"
Wulan tak mengerti dengan perkataan Sarla. Dimana sang madu menunjukkan bukti chattingannya dengan Daniel.
Wulan meraih ponsel Sarla, ia perlahan menatap layar ponsel itu, membaca semua isi chattingan Daniel dengan Sarla.
Perasaan Wulan terasa begitu sakit, setelah membaca semua isi chattingan mereka berdua.
"Lebih baik aku berpura pura tak tahu. " Gumam hati Wulan.
"Mbak Wulan. "
Panggilan Sarla membuat lamunan Wulan membuyar, " ya kenapa?"
"Sekarang Mbak percayakan sama saya!"
Wulan menundukkan pandangan, ia sebenarnya ingin menangis setelah melihat isi pesan dari ponsel Sarla.
"Ya sekarang saya percaya dengan kamu. Apa keinginan kamu sekarang?"
"Keinginanku sekarang hanya ingin, Mbak Wulan menyayangi anakku sepenuh hati, biar aku pergi dengan rasa tenang."
"Hanya itu saja. "
"Ya, hanya itu saja. Tolong. "
"Baiklah. Kamu jangan kuatir. "
"Terima kasih Mbak Wulan. "
Sarla mendekat, meraih tangan Wulan. Namun Wulan yang menyadari hal itu menghempaskan tangan Sarla.
"Aku tak suka jika kamu menyentuh tanganku. Bagaimana pun aku tidak akan menyukai kamu. "
"Baiklah kalau begitu. "
Sarla mulai berpamitan kepada Wulan, nanti jika Sarla melahirkan dia akan menyerahkan anak yang diinginkan Daniel.
Berjalan meninggalkan Wulan, dimana wanita yang terbaring diatas ranjang tempat tidur berkata. " Sarla. "
Sarla membalikkan badan berusaha menghentikan air matanya, " iya. "
__ADS_1
Tanpa menatap ke arah wajah Sarla sedikitpun, Wulan berkata, " hati hati di jalan, aku berharap kamu bisa menjaga bayi dalam kandunganmu itu. "
Mendengar perkataan Wulan yang terdengar perhatian pada Sarla membuat Sarla tersenyum. " Terima kasih kepedulianmu Mbak Wulan. "
Sarla mulai membuka pintu ruangan Wulan untuk pergi keluar dimana di luar ruangan itu ada tatapan Bi Siti yang mengisartakan kekesalan.
Bi Siti tak berkata sepatah katapun, ia menyenggol Sarla dan masuk ke dalam ruangan.
Sedangkan Sarla pergi, tak membalas perlakuan Bi Siti.
Bagaimana pun Sarla mempelihatkan kebaikannya, tetap saja di mata orang yang tidak meyukainya akan tetap menganggap Sarla jahat.
Setelah mengatakan semua itu, Sarla sedikit bernapas lega, perasaanya kini merasa lebih tenang. Ia mengusap perlahan perutnya dan berkata, " maafkan mama ya sayang. "
Sarla mulai naik ke dalam mobil, pulsanya tiba-tiba saja bersuara, ia melihat layar ponsel itu.
Ternyata sang mertua menelepon kembali.
"Halo, bu. "
"Sarla, apa kamu bisa datang ke sini untuk menjaga Daniel sementara waktu. "
Perkataan Alenta, membuat Sarla bingung. " Tapi bu, Daniel kan tidak mengigat Sarla sama sekali. "
"Tolong sekali ini saja, ya. "
Sarla tak mungkin menolak perkataan mertuanya, dan lagi ini hanya sekali saja dan kedepannya dia tidak akan bertemu lagi.
"Sarla. Bisa kan?"
"Baiklah, bu!"
Sarla bergegas menaiki mobil, untuk pergi ke rumah sakit menemui sang suami, perasaannya terasa tak tenang, ia tak tahu apa jadinya nanti ketika ia berdua dengan Daniel di dalam ruangan.
Setelah sampai, " Sarla, akhirnya kamu datang juga, dari tadi ibu menunggu kedatangan kamu. Ibu minta tolong ya sama kamu, karena sekarang ibu banyak keperluan di kantor, ibu harus mengurus kantor Daniel sementara waktu."
Mendengar hal itu membuat Sarla semakin mengerti, " Baiklah bu, kalau begitu. "
"Ibu pergi dulu ya. "
Dengan terburu-buru Alenta pergi, iya menuju ke dalam mobil untuk segera pergi ke kantor.
Perusahaan sangat membutuhkan sekali Daniel, karena kondisinya yang tidak memungkinkan, buat Alenta harus turun tangan.
Apalagi pekerjaan menjadi seorang CEO di perusahaan bukanlah hal yang mudah, semua harus di urus, apalagi Daniel sangatlah diperlukan.
Setelah kepergian sang ibunda, Sarla perlahan berjalan mendekat ke arah pintu ruangan sang suami, ia melihat Daniel tengah terbaring dengan menutup kedua matanya.
Perasaan Sarla ragu, apa jadinya nanti jika ia ada di ruangan orang yang tak mengigatnya sama sekali.
__ADS_1