
Wulan menatap ke arah Bi Siti dengan raut wajah pernuh kebingungan. " Sebenarnya kenapa dengan Daniel, apa yang terjadi dengannya. "
"Bibi juga belum tahu pasti, hanya menuruti perintah Nyonya Alenta saja. Dan nyonya bilang bahwa Tuan Daniel hilang ingatan"
"Hilang ingatan, dan dia hanya mengigat kejadian dua bulan silam. "
Tring ....
Pesan dari Alenta datang.
(Kamu sudah lihat kan, Bi. Anak saya mengalami amesia, yang ia ingat hanyalah Wulan. Dia menganggap jika pernikahan dengan Wulan masih seumur jagung. Sekarang kamu percaya kan, tolong kasih tahu Wulan untuk menjadi dirinya seperti dulu.)
"Nyonya coba lihat ini."
Wanita tua itu menunjukkan pesan yang datang dari Alenta. " Jadi. "
Wulan tak ingin banyak berpikir, ia akan menjadi dirinya yang dulu dan merubah apa yang tak di sukai Daniel dari diri Wulan.
"Jadi kapan aku bisa pulang, aku ingin bertemu dengan Daniel, mejalankan hari hari dengannya lagi tanpa gangguan Sarla karena Daniel pastinya sudah lupa dengan wanita itu."
"Kita tunggu dulu apa kata dokter, mudah mudahan hari ini juga nyonya bisa pulang dan nanti bertemu dengan Tuan Daniel."
"Iya bi, aku sudah tak sabar ingin merasakan momen itu. "
Senyuman dan kebahagian di rasakan Wulan begitu pun Bi Siti, mereka seakan menang dari pertaruangan.
"Akhirnya si Sarla itu kalah. "
Bi Siti hanya tersenyum kecil lalu berkata, " Bibi pernah berkata, kemenangan pasti akan berpihak kepada kita selalu. "
"Oh ya, kemarin sebelum kecelakaan itu terjadi, Wulan mendengar jika Sarla muntah muntah, apa dia tengah hamil?"
"Entahlah, bibi juga kurang tahu masalah itu. Jika Sarla hamil yang akan menjadi hak asuh anaknya pasti jatuh ketangan nyonya, karena kan Tuan Daniel sudah melupakan Nyonya Sarla."
"Apa jangan jangan, Ibu merencanakan ini sengaja, mengatakan jika aku sedang promil untuk berpura pura hamil, demi mendapatkan anak Sarla. "
"Bisa jadi seperti itu nyonya. Tapi kita belum tahu pasti, karena nyonya tahukan, Nyonya Alenta seperti apa terhadap nyonya. Dia garang jahat, apalagi setelah tahu masalah nyonya dulu. "
__ADS_1
"Benar juga sih, tapi kan bi, kita tak pernah tahu sifat seseorang bisa saja berubah jika ia dalam kondisi darurat, apalagi nyonya tahu sendirikan jika Nyonya Wulan itu sangat menyayangi anak satu satunya. "
"Mudah mudahan saja, setelah Tuan Daniel hilang ingatan, Nyonya Alenta menjadi sosok penyayang kepada nyonya demi anaknya. "
"Mudah mudahan saja, karena itu yang diharapkan. Toh jika Sarla hamil dan melahirkan dia kan akan di cerai, karena itu perjanjian dari awal Daniel dengan Sarla."
"Nyonya benar, ada hikmahnya dalam kecelakaan ini, Tuan Daniel tak mengejar ngejar lagi Sarla, yang jelas sekarang Tuan Daniel berada di pihak nyonya. "
Tersenyum, Wulan merasa bahagia. Di saat kesedihan melanda, sekarang ia mendapatkan sebuah kejutan yang mampu membuat dirinya menjadi sosok wanita berarti untuk hidupnya sendiri.
"Apa bibi mempunyai nomor ponsel Sarla?"
Pertanyaan Wulan membuat Bi Siti heran, "Sepertinya tidak punya, emangnya kenapa?"
"Aku ingin mentertawakan dia diatas penderitannya sekarang, jujur saja dulu aku refleks sekali terhadap dia, sekarang aku merasa benci saat Daniel bela belaan ingin bertemu dengan Sarla, saat jatah Daniel denganku."
Wulan menatap ke arah Ita yang masih berdiri dihadapannya, dimana ia berkata. " Ita. "
"I-y-a nyonya. "
Wulan mempelihatkan senyumannya, lalu menjawab. " Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku, tadinya aku sangat membenci kamu karena kamu mengambil tindakan tanpa sepengetahuanku. "
"Tak apa, Ita. "
Ita seakan menyadari jika selama ini ia terlalu menuruti hawa napsunya untuk uang.
Bi Siti mendekat, " Ita kemarin kamu kenapa?"
Pertanyaan Bi Siti membuat Ita terdiam, ia menyadari jika ia salah kemarin.
"Ita, saya tahu jika kemarin itu bukan sifat asilmu. "
Ita masih diam, ia seakan enggan mengatakan semuanya, hanya diam. Bi Siti berusaha bertanya dengan tenang, tak ingin salah dalam berkata.
"Ita. Ayo katakaan dengan sejujurnya, kami akan mendengarkan keluhanmu. Jika kamu berkata jujur, kami tak akan marah. "
Ita menatap kearah Wulan lalu kearah Bi Siti, ia ketakutan sekali, takut jika berkat jujur keduanya tidak akan terima.
__ADS_1
"Ita."
"Saya pergi dulu. "
Bi Siti memegang tangan Ita, menahan lalu berkata lagi. " Kamu mau kemana? Kami tanya secara baik baik, ayo katakan dengan jujur Ita. "
"Tapi."
"Kami tidak akan membuat kamu keluar dari pekerjaan kok, kami tidak akan membenci kamu."
Ita menundukkan pandangan ia merasa malu pada dirinya sendiri, lalu menangis dan berkata, " maafkan saya, maafkan saya. " Berulang kali mengatakan hal itu, membuat Bi siti berusaha menggoyang goyangkan bahu Ita dengan berkata, " kamu harus tenang, please kamu harus tenang. oke. "
Ita mengusap perlahan air matanya, lalu berkata lagi. "Maaf Bi Siti. Saya terlalu jahat kepada kalian, hingga saya malu mengatakan kejujuran."
"Kenapa kamu harus malu, berkata jujurlah ayo. Katakan, Bi Siti akan selalu mendengarnya dengan lapang dada kok. "
"Baik kalau begitu. "
Ita mulai menjelaskan semuanya secara perlahan," Saya diberi dua pilihan dari Nyonya Alenta, jika saya menuruti keinginannya. "
"Keinginan memang apa keinginan Nyonya Alenta?"
"Keinginan Nyonya Alenta ingin menyingkirkan kalian berdua, karena kalian sudah membuat keluarga Alenta malu, dengan membuat aib perselingkuhan. "
Mendengar penjelasan dari Ita membuat Wulan merasa jijik pada dirinya sendiri, pantas jika sang mertua mengatakan hal itu, karena memang ia sudah terhina dengan berselingkuh dan memiliki anak dari selingkuhannya.
"Nyonya Wulan jangan bersedih," ucap Ita, dimana Bi Siti memeluk sang nyonya.
"Lanjutkan Ita, " timpal Bi Siti, ia penasaran dengan penjelasan Ita semuanya.
"Baik bi, maka dari itu Nyonya Alenta menyuruh saya untuk memelih dengan dua imbalan, saya akan menjadi kepala pembantu di rumah dengan gaji yang besar setelah menyingkirkan Bi Siti terlebih dahulu. Lalu setelah itu Nyonya Alenta dan saya akan membuat Nyonya Wulan tak betah di rumah agar pergi."
"Hanya itu saja?" tanya Wulan, semakin mengorek ngorek cerita yang terlontar dari mulut Ita.
"Bukan itu saja, Nyonya Alenta, ingin membuat Nyonya Wulan sengsara dan membalaskan dendam karena sudah menyakiti Tuan Daniel, " ucap Ita.
Wulan memegang dadanya lalu berkata, " apa seburuk itu aku dimata mereka sampai mengatakan semua itu. "
__ADS_1
"Nyonya Wulan, Bi Siti, maafkan saya sudah melakukan kejahatan yang membuat kalian pastinya sakit hati dan tak menerima, saya menyetujuinya karena tergiur gaji besar dan kebetulan keluarga saya dikampung membutuhkan uang yang sangat besar untuk pengobatan adik saya." Ita mempelihatkan raut wajah menyesalnya, ia lalu mendekat ke arah Wulan dengan kedua mata berkaca kaca.
"Ita."