
"Tetap saja bu, nanti Wulan yang akan merasakan sakitnya, jika Sarla ada di sini. "
"Wulan, Daniel itu hilang ingatan dia tak akan mengumbar kemesraan bersama Sarla. Karena Daniel hanya tahu Sarla itu sahabat ibu. "
Wulan menghembuskan napasnya, ia menatap ke arah sang ibu mertua yang sudah basah dengan air mata. " Ibu mohon, ibu janji padamu, jika nanti Sarla melahirkan ibu akan menyuruh dia pergi dari rumah ini. "
Karena rasa tak teganya melihat wanita tua itu menangis dihadapan Wulan, membuat Wulan menyetujui keinginan sang ibunda. " Baiklah kalau begitu bu. "
"Terima kasih Wulan?"
Wulan pergi dari hadapan mertuanya, dimana Alenta berjalan menuju ke dalam kamar. Daniel yang mengintip dan mendengar obrolan Wulan dan juga ibunya bersembunyi.
Daniel berjalan untuk menghampiri Wulan.
Namun langkah kakinya terhenti saat Wulan ditarik oleh Bi Siti.
"Nyonya Wulan ini kenapa malah mengiyakan keingian nyonya besar?"
Bi Siti tampak tak suka dan tak terima dengan Wulan yang menyetujui jika Sarla tinggal di rumah Alenta.
"Wulan juga sempat menolak, tapi harus bagaimana lagi bi, Ibu Alenta mempelihatkan kesedihannya, membuat Wulan tak tega. "
"Nyonya Wulan ini gimana sih, kaya tidak tahu saja Nyonya Alenta liciknya seperti apa?"
"Iya bu, makanya aku memegang janjinya saat ini. Tak lupa aku rekam sebagai barang bukti nanti, setelah Sarla melahirkan seorang anak!"
" Syukurlah kalau begitu nyonya. "
Bi Siti mulai melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Wulan masuk ke dalam kamar.
Dimana Daniel mamanggil istri pertamanya. " Wulan. "
"Daniel, kamu sudah keluar dari kamarmu. Bukannya ibu menyuruh kamu untuk beristirahat. "
"Ahk iya, tapi aku bosan sekali berada di dalam kamar sendirian. "
"Ya sudah, bagaimana kalau aku temani kamu sekarang. "
"Boleh."
Alenta tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua," Wulan, bukannya sekarang kamu ada urusan?"
Wulan mengerutkan dahi mendengar perkataan Ibu mertuanya," urusan?"
Saat itulah Wulan mengigat jika ia harus membujuk Sarla sekarang juga agar tinggal di rumah Alenta.
"Ah iya, aku pergi dulu ya sayang. "
"Loh bukannya kamu mau menemani aku istirahat."
"Lain kali saja ya, aku ada urusan mendadak."
Daniel kini melepaskan tangan istrinya, mempersilahkan sang istri untuk mengurusi Urusannya di luar." Kamu jangan marah ya sayang?"
"Oke."
Wulan bergegas pergi dari hadapan Daniel dan juga Alenta, iya berjalan cepat untuk segera menaiki mobil.
__ADS_1
" Menyusahkan sekali. "
Alenta yang melihat kepergian Wulan merasa senang, jika sebentar lagi Alenta akan tinggal di rumahnya.
"Bu."
Alenta yang mulai pergi dari hadapan Daniel, kini tiba-tiba saja dipanggil oleh anaknya.
"Memangnya urusan apa sih bu."
Alenta tak ingin memberitahu soal Wulan yang pergi ke mana, dia langsung menjawab perkataan Danie." hanya urusan ibu-ibu saja sudah jangan dipikirin. "
********
Wulan yang berada di dalam mobil menggerutu kesal dirinya sendiri," bisa-bisanya aku seperti babu yang disuruh kesana kemari. "
Wulan mulai bergegas menuju ke rumah Sarla, ia berniat untuk menghampiri istri kedua Daniel.
"Benar benar menyusahkan sekali. "
Dengan kecepatan tinggi, pada akhirnya bulan sampai di rumah Sarla.
Ia berteriak memanggil-manggil istri kedua Daniel.
"Sarla."
"Sarla keluar cepat. "
Sarla yang tengah asik merehatkan tubuhnya, kini mendengar suara teriakan dari luar rumah, " siapa lagi coba. "
Dengan terpaksa Sarla berjalan untuk segera membuka pintu rumahnya, melihat Siapa yang datang.
"Baru tadi ibu mertua sekarang Wulan," Sarla merasa heran dengan mereka semua yang selalu mengganggu kehidupan Sarla.
Dimana ketenangan Sarla selalu terganggu dengan kehadiran yang tak di inginkan.
"Ada apa?"
Wulan melipatkan kedua tangannya, masih memperlihatkan rasa kesal di hadapan Sarla, " Apa kamu tidak mengizinkan aku untuk masuk ke dalam rumahmu. "
"Mm."
Wulan mulai membuka pintu rumah, ia mempersilahkan sang tamu untuk masuk ke dalam rumah.
"Silahkahkan duduk, biar aku ambilkan air minum untukmu. "
Saat itulah Wulan mulai menghentikan langkah kaki Sarla, " tunggu, jangan pergi. Aku tak akan lama. "
Sarla mulai duduk, " ada maksud apa kamu datang ke sini?"
"Aku datang ke sini hanya ingin memberitahu kamu?"
"Memberitahu apa!"
" Ibu menyuruhku untuk kamu tinggal di rumah, apa kamu bisa melakukan hal itu."
Sarla tak menyangka jika mertuanya senekat Itu, memerintahkan Wulan untuk datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Maaf sekali, sepertinya aku tidak bisa. Bukannya ibu sudah tahu kalau aku benar-benar menolak keinginan. "
"Makanya itu, dia menyuruhku untuk menemui kamu dengan meringis memohon-mohon dan menangis. "
Mendengar hal itu, Sarla berusaha menolak kembali. " Maaf aku tak bisa. "
"Sarla, hanya sebentar saja saat kamu tengah mengandung. "
Semua orang tampak memaksa Sarla. " ketika kamu tinggal di rumahku tidak akan membuat aku sakit hati, karena Daniel tidak mengingatmu sama sekali, iya hanya mengingatku sebagai istrinya. "
Apa yang dikatakan Wulan benar, tapi tetap saja tak akan membuat Sarla nyaman.
"Aku tidak bisa, aku sudah nyaman di rumah ini. Aku tak mau tinggal di tempat yang nantinya malah menganggu pikiranku. "
"Sarla, ayolah turuti perkataanku, agar aku tak mendengar ocehan wanita tua itu yang terus memaksaku sembari memohon-mohon dan menangis untuk menyuruh kamu tinggal di rumah."
"Aku tidak mau, kenapa kamu harus memaksaku. "
"Ayolah Ini semua bukan paksaan,"
Wulan terus saja berucap, membuat kepala Sarla terasa pusing. " sebaiknya kamu cepat pergi dari sini. Bagaimanapun aku tidak akan mau tinggal di rumah Ibu Alenta. "
" kalau kamu tidak mau berada di rumah itu berarti firasatku benar."
Sarla mengerutkan dahi, merasa heran dengan perkataan Wulan. " firasat apa maksud kamu?"
"Bahwa kamu itu mencintai Daniel, sampai kamu tidak mau tinggal serumah denganku dan juga Ibu Alenta."
" Kenapa di saat aku tidak mau menuruti keinginan kamu, kamu malah berkata seperti itu. "
" Makanya kamu turuti keinginanku sebelum aku menyangka hal yang negatif tentang dirimu. "
karena paksaan dari Wulan pada akhirnya Sarla menganggukkan kepala. di mana Wulan menyuruh sarla untuk bergegas mengemasi barang-barangnya.
Serla tidak ingin terburu-buru pergi ke rumah Alenta, dia ingin beristirahat di rumahnya sendiri tanpa gangguan siapapun, akan tetapi Wulan tetap memaksa karena ia ingin semua beres, urusannya dengan ibu mertua tidak ada lagi.
Ia ingin fokus menikmati hidupnya bersama dengan Daniel.
"Ayo."
Pada akhirnya besarlah mengemasi barang-barangnya, ia mulai berjalan mengambil semua baju yang berada di dalam lemari.
"Ayo cepat. "
Wulan membantu istri kedua dan dia dengan rasa terpaksa," kamu ini lama banget sih hanya mengurus pakaian segitu juga. "
Sarla hanya diam saja, saat ocehan keluar dari. mulut Wulan.
"Sudah semua. "
"Sudah."
Saat mereka menaiki mobil, suara Rafa tiba-tiba saja memanggil nama. " loh. Bukannya itu keponakan Daniel, ngapain coba dia berteriak memanggil nama kamu. "
"Sudahlah abaikan saja teriakannya sebaiknya kita cepat pergi dari rumahnya."
"Baikalah kalau itu mau kamu. "
__ADS_1
Mobil kini melaju jauh, Rafa tak sanggup lagi mengejar mobil yang ditumpangi oleh sarla. " Wulan mau membawa Sarla kemana? "