
Orang yang mengirim foto tak senono itu tak membalas lagi pesan dari Sarla, " kenapa dia tidak membalas pesanku. "
Tari kini berucap, " nyonya. "
"Iya bi. Kenapa?"
"Nyonya tidak marahkan, bibi buat hape nyonya jatuh!"
Sarla memegang bahu Tari, lalu berkata," Bibi tenang saja, saya tidak akan memarahi Bibi kok, hanya karena masalah HP saya jatuh ke lantai."
Tari mulai memperlihatkan senyuman lebarnya," Alhamdulillah. Terima kasih ya nyonya. "
"Iya."
"Owh ya nyonya, makanan sudah siap. "
"Baiklah, nanti saya ke sana. "
Tari pergi dengan perasaan tenangnya, ia mulai menjalankan rutinitasnya di dapur.
"Untung saja nyonya tidak memarahi saya. "
Sarla masih memikirkan siapa orang yang mengirim foto kepadanya, ia mencoba melihat dengan begitu detail postur tubuh sang lelaki.
Tring ....
Pesan datang secara tiba-tiba. ( Aku pengagum beratmu Sarla.)
Deg ....
"Apa maksud dari yang dia katakan?"
Mengetik keyboard pada ponsel, membalas pesan orang itu. ( Pengagum berat, apa maksud kamu. Aku tak suka jika kamu mengirim poto editan seperti ini.)
(Hahah, ini real poto kamu. Sarla.)
Deg ....
(Hey, sejak kapan aku melakukan hal tak pantas seperti ini?)
(Sejak aku menganggumimu.)
(Jangan membuat fitnah, siapa kamu sebenarnya?)
(Kamu tanya siapa aku sebenarnya, bukannya sudah aku katakannya, aku ini penganggum rahasiamu.)
(Apa tujuan kamu mengirim foto editan seperti ini kepadaku?)
(Simpel saja, aku ingin memilikimu.)
Membaca pesan balasan dari orang yang tidak ia kenal, membuat sarla asal menebak, jika orang yang mengirim pesan kepadanya adalah Rafa.
__ADS_1
"Apa ini akal akalan Rafa, sampai dia melakukan hal seperti ini kepadaku?"
Tanya Sarla pada dirinya sendiri.
********
Makanan di meja sudah tersedia," Bi, mana Sarla, kenapa dia belum turun ke bawah untuk makan bersama?"
Pertanyaan Gunawan membuat Tari menjawab," saya sudah beritahu Nyonya Sarla untuk makan, katanya dia akan menyusul.
Lani dan Dera kini berjalan bersamaan, mereka mulai duduk. " Ayo kita makan."
Dera seakan tak sabar ingin menikmati makanan diatas meja setelah pulang dari perkumpulan teman temannya.
Gunawan yang melihat istrinya mulai menyuapkan makanan kini berucap, " tunggu dulu. "
Meletakan suapan itu, Dera menjawab. " Ada apa sih pah? Orang mau makan malah dilarang."
"Aku ingin kamu menghargai anak anakku, sebelum makam, makanan di meja ini!"
Perkataan Gunawan seketika membuat napsu makan Dera tak berselera.
"Kenapa harus menunggu kedua anak anakmu sih, pah. Aku sudah lapar." ketus sang istri kepada suaminya.
Gunawan yang sudah sadar dan masih membutuhkan kedua anak-anaknya, kini menjawab perkataan sang istri, " Jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini sebagai istriku, kamu harus bisa menghargai kedua anak-anakku dan juga menyayangi mereka."
Deg ....
Seakan tak ada rasa peduli sedikitpun terhadap Dera.
Sarla datang dengan penampilan berbeda, ia membawa tas kecil, seperti orang yang mau pergi.
"Sarla, papah nunggu kamu dari tadi, ayo kita makan." ucap Gunawan pada anak pertamanya itu.
"Loh, papah ngapain nungguin Sarla, papah makan saja duluan, " balas Sarla mendekat ke arah sang papah.
"Papah ingin makan bersama kamu," ucap Gunawan mempelihatkan kepeduliannya.
"Papah ini, mm. Sekarang papah makan aja duluan, nanti Sarla nyusul, soalnya sekarang Sarla ada urusan, " pinta Sarla pada sang papah, memperlihatkan wajah kepeduliannya.
"Kemana?" pertanyaan sang Papa tak mampu dijawab oleh Sarla, karena jika Sarla memberitahu kepergiannya kemana, akan menjadi sebuah larangan dari Gunawan.
"Ada janji dengan teman!" jawab Sarla berbohong pada sang papah.
"Sayang, kandungan kamu itu sudah menginjak 9 bulan, kamu harus banyak istirahat dan berdiam diri di rumah, takut nanti jika kandungan kamu kenapa-napa, " ucap Gunawan.
Terlihat lelaki tua itu tidak mengizinkan anaknya untuk pergi kemana mana.
"Please, pah. Izinkan Sarla kali ini saja ya, " pinta Sarla pada sang papah.
Gunawan terlihat berat sekali mengizinkan anaknya pergi, karena melihat Sarla yang tengah berbadan dua.
__ADS_1
"Papah akan mengizinkan kamu, asal kamu pergi ditemani sopir. "
"Baiklah."
Sarla mencium punggung tangan Gunawan, ia pergi untuk segera mencari orang yang sudah mengirim poto tak senonoh kepadanya.
"Sarla berangkat dulu ya pah. "
"Hati hati sayang. "
Teriakan rasa kuatir diperlihatkan Gunawan untuk anaknya, Dera yang melihat kepedulian sang suami terhadap Sarla membuat ia merasakan rasa cemburu.
Napsu makan semakin tak berselera, padahal ia belum menyuapkan makanannya sama sekali, Gunawan mulai mempertanyakan anak yang satu lagi, " Lilia mana Bi?"
Tari seakan enggan menjawab perkataan Gunawan, " Lilia, sebenarnya?"
"Kenapa dengan Lilia!"
Tari terlihat begitu ragu mengatakan kejujuran kepada sang majikan, "Tari, Cepatlah katakan Kenapa dengan Lilia, saya ini sudah menunggu anak-anak Gunawan dari tadi, perut saya ini lapar. Menunggu mereka berdua. " Ketus Dera, tak sabar ingin mengisi perutnya yang sudah berbunyi terus menerus.
Tari menatap ke arah Gunawan lalu menjelaskan kenapa Lilia tak mau makan. " Nona Lilia berkata, jika ia tak suka dengan pasakan Bi Wina, iya selalu terbayang akan wajahnya yang buruk rupa. "
Dera perlahan menatap tajam ke arah Tari, ia merasa jika pembantu itu berusaha membuat suruhannya keluar.
"Hem, Lilia, dia memang seperti ibunya." Gunawan kini bangkit dari tempat duduk, lelaki tua itu menunjuk ke arah Dera dan juga Lani. " Kalian jangan dulu makan sebelum aku makan."
Lani dan Dera saling menatap satu sama lain, melihat kepergian Gunawan untuk menghampiri Lilia.
Tari mengikuti sang majikan, ya sekilas melihat ke arah Dera dan juga Lani.
Prakk ....
"Lani, kenapa?"
Amarah kini dirasakan Lani, di mana anak berumur 9 tahun itu menahan kekesalannya dengan mempelihatkan raut wajah kesalnya.
"Semua ini gara gara mama." Ketus Lani, menyalahkan wanita yang berada di hadapannya, tentulah Dera mendengar perkataan anak satu-satunya itu, mengerutkan dahi lalu menjawab." Apa maksud kamu menyalakan mama seperti itu?"
"Jelas Lani menyalakan mama, karena mama itu egois!"
Lani mulai turun dari kursi, ia pergi dari hadapan Dera, terlihat bibirnya mengkarut, membuat Dera langsung mengejar anak satu-satunya itu.
"Lani. Kenapa dengan kamu ini, dari kemarin kamu terus menyalahkan mama, apa salah Mama, bukannya dari kemarin-kemarin kamu mendukung mama, sekarang kenapa kamu malah menghindar seperti itu."
Dera mencoba menggenggam tangan anaknya, dimana Lani malah menyingkirkan dan menghempaskan tangan Sarla begitu saja. "Lani"
Teriakan Dera, tak membuat Lani berhenti berjalan, anak berumur 9 tahun itu terus saja pergi dari hadapan sang Ibunda yang terus mengejarnya.
Masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan begitu keras.
Brakkkk.
__ADS_1