
Sarla yang sudah melajukan mobilnya jauh, kini menggerutu kesal, menangis sejadi-jadinya. Perasaannya hacur lembur begitu saja, " Daniel, kamu sudah membuat sifat asliku keluar."
Menginjak gas mobil dengan kecepatan tinggi, antara hidup dan mati, Sarla tak peduli, ia merasa harga dirinya kini di ijak ijak, ketika Daniel mempelakukannya tidak baik, seakan harga diri sebagai seorang wanita hilang begitu saja.
Menatap jarum jam, sudah menunjukkan pukul sebelas siang, rasa malas mulai menyelimuti hati sarla untuk pergi ke kampus, sepertinya ia butuh penyejuk pada pikirannya, untuk pulang ke rumah menemui adik-adiknya.
Iya juga ingin melihat keadaan adik tirinya Lani, " Apakah kemoterapi yang dijalankan adik tirinya berhasil, membuat Lani bisa normal seperti anak-anak yang lain."
Mengambil ponsel, mencoba menghubungi sang papah, namun tak kunjung diangkat.
"Tumben sekali papah tak mengangkat panggilan teleponku, apa dia sibuk?"
Pertanyaan mulai menyelimuti hati dan pikiran Sarla.
Hingga dimana .... Ahk.
Hampir saja, menabrak seseorang yang ingin melintas dijalan. Turun dari mobil, ia melihat sosok seorang wanita paruh baya ketakutan.
"Nenek, tak apa apa?" Pertanyaan Sarla membuat nenek tua itu menundukkan wajah, tangannya bergetar.
"Nenek ikut saya ya, biar kita ke rumah sakit," ucap Sarla, mengajak wanita tua itu pergi ke rumah sakit, takut jika tabrakannya melukai tubuh sang nenek.
Nenek tua itu, menghempaskan tangan Sarla, dimana ia pergi dari hadapannya.
"Nenek, nenek mau ke mana? "
Nenek tua itu tak menoleh sedikit pun kearah Sarla, ia terus berjalan dengan langkah kakinya yang terlihat pincang.
"Nenek, tunggu."
Mengejar nenek tua itu, Sarla sudah dikejutkan dengan suara kelakson mobil orang lain.
"Kak, kalau berhenti itu jangan sembarangan."
Nenek tua itu sudah pergi jauh, membuat Sarla tak mungki mengejar sang nenek, karena jika ia mengejar sang nenek, kemungkinan besar, orang orang yang menunggunya untuk menyingkirkan mobil akan marah besar.
Sarla mulai masuk ke dalam mobil, untuk segera melajukan mobilnya pergi. kedua matanya masih mencari keberadaan nenek tua itu," Kenapa jalan nenek tua itu begitu cepat sekali."
Sarla berusaha fokus pada mobilnya, menghilangkan perasaan kesal dan tak memikirkan sifat Daniel yang berubah.
__ADS_1
Melajukan mobil, untuk tetap fokus mengendarinya, Sarla sudah tak sabar ingin pulang ke rumah.
********
Setelah sampai di rumah, Sarla mulai mengetuk pintu, dimana pintu terbuka.
"Kak Sarla. Pulang."
Lilia tampak senang melihat kedatangan sarla sang kakak, di mana Lani berusaha berjalan dengan menggunakan tongkat seadanya.
Sarla merasa senang dengan perubahan adik tirinya, yang kini bisa melangkahkan kaki pada atas lantai walau masih dalam bantuan.
"Lani, gimana keadaanmu?"
Lani tersenyum dengan pertanyaan Sarla, di mana Lilia yang melihat pemandangan itu, merasa kesal dan iri.
Padahal, yang pertama kali membukakan pintu adalah Lilia, tapi kenapa Sarla malah bertanya terlebih dahulu kepada Lani yang baru saja keluar dari kamar.
"Kabar Lani, baik baik saja!"
Jawaban Lani membuat Lilia kini menyenggol tubuh adiknya, tinggal di mana Lani terjatuh.
Lilia menyunggingkan bibirnya, ya tak mendengarkan perkataan sang kakak, pergi begitu saja.
"Lilia, kamu dengar tidak apa kata Kakak."
Lilia benar-benar mengabaikan Sarla pada saat itu, tak perduli panggilan dari sang kakak yang terus memanggil namanya.
"Kenapa dengan Lilia?"
Lani terlihat bersedih, yakini berucap kepada sarla," harusnya Lani tidak usah keluar dari kamar, pada ujungnya kak Sarlah sama Lilia jadi tak akur."
" Lani semua ini bukan salah kamu kok, seharusnya Kakak itu bertanya dulu kepada Lilia bukanlah kepada kamu, Kakak yang salah."
******
Suara langkah kaki terdengar, di mana sosok wanita bernama Dera menghampiri Lani.
"Sayang, sedang apa kamu di sini."
__ADS_1
Sarla melihat ibu tirinya menatap ke arah langit, sedangkan Ia yang baru saja datang, tak ditanya sedikitpun.
"Bu .... "
"Lani ayo kita masuk ke dalam. "
Wanita tua itu benar-benar membawa Lani tanpa menyapa Sarla sedikitpun, padahal Sarla sudah banyak berkorban kepada keluarganya, tapi tanggapan keluarganya benar-benar memilukan.
Ia seperti tadi akui di rumahnya sendiri," Mah, kalau kita main pergi saja, kan ada Kak Sarla."
"Lani, untuk apa kita peduli pada wanita itu, kok kamu sudah mendapatkan perawatan dari dokter, biaya sudah ditanggung oleh papamu sendiri, Jadi wanita itu tidak berguna sama sekali."
Mengepalkan kedua tangan setelah mendengar perkataan ibu tirinya, bisa-bisanya wanita bernama Dera itu mengatakan hal yang tidak menyenangkan.
"Bu, papah bisa seperti sekarang itu karena Kak Sarla."
Dera menutup mulut anaknya dengan jari tangan," kok kamu malah bicara seolah sarla itu penyelamat sayang, tetap saja yang bekerja keras itu papa kamu sayang."
wanita tua itu benar-benar tidak tahu diri, membuat darah Sarla seketika naik," Oh jadi mama menganggap aku ini tidak berguna, setelah menyuruh aku menikah dengan Pria beristri itu."
"Ya, karena saham papah kamu sekarang semakin naik, bukan karena kamu menikah dengan Pria beristri itu saja, tapi karena kerja keranya, dan pria beristri itu hanya di butuhkan satu kali saja, untuk membebaskan perusaahan dari kebangkrutan dan sekarang perusahaan itu tak butuh bantuan dari suamimu lagi."
Melipatkan kedua tangan, Sarla sungguh terkejut dengan perkataan ibu tirinya, bisa bisanya ketika dibutuhkan sok baik dan perhatian.
" Karena perusahaan papah sudah tak membutuhkan Daniel lagi, sampai begitu sombongnya Ibu tiriku berkata sedemikian, dia tidak tahu saja jika aku menyuruh Daniel menghancurkan perusahaan papah, bisa bisa dia menangis dan memohon kepadaku lagi." Gumam hati Sarla.
Sarla mendekat ke arah wanita yang menjadi ibu tirinya itu, dimana ia berucap, " oh, jadi mama menganggap aku ini tak berguna sekarang. "
Sarla semakin mendekat dan semakin dekat, membisikan sebuah perkataan pada ibu mertua," anda belum tahu saja, ketika saya menyuruh suami saya untuk menghancurkan perusaahan papa, kemungkinan anda tidak akan menikmati semua kenikmatan di rumah ini, anda akan menjadi orang miskin, mama tiriku."
Dera terdiam paku, dimana ia membulatkan kedua matanya terkejut dengan apa yang dikatakan Sarla, wanita yang kini pergi meninggalkan dirinya.
"Sarla."
Panggilan sang ibunda membuat Sarla, memberhentikan langkah kakinya, dimana ia membalikkan badan. " Ada apa mama tiriku yang cantik. "
Semenjak Sarla mendapatkan prilaku yang tidak baik dari Daniel, sifat lembutnya berubah, ia seperti bukan sosok Sarla yang dulu, selalu merasa kasihan dan berpikir bijak.
Namun makin ke sini, semakin ia merasakan luka pada hatinya, Sarla bukanlah Sarla yang dulu, dibalik cadarnya tersimpan luka hati yang amat perih.
__ADS_1