
" Ita. "
Suster Mira memanggil Ita dengan begitu keras, membuat Ita yang baru saja melabaikan tangan ke arah mobil Sarla, kini membalikkan badan.
"Loh, Suster Mira. Nyonya Alenta, kalian ada di luar?"
Mobil yang dikendarai Gunawan telah pergi jauh, membuat kekecewaan pada hati Alenta, dimana Wanita tua itu menangis.
Suster Mira berusaha menenangkan Alenta, agar tetap tenang dan tak bersedih. " Ibu Alenta maafkan saya, karena tak berhasil mencegah orang yang ingin anda temui. "
Alenta tetap saja mengeluarkan air mata, karena rasa kecewanya. Hingga dimana Ita bertanya." kenapa dengan Nyonya Alenta Suster Mira."
Mira kini berdiri menatap ke arah Ita, " tadi saya melihat Ibu Alenta, mengerakan jari jemarinya, ia menatap ke arah jendela, jika Ibu Alenta ingin bertemu dengan orang yang mengobrol dengan Ita barusan. "
"Ya ampun, Ita sampai lupa memberi tahu Nyonya Alenta, karena kebetulan sekali, Nyonya Sarla sedang buru buru, ingin bertemu dengan bayinya. "
Alenta menyadari hal itu, ia merasa jika dirinya seakan tak dipedulikan. " Ibu Alenta jangan sedih ya."
Sang suster berusaha menenangkan pasiennya agar tak bersedih lagi. "Ibu Alenta jangan bersedih, ada saatnya nanti anda bertemu dengan orang yang anda lihat tadi. "
Dengan terpaksa Alenta tak boleh egois, ia harus terima jika belum bisa bertemu dengan Sarla, walau hatinya begitu mengiginkan sekali.
Karena rasa rindu tak bisa dibohongi.
*******
Di rumah sakit Daniel begitu panik mengurus bayi mungil yang terus menangis, hatinya begitu rapuh ketika tangisan itu terus terdengar dari mulut mungil sang bayi.
Dokter masih dalam pengecekan, terlihat raut wajah cemas diperlihatkan oleh Bi Siti, tangan bergetar karena merasakan ketakutan ketika dokter mengatakan jika bayi tak cocok dengan susu kental manis yang sudah Ia berikan atas perintah Wulan.
Walau hanya pikiran Bi Siti. Tetap saja ia begitu panik, hatinya merasa tak nyaman, begitu gelisah.
Kini dokter menerangkan apa yang sebenarnya diderita oleh bayi mungil itu," saya ingin bertemu dengan ibu bayi ini?"
Deg ....
__ADS_1
Jantung Bi Siti sudah berpacu kencang, seakan tak terkontrol karena perkataan sang dokter.
Wanita tua itu hanya menundukkan pandangan, ia harus bersiap siap menerima pernyataan dokter.
"Ibunya, kebetulan tidak datang ke rumah sakit ini."
Dokter terkejut, dimana Bi Siti hanya diam seribu bahasa. " padahal saya ingin menjelaskan semuanya pada istri anda agar dia mengerti. "
" Sebaiknya Dokter katakan saja kepada saya, sebenarnya apa yang terjadi dengan bayi saya ini. "
Dokter berusaha menarik napas mengeluarkan secara perlahan, sebenarnya Ia juga tak yakin mengatakan semua ini kepada ayah dari bayi yang ia periksa.
"Katakan saja dok. "
"Baiklah. Kebetulan bayi bapak mengalami alergi susu, membuat bayi itu terus menerus buang air besar dengan pase yang tak normal. Sebelumnya susu apa yang diberikan istri bapa pada bayi ini?"
Deg ....
Daniel tidak tahu menahu tentang pemberian susu kepada anaknya, yang ia tahu hanyalah memberikan uang untuk kebutuhan bayi yang baru saja dilahirkan sarla itu.
Namun baru saja di asuh oleh Wulan, bayi mungil tak berdosa itu malah masuk ke rumah sakit.
Daniel kini memanggil Bi Siti untuk mendekat ke arahnya.
"Bi Siti, kemari. "
Panggilan Daniel membuat jantung Bi Siti berdetak tak karuan.
"Iya tuan, ada apa?" Sembari menundukkan pandangan, Bi Siti berusaha menenangkan diri agar ia tak gugup saat mendengar pertanyaan dari sang majikan.
"Bi Siti, saya tanya sama bibi, saat saya tidak ada di rumah, Wulan memberikan bayi Sarla susu merek apa?" Dan benar saja pertanyaan itu dilayangkan saat itu juga pada Bi Siti, pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia duga-duga ketika dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"E-eh. An-nu. Tuan, sebenarnya. " Bi Siti terlihat gugup, ketika ia ingin menjawab perkataan sang majikan yang terus bertanya tentang merek susu yang ia berikan pada bayi Sarla.
"Bi Siti, ayo jawab yang jujur. " ucap Daniel pada pembantu yang sangat ia, pada pembantu yang sangat ia percayai.
__ADS_1
"Susu kental manis. Tuan. " bibir bergetar, setelah menjawab perkataan dengan begitu jujur.
"Apa? Jadi .... " belum perkataan Daniel terlontar semuanya, Bi Siti kini meminta maaf dengan bersujud pada kedua kaki Daniel.
Namun Daniel mencoba menenangkan pembantu itu, meredakan amarah yang semakin menggebu-gebu pada hatinya.
Ia tak mau jika dirinya dipandang rendah oleh orang lain karena sudah menyakiti orang yang lemah di hadapan.
"Bi Siti ayo berdiri. " ucap Daniel, mengangkat kedua bahu wanita tua itu.
Daniel perlahan menatap sayu kearah Bi Siti, kedua matanya tampak berkaca-kaca, berharap jika di Siti mau mengatakan kejujuran terhadap dirinya. " Bi Siti, apa yang menyuruh di Siti untuk membuatkan susu itu adalah Wulan?"
Bi siti ragu, ia takut jika Wulan terkena amukan lagi Daniel, menyebabkan Bi siti tersalahkan lagi
"Jawab saja bi, jangan takut, karena jika bibi berkata jujur, saya akan berusaha membuat Wulan sadar, dan menghukumnya, " balas Daniel.
"Maafkan saya tuan, jangan sampai tuan menghukum Nyonya Wulan, kasihan dia, memang waktu itu bibi meminta uang untuk membeli susu bayi, tapi Nyonya Wulan malah menyuruh bibi untuk menyeduh susu kental manis," jelas Bi Siti, Daniel berusaha tetap tenang, mengubur kemarahanya itu karena berada di rumah sakit, dokter yang mendengar kejujuran Bi Siti hanya menggelengkan kepala, masih tak percaya ada ibu yang tega kepada anaknya.
"Dokter, maafkan saya. Pembatu saya baru berkata jujur pada saya. "
Dokter berusaha memaklumi perkataan Daniel, dimana Dokter menyuruh Daniel menandatangani persetujuan pengecekan perut dengan melakukan USG abdomen.
*******##
Gunawan kini mengendarai mobil untuk pergi ke alamat tujuan yang diberikan oleh Ita pembantu Daniel," Kenapa bayi kamu bisa masuk ke dalam rumah sakit? Mereka benar-benar ceroboh mengurus bayi kamu Sarla. "
Sarla hanya menatap jalanan, dia terus berdoa dalam hati, agar bayinya tidak kenapa-napa, tak memperdulikan perkataan sang papa, yang ia inginkan sekarang hanya ingin melihat bayinya sehat.
Rintikan air mata kini menetes mengenai cadar Sarla, hatinya benar-benar rapuh. Ia tak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada bayi yang baru saja dilahirkan.
Setelah sampai di rumah sakit yang dituju, Sarla langsung membuka pintu mobil, ia berjalan terburu-buru untuk mencari ruangan anaknya, ingin sekali memeluk bayi mungil itu yang sudah dua hari tak ia sentuh sedikitpun.
Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya, cadar yang ia pakai sudah basah begitu saja dengan air mata, tubuh yang lemah ya paksakan agar bisa bertemu dengan anaknya kembali.
Gunawan berusaha memanggil sarla, untuk berjalan pelan karena kondisinya yang belum stabil.
__ADS_1
"Sarla."