
Ponsel Dera berbunyi," Halo, siapa ini?" tanya Dera yang tak mengenal nomor ponsel yang menghubunginya.
"Halo, kamu belum membayar hasil kerjaku, jadi aku tunggu teransfer uang hari ini juga!" jawab sang penelepon, membuat Dera baru saja ingat, jika ia sudah mempekerjakan seorang wanita tua buruk rupa yang menawarkan diri bekerja dengan bayaran murah. Hanya untuk menyelidiki kehidupan anak anak Gunawan.
"Ya, besok aku teransfer, " ucap Dera yang terus mengobral janji tanpa kepastian, jika dia akan membayar atau tidak.
"Jangan besok besok saja ya bu. Saya sudah memberikan informasi banyak pada ibu, " balas sang penelepon terlihat begitu kesal dengan janji Dera.
Sampai dimana Dera dengan lantangnya mematikkan panggilan telepon.
"Huh, kurang ajar wanita itu, baru bekerja seperti itu banyak tingkah, minta bayaran terus menerus. " Menggerutu kesal, dimana Lani mendekat dan mulai bertanya pada sang mama. " Kenapa mah kok marah marah?"
"Ahk, jelas mamah marah, wanita yang mama perintahkan untuk menyelidiki Lilia dan juga Sarla, menagih bayaran!" jawab sang mama duduk di atas kasur, meredamkan segala kekesalan dalam hatinya. Padahal ia baru saja dilanda kesedihan karena melihat setatus anak tirinya yang tengah bahagia.
"Sudah mah, besok kan kita pulang ke rumah papah, mama tinggal minta uang lalu bayarkan ke orang itu, " ucap Lani, menenangkan sang mama. Walau ia juga tak nyakin sang papah akan seperti dulu lagi atau berbalik menjadi orang yang tak perduli terhadap mereka berdua.
"Iya juga sih, " balas Dera.
Mereka mulai mengemasi barang, untuk kepergian besok.
*******
Sarla baru saja sampai di rumah, kini disambut hangat oleh Lilia, sang adik.
"Kak Sarla. "
Lilia berlari untuk segera memeluk sang kakak, terlihat ia nampak bahagia, karena kedatangan Sang kakak. Rumah yang tadinya sepi akan kembali ramai
"Lilia nggak nyangka kalau kakak bakal tinggal di sini, " ucap Lilia, membuat Sarla menatap kearah wajah sang papah.
"Ya, papah kasih tahu Lilia sejak awal, jadi dia kegirangan tuh, " balas Gunawan, melihat kebahagian kedua anak anaknya, selama ini ia terlalu dibutakan akan cinta dari Dera. Dimana melupakan kedua anak anaknya yang harus ia bahagiakan setelah kematian Wulan, akibat dirinya sendiri.
"Gimana kalau kita makan siang, Lilia sudah lapar nih, dari tadi nungguin kakak." Sembari mengusap ngusap perutnya. Sarla kini tersenyum lebar. " Kalau lapar kenapa nggak makan duluan. " Sarla mencubit pipi anaknya.
"Kalau makan sendirian nggak enaklah kak, makanya Lilia nunguin kakak dari tadi, " balas Lilia, menarik tangan Sarla untuk segera duduk di atas kursi, terlihat hidangan semua nampak menarik menggunggah selera.
"Ayo kak, Lilia suruh pembantu di rumah ini masak hidangan istimewa untuk menyambut kedatangan kakak. " ucap Lilia, mengambil nasi begitupun lauk pauk yang selalu disukai sang kakak.
"Sepertinya begitu enak," balas Sarla. Pada sang adik.
Gunawan hanya tersenyum, sudah lama ia menantikan momen indah seperti ini, hari hari dimana kedua putrinya tertawa, ceria dan saling menceritakan kebahagian masing masing.
Dera yang baru saja mengaktipkan ponselnya, dengan sengaja menekan setatus Whatsapp dari Lilia. Dimana setatus itu mempelihatkan poto mereka yang tengah bahagia dengan berkumpul di meja makan.
__ADS_1
Kesal yang kini dirasakan Dera, ia ingin sekali meleparkan ponselnya saat itu juga. Tapi hati berkata lain, berdiri lalu berucap pada Lani. " Lani sebaiknya kita pulang sekarang juga."
Lani mengerutkan dahi, melihat perubahan sang mama. "Kenapa ma, bukannya besok? "
"Kita tidak boleh menunda nunda kepulangan kita, sekarang juga kita harus pulang, sebelum hati papah kamu tidak di rebut sepenuhnya oleh Lilia dan juga Sarla. " Tegas Dera dihadapan anaknya.
Dera menunjukkan setatus Whtasapp Lilia, kepada anaknya, dimana Lani menggerutu kesal. "Tega sekali mereka mengumbar kebahagiaan pada kita, ma. "
"Iya, sebaiknya ayo bersiap siap. Mama akan menyiapkan taksi untuk keberangkatan kita, " ucap sang mama menyuruh Lani mengganti pakaiannya.
"Tapi ma, apa mama mempunyai uang untuk membayar taksi?" pertanyaan Lani, membuat Dera lupa, jika uang tabungannya sekarang sudah habis tak tersisa. Ia tak punya uang simpanan lagi.
Dera perlahan mendekat pada Lani, melihat cincin yang masih dipakai anaknya. " Lani. "
Lani menyadari tatapan kedua mata ibunya mengarah pada cincin yang sedang ia pakai, menutup tangannya.
"Lani sepertinya kamu sudah mengerti maksud mama. " ucap Dera, melihat Lani sedikit menjauh dari hadapannya.
"Nggak mah, ini cincin ulang tahun yang diberikan papah untuk Lani, Lani nggak mau jual ini cincin. Kenapa nggak kalung mamah saja. "Lani menolak keinginan sang mama, dia melihat kalung yang masih dipakai Dera. Membalikkan perkataan mamanya sendiri.
Dera memegang kalung yang memang pemberian dari Gunawan saat pertama kali ia bertemu dengan suaminya. Jika nekad menjual kalung itu, Dera takut jika nanti Gunawan bertanya yang pada ujungnya akan murka.
"Sayang, cincin kamu aja ya. Nanti mama ganti deh yang lebih bagus, mama janji sama kamu."
"Ayo sayang. Kalau kita tak cepat cepat pulang, nanti kasih sayang papah kamu di rebut bagaimana, apa kamu mau di abaikan papah dan keiginan kamu tak terpenuhi lagi, " ucap Wanita tua yang terus membujuk anaknya agar mau memberikan barang berharganya.
Lani memikirkan perkataan sang mama, dimana Dera mendekat, " ayolah sayang, nanti kalau kita pulang ke rumah. Mama bakal ngomong sama papah buat beliin cincin yang lebih bagus dari yang kamu pakai."
Lani memajukkan bibirnya, melepaskan secara perlahan cincin pemberian sang papa. Padahal ia begitu menyayangi cincin itu.
"Ayo sayang. "
Dengan raut wajah terpaksa akhirnya Lani memberikan cincin pemberian sang papah. Hatinya merasa sangat kecewa dan kesal.
"Lani sayang, kamu jangan sedih nak, mama pasti ganti kok. "
Lani mulai menjawab perkataan sang mama, " mama janji ya, mau mengganti cincin Lani itu. "
Mengganggukkan kepala, Dera kini membalas perkataan anaknya. " iya sayang, kamu jangan kuatir. "
Dera mulai menjual cincin anaknya, kepada orang yang berada di sekitar rumah, " mama. "
"Iya sayang?"
__ADS_1
"Nggak jadi. "
Dera mulai melanjutkan langkah kakinya, " kenapa juga mama tidak telepon papa, buat jemput ke sini?"
Lani mulai mengambil ponsel untuk segera menelepon sang papah, agar menjemputnya saat ini juga. Ia tak ingin jika cincin kesayangannya terjual oleh orang lain.
"Papah. Ayo angkat. "
Gunawan yang tengah menikmati kebahagiaan bersama kedua anaknya tak mempedulikan suara dring ponselnya berbunyi, karena ia ingin hari tanpa gangguan orang lain bersama kedua anaknya.
"Papah, ayo dong anggkat panggilan Lani. "
Lani berulang kali menghubungi sang papa, namun tak di jawab sama sekali.
"Papah jahat, papa tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Lani."
Menggerutu terus menerus, Lani kesal melihat layar ponsel, ia lalu membantingkannya pada atas kasur.
"Ponsel tak berguna. "
Dera baru saja kembali, ia berhasil menjual cincin cantik yang dimiliki anaknya. Terlihat memegang yang lembaran merah yang akan ia jadikan ongkos untuk segera pulang ke rumah Gunawan.
"Lani ayo kita pulang." Raut wajah muram Lani membuat sang mama bertanya dengan rasa menyesal.
"Kamu sedih ya, karena mama sudah menjual cincin kesayangan kamu?" tanya Dera, mengusap pelan kepala rambut anaknya.
Lani menatap ke arah sang mama, ia menitihkan air mata. " Apa setelah kita kembali ke rumah papah, papah akan memperlakukan kita seperti dulu. "
"Lani, sayang kamu ngomong apa, jelas papa. Akan memperlakukan kita seperti dulu, karena kita keluarganya. "
"Lantas kenapa papah tidak mengangkat panggilan telepon dari Lani. "
"Papah lagi sibuk, ya sudah sekarang sebaiknya kita bergegas untuk pulang ke rumah papah kamu. "
Dera mulai membantu anaknya untuk berjalan terlihat Lani masih memikirkan sang papah.
"Jangan sedih gitu, senyum dong sayang. "
"Lani, malas ketemu papah.
" Loh, kamu jangan gitu, jangan nanti kamu perlihatkan kesedihanmu ini lagi di hadapan sang papah oke. "
Lani pada akhirnya menurut, ia menganggukkan kepala, mengusap kasar air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1