
Dera sekilas menatap ke arah Sarla, di mana tatapannya itu memperlihatkan bahwa ia tidak suka kepada anak tirinya.
"Ini nyonya," Tari mulai menyodorkan tas pada Dera. Dimana wanita itu langsung mengambil dan pergi begitu saja.
Sarla yang melihat tingkah sang mamah tiri menggerutu kesal," Dasar sombong."
Setelah kepergian sang mama tiri, Sarla mulai bertanya kepada Tari, " tadi Bi Tari katanya ingin mengatakan sesuatu?"
Tari menelan ludah, berusaha menenangkan hatinya untuk bercerita kepada sang nyonya. " tadi saya mendengar percakapan Nyonya Dera dengan pembantu barunya itu, mereka sudah berniat bersekongkol untuk menghancurkan keluarga ini, mengambil hati Tuan Gunawan kembali."
Sarla sudah menduga jika hal ini akan terjadi, Dera tidak ada habisnya akan menghancurkan keluarga Gunawan, di mana ia ingin menguasai semuanya.
"Hanya itu saja bi, tak ada lagi?"
Tari menggelengkan kepala setelah Sarla bertanya lagi kepadanya.
"Ya sudah kalau begitu, kita harus berhati-hati kepada pembantu baru itu!" jawaban sarla membuat Tari mengerti.
"Iya nyonya, karena kita tidak tahu Kapan mereka akan beraksi menghancurkan keluarga nyonya."
"Kamu benar."
Sarla berpamitan kepada Tari, untuk pergi dengan mengendarai mobil, ia segera mengecek kandungannya.
"Saya mau pergi ke rumah sakit dulu. Bibi jaga Lilia di rumah ya, saya takut nanti pembantu baru itu melakukan hal yang tak terduga kepada Lilia."
Mendengar amanah dari sang nyonya, membuat Tari mengganggukan kepala.
Sarla melangkahkan kaki sendirian menuju mobil, semua sopir sudah pergi mengantarkan Gunawan dan Dera, dengan terpaksa ia harus pergi sendirian tanpa orang yang menemani.
Menaiki mobil, tanpa sadar Sarla sedang diawasi seseorang, dengan santainya tanpa rasa takut sedikitpun, Sarla melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia mengusap-ngusap perut, tak sabar ingin melihat pertumbuhan anak dalam kandungannya.
Mobil yang mengawasi Sarla kini mengikuti kemana Sarla pergi.
Setelah sampai di rumah sakit, Sarla mulai menunggu antrian, terlihat ia merasa iri kepada orang-orang yang ditemani dengan suaminya.
Setiap kali pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya, Sarla selalu sendiri, karena orang-orang di rumah begitu sibuk.
Orang yang mengawasi Sarla turun dari dalam, di mana lelaki itu adalah Daniel suaminya sendiri.
__ADS_1
Daniel merasa kasihan terhadap istrinya yang pergi sendirian untuk mengecek kandungannya, tanpa ditemani seseorang di samping.
Merasa menyesal, karena Daniel tidak ada disampingnya saat itu, ia hanya bisa menatap sang istri dari kejauhan.
"Sarla, maafkan aku. Karena ingin jauh darimu, kamu kemana mana sendirian. "
Sarla mengusap perlahan perutnya, di mana sosok lelaki muda datang menghampirinya.
"Sarla."
Sosok lelaki yang datang itu tanpa tak asing, ia adalan Rafa, Sarla melihat lelaki yang selalu ia tolak cintanya. Merasa tak nyaman.
"Rafa, ada apa kamu datang menemuiku? bukannya sudah berulang kali aku nasehati kamu agar tidak menemuiku lagi. "
Rafa menundukkan wajah, jika kehadirannya adalah hal yang salah besar. Seharusnya Rafa menuruti keinginan Sarla, namun hati dan napsunya tak bisa.
Ia ingin melihat keadaan Sarla yang sekarang, rasa rindu tak bisa ia tahan semakin menggebu, membuat jiwa meronta-ronta.
"Sarla, aku tak bisa jauh dari kamu, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, jika ...."
Belum perkataan Rafa terlontar semuanya, Sarla mulai berucap, " Maaf sebulmnya jika aku memotong pembicaraan kamu, bukan maksud hati memperlakukan kamu tidak baik, mengusir kamu secara terang-terangan. Aku hanya ingin hidupku sendiri tanpa gangguan orang lain."
"Sarla."
"Sudah cukup Rafa, cepat kamu pergi dari sini. Aku benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun, aku ingin membesarkan anakku sendirian tanpa bantuan orang lain, apa sebentar lagi anak ini akan aku berikan kepada Daniel."
Rafa berusaha tetap berdiam diri di hadapan, iya tak ingin jauh dari hadapan pujaan hatinya. Entah kenapa perasaannya tidak bisa berpaling kepada wanita, bagi Rafa Sarla wanita yang berbeda dari yang lain.
"Cepat pergi dari sini."
Daniel melihat pemandangan itu, merasa kesal, ia mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali mengincekik leher keponakannya itu sekarang juga.
Rafa malah semakin menjadi-jadi, ia memegang kedua bahu sarla, di mana Daniel yang melihat pemandangan itu membuat hatinya kesal.
"Lepaskan aku, apa kamu ini tidak punya adab. Aku ini wanita yang sudah bersuami jangan jadi jangan sekali-kali lagi memegang ku atau menemuiku. " Sarla, mulai pergi dari hadapan Rafa, di mana anak muda itu malah memegang tangan sarla.
"Sarla, sampai kapanpun kamu menghindar dari, aku akan tetap mengejar kamu sampai kapanpun. Aku sangat mencintai kamu."
Sarla melepaskan tangan Rafa, Karena rasa kesalnya, melihat tingkah anak muda itu, membuat Sarla hilang kendali.
__ADS_1
Dan plakkk ....
Tamparan keras pada akhirnya melayang pada pipi kiri Rafa, yang dilayangkan oleh sarla.
"Maafkan aku. Aku berharap dengan tamparan ini kamu bisa pergi jauh dari hadapanku Rafa."
Rafa memegang pipi kirinya, merasakan rasa sakit yang begitu amat menyakitkan," tetap sajak aku tidak akan patah semangat dengan tamparanmu ini. Aku sangat mencintaimu Sarla.
"Jangan gila kamu Rafa, tidak pantas kamu menyatakan cinta pada wanita yang sudah bersuami."
"Kamu bilang kamu wanita yang sudah bersuami, lantas ke mana suamimu sekarang. Jika kamu memang sudah memiliki suami."
Mendengar perkataan itu tentulah membuat Sarla semakin kesal terhadap Rafa, " Rafa cukup."
"Sudahlah Sarla, jangan melukai hatimu hanya karena menuruti lelaki seperti Daniel, setelah kamu resmi bercerai dengannya aku akan meminang kamu saat itu juga."
"Jangan gila kamu, wanita setelah bercerai tidak segampang itu langsung menikah lagi."
" Aku mengerti akan hal itu, sampai kapanpun aku akan menunggu kamu. "
Obrolan tiba-tiba terhenti. Ketika sang dokter nemanggil nama Salra untuk segera masuk mengecek kandungannya, "Ibu Sarla."
Rafa ingin menemani Sarla saat itu, dia mengikuti langkah kaki Sarla dari belakang, dimana wanita bermata sipit itu langsung berkata, " Apakah Apa maksud kamu mengikuti langkahku, Sebaiknya kamu tunggu saja di luar biar aku yang melihat bayi dalam kandunganku. "
" Ibu Sarla. "
Panggilan sang suster membuat Sarla terburu-buru masuk, di mana Rafa tetap keras kepala mengikuti langkah Sarla.
"Rafa, kenapa kamu keras kepala sekali malah mengikutiku masuk ke dalam ruangan, " bisik Sarla.
Dimana sang suster berkata, " ayo berbaring. "
Karena sudah terlanjur diperintah oleh sang suster pada akhirnya Rafa duduk, melihat hasil USG dari perut Sarla.
"Selamat ya pak, anaknya laki laki."
Dokter mengira jika lelaki yang mengikuti langkah Sarla adalah suaminya, sampai dokter mengatakan semuanya kepada Rafa.
Melihat hal itu membuat Sarla tak suka. Ia mengepalkan kedua tangan. " Rafa, sudah membuat aku murka. " Gumam hati Sarla.
__ADS_1