Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 106


__ADS_3

"Bi Siti, ada apa?" Wanita tua itu tiba-tiba sudah ada di hadapan Ita, ia menatap kearah gadis muda yang akrab dengannya.


"Ngapain kamu berdiri di depan kamar Nyonya Alenta! Apa kamu dimarahin olehnya?" Pertanyaan Bi Siti membuat Ita tampak gelisah.


Bi Siti melihat Ita terlihat ketakutan, ia berusaha bersikap ramah dan bertanya lagi." kamu tidak kenapa kenapa kan."


Ita menggelengkan kepala, lalu pergi dari hadapan Bi Siti," saya tidak kenapa kenapa kok, Bi."


"Loh, kok, pergi gitu aja," ucap Bi Siti kepada Ita.


Wanita tua itu begumam dalam hati," Apa Nyonya Alenta, sudah memarahi Ita sampai dia terlihat muram begitu. Kalau ia kasihan sekali Ita, aku harus menghibur dia, karena dia anak baik."


Bi Siti tak tahu saja, jika Ita diberi dua pilihan yang membingungkan hati Ita saat ini, pikirannya gelisah, hatinya gundah. Dia berusaha tidak tertarik tapi hatinya bergejolak, ingin mendapatkan gaji lebih dari yang ia biasa dapatkan.


Karena gaji yang ditawarkan cukup lumayan besar, membuat Ita tak bisa berpikir lagi, apalagi dikeluarganya Ita sebagai tulang punggung. Tentu saja Ita harus bisa mencukupi kebutuhan keluarganya yang memang sudah tua.


Ada pun seorang adik laki laki, masih membutuhkan biaya sekolah yang cukup lumayan besar.


Sambil mengelap ngelap, cermin kaca, Ita kini di kejutkan dengan kedatangan Bi Siti.


"Hayoo."


Deg ....


Hati Ita terkejut dengan kedatangan Bi Siti, wanita tua itu mengagetkan Ita, dimana ia berucap. " Kerja kok melamun. "


"Eh, Bi Siti. "


Ita yang biasanya ceria kini mempelihatkan wajah muramnya." Saya lihat dari kemarin kamu melamun terus, apa yang sedang kamu pikirkan."


"Mm, tidak ada?"


"Tapi wajah kamu!"


Ita tak bisa berhadapan lagi dengan Bi Siti, ia terlihat ketakutan, dimana dirinya berusaha pergi dari hadapan Bi Siti.


"Loh, dia malah pergi. " Gumam hati Bi Siti, tampak kebingungan melihat Ita sahabatnya pergi begitu saja.


"Ita, kamu mau kemana?" tanya Bi Siti, berteriak memanggil nama Ita, entahlah sahabat yang begitu cuek padanya tiba tiba berubah.


"Bi."


"Heh, Nyonya?"

__ADS_1


"Ngapain?"


"Enggak Nyonya, lagi liatin si Ita pergi, biasanya dia itu selalu ngajak bercanda bibi, tapi sekarang kok nggak ya?"


Bi Siti tampak muram dengan perubahan Ita, ia seakan kesepian lagi tanpa teman mengobrol, " kenapa dengan Ita ya."


Hatinya bertanya tanya, dimana Wulan berucap." mungkin mood ya lagi enggak bagus, biasanya kan kalau gadis suka begitu, beda sama kaya kita kita, sudah emak emak. "


Wulan kembali menampilkan senyumannya, ia tersenyum ceria lalu berucap lagi." Aku pamit dulu ya bi."


"Loh, nyonya mau kemana lagi?"


"Mau menemui si Sarla!"


"Tapi, nanti Tuan Daniel marah lagi gimana?"


"Mm, nggak lah, aku coba cara lain, tanpa sepengetahuan Daniel."


"Emang bisa."


"Bisa dong. Ya sudah aku pergi dulu ya bi."


"Nyonya hati hati ya."


"Iya bi."


"Mudah mudahan Nyonya Wulan tak kenapa kenapa?"


Bi Siti sudah selesai mengejarkan pekerjaannya, ia tampak gelisah, saat masuk ke dalam dapur, dimana para pembantu saling melirik satu sama lain Bi Siti.


"kenapa kalian menatap saya seperti itu. "


Tampak Ita diam, ia hanya fokus pada sayuran yang ia potong potong.


"Dasar wanita tua tidak tahu diri. "


Ita yang biasanya membela kini diam, seribu bahasa, dimana Bi Siti mulai membantu Ita memotong sayuran.


"Memang kalian itu sama sama, sok berkuasa."


Bi Siti diam, ia tak mau meladeni mereka semua, walau sebenarnya terlihat sekali dari hati paling dalam ingin menumpahkan sop pada raut wajah keduanya.


Ita kesal, tanganya bergetar, dimana ia mengambil panci tanpa rasa sakit pada tangannya.

__ADS_1


Lalu byuurrrr ....


Semua menjerit kesakitan, seperti tak sanggup lagi berkata kata.


Alenta mendengar jeritan dari arah dapur, berlari lalu melihat apa yang terjadi.


Ita yang tengah memegang panci kini menyerahkan panci itu ke pada Bi Siti, sontak wanita tua itu terkejut, dengan perlakuan Ita.


Alenta sudah ada di hadapan para pembantu, dia berkacak pinggang karena merasa terganggu dengan jeritan. " Ada apa ini?"


Para pembantu yang merasa kesakitan, bergegas berlari menuju kamar mandi, untuk segera membasuh diri dari air panas yang menggerogoti kulit mereka.


Alenta membulatkan kedua mata, menatap ke arah Ita dan juga Bi siti." apa yang sudah kalian lakukan terhadap mereka?"


Bi Siti tak menjawab perkataan Alenta, ia diam, dimana Ita menjawab," Bi Siti, sudah mengguyur mereka semua dengan air panas."


Deg ....


Terkejut bukan main, Bi Siti tak menyangka dengan pernyataan gadis yang berada di dekatnya, orang yang ia anggap baik dan juga selalu menghiburnya, malah menjatuhkannya saat itu juga." Ita kenapa bisa kamu memfitnah saya seperti itu. "


Ita menatap Bi Siti dengan raut wajah penuh keraguan, " saya tidak pernah memfitnah Bibi saya mengatakan ini sesuai apa yang saya lihat."


Alenta tak suka melihat perdebatan, di mana para pembantu yang terkena oleh siraman air panas pada kulit mereka kini berhadapan lagi dengan Alenta, mereka semua meringis kesakitan, buru-buru mengoleskan obat pada kulit mereka yang terkena air panas.


Melipatkan kedua tangan, kini Alenta mulai bertanya pada para pembantu yang terkena siraman air panas," Coba kalian Jawab dengan jujur, Siapa yang sudah menyiram kalian dengan air panas."


Mereka melirik ke arah Ita, di mana raut wajah kita memperlihatkan sebuah ancaman bagi diri mereka, dengan terpaksa mereka berbohong, jika yang menyiram air panas itu adalah Bi Siti.


"Yang menyiram Kami adalah Bi Siti. "


"Apa maksud kalian bekata seperti itu, saya tidak melemparkan air panas itu pada kalian ya."


" Tapi kita berkata sesuai kenyataan yang sudah terjadi."


Bi Siti tak menduga jika pada akhirnya ia akan terselahakan." Sudahlah habis Bi Siti mengaku saja, jangan terlalu banyak drama, saya juga tahu kalau kamu ini terlalu berkuasa di rumah ini, maka dari itu saya akan memecat kamu."


Bi Siti tak terima dengan perlakuan yang diberikan oleh para pembantu di bawahnya itu," Nyonya Saya tidak pernah melakukan hal ini, Kenapa juga Nyonya malah langsung menyalahkan saya begitu saja. "


" karena sudah banyak saksi yang mengatakan bahwa kamu yang sudah menyiram mereka dengan air panas."


Bi Siti sekilas melihat raut wajah Ita, yang menunduk, dia melihat kedua tangannya saling beradu, seperti ketakutan.


" Bisa saja mereka semua memfitnah saya, karena takut akan sebuah ancaman yang diberikan orang lain."

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Bi Siti?"


Semua semakin menegang kan, dan apa yang akan dilakukan Bi Siti saat itu.


__ADS_2