
" Kita kan belum tahu apa yang dikatakan Nyonya Alenta benar apa tidaknya. Siapa tahu anak dalam kandungan ini memang benar-benar anak Daniel?"
Bi Siti pandai sekali dalam berbicara, membuat orang yang akan menjawab yaitu terasa kaku.
"Tetap saja, saya tidak akan percaya jika bayi dalam kandungan Wulan itu, adalah bayi Daniel, karena bisa saja, kamu membuat sebuah, rencana yang tidak saya tahu."
Kedua mata membulat, tak percaya dengan apa yang dikatakan majikannya itu," Rencana?"
"Kenapa kalian terkejut dengan perkataan saya. Apa benar kalian sudah menyusun rencana seperti apa yang saya pikirkan?"
Bi Siti. Tetap saja menjadi orang yang terdepan saat membela Wulan," Kenapa Nyonya berkata seperti itu? Nyonya seharusnya menjadi seorang mertua yang baik untuk menantunya sendiri."
"Tunggu, kamu bilang apa tadi, saya harus menjadi mertua yang baik untuk seorang menantu." Tertawa, itulah yang kini dilayangkan Alenta di depan Wulan dan juga Bi Siti.
Dimana keduanya berusaha menahan diri dari luapan emosi, agar tidak sembarangan dalam berbicara. " Heh, dari dulu saya itu selalu berusaha menjadi mertua yang baik, tapi semenjak saya mendengar menantu saya melakukan hal yang memalukan, membuat rasa baik itu kini terpendam dan hilang. "
"Nyonyakan hanya mendengar bukan melihat dengan dua mata kepala. Nyonya sendiri."
" Tetap saja, walaupun hanya mendengarkan tapi saya sudah melihat semuanya bukti Itu Nyata
Daniel memperlihatkan berkas-berkas yang ditunjukkan bahwa Wulan itu benar-benar bersalah dia sudah berselingkuh dengan lelaki bernama Angga. "
Deg .... Resah, ketika Wulan mendengar nama Angga selingkuhnya sendiri, apalagi dia sudah seranjang dengan lelaki itu."
"Bukannya kamu tahu sendirikan, jaman sekarang itu sudah cangih, sudah ada rekaman CCTV , rekaman kamu dengan selingkuhan kamu itu sudah ada di tangan Daniel, dimana aksi ranjang itu terlihat dengan begitu nyata. Apa yang sebenarnya kamu lakukan itu sudah benar? Tidak mau mengakui semuanya."
"Aku tidak pernah seranjang dengan laki-laki lain."
"Sudahlah Wulan, Sudah cukup kamu membela dirimu sendiri dan selingkuhanmu itu, apa kamu tidak akan menyesal dengan kebohonganmu ini."
Wulan tetap saja diam, dia tidak mau mengaku kesalahannya sendiri di hadapan Ibu mertuanya, karena itu hanyalah masa lalu yang harus dibuang.
"Ayolah mengaku."
Tetap saja, Wulan membukam mulutnya, ia benar benar tak ingin mengaku, hanya diam.
Bi Siti memegang erat tangan Wulan, lalu membisikan suatu perkataan." Jangan terkecoh akan ucapannya Nyonya, sebaiknya Nyonya diam saja."
"Woh, jadi kamu tetap tidak mau mengaku, jadi tak salahkan Daniel membalaskan dendamnya saat ini kepada kamu. Membuat kamu tersiksa dan menderita."
__ADS_1
Alenta kini pergi dari hadapan menantunya dan juga pembantunya itu, setelah mengatakan hal yang tak bisa dipungkiri oleh Wulan sendiri.
"Bi, bibi dengar sendiri kan apa yang dia katakan."
Memegang kedua tangan Wulan lalu menjawab," Bibi dengarkan, perkataan Nyonya Alenta, Bagaimana pun Nyonya harus tetap kuat dan ikhlas menjalankan semuanya." mendengar nasehat lembut yang terlontar dari Bi Siti selalu membuat WUlan meneteskan air matanya.
"Loh, Nyonya kenapa malah menangis."
Bi Siti mengusap pelan air mata Wulan yang terus berjatuhan menuju kedua pipi.
"Wulan, nggak nangis. Perasaan bibi saja, Wulan hanya kelilipan."
Bu Siti mengerti apa yang dirasakan majikannya itu, hingga dimana pelukan hangat dilayangkan wanita tua itu.
Hanya pelukan seorang wanita tua yang tulus yang mampu menenangkan hati Wulan.
"Gimana perasaanya sekarang, tenang?"
Wulan kini menganggukan kepala, " sudah tenang bi."
*******
Alenta mana mungkin memecat Bi Siti tanpa sebab, ia harus mencari cara agar Bi siti yang selalu membela Wulan itu keluar dan menyadari kesalahannya sendiri, karena sudah membela orang yang salah.
Memegang dagu, mencari cara agar bisa membuat pembantu bernama Bi Siti itu keluar dari rumahnya, memang Bi Siti adalah orang yang dipercaya oleh Daniel karena cara bekerjanya dan juga mengatur semua keinginan Daniel, ya selalu paling sempurna dalam semuanya.
Tidak ada yang bisa selain Bi Siti saja.
Tok .... Tok ...
ketukan pintu terdengar dari luar, Alenta kini membuka pintu kamarnya, sosok seorang pembantu yang masih muda berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ita, ada apa?" tanya Alenta pada Ita wanita muda yang selalu dekat dengan Bi Siti.
"Loh, bukannya tadi Nyonya menyuruh saya untuk membuatkan es jeruk ini!" jawab Ita kepada sang majikan.
Alenta memijit jidatnya dan berkata," oh iya saya lupa. Ya sudah tolong taruh saja di atas meja.
"Baik, nyonya. "
__ADS_1
Alenta terus menatap ke arah Ita, dia terpikirkan untuk mengganti Bi Siti dengan yang lebih muda darinya.
"Bisa saja, si Ita ini jadi pengganti Bi Siti."
Setelah meletakan jus jeruk ke atas meja, Alenta mulai melayangkan sebuah pertanyaan demi pertanyaan kepada Ita.
"Umur kamu berapa tahun?" tanya Alenta kepada pembantunya itu.
"Umur saya baru dua puluh lima tahun Nyonya!" jawab Ita, kepada sang majikan.
"Ternyata kamu masih muda, apa kamu mau menjadi pengurus Daniel?" tanya Alenta kepada pembantunya itu, dengan harapan Ita menyetujuinya.
"Loh, bukannya sudah ada Bi Siti!" jawab Ita, ia terlihat tak tertarik karena, lebih cenderung dekat dengan Bi Siti.
"Bi Siti sudah tua, saya ingin memindahkannya kebagian lain, karena itu saya mencari pengantinya, " ucap Alenta menawarkan kepada Ita.
"Saya belum sanggup Nyonya." Ita dengan lancangnya menolak, karena ia tak mau membuat Bi Siti kecewa.
Alenta berusaha mendekati Ita dengan memegang bahunya dan bertanya?" Kenapa? Kok kamu menolak, ini kesempatan bagus untuk kamu, jika kamu mau, gaji kamu bisa saya naikin lebih dari Bi Siti."
Rayuan maut tentang uang siapapun akan tergoda, apalagi dengan penaikan gaji yang cukup lumayan besar.
Ita menelan ludah, ia tak mau mengecewakan Bi Siti tapi ia juga ingin menerim gaji yang besar dari pekerjaanya yang sekarang.
Karena memang, kebutuhan hidup. Apalagi tanggung jawabnya sebagai seorang tulang punggung keluarga sangatlah berat.
"Bagaimana Ita, saya akan memberikan satu kali kesempatan untuk kamu."
Deg ....
Jantung Ita tak karuan, antara ingin dan takut, sedangkan Alenta dalam hatinya di penuhi rasa tak sabar dengan jawaban pembantu mudanya itu.
"Gimana Ita, apa kamu sudah menemukan jawabannya sekarang, tapi jika kamu belum siap kamu bisa pikirkan sampai besok."
"Baik Nyonya, sepertinya saya akan pikirkan sampai besok."
"Bagus kalau begitu, ya sudah. Besok saya tunggu jawaban kamu, karena kamu tahu sendirikan aku suka sama kamu karena pekerjaanmu yang cepat dan rapi. "
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Keluar dari dalam kamar Alenta, kini seseorang memanggil namanya."Ita"