
Daniel memegang kepalanya, ia masih merasa kesakitan akibat kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Sarla, istriku? Sejak kapan aku menikahi kamu?"
Sarla merasa heran dengan tingkah sang suami, " kenapa kamu tidak mengingat aku istrimu sendiri?"
Daniel mencoba mengingat, namun kepalanya malah berdenyut, menandakan rasa sakit yang luar biasa menyakitkan.
"Ahkkkk. Sakit. "
Kedua tangan kekar itu memegang kepala, berusaha mengigat perkataan Sarla, " kenapa aku tidak mengigat apapun. Apa yang sudah terjadi dengan diriku."
Mencekram kepala, berharap rasa sakit itu hilang, Sarla mulai mendekat dan berkata," Hentikan, apa yang kamu lakukan itu malah akan menyakiti kepalamu sendiri. "
"Jangan mendekat aku tidak mengigatmu sama sekali. "
Perkataan Daniel mampu membuat Sarla menjauh, yang menyebabkan ritikan air mata keluar.
"Daniel, aku istrimu Sarla. "
Daniel mempelihatkan jari telunjuk tangan dihadapan Sarla dengan menjawab, " cukup, jangan berbicara omong kosong, sejak kapan aku memiliki dua istri. "
Sontak mendengar perkataan Daniel, membuat hati Sarla sakit, ia seakan mendapatkan sebuah guratan pisau secara tiba tiba.
"Sebenarnya kenapa dengan Daniel, kenapa dia tidak mengigatku sama sekali?" Gumam hati Sarla.
Sarla berusaha mendekat kembali kepada sang suami, namun tatapan Daniel malah mengisyaratkan agar Sarla berjaga jarak denganya.
Sampai di mana sang ibu datang, mendengar keributan di dalam ruangan anaknya. Wanita tua itu terburu-buru datang ke hadapan Daniel," Daniel, kamu harus tenang, jangan mengingat apapun."
Daniel tahu dan mengigat jika di hadapannya adalah sosok sang ibu. Membuat ia bertanya, lalu menatap ke arah istri keduanya itu," Bu, Kenapa wanita itu mengaku-ngaku sebagai istriku?"
Sang ibu yang menundukkan pandangan, terpaksa membohongi anak semata wayangnya itu, " dia hanya teman ibu. Jadi kamu jangan terlalu menanggapi leluconnya ya."
Sontak Sarla terkejut dengan perkataan ibu mertuanya, tiba-tiba saja mengatakan kebohongan bahwa sarla adalah temannya.
" Sudah, sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan apapun, sekarang kamu istirahat dulu ya agar kondisi kamu semakin membaik."
Daniel menganggukkan kepala, di mana ia menuruti perkataan sang ibunda, namun terbesit dalam pikirannya itu, menanyakan sosok wanita yang menjadi istri pertamanya.
" Dimana Wulan, aku sangat merindukannya saat ini."
Sarla terdiam, saat berada di ruangan sang suami, yang ditanyakan Daniel hanyalah Wulan, sedangkan dia benar-benar dilupakan.
__ADS_1
" Wulan sedang ada di rumah? Kamu jangan kuatir ya dia baik-baik saja kok. " Wanita tua itu melontarkan kebohongan.
Daniel bertanya lagi kepada sang ibunda," kenapa aku bisa berada di rumah sakit hari ini? Memangnya apa yang terjadi denganku, bu! "
Alenta bingung sendiri harus menjelaskan seperti apa lagi, " kamu tenang dulu ya sayang, kamu habis kecelakaan."
Sarla masih berdiri, ia menundukkan pandangan tak berani berucap satu patah katapun. Daniel menatap ke arah istri keduanya.
"Kenapa dia masih ada di sini?" Pertanyaan Daniel, membuat Alenta menatap sekilas ke arah Sarla.
"Sarla hanya ingin membantu ibu!" jawab Alenta membuat sebuah alasan agar Daniel tak banyak berpikir.
"Tapi aku nggak suka bu, suruh dia pergi, " ketus Daniel, membuat perasaan sang ibu hamil tak karuan.
"Saya permisi dulu. "
Sarla pergi dengan luka di hatinya, ia menangis terisak isak, sesekali mengusap pelan air matanya.
Sepertinya Daniel hilang ingatan, yang tak ia ingat hanyalah Sarla, berusaha tetap tegar. Tak mempelihatkan kesedihan, Sarla harusnya senang, ini sebuah kesempatan untuk dirinya agar bisa bebas dari jeratan Daniel.
Namun kenapa, Sarla malah sakit hati ketika Daniel tidak mengigat dirinya, ia memegang perut tersimpan benih anak Daniel.
"Aku harus kuat, bukannya setelah anak ini lahir, aku bisa bernapas lega dan bebas dari cengkaram Daniel. "
Dimana Alenta merasa tak tega melihat menantu keduanya itu menangis, ia berusaha pergi dari ruangan Daniel.
Namun langkah kakinya tertahan, saat Daniel memegang tangan Alenta. "Ibu mau kemana?"
"Ibu mau pergi dulu. "
"Jangan bu, Daniel ingin di temani ibu. "
Dengan berat hati, Alenta tak jadi menyusul menantunya itu, karena di dalam ruangan tak ada yang menjaga Daniel sama sekali.
"Kenapa istriku Wulan tak ada di sini bu, apa ibu sudah memberi tahu dia?"
"Belum! Ibu takut dia menghuatirkan kamu, biarkan saja dia tahu kamu sedang baik baik saja!"
"Iya bu, pernikahanku yang ke dua bulan bersama Wulan apa ibu merestui. "
Alenta tak menyangka, jika ingatannya anaknya hanya mengigat masa masa indah bersama istri pertamanya, dimana ia mengigat jika dirinya masih pengantin baru.
Bagaimana nasib Sarla, jika Daniel hanya mengigat Wulan. " Kamu tenang saja, ibu sudah merestui."
__ADS_1
Hanya demi membuat Daniel tak drop lagi, Alenta harus berpura pura berbohong.
"Ibu, kenapa malah melamun?"
Wanita tua itu melirik kearah Daniel lalu menjawab dengan terburu buru mengusap air matanya. " Ibu tidak melamun. "
"Ibu jangan bohong, ibu terlihat bersedih. "
Alenta tak bisa menyebunyikan kebohongannya, memang ia merasa hatinya amat hancur, perasaanya tak menentu.
"Ayo jawab bu, apa yang ibu pikirkan saat ini. "
Alenta tak bisa menjawab kebenaran, ia hanya bisa menutupi selama penyembuhan anaknya.
"Tidak ada? Sudah kamu jangan banyak pikiran, ibu mau menelepon Bi Siti dulu. "
Mendengar hal itu, Daniel tampak senang, ya tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya, yaitu Wulan.
Alenta keluar dari ruangan Daniel, dia mengirim pesan kepada Bi Siti.
( Bagaimana keadaan Wulan sekarang?)
Bi Siti baru saja sampai di rumah sakit, dimana Wulan tengah dirawat pasca operasi caesar.
Ia terkejut dengan pertanyaan sang nyonya besar," tumben sekali ia bertanya keadaan menantunya, bukannya saat aku pergi dia terlihat begitu tak peduli."
(Daniel sudah sadar, dia ingin bertemu dengan Wulan.)
Pesan datang lagi dari Alenta, tentu saja membuat Bi Siti semakin terkejut. " Tuan Daniel ingin bertemu dengan Nyonya Wulan, apa benar itu."
Bi Siti semakin heran dengan pesan yang dikirim oleh nyonya besarnya," cuman sekali Tuan Daniel ingin bertemu dengan Nyonya Wulan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuan Daniel ya. "
Belum membalas pesan dari Alenta, Bi Siti dikejutkan dengan suara ponselnya yang bergetar, Alenta menelepon.
Bi Siti dengan sikap langsung mengangkat panggilan telepon dari majikannya," Halo ada apa nyonya?"
Alenta nampak kesal dengan Bi Siti yang begitu lambat membalas pesannya, " Kenapa kamu begitu lambat membalas pesan saya."
"Maaf nyonya, saya baru saja sampai di rumah sakit, makanya saya tidak sempat membalas pesan dari nyonya. "
Alenta sedikit malu dengan jawaban yang terlontar dari mulut Bi Siti. " Ya sudah jika kamu sudah melihat keadaan Wulan, Kabarkan saya segera mungkin. "
"Baik nyonya. "
__ADS_1
Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Bi Siti menggerutu kesal pada ponselnya. " dasar nenek sihir, tadi saja marah-marah sekarang suruh saya kasih tahu keadaan Nyonya Wulan."