
"Ada apa mama?"
Tatapan Sarla terlihat berbeda dari sebelumnya, biasanya ia selalu menatap sayu kearah Dera, dengan tutur kata lembut.
"Sarla, ucapan kamu yang tadi!"
Jawaban sang mama tiri membuat Sarla tersenyum sinis dibalik cadar hitamnya. Dimana tatapan kemarahan ia lukiskan.
"Ucapan tadi, memangnya kenapa, Mama tiriku yang cantik jelita takut ya," ucap Sarla, mendekat lagi, meraih tangan sang mama tiri, mencium punggungnya.
"Sudah sopan bukan?" tanya Sarla, sedikit menyeramkan bagi Dera.
"Sarla, apa kamu mau memaafkan mama?" Bukan jawaban yang kini di dengar Sarla, malah pertanyaan karena rasa takut Bu Dera akan ucapan Sarla, dimana ia memberi peringatan.
"Owh, jadi masalah ucapanku yang tadinya ya. Mama takut?" Wanita tua itu bergidig ngeri, saat Sarla mendekat dengan sedikit tertawa.
"Maafkan mama, tadi mama salah ngomong," balas Dera, memegang tangan anaknya dimana Sarla menutup mulut yang tetutup cadar.
"Uups, salah ngomong. Waw. Megiz, ada orang yang punya salah tapi tetap meminta pembelaan. Mm sungguh hebat."
Menepuk kedua tangan, melihat ke arah mama tiri, dimana Sarla berucap lagi," Sarla maafkan ibu, karena kebetulan Sarla masih mempunyai hati Nurani, jadi jangan kuatir ya, ibuku sayang.
Wanita tua itu, menganggukkan kepala, seakan mengerti dengan perkataan Sarla. " Terima kasih Sarla. "
"Ya sudah, kenapa mama tiriku ini tidak menyiapkan minuman untuk anaknya?"
Tanya Sarla, seakan sengaja membuat Drama, agar Dera sadar akan kesombongannya.
"Oh, ya. Mama panggilkan dulu pembantu, kamu tunggu dulu di sini ya, Sarla!" Wanita bernama Dera itu mulai pergi dari hadapan Sarla untuk mencari pembantu, tapi Sarla, malah menghentikkan langkah kaki mama tirinya itu.
"Tunggu, mam."
Dera langsung membalikkan badannya ke arah Sarla, " ya. Sayang kenapa?"
"Apa bisa Mama saja yang mengambilkan aku air minum, soalnya aku haus banget."
__ADS_1
Dera menunjuk dirinya sendiri dengan jari tangan," mama."
Sarla menganggukan kepala," Iya Mama siapa lagi, di rumah ini mama tidak ada kerjaan kan, hanya rebahan saja, selebihnya nongkrong-nongkrong bersama teman-teman. "
Mendengar perkataan anak tirinya, sedikit membuat Dera kesal. Baru kali ini ya disuruh untuk membuatkan air minum, padahal di rumah dia seorang nyonya besar.
"Biar mama suruh pembantu saja ya, soalnya Mama kurang bisa membuatkan air minum."
"Mm, kurang bisa atau malas ya, ups. Aku salah ngomong deh."
Dera bertambah kesal dengan perkataan anak tirinya, bisa bisanya ia mendengar perkataan yang benar benar tak menyenangkan pada telinganya.
"Mama kok, malah diam saja. Ayolah ma."
Sarla sengaja merengek seperti anak kecil, bisa-bisanya iya memperlakukan mama tirinya seperti pembantu, " Mama tidak mau kan sesuatu terjadi pada Lani dan juga mama sendiri."
Sarla memperlihatkan ancamannya di hadapan sang Mamah tiri, sepertinya Ya sudah tidak bisa terkontrol lagi, emosinya semakin meluap-luap membuat sifat jahatnya keluar begitu saja.
"Biar Lani saja ya," ucap anak berumur delapan tahun itu, menggerakkan kakinya dengan bantuan tongkat seadanya.
Sedangkan Dera masih tak terima akan perlakuan Sarla yang tak menyenangkan saat berada di dalam rumah, " Loh, kok mama malah diam saja. Ayo dong mah."
Sarla terlihat menyuruh mama tirinya terus menerus karena ia ingin melihat seberapa takutnya sang mama tiri kepadanya.
"Mama, kok malah diam saja. Dengar nggak Sarla ngomong."
Pertanyaan Sarla membuat wanita bernama Dera itu, kini berjalan cepat menuju ke dapur.
Dimana Sarla tersenyum dibalik cadarnya," Kak Sarla," ucap Lani, dimana anak itu mendekat kearah Sarla.
"Iya sayang. Kenapa?" tanya Sarla, mempelihatkan betapa sayangnya Sarla kepada adik tirinya.
"Maafin Mama Dera ya, Mama Dera kalau bicara selalu begitu!" jawab Lani, mempelihatkan penyesalannya karena sang mama begitu jahat.
Sarla, mengusap pelan kepala anak mungil itu, ia tersenyum dan berkata," tak apa. Kakak sudah maafin Mama Dera kok."
__ADS_1
Lani mulai memeluk adik tirinya dengan penuh kasih sayang, dimana hati Lani begitu tenang dan aman.
Sedangkan Lilia, berjalan ke arah mereka berdua, menarik punggun Lani melepaskan pelukan keduanya.
"Jangan pernah mengambil kasih sayang Kak Sarla dariku." Hardik Lilia, terlihat murka kepada Lani, karena melihat sang kakak berpelukan.
"Lilia, kamu ini kenapa? Lani juga adikmu sendiri, kenapa kamu malah berkata seperti itu!" Jawab Sarla pada adiknya.
"Iya, tapi dia adik tiri, bukan adik kandungku!" Jawab Lilia, tanpak kesal sekali, ia tak akan menerima Lani sampai kapanpun karena Lani hanya mempesulit keluarganya.
Apalagi sang ibu tiri yang selalu banyak menuntun di keluarga mereka. " Lilia, kakak gak suka kamu berkata seperti itu, walau Lani adik tiri, tapi tetap dia keluarga kita."
"Keluarga kita? Kenapa kakak masih berpikir seperti itu setelah apa yang dilakukan mereka kepada kakak, menyuruh kakak menikah, hanya menyalamatkan mereka dan sekarang balasannya apa, mereka malah menyombongkan diri."
"Lilia, hentikan ucapan kamu itu, kakak tak suka, jika kamu asal berucap seperti itu, tolong hargai perkataan kakak."
Ucapan Sarla tak didengar oleh Lilia, ia pergi hingga dimana badannya sengaja menyenggol gelas yang tengah dibawa oleh Dera.
Brakkk ....
Suara pecahan gelas kaca membuat Dera terkejut, dimana Lilia hanya menatap ke arah wajah ibu tirinya sekilas, Iya pergi lagi menuju ke dalam kamar.
"Kalau jalan itu pake mata dong, liat liat jangan asal lewat." Cetus Lilia pada ibu tirinya. Anak sekecil Lilia memang terbiasa melawan pada orang orang yang menurut dia itu orang jahat dan selalu membuat sakit hati Kakaknya.
"Lilia, kamu."
Deran mencoba menahan amarah agar tidak membuat Sarla murka, karena ia tahu Sarla bukan wanita yang lemah, bisa saja Dera hancur seketika oleh Sarla ketika murka.
"Mama tak apa?" Lani tanpak kuatir dengan keadaan mamanya dimana Lilia yang baru saja masuk ke dalam kamar kini berhenti kembali.
"Makannya punya mama tu jaga. Jadi ke gitu, bikin kesal terus seisi rumah. " cetus Lilia, entah kenapa emosinya begitu meluap luap, Sarla tak mengerti kenapa dengan sifat adiknya yang beringas itu.
Apalagi pada Lani, yang jelas jelas anak baik, tak pernah jahat pada siapapun. Sarla tak tahu yang sebenarnya terjadi memang dia tak ada di rumah, makannya ia tak mau asal menebak jika lilia jahat tanpa sebab.
"Aku harus mencari tahu kenapa Lilia menjadi lebih kejam, padahal waktu aku ada di sini dia bisa di atur, tapi sekarang. " Gumam hati Sarla, menatap ke arah adiknya yang sudah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1