Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 143


__ADS_3

Bi Siti tampak kebingungan sekali, mendengar pertanyaan dari majikannya," Bi Siti, saya itu tanya loh sama bibi."


"Ehh, mana mungkin nyonya. Nyonya Wulan kan cantik, sedangkan Bi Siti jelek, Bi Siti menghuatirkan Nyonya Wulan karena dia anak yatim yang tak punya siapa siapa?"


Alasan yang memang jelas, tapi tetap saja membuat Alenta curiga. " Apa bibi tidak sedang berbohong kepada saya?"


"Tidak nyonya."


Bi Siti terus melilitkan bajunya dengan tangan, ia seperti cemas akan pertanyaan Alenta.


"Ya sudah kalau begitu bibi tunggu Daniel di sini, biar saya yang menengok Wulan."


Bi Siti tampak kecewa, padahal ia ingin sekali bertemu dengan Wulan, menenangkan kesedihan wanita yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


Dulu Bi Siti pernah kehilangan bayi mungilnya, ketika sang suami meminta cerai mengambil hak asuh anak satu satunya.


Kini hidup Bi Siti sendirian, tiap kali orang bertanya saat Bi Siti selalu rajin bekerja, ia menjawab, untuk biaya anak anaknya, padahal itu semua bohong.


Bi Siti hanya menutupi kesedihannya pada orang lain, agar orang tidak menganggap jika Bi Siti hidup sebatang kara, sebagai seorang janda yang tak punya keluarga ataupun saudara.


"Bi Siti terlihat bersedih?"


"Tidak kok non, hanya perasaan nyonya saja!"


"Kalau begitu saya pergi dulu bi. "


Kekecewaan membekas pada hati Bi Siti, melihat Alenta pergi dari hadapannya.


Duduk menjaga Daniel dari masa kritisnya.


"Tuan, kapan anda bangun. "


Suara langkah kaki terdengar, Bi Siti mengira jika orang yang datang itu adalah Alenta, namun saat melihat ke arah pintu. Dia ternyata Sarla, wanita yang menjadi istri kedua Daniel..


"Ternyata wanita itu, aku kira siapa?" Gumam hati Bi Siti.


Kedua mata terlihat membulat, Bi Siti melihat ketidak sukaanya terhadap Sarla.


"Daniel."

__ADS_1


Bi Siti yang melihat Sarla berdiri lalu berkata, " sudah puas anda merusak rumah tangga Nyonya Wulan, sekarang membuat Tuan Daniel keritis. "


Sarla menatap ke arah pembantu bernama Bi Siti itu, terlihat kedua matanya berkaca kaca.


Tak memperdulikan perkataan Bi Siti.


Wanita tua yang bekerja di rumah Daniel kini berdiri, menghempaskan tangan Sarla yang memegang tubuh Daniel.


"Lepaskan tangan anda, Pak Daniel tidak butuh anda. Karena anda ...."


Belum tudingan itu berlanjut, Sarla mulai memotong pembicaraan wanita tua yang berada di hadapannya," jadi anda menuduh saya atas kecelakaan Daniel?"


Bi Siti tak segan segan membalas dengan nada ketusnya. " Ya, Siapa lagi kalau bukan anda, andai saja Tuan Daniel tidak pergi ke rumah anda, kemungkinan Tuan Daniel tidak akan mengalami kecelakaan. "


Sarla berdiri tegak di hadapan pembantu bernama Bi Siti itu, " hey, saya tidak pernah menyuruh Daniel untuk datang ke rumah saya, dia yang selalu datang dan menelepon saya. Padahal saya sudah menolak suami saya sendiri, tapi dia tetap bersih kukuh ingin datang ke rumah saya. "


"Alasan kamu saja. "


"Jangan berani kamu kepada saya, kamu tahu istri pertama Daniel lah penyebab semuanya."


"Kenapa kamu menyalahkan Nyonya Wulan? Dia itu tidak salah. "


"Cukup."


"Malam itu saya menyuruh Daniel untuk tidak datang ke rumah saya, karena saya tahu diluar hujan deras. Tapi dia datang tanpa saya sadari, saat keadaan saya tengah pingsan. Dan asal kamu tahu, saya menyuruh suami saya untuk bersikap adil setiap saat kepada istri istrinya, tapi Daniel tidak pernah mendengarkan ucapan saya. Kamu tahu apa yang ia katakan, dia sakit hati karena Wulan berselingkuh. "


"Alasan kamu saja. "


"Tidak percaya. Coba dengar. "


Sarla mempelihatkan rekaman untuk barang bukti, agar dirinya tak di sebut seperti pelakor oleh orang orang yang tak tahu inti cerita dan kehidupan Sarla sebenarnya.


"Saya juga menyuruh Daniel untuk tidak pulang ke rumahnya, namun Nyonya Wulan, majikan anda memaksa saya mengusir Daniel, hingga saya menuruti semuanya, apa kurang jelas perkataan saya. Kamu dan Wulan terus menyalahkan saya. "


Sarla sepertinya amat kesal dengan Wulan begitupun wanita tua yang terus memojokkan amarahnya. Hingga dimana Sarla meluapkan semuanya, sudah habis kesabaran yang ia miliki, apalagi dirinya tengah mengandung sang buah hati.


"Teryata dugaan saya benar. "


Betapa terkejutnya Bi Siti, melihat sosok sang nyonya besar datang menghampiri keduanya yang tengah berdebat panjang lebar.

__ADS_1


Sarla tak tahu jika Alenta mendengarkan perkataannya.


" Bi Siti dari tadi saya dengan kamu terus saja membela Wulan, yang jelas jelas sebagai majikan kamu bukan anak kamu."


Bi Siti menundukkan wajah, dimana Sarla berkata, " Tadi yang Sarla katakan tidak seperti yang ibu bayangkan."


Alenta dari dulu menyukai Sarla, karena sifat dewasanya dan tak pernah serakah. Membuat ia berpihak pada istri kedua Daniel.


"Sudah cukup Sarla, ibu sudah tahu akan seperti ini jadinya, kamu jangan kuatir, ibu tidak akan menyalahkan kamu. "


Alenta mendekat ke arah Sarla, ia berkata. " Sudah lama kamu ada di sini sayang?"


"Baru saja bu, tadinya mau malam, tapi karena hujan derat terpaksa Sarla datang sekarang!"


"Tak apa ibu memaklumi kok. "


Bi Siti mencoba mengalihkan permbicaraan antara keduanya, terlihat sekali ia tak mau berdebat dan mengungkit siapa yang salah dari semua kejadian ini.


"Nyonya bukannya nyonya mau menengok Wulan?"


Mendengar hal itu Sarla mengerutkan dahi," memangnya kenapa dengan Wulan, bi. "


Alenta mulai menjelaskan kenapa menantu pertamanya itu, ia menatap sekilas kearah Bi Siti dengan tatapan kesal, lalu menatap lagi ke arah Sarla dengan tatapan senang.


"Biasa dia itu gak mau diam orangnya, selalu bolak balik, sampai terjatuh ke atas lantai, membuat bayi dalam kandungannya mati. "


Perkataan sang ibu mertua, sedikit tak enak di dengar oleh Sarla. " Sudah kamu jangan terlalu memikirkan wulan, dia sudah ada yang menjaga di sana. "


"Bu, apa ibu mau menengok Mbak Wulan?"


"Tadinya mau, cuman dengar pembantu rese itu, ibu jadi malas. "


"Loh bu, kok malas, kasihan Mbak Wulan!"


"Ngapain kasihan terhadap dia, Wulan itu sudah banyak membawa sial pada keluarga ibu jadi tak pantas harus dikasihani. "


Bi Siti mendengarkan perkataan nyonya besar hanya menggelengkan kepala, Iya sadarnya menimpa perkataan sang majikan, " Nyonya bagaimanapun Wulan itu menantu nyonya, jangan sampai nyonya membuat sebuah kejelekan di hadapan orang lain tentang Nyonya Wulan. "


Alenta tak menyangka jika pembantunya itu semakin hari semakin membela Wulan, " Iya aku tahu masalah itu, bi. Aku tahu kalau bibi tak suka jika aku menjelekan menantuku sendiri, yang dimana Bibi bukan ibunya, apalagi saudara Wulan."

__ADS_1


Menggepalkan kedua tangan, Bi Siti tampak murka sekali, ia menatap tajam ke arah sang nyonya besar. " teganya ia berucap seperti itu pada menantunya sendiri. "


__ADS_2