
Ketukan pintu terdengar begitu keras, mengagetkan Sarla yang tengah memegang benda kecil itu.
"Kak Sarla, ayo. Katanya mau ngajak jalan jalan."
karena terlalu banyak memikirkan benda mungil itu, Sarla sampai lupa pada adiknya sendiri. " Ya ampun de, kakak sampai lupa."
Kali ini, Sarla hanya mengambil tas untuk segera menghampiri adiknya," gimana sih kakak ini."
"Iya, kakak mengaku salah, ya sudah ayo."
Sarla yang berpenampilan syar'i itu, merangkul adiknya untuk Segera menaiki mobil. Terlihat Lilia berusaha melupakan kesedihannya, ia tersenyum ceria saat Sarla menyiapkan mobil untuk membawanya jalan-jalan.
"Kita ke taman saja ya. Lalu makan makan, sudah itu belanja. "
"Oke kak."
Lilia memperlihatkan jempol tangannya, mereka kini melaju dengan mobil yang ber kecepatan sedang.
"Gimana kamu senang hari ini."
Lilia tentunya menganggukkan kepala, memperlihatkan rasa bahagianya.
Sarla senang jika sang adik tidak kembali bersedih, Lilia mulai memfoto momen kebersamaan bersama sang kakak.
Dimana foto itu, ia pajang sebagai setatus Whatsapp, siapa sangka status WhatsApp itu dibuka oleh Adik tiri. terlihat api cemburu dan juga rasa iri membakar hati dan juga pikiran Lani
Sang Mama yang melihat kesedihan anaknya sendiri lalu bertanya, " kenapa Lani?"
Anak kecil berumur sembilan tahun itu kini menunjukkan poto yang ia lihat dari setatus WhatsApp Lilia.
"Beraninya mereka bersenang senang diatas penderitaan yang kita alami saat ini. Benar benar tidak bisa dibiarkan. "
Dera nampak tak suka dengan kebahagian kedua anak tirinya itu, ia ingin sekali cepat menghancurkan keduanya, seperti dirinya yang sudah membuat Maya tak hidup lagi ke dunia.
Mati untuk selamanya.
"Enak sekali mereka, ma. Apa yang harus kita lakukan, agar mereka tak hidup dalam kebahagian seperti ini. Aku benar benar tak suka melihatnya."
Dera mulai berpikir dengan jerni, ia kini berniat untuk memikirkan cara menghancurkan Sarla.
"Ma, apa kita pulang saja."
"Kalau kita pulang, kita yang akan merasa salah. "
__ADS_1
"Kalau kita tidak pulang, mereka akan terus bersenang senang seperti ini."
"Tak apa, kita beri saja waktu mereka menikmati hidup setelah itu kita hancurkan saat itu juga."
******
Di tengah kebahagian, ada sosok yang menatap Lilia dan juga Sarla. Dimana raut wajah itu tampak tak asing dilihatnya.
"Siapa, wanita itu?"
"Kenapa, de?"
Lilia tersenyum kepada Sarla, lalu menjawab," Tidak kak!"
Anak berumur sembilan tahun itu takut salah mengira, jika wanita tua yang berada jauh dihadapannya sedang menatap kearah mereka berdua. Tidak berburuk sangka terlebih dahulu, namun ada rasa curiga mengelilingi pikiran Lilia.
Wanita tua itu terlihat menyeramkan, karena raut wajahnya yang hancur karena bekas terbakar.
"Lilia."
"Iya, kak?"
"Dari tadi, kakak perhatiin kamu melamun terus. Kenapa!?"
"Mm, hanya perasaan kakak saja, Lilia baik baik saja kok!"
Kerudung hitam melekat pada wanita tua itu, membuat Lilia semakin ketakutan, Kedua mata membulat, seakan menyelidiki sang gadis kecil yang tengah berjalan dengan sang kakak.
"Kenapa wajahnya menyeramkan, apa maksud wanita tua itu menatap ke arahku?" Gumam hati Lilia.
Sampai dimana," Lilia, sayang."
"Mm, ya kak?"
"Kamu ini kenapa dari tadi melamun terus?!"
Pertanyaan sang kakak, membuat Lilia menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
" Lilia enggak melamun kok kak!" jawab Lilia dengan memperlihatkan rasa takutnya, terlihat Sarla merasa Curiga dengan sang adik, karena gelagatnya yang terlihat begitu aneh.
" Coba kamu katakan sama kakak, apa yang sebenarnya kamu takutkan sekarang?"
Lilia sudah menduga juga sang kakak terlihat begitu mencurigai gelagatnya, Sarla melihat jari tangan sang adik ya tempelkan pada bibir.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang yuk, kak."
Padahal waktu menuju sore masih begitu lama, Lilia sudah meminta sang kakak untuk segera pulang," kenapa sayang, ini masih siang loh, dan kita belum menjelajahi wahana permainan ini."
"Tapi kak, Lilia ingin pulang sekarang juga, ya. Please, kita pulang, karena permintaan sang adik yang terus menekan Sarla, membuat dang kakak pada akhirnya menurut. " Baiklah kalau kamu memaksa. "
Lilia menarik tangan kakaknya itu, untuk segera pergi dari wahana permainan yang sebenarnya belum puas di jelajahi oleh Lilia sendiri.
" kalau kita pulang kamu tidak menyesal kah, Lilia?"
Pertanyaan sang kakak membuat ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak kak."
"Baiklah kita pulang. "
Lilia mulai menarik tangan sang kakak, untuk segera menyingkir dari hadapan wanita tua yang seperti mengikuti dirinya.
Sarla benar-benar penasaran dengan tingkah adiknya sendiri, padahal dari tadi Lilia terlihat begitu ceria, tapi sekarang Iya seperti orang yang ketakutan.
Naik pada mobil, Lilia tampak menatap ke arah kiri dan juga kanan, Sarla melihat jika adiknya seperti mencari seseorang. "apa yang kamu takutkan, de. "
Lilia malah menempelkan telunjuk tangannya di hadapan sang kakak, ya terlihat begitu gemetar ketakutan," ayo Kak kita pulang."
Sarla yang melihat tingkah adiknya hanya menggelengkan kepala, ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Lilia.
Di dalam perjalanan, Lilia nampak mengatur napasnya beberapa kali, " Lilia, Sebenarnya kamu ini kenapa? Dari tadi kayak dikejar seseorang saja."
Saat itulah Lilia mulai berani mengatakan semua yang ia lihat. " Tadi itu seperti ada wanita tua yang mengikuti kita?"
Mengerutkan dahi sarla kini melirik ke arah kaca mobil, " Mengikuti kita, masa sih. Kok kakak enggak lihat. "
"Orang itu seperti menghindar dari gerak-gerik kakak, Lilia yang terus melihatnya merasa ketakutan sekali. Takut jika wanita tua itu melakukan hal yang jahat kepada kita berdua Kak."
Sarla malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita dari adiknya," mungkin itu hanya pakaian cosplay. "
"Kakak malah tertawa, Lilia ini serius ngomong sama kakak, orang itu benar-benar misterius dan menakutkan."
Sarla berusaha menenangkan perasaan dan juga rasa takut sama adik," kamu ini jangan terlalu berlebihan melihat sesuatu yang kamu lihat, bisa saja orang itu kebetulan hanya melihat kita.''
Lilia tampak menimpa perkataan Kakaknya sendiri," kebetulan dari mananya Kak, Setiap kali kita wanita tua itu terus mengikuti langkah kita, Lilia benar-benar curiga terhadapnya, makanya Lilia terburu-buru ngajak Kakak untuk segera pulang."
"Sudah, kamu ini mungkin kelelahan sampai berhalusinasi sejauh mungkin. "
__ADS_1
Sarla tetap tak mempercayai perkataan sang adik, ya malah menganggap Lilia tengah bercanda gurau. " kamu ini ya masih kecil bisa bikin orang tertawa."
Lilia jelas membulatkan Kedua mata dan mulutnya di hadapan sang kakak. " kak sarlah, Lilia ini tidak seperti orang yang pernah bercanda, lilia benar-benar serius mengatakan semua itu, Kenapa Kakak tidak percaya sekali dengan Lilia?"