
Didalam perjalanan menuju ke suatu tempat, Sarla terlihat begitu amat marah pada adiknya sendiri, ia melihat Lilia ketakutan saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Sampai di tempat yang di tuju, Lilia melihat sang kakak, menahan emosi, dimana tangannya itu mulai memegang bahu sang kakak.
"Kak Sarla. "
Sarla membalikkan badan, kini menatap ke arah adiknya." Apa kamu baik baik saja ketika Kakak tidak ada di rumah?"
Tiba tiba saja perkataan Sarla begitu mengejutkan untuk Lilia, padahal jelas jelas dia seperti marah besar kepada adiknya.
"Kak Sarla tidak marah pada Lilia?"
Tatapan polos itu di perlihatkan Sarla, dimana ia mempelihatkan kedua mata sayu kepada sang adik. " Kakak hanya berpura pura saja."
Lilia tanpak senang dengan Sarla yang ternyata mendukung. " Jadi kakak sudah tahu semuanya."
"Loh, kamu ini, kaya nggak kenal kakak saja, dari dulu kakak selalu dukung kamu dari pada mereka."
Lilia tanpak senang, kesedihan kini terpancar menjadi kebahagian, ia hampir berburuk sangka pada sang kakak yang telihat mendukung Lani.
"Kakak sudah tahu dari rekaman ini."
Sarla menunjukkan suatu video, dimana itu kiriman dari pembantu di rumah. Ia sengaja menyuruh pembantu yang ia percayain untuk menjaga adik satu satunya.
"Kakak."
Pelukan dilayangkan Lilia, ia merasa aman dan tenang jika dalam hidupnya keluarga yang paling baik adalah kakaknya sendiri.
__ADS_1
Sang kakak perlahan mulai melepaskan pelukan adiknya sendiri dan berkata," kamu jangan kuatir ya, kakak selalu ada untukmu. Walau sekarang kakak sudah menikah, kamu tetap adik kakak yang paling kakak sayang. "
"Terima kasih kakak."
Senyuman penuh kebahagian, ditunjukkan sang adik kandung, dimana Sarla mencubit kedua pipi Lilia. " kamu jangan kuatir dengan kakak, kakak tidak mungkin menyerahkan kasih sayang kakak pada orang lain, semua hanya kepura puraan kakak saja, untuk bisa membuat mereka jengah dan tak semena menanya. "
"Jadi kita harus berakting sekarang."
Sarla menganggukkan kepala," ya, kita harus berakting, agar bisa membuat mereka tidak nyaman di rumah. "
"Setuju."
Menunjukkan jempol tangan. Sarla mulai melajukkan mobilnya menuju ke rumah, dimana dalam perjalanan. Lilia kini berucap, " apa kakak bahagia dengan pernikahan kakak sekarang?"
Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Sarla pada saat itu. Jujur saja ia sebenarnya tidak bahagia menikah dengan Daniel Pria beristri yang ternyata memiliki sifat kejam, dimana Daniel suka membentak dan memberi hukuman yang tak seperstinya dilakukan.
"Kak," tatapan sayu dipelihatkan sang adik dihadapan kakaknya," Kak Sarla, apa Lilia salah berucap?" pertanyaan Lilia, mampu membuat bulir bening hampir menetes mengenai cadar Sarla, namun perlahan ia usap tanpa sengaja dilohat oleh adiknya.
Ada rasa sesal yang mendera pada hati anak berumur 9 tahun itu, karena sudah lancang bertanya soal pernikahan sang kakak.
Di balik cadar yang menutupi bibir Sarla,dia berpura-pura bahagia dan tersenyum. "Kakak menangis karena bahagia, bukan karena sedih."
Sarla terpaksa membohongi sang adik, agar tidak ada kekuatiran yang dipikirkan Lilia. Jika ia ceritakan mungkin Lilia akan nekad menghampiri Daniel, dan mengungkapkan semuanya.
"Kamu harus tahu sayang, saking Kakak bahagia sampai Kakak terharu dan menangis kamu jangan kuatir dengan pernikahan kakak sekarang. Karena lelaki beristri itu sangat baik, memperlakukan Kakak dengan lembut. "
jawaban yang jauh dari reality di mana seseorang berusaha menyembunyikan kesedihan dan juga penderitaannya.
__ADS_1
Namun Lilia merasa janggal dengan jawaban kakaknya sendiri, karena terlukis dari matanya kebohongan yang tak bisa diartikan Lilia. " Apa kakak tidak sedang membohongi Lilia?"
Naluri seorang adik dan kakak tak jauh berbeda, begitu kuat dan memahami satu sama lain.
"Siapa yang sedang membohongi kamu sayang, Kakak berkata apa adanya kok, kamu jangan kuatir ya dengan keadaan kakak yang sekarang, Kakak benar-benar bahagia sekali dengan pernikahan kakak."
"Syukurlah kalau Kakak bahagia, Lilia juga ikut bahagia. Jujur saja Lilia masih tak ikhlas melihat Ibu Dera dan juga Lani bahagia di atas penderitaan Kakak, tapi Saat Lilia mendengar kakak bahagia tidak ada yang harus Lilia khawatirkan saat ini. "
Sarla mulai mengusap pelan kepala adik kandungnya sendiri." Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Kakak lagi ya. Kakak Bahagia kok. "
Ucapan kata bahagia itu sudah beberapa kali terlontar dari mulut Sarla. Membuat Lilia, masih merasa janggal akan ucapan Kakaknya sendiri, hingga hatinya ingin mencari tahu tentang keadaan dan juga perlakuan suami Kakaknya sendiri. " sepertinya aku harus mencari tahu tentang perlakuan lelaki yang bernama Daniel itu kepada kakakku. kenapa aku merasa tak tenang mendengar perkataan kakak yang terus mengucapkan kata bahagia. seperti ada sesuatu yang disembunyikan kakak sarla."
Sarla mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar ia segera sampai di rumah. Saat fokus mengendarai mobil Sarla menyutuh sang adik untuk berpura-pura menangis, dengan memakai tetes air mata, tak lupa mencubit-cubit kedua pipinya agar terlihat memerah.
Bahwa Lilia, sudah diberi peringatan oleh sarla agar tidak menjahati Lani lagi, padahal dalam kenyataannya mereka sudah bersekongkol ingin mengeluarkan kedua orang yang sudah membuat hidup mereka menderita.
*******
Sedangkan Lani yang baru saja masuk ke dalam kamar, mendengar suara tepuk tangan dimana ia langsung membalikkan badan melihat sosok ibunya tersenyum menepuk-nepuk tangan.
"Lani, Mama tidak menyangka kamu menjadi Lani yang Mama inginkan selama ini. " senyum terukir dari bibir tebal sang mama untuk anaknya, rasa bangga sudah melihat Lani bisa menjadi anak pendendam.
Menjawab perkataan sang mama," Jadi kalau Lani seperti ini Mama akan menyayangi Lani lebih dari kemarin. " Lani tampak senang dengan dirinya yang sekarang, ia lebih percaya diri.
Dara kini mendekat ke arah anaknya, di mana ia memeluk Lani dengan penuh rasa kasih sayang, seorang ibu kepada anaknya. "tentu sajalah Lani. Mama akan menyayangimu lebih dari kemarin. Apalagi sekarang kamu sudah pintar dalam drama, teruskan saja sayang seperti ini agar rencana kita berhasil, untuk membuat mereka berdua menyingkirkan dari rumah lelaki yang sudah sangat mama cintai. "
"Pastinya mam, aku akan berdrama untuk bisa merebut keinginanku yang selama ini aku inginkan. " Balas Lani dengan keangkuhan dalam dirinya, yang selalu terhasut oleh mama tirinya sendiri.
__ADS_1
"Pintar, baru ini anak mama yang sebenarnya." Puji Dera, agar Lani bisa menjadi sosok anak yang kuat tak memberi ampun pada lawan.
Selama ini Dera sudah menginginkan momen seperti ini, di mana anaknya berpihak kepada dirinya sendiri, tidak seperti kemarin yang selalu keras kepala jika diberi nasehat oleh mamanya sendiri.