
Baru saja masuk ke dalam garasi mobil, suara panggilan telepon berdering, Sarla terkejut setelah melihat layar ponselnya. Nama Daniel muncul begitu saja, membuat Sarla malas sekali mengangkat panggilan dari Daniel.
Lilia yang melihat raut wajah kakaknya, kini berucap dengan nada pelan, " kenapa kak? Kok sedih begitu, siapa yang menelepon. "
"Owh, ini bukan siapa siapa!" jawab Sarla, mulai membuka pintu mobil untuk keluar.
Namun panggilan telepon dari Daniel terus saja mengganggu dirinya, membuat hidupnya terasa tak tenang.
"Kenapa dia meneleponku terus menerus, ganggu saja." mengguru kesal dalam hati, wanita bercadar merah muda itu mendapatkan sebuah pesan, dari suaminya.
( Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku, Sarla.)
Menutup pintu mobil setelah Ia turun, Sarla mengabaikan pesan dari suaminya.
" Kenapa sih setiap kali aku pergi ke mana-mana dia itu selalu menggangguku, memangnya aku ini seorang tahanan apa. " menggerutu sembari menatap layar ponsel.
Tanpa sengaja Lilia melihat ponsel kakaknya yang terus berdering menampilkan nama Daniel.
"Loh, kak. Itukan suami kakak, kok nggak kakak angkat sih?" pertanyaan Lilia, membuat Sarla tersenyum tipis.
"Sudah tak apa, dia memang seperti itu, tiap kali Kakak pergi ke mana-mana, pasti dia selalu menelpon kakak!" jawab sarla berusaha tidak memperlihatkan kekesalannya di hadapan sang adik.
" Hebat dong kak," ucap Lilia pada Sarla.
Sarla mengerutkan dahi, setelah kata hebat keluar dari mulut adiknya, " kel begini kamu bilang hebat, terlalu overprotektif menganggu sehari hari kakak."
"Kayaknya kak Daniel sudah terpincut oleh kakak, makanya dia jadi seperti itu, cemburuan. "
Deg ....
Ucapan sang adik membuat Sarla memegang dadanya, merasa tak percaya.
"Ngaur kamu kalau ngomong, dia itu istri orang."
"Lah, kakak?"
"Istrinya juga!"
"Tuh kan. "
Sarla merasa kesal pada dirinya sendiri, saat Lilia bertanya seperti itu, padahal ia tak berharap sama sekali terhadap Daniel.
"Kok, kakak diem."
Pada akhirnya Sarla mulai bercerita, tentang Daniel.
__ADS_1
"Diem, karena kakak kesal sekali dengan suami kakak itu."
"Maksud kakak, ka Daniel?"
"Ya iya, siapa lagi coba!"
"Mm, kesap kemanapa emang kakak."
"Kalau Rafa nelepon atau kirim pesan, dia langsung marah pada kakak, bayangin sama kamu wajah marah si Daniel itu, bikin kesal. Menjijika."
Sebagai seorang adik Lilia malah tertawa dengan cerita sang kakak, ia memukul mukul pintu mobil dengan perlahan. " Itu tandanya, dia sayang sama kakak, sudah menyimpan rasa."
"Mm, kamu kalau ngomong?"
Sarla tetap tak percaya dengan cinta, apalagi Daniel sudah memiliki istri dan akan mempunyai anak.
"Tuh kakak malah melamun lagi?"
"Mm, ya habisnya kamu bikin perkataan yang membuat kakak berpikir."
Lilia tahu jika sang kakak kurang updet, jadi dia sering melamun dan memikirkan pekataan yang belum ia mengerti.
"Kakak, sih nggak pernah pacaran. Jadi kudet."
Lilia berjalan perlahan, meninggalkan Sarla dimana Sarla berteriak. " Kamu mau kemana?'"Teriakan Sarla, membuat Lilia berhenti dan kini membalikkan badannya.
" Tadi kamu bilang apa. "
Sarla penasaran arti dari kata kudet, " Yang mana?"
"Tadi itu kudet. "
"Oh, itu. Rahasia."
Lilia tersenyum dengan ketidak tahuan kakaknya, ia tahu jika sang kakak tak pernah gaul dengan siapapun.
Menjadikan bahasa kecil dan diketahui orang lain pun ia tak tahu.
"Huh, dasar kamu ya."
" Kak, kita sudah sampai pintu. Ayo. "
"Ya sudah ayo."
Lilia mulai menurut akan perkataan kakaknya,
__ADS_1
Pulang dari rumah, Dera dan juga Lani melihat penampilan Lilia yang tak biasa, di mana anak berumur 9 tahun itu, begitu berantakan sekali, dengan kedua mata merahnya.
Lilia memperlihatkan bahwa ia sudah menangis, karena mendapatkan pelajaran dari kakak kandungnya sendiri, Lani tersenyum senang, di mana ia berbisik dalam hatinya." mampus memang kamu pantas mendapatkan itu Lilia."
Sarla, terlihat kesal dengan tampilan kedua orang yang berada di hadapannya, tidak ada rasa simpati sedikitpun di hadapan Lilia, mereka begitu senang jika Lilia mendapatkan perlakuan tidak baik dari kakak kandungnya sendiri.
Adik kakak, mulai memainkan drama mereka. Dimana Sarla memarahi kembali Lilia, dengan membulatkan kedua matanya.
"Lilia, sebaiknya cepat kamu masuk ke dalam kamar, kakak tidak suka melihat kamu menjadi anak yang nakal," tegas sarla pada adiknya di hadapan Dera dan juga Lani.
Lilia menundukkan pandangan, dia hanya menurut dengan menjawab," iya kak."
Lani memperlihatkan wajah sedihnya, memeluk erat tubuh Sarla, dan berkata." Kak Sarla kenapa pergi, Lani ketakutan di sini sendiri."
Lani memperlihatkan kemanjaannya di depan Sarla, sengaja melakukan itu semua supaya Lilia semakin iri dan tampak menderita di hadapannya.
Namun pada kenyataanya tidak ada rasa iri sedikit pun pada Lilia, ia terlihat biasa saja karena ia sudah tahu jika Sarla berpihak kepadanya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Lilia berpura-pura menangis, berjalan secara perlahan menuju ke dalam kamar, sedangkan Lani masih berada dengan Sarla," kakak kita main yuk. "
Lani sengaja melakukan semua itu, untuk memanasi Lilia, agar dia bisa menaklukkan hati Sarla.
" Maafkan kakak ya Lani, saat ini kakak tidak bisa menemani kamu bermain lagi, soalnya Kakak mau pulang ke rumah, takutnya suami Kakak nanti nungguin di sana."
"Ya kakak, kok begitu. Kan Lani masih kangen. "
"Entar aja kangennya ya."
Lani menganggukan kepala, dimana Lilia masuk dengan menendang pintu kamarnya begitu keras.
"Dasar lebai, sok pura pura." Gerutu hati Lilia.
Sarla mulai berpamitan untuk pulang, karena dari tadi ponselnya terus berbunyi, di mana Daniel terus menelepon dan mengirim pesan kepadanya.
Membuat rasa tak nyaman dan juga tak tenang dirasakan oleh sarla, di mana ia harus menurut dengan perkataan suaminya sendiri.
"Kakak hati hati ya."
ke pura-puraan Lani begitu sempurna, membuat sarla hanya mengganggukan kepala dan berterima kasih dengan ucapannya, padahal Ia tahu dibalik senyuman itu ada niat jahat.
"Lilia?"
Sarla ingat dengan adik kandungnya, di mana Lani langsung menghentikan langkah sarla secara tiba-tiba," Sudahlah Kakak pulang saja tidak perlu berpamitan dengan Lilia, Sepertinya dia lagi menenangkan diri di dalam kamar. Biar Lani saja yang menghampiri dia. "
ucapan anak berumur 8 tahun itu begitu manis, Iya bisa membuat perkataan yang dipercayai oleh orang lain.
__ADS_1
Sarla memegang bahu Lilia, " kak sarla percayakan kepada kamu Lani, tolong bujuk dia setelah kakak menghukumnya, jika Lilia berbuat nakal terhadap kamu lagi, Lani bisa bilang saja kepada kakaknya, biar nanti Kakak beri pelajaran kepada anak. Biar nanti Kakak beri pelajaran kepada anak itu. "
Lani begitu merasa senang, jika Sarla perlahan demi perlahan mempercayainya, karena itu yang diharapkan Lani saat ini. Merebut kasih sayang Sarla agar menyayangi dirinya dan membenci Lilia.