
Entah kenapa Daniel itu selalu datang secara tiba tiba, menggangu hari hari santai Sarla. Dimana waktunya Daniel berada di rumah Wulan, " Bukannya sekarang itu kamu di rumah Wulan, kenapa selalu datang ke sini?" Pertanyaan Sarla, membuat Daniel diam, ia kini menjawab dengan meringis kesakitan. " Aku datang ke sini hanya ingin memastikan kamu baik baik saja."
Sarla amat kesal sekali dengan Daniel, ia memeras handuk, lalu membilas luka lembab dengan sangat kasar.
"Aw, aw. Sakit Sarla."
"Ya elah, cengeng amat sih."
Sarla yang tadinya begitu lembut kini berubah derastis, dimana sifat aslinya diwaktu gadis semua terlihat di depan mata Daniel.
"Sarla, dulu kamu itu begitu anggun dan lembut tapi sekarang kenapa berubah derastis, ada apa dengan hidupmu?"
Sarla terlihat kesal, ia menyumpal mulut Daniel dengan handuk, dimana tangan kanan Sarla ditarik paksa olehnya.
Pembantu yang melihat pemandangan itu, kini pergi karena rasa malunya. " Lepaskan. "
"Jadi apa yang membuat kamu berubah." Senyum licik tergambar dari bibir Daniel, dimana lelaki itu kini menarik cadar sang istri.
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Kenapa?"
"Lepaskan aku!"
"Hey, kita ini suami istri, ingat itu. Apa pun yang akan aku lakukan setidaknya kamu harus pasrah, karena ini kewajiban kamu melayaniku."
"Daniel, seharusnya kamu ini bisa bersikap adil, karena sekarang bukan waktunya aku meladeni kamu."
"Kenapa begitu, tetap sajakan. Itu kewajiban kamu."
"Memang melayani seorang suami adalah kewajiban istri, tapi tetap saja kamu harus bersikap adil kepada istri istrimu, karena bagaimana pun seorang istri mempunyai hak lahir batin dari seroang suami."
Daniel tampak kesal, jika Sarla membahas tentang hal itu, ia rasanya ingin meleparkan istrinya begitu saja, tapi itu tak mungkin.
Karena sekarang napsunya memuncak, saat ia memeluk erat pinggang raping Sarla.
"Sudahlah, sekarang kamu layani aku. "
Sarla mencoba melepaskan tangan kekar suaminya, namun tangan itu begitu kuat melingkari pinggangnya.
"Kenapa, apa kamu mau lari dari hadapanku saat ini."
Sarla sudah tak berdaya, melawan, tapi tubuhnya sudah tak berdaya, karena kekuatan dari Daniel yang amat kuat, membuat tubuhnya lemah.
"Lepaskan aku, atau aku senggol burungmu itu."
Daniel tertawa terbahak bahak, saat membahas tentang burung, " Kenapa berkata seperti itu, di senggol bukannya malah akan terbang ke sarang. "
__ADS_1
Bukan lucu, tapi Sarla merasa tak suka dan tak nyaman. " Lepaskan aku, sebaikanya kamu pulang menemui Wulan, dia sedang hamil. Harusnya kamu menjaga kandungannya dengan baik."
"Sejak kapan, istri keduaku ini menasehati suaminya ini terus menerus."
Sarla menggerutu kesal dalam hatinya," bisa bisanya aku terperangkap dalam pelukan Daniel."
"Daniel, lepasakan. "
Daniel malah semakin sengaja, ia kini memeluk istrinya itu, lalu mengatakan perkataan yang membuat Sarla tak suka. " ayolah, layani aku, aku akan pulang setelah kamu memberikan kehagatan kepadaku."
"Tidak bisa Daniel, malam ini dan seminggu kemudian, kamu harus bersama Wulan, karena ini jatahnya Wulan."
********.
Ternyata Wulan baru saja sampai di rumah Sarla, dimana pak satpam tidak mengijinkannya masuk.
"Maaf Nyonya, dilarang masuk."
Wulan tak suka dengan larangan satpam itu, ia kini menyingkirkan tangan satpam yang menghalangi jalannya.
"Minggir, aku mau menemui Sarla."
"Tidak bisa Nyonya."
Wulan tetap memaksa hingga pada akhirnya, Sarla masuk dan terkejut melihat apa yang ia lihat.
Mengepalkan kedua tangan kesal dengan kelakuan suaminya yang berbohong, pergi setelah memarahi Wulan, untuk sekedar menghampiri Sarla.
"Nyonya jangan pergi,"
Satpam itu, berusaha menghentikan Wulan, namun ia tak bisa, dimana Wulan menendang hal yang berharga dalam hidup satpam itu.
"Aduh Nyonya."
"Dasar satpam lemah."
Wulan pergi melangkahkan kakinya dengan bergitu cepat, untuk segera bertemu dengan Daniel dan Sarla.
"Aku ingin tahu, mereka sedang apa?"
Satpam yang berhasil dikalahkan Wulan, kini meringis kesakitan, akibat tendangan yang amat keras, membuat ia tak sanggup berdiri.
"Nyonya tega amat, sampai mukul, barang berharga saya."
Wulan mulai mengendap ngendap, agar tidak dicurigai pemilik rumah, ia penasaran dengan Daniel ketika berkunjung ke rumah Sarla. Menatap ke arah cermin, dan betapa terkejutnya Wulan saat itu, melihat Sarla dalam lahunan suaminya.
Padahal wajar sekali jika mereka melakukan hal itu, karena ada ikatan pernikahan pada keduanya secara sah. Dan diakui negara.
__ADS_1
Wulan memegang dadanya, sungguh menyakitkan pemandangan yang ia lihat, menyesal karena datang, jika pada akhirnya terluka.
Tak terasa Wulan meneteskan air mata, seharusnya yang sekarang berada dalam lahunan Daniel adalah dirinya, karena jatah hari ini bersama Wulan. Satpam itu kini datang, ia menutup wajahnya, melihat pemandangan saling tatap mata yang tak boleh ia lihat, karena dirinya jomblo.
"Nyonya Wulan."
Wulan mempelihatkan telapak tangan, ia kini berucap, " Stop, jangan berbicara lagi, aku tahu apa yang harus aku lakukan. "
Wulan ingin menyadarkan Daniel, jika memiliki istri dua harus adil jangan semena mena. Ia kini memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah Sarla, karena memang dari awal datang itulah tujuanya.
Satpam mulai menghentikan langkah sang nyonya dengan berkata, " Nyonya hentikan jangan lakukan itu."
"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaanku jika seorang suami tidak adil."
Satpam itu kini menundukkan pandangan setelah mendengar keluhan sang nyonya, " Tapi nyonya."
"Sudah cukup, jangan kuatir, aku tidak akan membuat keributan, kamupun tidak akan aku bawa dalam masalah ini."
Satpam itu tak bisa berkutik lagi, dimana Wulan menyelipkannya sebuah uang lembaran merah, " Wah gini enak kan."
"Sudah jangan banyak omong, cepat sana tutup gerbang."
"Baik Nyonya. "
Ternyata uang bisa mengalahkan tanggung jawab satpam itu.
Wulan mulai merapikan pakaiannya, takut nanti terlihat kusut. Begitupun dengan rambut panjangnya, " sudah."
Wulan mulai menarik napasnya, mengeluarkan secara perlahan, waktunya ia menghadapi kedua insan yang menurut dia sedang dimabok asmara.
Satpam yang tadi berjaga, hanya menatap dari kejauhan, karena ia tak mau ikut campur dan terbawa bawa akan masalah.
Membuka pintu rumah, sembari mengetuk pintu, Wulan melayangkan sebuah tepukan tangan lalu berkata. " Owh, so sweetynya. Kalian berdua ini."
Daniel malah sengaja tak melepaskan tanganya yang masih melingkar pada punggung Sarla.
"Bisa bisanya, kamu tak adil seperti ini, mas, apa kamu lupa, jika aku itu sedangan mengandung."
Daniel seakan tak peduli dengan tangisan istrinya, ia begitu menikmati, pelukannya pada Sarla. Dimana Sarla berusaha memberontak untuk turun dari lahunannya.
"Daniel, lepaskan aku."
"Sudah kamu duduk saja di sini."
Bukannya melepaskan, Daniel malah sengaja memeluk erat tubuh Sarla dengan kencang, agar istri keduanya itu tidak pergi ke mana mana..
"Daniel, lepaskan aku, apa kamu tidak menghargai Wulan ada dihadapanmu saat ini?"
__ADS_1
Pertanyaan Sarla membuat Daniel, hanya diam.