
"Ya sudah kalau itu kemauan kamu aku akan kabulkan. "
Bukanya menenangkan sang istri, Daniel malah semakin menjadi jadi, ia s membuat Wulan Murka.
Lelaki berbadan kekar yang kini berdiri di hadapan Bi Siti, membuat Wulan mengambil benda apa saja yang berada di meja, ia mulai melemparkan benda itu perlahan demi perlahan. Hingga mengenai tubuh sang suami, " rasakan ini, kamu memang pantas mendapatkan hal seperti ini."
Daniel tahu jika ia adalah seorang lelaki, makanya tak berani melakukan perlawanan lagi, apalagi sang istri tengah mengandung.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, jika memang niatmu hanya ingin membuatku marah saja. "
Daniel akhirnya menuruti perkataan Wulan, jelas jelas tadi ia ingin membahas soal dirinya yang masuk ke ruang kerja, tapi karena kondisi Wulan yang tak memungkinkan untuk di tekan oleh sebuah pertanyaan pada akhirnya, Daniel mengalah ia pergi dari hadapan Wulan.
Setelah kepergian Daniel, Wulan menitihkan air mata, dimana Bi Siti berkata, " Nyonya yang sabar ya. "
Menatap ke arah wanita tua itu dengan kedua mata yang sayu, "Terima kasih ya bi, selalu bisa menenangkan hati Wulan. " Bi Siti tersenyum lalu menjawab, " sama-sama Nyonya Wulan. "
**********
Daniel tak terima dengan perkataan Wulan, ia menggerutu kesal dirinya sendiri, " Sialan. "
Mengacak rambut, Daniel nampak frutasi, dengan keadaannya yang sekarang, apalagi setelah mendengar kata kata tak menyenangkan dari mulut Sarla.
Lelaki berbadan kekar itu mulai merebahkan tubuhnya, ia telihat kelelahan setelah sesuatu menimpa dirinya.
"Sarla, asal kamu tahu kenapa aku melakukan semua itu, aku sudah cinta kepadaku kamu. Aku takut jika kontrak selesai, aku tak akan sanggup kehilanganmu. "
Daniel berkata jujur pada dirinya sendiri, jika mulut dan hati tak bisa ia kendalikan, karena ternyata ia kalah dengan seorang wanita bercadar yang mampu mengetuk hatinya membuat ia seakan dikendalikan begitu saja.
"Bisa bisanya hatiku berubah seperti ini. Padahal dulu aku sudah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak mencintai Sarla dan akan menetapkan hati pada Wulan. "
Namun pada kenyataanya, aku hanyalah lelaki lemah, tak berdaya, ketika membahas tentang cinta. Dan pada keyataanya aku kalah.
Daniel berusaha melupakan kekesalannya dengan menutup kedua mata, ia ingin tertidur di malam ini. Merasakan beban begitu berat yang ia rasakan saat ini sirna begitu saja.
__ADS_1
Beberapa kali Daniel menguapkan mulutnya, terlihat ia menahan rasa kantuk yang begitu tak tertahankan, perasaanya tak karuan.
Hingga.
Tok .... Tok ....
ketukan pintu terdengar, Daniel yang baru saja ingin melupakan segala masalahnya kini terusik kembali, pada akhirnya ia membuka kedua mata dan bangkit dari ranjang tempat tidur.
Berharap bukan kemarahan dari orang-orang yang mengganggunya. " Iya ada apa?"
Alenta terlihat begitu histeris melihat Daniel membukakan pintu kamarnya, " Daniel sayang, ada sesuatu yang mau mama katakan. "
"Sesuatu apa?"
Alenta menarik tangan anaknya, ia membawa Daniel pergi ke sebuah taman, hanya ingin membicarakan tentang Bi Siti yang masih bekerja di rumah.
"Ibu ini kenapa? pakai acara tarik-tarik tangan Daniel segala. "
" Ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan dengan kamu. Tolonglah kamu mengerti saat ini. "
Wajah dingin Daniel selalu ia perlihatkan pada siapapun, saat ia tengah marah atau pun kesal.
"Apa kamu bisa memecat si Siti itu, " ucap Alenta, dimana Daniel mengerutkan dahinya, merasa heran dengan perkataan sang ibu.
"Memangnya kenapa dengan wanita tua itu?" tanya Daniel, Alenta terlihat mengerutkan bibirnya, masih tak abis pikir dengan anaknya yang malah bertanya lagi.
"Daniel, apa kamu tidak sadar, jika si Siti itu sudah terlihat mencurigakan, dia selalu membela Wulan!" jawab sang ibunda, berharap jika Daniel memecat wanita tua itu. Karena Alenta sudah muak dengan tingkah Bi Siti yang terus menerus membela Wulan.
"Bagaimana Daniel?"
Daniel terlihat ragu akan perkataan ibunya, ia bingung, karena masih nyaman mempekerjakan Bi Siti di rumah. Dari kecil Daniel tak lepas dari pengawasan Bi Siti, wanita tua itu seperti sosok seorang ibu yang selalu menyayangi Daniel sepenuh hati.
"Biar aku pikirkan dulu, bu!" jawab Daniel dengan penuh keraguan.
__ADS_1
"Hah, kamu ini terlalu banyak mikir, sampai melepaskan Bi Siti di rumah ini, susahnya minta ampun." ucap Alenta, tak suka dengan pemikiran anaknya yang lambat dalam menentukan pilihan.
"Bi Siti sudah seperti sosok pengasuhku yang begitu baik, berat rasanya jika harus memecat dia, karena aku nyaman dengan wanita tua itu, dalam mengurus keperluanku, " jelas Daniel kepada ibunya.
Alenta melipatkan kedua tangannya, ia lalu pergi dari hadapan anaknya, " kamu ini, sudah ibu bilangin tetap saja plin plan. "
Daniel hanya bisa menghelap napas, ia tak bisa berbuat apa apa saat ini, hanya menerima perkataan ibunya.
Dimana Bi Siti ternyata tengah mengintip percakapan Daniel dan juga ibunya, saat Daniel mulai melangkahkan kaki untuk segera pergi ke ruang kerja, Bi Siti terburu-buru pergi menuju ke kamar Wulan.
Wulan melihat Bi Siti yang berlari, membuat ia merasa heran dan kini bertanya," kenapa bi, kok lari lari sampe ngos ngosan gitu. "
Bi Siti memegang dadanya, merasa detak jantungnya berpacu begitu cepat. " Bi Siti ini kenapa?"
Ia lalu berjalan ke arah Wulan dan berkata, " Bi Siti tak sengaja mendengarkan percakapan Nyonya Alenta dan Daniel.
Wulan penasaran ia kini bertanya?" Apa yang mereka obrolkan bi."
"Nyonya Alenta memaksa Tuan Daniel untuk mengeluarkan bibi dari rumah ini!" jawab Wanita tua itu, dimana Wulan mulai bertanya lagi," Terus bi, jawaban Daniel apa?"
"Tuan Daniel tidak mau mengeluarkan bibi dari rumah ini. "
Wulan tampak senang dengan jawaban pembantunya itu, tak menyangka jika Daniel memang membutuhkan Bi Siti.
Pantas saja ketika Daniel memarahi Wulan di depan Bi Siti, ia selalu menunduk, karena mungkin Bi Siti sudah menjadi bagian dalam hidupnya di waktu kecil.
Apalagi Bi Siti bekerja di rumah Daniel semenjak Daniel bayi, dan otomatis, yang mengurus Daniel hanyalah Bi Siti. Karena dulu wanita tua itu orang yang dipercaya hingga sekarang.
Alenta pun senang dengan pekerjaanya yang cekatan dalam mengatur semua pelayan, namun ada rasa tak sukanya, karena bi siti dekat dengan Wulan, menantu yang sudah berhianat pada keluarga Alenta.
Karena Wulan hampir saja menghancurkan martabat keluarga Daniel. Karena ia berani berselingkuh dengan lelaki biasa yang tak punya gelar atau jabatan.
"Nyonya Wulan. "
__ADS_1
"Iya bi."
"Nyonya harus selalu turutin apa pekataan bibi ya, karena semua yang bibi lakukan pada nyonya, yang terbaik untuk Nyonya, dan lagi anggap kesalahan itu sebuah penyesalan nyonya, jadi benteng pertahanan untuk nyonya bangkit menjadi wanita lebih baik lagi, jangan ulangi kesalahan yang sudah sudah. "