
"Suster coba jelaskan?" tanya Wulan, kepada sang suster yang telihat kebingungan karena perkataan Ita.
Ada rasa curiga melihat tingkah Ita, pada diri Wulan, dimana pembantu itu mendekat pada sisi kiri Wulan.
"Nyonya, anda salah paham, suster ini salah bicara."
Berusaha menghentikan perkataan suster, Ita meletakan ponsel pada meja dekat ranjang tempat tidur tanpa ia sadari.
Ita langsung menarik suster yang berada di samping Wulan, membawa suster itu keluar ruangan.
"Kenapa dengan si Ita ini?"
Di luar ruangan. Suster mulai bertanya, " Kenapa anda membuat kebohongan?"
"Tolonglah mengerti, suami majikan saya sedang keritis, kalau dia dengar kematian anaknya, saya takut jika dia semakin drop!"
Suster mulai mengerti, ia merasa menyesal tak tahu jika pasien tengah merasakan keterpurakan.
"Baiklah, saya minta maaf. "
Pada percakapan keduanya yang berada di luar ruangan, Wulan mendengar ponsel Ita berbunyi. Perlahan tangannya mulai meraih ponsel itu.
"Bi Siti, menelepon."
Wulan mulai mengangkat panggilan telepon, namun malah mati mendadak. Dimana satu pesan datang dari Bi Siti.
"Untung tidak dikunci. "
Dengan mudahnya Wulan, membuka pesan dari Bi Siti. kedua matanya membulat membaca pesan percakapan Itan dan juga Bi Siti, kedua matanya mulai berkaca kaca.
Hatinya tak menyangka, jika harus mendengar kenyataan pahit, jika bayi dalam kandungannya meninggal dunia. Memegang dada, perasaan Wulan terasa hancur, ia merasa tak karuan.
"Pantas saja, Ita menarik tangan suster tadi. Ia tak mau jika aku tahu kematian anakku. "
Menaruh ponsel, berusaha tetap tenang. Ita masuk dengan suster. Terlihat keduanya mulai berdrama. "Nyonya, kata suster bayinya belum bisa dibawa ke sini?"
Wulan masih diam, ia berusaha tetap tenang, walau sebenarnya perasaan saat ini hancur.
"Nyonya."
Suster hanya menganggukkan kepala, dimana Wulan berkata. " Ita, apa sekarang kamu tengah membohongiku?"
Pertanyaan Wulan membuat Ita terkejut, bisa bisanya ia mendengar pertanyaan itu. " nyonya, saya .... "
Menatap ke arah Ita dengan kedua mata berkaca kaca, " Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa karena perintah Bi Siti. "
"Nyonya."
Ita seakan tak diberi kesempatan untuk berbicara, ia langsung membentak Ita dengan berkata lagi. " Untuk apa hah, kalian membohongiku, tak ada guna."
"Nyonya bukan begitu .... "
Air mata kini menetes pada kedua mata Wulan, dimana tetesan air mata itu, mengalir mengenai pipi.
__ADS_1
"Nyonya, saya melakukan semua ini. Tidak mau membuat anda bersedih."
Wulan mengusap perlahan air mata yang terus tumpah mengenai pipinya, ia berusaha tetap tegar menghadapi kenyataan yang ada.
"Saya tahu kamu melakukan semua ini karena Bi Siti. " Wulan menunjukkan pesan percakapan antara Ita dan Bi Siti. Ia terlalu ceroboh saat menaruh sebuah benda.
"Ponsel saya. "
"Saya sudah melihat dari sini, jadi jangan membuat kebohongan lagi. "
Suster hanya diam, tak ingin ikut campur. Dimana kondisi Wulan yang kurang baik membuat ia berkata. " saya ingin menatap bayi mungil saya. "
Suster itu menatap ke arah Ita, mungkin ia terlihat ragu untuk menjawab perkataan pasiennya.
"Kenapa malah diam saja, saya tanya sama anda?"
"Ehh, boleh Bu!"
Suster meminta para perawat untuk membantu Wulan duduk di kursi roda, " tolong bantu Pasien ini, duduk di kursi roda. "
Ita yang mulai membantu, membuat Wulan berkata, " Menjauh dariku. "
Nampak Wulan terlihat begitu membenci Ita, menyuruh pembantu itu untuk segera menjauh.
"Nyonya. kenapa?"
Wulan melihat kekesalannya, padahal Ita sudah banyak membantu Wulan, tapi dimananya Ita seakan orang yang sudah menyebabkan kematian bayi dalam kandungannya.
Ita mengambil ponsel, ia terkejut dengan panggilan telepon dari Bi Siti.
Ita menangis menyesali semua yang terjadi, sifat aslinya ia perlihatkan, " Maafkan saya bi. "
Bi Siti tampak heran, mendengar Ita menangis. " Ita, loh,.kamu malah menangis. Ada apa?"
Ita ketakutan jika ia mengatakan semuanya, Bi Siti akan marah. " Maafkan saya, bi?"
"Maaf kenapa? Coba jelaskan?"
"Sebenarnya, Nyonya Wulan sudah mengetahui bayinya meninggal dunia. Karena saya terlalu ceroboh menyimpan ponsel dimana saja. "
"Ya sudah Ita, kamu tak usah menangis. Sekarang dimana Wulan?"
"Nyonya Wulan pergi melihat jenazah bayinya!"
"Ya sudah kalau gitu, aku hanya kuatir dengan keadaanya, tapi kamu lihat Wulan tidak mengamukkan. "
"Tidak Bi, hanya saja Nyonya Wulan seperti kesal kepada saya. "
"Masalah itu kamu jangan pikirkan, biar saya nanti yang urus."
"Baik bi. "
Tiba tiba saja Ita mendengar suara Alenta, dimana sang nyonya besar bertanya akan keadaan Wulan.
__ADS_1
"Bi Siti, dari tadi saya dengar kamu berbicara?"
"Ya, nyonya. Saya sedang berbicara dengan Ita dalam sambungan telepon!"
"Bagaimana keadaan Wulan. "
"Nyonya Wulan drop setelah mendengar anaknya meninggal dunia. "
"Oh, hanya itu saja. "
Sambungan telepon masih tersambung dengan Ita, dimana ia mendengarkan ketidak pedulian sang nyonya besar kepada menantunya.
"Halo."
Lamunan Ita membuyar, saat panggilan dari Bi Siti. " Ya bi. Ada apa?"
"Sudah dulu ya, bibi mau membeli makanan untuk nyonya besar,"
"Iya bi. "
"Tolong kamu jaga Wulan di sana ya. Bibi titip. "
"Iya bi. "
Telepon terputus.
Ita mulai melangkahkan kaki, melihat keadaan Wulan yang sekarang, ia berharap jika Wulan tidak membencinya saat ia mendekat.
Wulan memegang bayi mungil yang sudah tak bernyawa itu, menangis meminta maaf. " Maafkan mama ya sayang. "
Ita hanya bisa memandangi pemandangan itu lewat kaca rumah sakit, ada sesal karena terlambat menolong sang majikan.
Hingga sosok lelaki datang, terlihat lelaki itu menghampiri Wulan, membuat Ita penasaran.
"Siapa lelaki itu?" Gumam hati Ita.
Ita sedikit mendekat ke arah pintu, ia penasaran dengan sosok lelaki yang menghampiri Wulan, dimana sosok lelaki itu seakan akrab dengan sang majikkan.
Mengambil ponsel, lalu memfoto mereka berdua. Ita tak lupa mempersiapkan rekaman untuk merekam percakapan di antara keduanya.
Ita melihat Wulan tampak terkejut dengan kedatangan lelaki itu secara tiba tiba.
"Kamu, ada apa kamu datang ke sini?"
Wulan merasa terancam dengan kedatangan Angga, dia tak suka jika lelaki itu muncul secara tiba-tiba, menatap pekat seakan memberi kode untuk membuat lelaki itu pergi.
Angga masih terdiam, dia menatap ke arah bayi yang tengah digendong oleh Wulan, perasaannya seperti hancur, ketika melihat bayi yang iya tunggu-tunggu sudah tak bernyawa.
" Kenapa kamu tidak becus menjaga bayi dalam kandungannya ini. "
Wulan terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Angga, " Apa kamu bilang. "
Angga mengusap kasar wajahnya, biasakan murka dengan tingkah Wulan. " aku bilang kamu tidak becus mengurus anakku. "
__ADS_1
setelah mendengar perkataan Angga, Wulan berdiri lalu menunjuk ke arah lelaki yang sudah membuat dirinya mengandung." jaga ucapanmu."
"Kenapa aku harus menjaga ucapanku?"