
Hening, Sarla melihat suasana rumah seperti biasa, iya aku coba masuk ke dalam rumah.
"Nyonya Sarla?"
"Tari!"
Lilia kini menyusul sang kakak, menyuruh wanita bercadar itu untuk masuk ke dalam kamar. Menempelkan jari tangan pada bibir.
"Hustt, Papa lagi marah-marah."
Sarla menghembuskan napas, perasaannya tak menentu, " Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tari terlihat diam, ia tak berani ikut campur akan masalah keluarga sang majikan. Dimana Lilia mulai angkat bicara menjelaskan semuanya kepada sang kakak.
Penjelasan yang terlontar dari sang adik, membuat Sarla hanya bisa diam, iya juga belum mengerti tentang rahasia yang sebenarnya disimpan oleh sang papa.
Karena menurut pengakuan mama tirinya, Lani bukan anak Gunawan, sedangkan kata Gunawan Lani anaknya.
"Sekarang Mama Dera dan Lani kemana?"
Pertanyaan Sarla membuat Lilia mengerutkan bibir.
"Lilia, kenapa kamu tak menjawab?" tanya kembali Sarla, mengusap pelan pipi mulus adiknya.
"Mereka pergi, padahal Lilia sempat kasihan terhadap Lani, tapi jawaban Lani menyebalkan!" jawab Lilia pada Sarla.
Sifat Lani yang memang egois tak jauh berbeda dengan Dera, membuat semua orang berada di rumah selalu kesal.
"Ngomong ngomong mereka pergi ke mana ya?" tanya Sarla sedikit menghuatirkan keduanya.
"Sudahlah kak Sarla, ngapain ngurusin mereka. Toh mereka juga tak mau kita bantu!" jawab Lilia, masih menyimpan kekesalannya pada Lani.
"Lilia." Teriakan sang papa, membuat anak berumur 11 tahun itu terkejut.
"Kak, papah manggil Lilia, ada apa ya?" tanya Lilia, terlihat ketakutan di depan sang kakak.
"Kamu tenang Lilia, kamu tak usah ketakutan begitu, kamu ini tidak punya salah apapun pada papah!" jawab Sarla. Menenangkan sang adik untuk segera menghampiri sang papah.
"Iya juga sih kak, tapi tetap aja Papa itu kalau marah kayak singa." ketus Lilia, mengatai sang papah.
"Husst, kalau ngomong itu di jaga, bagaimanapun papa itu tetap papa kandung kita. " balas sang kakak, mengusap perlahan rambut panjang adiknya.
"Benar juga apa yang dikatakan kakak, kita jelas asal usulnya, tidak kaya si Lani. Nggak jelas," ucap Lilia, sedikit mengatakan hal yang tak seharusnya di depan Sarla.
"Lilia."
__ADS_1
"Iya kak."
Lilia mulai bangkit dari tempat duduknya, iya segera menghampiri sang papah, " ada apa pah. "
Lelaki itu kini memeluk Lilia secara tiba tiba, " apaan sih papah. "
"Lilia, maafkan papah ya?"
Lilia menggaruk belakang kepalanya tanpa kebingungan dengan tangisan Gunawan. " Kenapa pah?"
Sarla mendengar tangisan sang papah, kini keluar dari kamar adiknya, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Dari kejauhan Wina masih menyelidiki Gunawan, perlahan demi perlahan semua kebusukan Dera terbongkar, hanya karena sebuah kertas.
Terkadang Wina juga kesal dengan Gunawan yang tak jujur, akan perilah pembunuhan Wulan sang kakak. Yang ternyata ada campur tangan dari Gunawan sendiri.
"Papah, kenapa?"
"Papah hanya ingin memeluk kamu saja!"
Terlihat Gunawan tampak ketakutan, ia berulang kali mengatakan kata maaf pada anaknya. Karena dalam kecelakaan itu Lilia juga ikut merasakan sakitnya ketika ia terhantam dari mobil.
Sarla mendekat, " papah kenapa menangis?"
Gunawan menelan ludah, ia berbisik pada hatinya," apa ini waktunya mengungkapkan kejujuran. Karena jika aku tidak mengatakan kejujuran pada anak anakku, kemungkinan hidupku akan dibayang bayang rasa bersalah. "
Mendengar nama Dera sebenarnya membuat Gunawan tampak kesal, " pah. Ayo katakan, kenapa?"
Gunawan menatap ke arah anak pertamanya, menyuruh Sarla agar mendekat.
"Sarla, ke sini, nak."
Sarla juga nampak kebingungan sekali, karena tidak biasanya sang papah selebai ini.
"Ada apa sih, pah. Cepat katakan. "
Menundukkan wajah, ini saatnya berkata jujur, sebelum orang lain mengungkapkan kebenaran.
"Jika papah berkata jujur, apa kalian masih menerima papah, sebagai ayah kandung kalian?"
Pertanyaan Gunawan, membuat Sarla dan juga Lilia saling menatap satu sama lain.
"Kenapa? Pah. Apa ada yang papah sembunyikan dari kita. Sampai papah meminta maaf terus menerus pada Sarla dan juga Lilia. "
"Mm, sebenarnya?"
__ADS_1
Sarla semakin penasaran, ia memegang punggung tangan sang papah. " Pah, ayo katakan."
Tepuk tangan dilayangkan Wina, dimana wanita yang menjadi pembantu baru di rumah Gunawan tertawa dihadapan Sarla dan Lilia. "Kenapa dengan Bi Wina?"
Menjadi sebuah pertanyaan untuk Sarla, melihat tingkah Wina yang lancang ikut dalam obrolan keluarga Gunawan.
"Wina, apa maksud kamu, tertawa seperti itu?"
Tanya Gunawan, dengan nada sedikit terdengar meninggi.
Wina menatap penuh dengan percaya diri. " Gunawan. "
Semua mata memandang Wina, seakan terkejut dengan kelacangan pembantu baru yang bekerja selama tiga bulan di rumah Gunawan.
"Simpel saja, kok pak. Saya hanya ingin mendengarkan kejujuran bapak." ucap Wina, mendekat pada Sarla dan juga Lilia.
Gunawan sama sekali tak mengerti dengan perkataan Wina. " Apa maksud dari perkataan kamu itu Wina?"
"Haduh, aku lupa memperkenakan diri. Namaku Wina Andini Putra. "
Mendengar kata Putra membuat Gunawan mengigat nama kepanjangan istrinya. " Loh kenapa Gunawan, kamu terkejut. "
Lilia kini menimpal perkataan Wina. " Bukannya nama mama juga Maya Andini Putri?"
Wina mendekat ke arah Lilia, menyentuh pipinya dan berkata. " kamu pintar sekali. "
Gunawan berusaha mengigat masa lalu, " Wina. Wina. "
Melipatkan kedua tangan, " bagaimana, apa kamu masih mengigatku Gunawan?"
Pertanyaan Wina, membuat telunjuk tangan Gunawan, menujuk pada wajah Wina. " Jangan menjadi seorang penipu kamu."
Wina tertawa reyah, dikala Gunawan mengatakan bahwa Wina adalah seorang penipu. " Sudahlah Gunawan jangan bersembunyi pada kesalahanmu sendiri, sebaiknya kamu cepat jujur kepada anak-anakmu sebelum. Aku mengatakan semuanya. "
Sarla semakin penasaran dengan perkataannya wina. " Jujur, Apa maksud dari perkataan Bi Wina pah, memangnya papa menyimpan rahasia kepada kita."
Gunawan hanya menundukkan pandangan, ia merasa berat mengatakan kejujuran dari mulutnya, takut jika kehilangan kedua anak-anaknya.
"Hem, sepertinya papa kamu itu ketakutan. Jika dia berkata jujur, memangnya papa kalian itu pengecut, bisanya bersembunyi pada kesalahan dirinya sendiri. "
"DIAM KAMU, Jangan pernah ikut campur pada urusan keluargaku, kamu ini bukan siapa-siapa di rumah ini, sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku melaporkan kamu ke polisi. "
Wina malah semakin menjadi-jadi, sengaja membuat Gunawan ketakutan," yang masuk penjara itu aku atau kamu. Coba kamu saring dulu deh ucapan kamu itu."
Sarla berusaha mengakhiri perdebatan keduanya, menatap ke arah Wina dengan bertanya," sebenarnya Bi Wina itu siapa ibu? Kenapa Bi Wina seakan-akan tahu rahasia papa sebarnya."
__ADS_1
Gunawan mencoba menghentikan anak pertamanya itu agar tidak bertanya terhadap Wina. " Cukup Sarla, jangan bertanya lagi pada perempuan gila ini. Sebaiknya kalian masuk ke dalam kamar, papa akan melaporkan dia ke kantor polisi sekarang juga. "