
Sarla dan Lilia tak sengaja melihat pemandangan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar, mereka berlari menghentikan keduanya.
"Pah, sadar pah."
Sarla berusaha menarik tubuh Sang papa melepaskan tangan yang mencekik leher sang mama tirinya.
Lilia dan Sarla pada akhirnya berhasil membuat keduanya terpisah, " Sarla, Lilia, Kenapa kalian malah menahan papa untuk membunuh wanita ****** ini?"
Gunawan tak bisa mengontrol dirinya sendiri, dimana Sarla berusaha menahan kedua bahu lelaki tua itu agar tidak berdekatan dengan Dera.
"Pah, sadar dia itu Mama Dera istri papah. Jangan sampai amarah mengendalikan pikiran papah. "
Nasehat Sarla terus terlontar, berharap sang Papa sadar dari amarahnya yang terus merasuki pikirannya.
Gunawan mulai pergi dari hadapan kedua anak-anak dan juga istrinya. Terlihat Iya kamu bisa mengendalikan diri, pergi begitu saja.
"Pah." Lilia memanggil sang papa, dengan harapan jika lelaki itu datang menghampirinya.
Namun Sarla berusaha menahan sang adik. " Lilia, kita biarkan papah sendiri dulu. Papah masih terlihat marah. "
Sarla mulai menetap ke arah sang mamah tiri, " Mama Dera, anda lihat apa yang sudah anda lakukan, telah berbalik kepada diri anda sendiri. Apa tidak ada kedaran pada diri anda sendiri, untuk merubah sifat jahat anda. "
Sarla menunjuk pada dada bidang Dera, dimana ia seakan memperingati jika hukum karma masih berlaku.
Sarla mulai menarik tangan adiknya itu, untuk pergi dari hadapan sang mamah tiri.
Dimana Dera menggerutu kesal, lalu berkata, " Ahk, sialan mereka ini, awas saja. Besok kalian akan mendapatkan sebuah ganjaran yang setimpal dariku.
Dera sudah tak sabar ingin melihat besok akan seperti apa?
*******
Tak terasa waktu begitu berjalan dengan cepat, waktunya Wina datang ke rumah Gunawan, menjadi sosok pembantu yang berpihak kepada Dera sementara waktu. Hanya untuk meyakini Dera jika pekerjaannya sangatlah baik.
Setelah Dera meyakininya, saat itulah Wina mulai menghancurkan Dera dalam waktu sekjap mata.
Karena memangnya tidak punya bukti, dari kasus kematian Wulan ada kaitannya dengan Dera.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, mengetuk pintu rumah Gunawan, ketukan pintu itu tiba-tiba saja di sambut hangat oleh kedua anak Gunawan.
__ADS_1
Di mana Wina melihat, keponakannya tersenyum ramah, Sarla yang melihat wanita tua yang sering berjumpa dengannya, membuat dirinya terkejut, karena sosok wanita tua itu yang telah membantunya.
"Loh, ibu yang mau bekerja di rumah ini?" Pertanyaan Sarla membuat wanita tua itu menganggukkan kepala.
Ada rasa heran pada diri Sarla, karena wanita tua itu memiliki mobil dan juga terlihat tidak seperti kekurangan uang.
Sedangkan Lilia yang melihat wanita dengan wajahnya yang buruk rupa itu, membuat dia bergidik ngeri, Wina mencoba mendekat pada Lilia, menunjukkan wajah tempelan yang terlihat seperti bekas kecelakaan.
"Hai, gadis manis apa Kita pernah bertemu sebelumya?" pertanyaan wanita tua itu membuat Lilia semakin menghindar, " hai sayang kenapa kamu menjauh, jangan takut sayang. "
Semakin Wina mengatakan hal, semakin Lilia ketakutan, rencana yang sudah ia susun rapi menjadi berantakan.
Dera yang menyadari kedatangan Wina, mendekati lalu bertanya, " Kenapa kalian malah berdiam diri di depan pintu?"
Pertanyaan Dera membuat keduanya membalikkan badan, melihat sang suruhan sudah datang ke rumah, senyuman licik itu terpancar dari raut wajah Dera.
"Akhirnya dia datang juga."
"Bibi baru sampai ya?" tanya Dera menyambut kedatangan wanita yang ia rekomendasikan untuk menjadi pembantu di rumah Gunawan,
"Ayo bi, duduk dulu." Dera mulai mempersilahkan tamunya untuk duduk, menyuruh Tari untuk membuatkan minuman dan juga makanan.
Mendengar perkataan sang nyonya, membuat Tari terburu-buru pergi ke dapur, untuk segera membuatkan minuman dan juga makanan ringan.
"Bibi duduk dulu di sini ya, saya akan panggilkan suami saya untuk menemui bibi," ucap Dera.
Wanita yang menjadi mamah tiri Sarla, berjalan untuk memberitahu sang suami.
Lilia mulai membisikkan suatu perkataan pada telinga Sarla. " Kak, yang benar saja Mamah Dera mau mempekerjakan wanita buruk rupa itu, Lilia lihatnya juga seram pingin muntah, mukanya itu berantakan sekali banyak luka bekas kebakar."
Sarla mendengar perkataan sang adik, kini menegurnya secara langsung," semua manusia itu sama saja di mata Allah, kamu jangan sekali-kali menghina fisik wanita tua itu, bagaimana juga wanita itu sama seperti kita."
Mendengar nasehat yang terlontar dari mulut Sarla, membuat Lilia mengerutkan kedua bibirmu, ya malu dengan dirinya sendiri.
Tari menghidangkan sebuah minuman, di mana ya saya sekali menatap ke arah wajah wanita tua itu.
"Bisa bisanya, Nyonya Dera mempekerjakan wanita buruk rupa seperti dia. pastinya Tuan Gunawan merasa jijik dan menolak mempekerjakan wanita tua ini. " Gerutu hati Tari saat menyuguhkan minuman dan juga cemilan di hadapan Wina.
" Kenapa kamu menatap saya seperti itu, apa ada sesuatu yang kamu tidak suka dari saya?"
__ADS_1
Pertanyaan wanita tua itu, membuat Tari merasa tersindir.
"Ahk, tidak. mungkin itu hanya perasaan anda saja!" jawab Tari tak mau berkata jujur sama sekali, takut melukai hati wanita tua itu.
"Saya takut kamu tidak menyukai saya karena wajah saya yang buruk rupa, karena Kebetulan sekali juga jijik terhadap saya karena wajah saya ini," ucap Wina dalam kebohongan, sebisa mungkin dia harus berakting bahwa dirinya sangatlah membutuhkan pekerjaan di rumah Gunawan.
******
Dera berharap kita suaminya itu, sudah melupakan rasa kesal dan juga lebih tenang dari kemarin, ia merasa menyesal karena sudah memancing emosi sang suami.
Perlahan Dera mengetuk pintu kamar sang suami, karena memang semalaman Dera tidak tidur bersama Gunawan.
Dimana ia mendengarkan perkataan Sarla bawa sang Papah membutuhkan waktu untuk sendiri, menenangkan pikiran dan menghilangkan segala emosi yang beredar pada pikiran.
Tok .... Tok ....
ketukan pintu beberapa kali dilayakan oleh Dera, namun pintu kamar sang suami tak kunjung terbuka, Dera hanya ingin mendengar kepastian dari suaminya bahwa ia mengizinkan pembantu itu untuk bekerja di rumah.
"Pah. Ini aku. Apa kamu tidak mau membuka pintu untuk mama?"
Pertanyaan Dera tak dijawab sama sekali oleh Gunawan, lelaki tua itu seakan sengaja membiarkan istrinya berteriak terus-menerus di depan pintu kamarnya sendiri.
"Bagaimana ini, Gunawan tidak mau membuka pintu kamarnya lagi, karena aku sudah tidak bisa sembarangan mempekerjakan seorang pembantu kalau bukan karena persetujuan Gunawan. karena keuangan yang mengatur adalah Gunawan bukan aku lagi, semenjak aku pergi dari rumah semua nampak berbeda. Aku seperti orang asing yang diabaikan begitu saja, tak di lirik sama sekali."
gerutu hati Dera.
"Pah, mama hanya ingin memberitahu kamu, bahwa pembantu yang kamu suruh datang ke sini sudah datang sekarang? Dia menunggu kamu di ruang tamu, berharap jika kamu langsung mempekerjakannya."
Dera masih saja berdiri di depan pintu kamar sang suami, dengan harapan suaminya langsung membuka pintu kamarnya.
"Pah, kasihan dia."
Berulang kali dan terus berteriak memanggil sang suami, namun tetap saja tidak ada jawaban sama sekali, pada akhirnya Dera pergi dari depan kamar suaminya.
Ia menuruni anak tangga, untuk segera menghampiri pembantu barunya itu, Sarla yang melihat pemandangan Dera tampak murung membuat ia bertanya, " kenapa, papahnya mana?"
Sarla kini menjawab pertanyaan anak tirinya, " papah kamu tetap saja tidak keluar dari kamarnya, padahal mama sudah beberapa kali berteriak memanggil papa kamu. Sepertinya ia masih marah dan kesal terhadap mama."
"Kata siapa?"
__ADS_1
Deg ....