Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 108


__ADS_3

Tak terima dengan perkataan Bi Siti, Ita bangkit, lalu menarik baju bagian punggung Bi Siti, berusaha membuat wanita tua itu terjatuh.


Bi Siti sudah menyadari kelakuan Ita, hingga ia bisa menahan tubuhnya sendiri agar tidak terjatuh.


"Silahkan tarik aku, jika memang kamu tidak mau jatuh lagi seperti tadi." dengan sekuat tenaga menarik baju Bi Siti, Ita malah jatuh kembali.


Dimana para pembantu baru itu tersenyum.


Mereka seakan senang dengan Bi Siti yang sudah membuat Ita jatuh karena ulahnya sendiri.


"Ita, Ita. bisa-bisanya kamu kalah dengan wanita tua seperti Bi Siti memalukan sekali."


Bi Siti hanya tersenyum kecil, ketika para pembantu barunya menghina Ita dengan perkataan yang begitu menyakitkan untuk di dengar Ita, " Jaga ucapan kalian jangan seenaknya. "


Bi Siti melangkah maju, mengikuti perkataan Ita lalu menjawab," Loh kenapa kamu harus menjaga ucapan mereka. Bukannya itu masing-masing mulut orang lain, jadi bebas dong mau berbicara apapun."


Ita tak terima dengan perlakuan Bi Siti yang berusaha mencari cara untuk bisa membuat dirinya jatuh.


" Sudahlah Ita percumaan kamu mendorong tubuhku yang besar ini, yang ada kamu malah terjatuh dan terjatuh lagi membuat pinggangmu nanti kesakitan. "


Ita menjadi sosok gadis yang lemah, seakan tak berdaya, ia dihadang habis habisan oleh para pembantu di rumah Daniel. Hingga dimana ia pada akhirnya menyerah dengan perlakuan terhadap Bi Situ, yang membuat dirinya terlihat lemah di depan para pembantu baru itu.


Ita berjalan pergi, meninggalkan semua orang yang sudah membuat dirinya malu, ia tak ingin berdebat dan saling menyalahkan saat itu, karena bagi dirinya tak ada guna saat membela diri di situasi yang tak memungkinkan.


"ke mana kamu Ita. Apa kamu sudah menyerah dengan perlawanan yang kami berikan kepadamu?" pertanyaan Bi Siti yang membuat Ita kini mengerutu kesal pada hatinya, kedua pipi memerah tak terima akan perkataan wanita tua dihadapannya.


"Sepertinya tingkat kelemahanmu sampai disini saja," Ita tak menyangka dibalik diamnya Bi Siti, ada yang tidak ia ketahui, jika Bi Siti begitu menyeramkan setelah ia merasa tersakiti, apalagi sekarang ia berhadapan secara langsung dengan kemarahan Bi Siti. Karena rasa malunya. Ita tak berani lagi melawan perkataan Bi Siti.


Berusaha bangkit lalu berkata, " Memang sekarang aku kalah, tapi suatu saat nanti kalian lihat saja."


"Uuh, seramm. " Para pembantu saling mentertawakan Ita, mereka tampak berlindung pada Bi Siti, karena dari sana mereka berani mengatai Ita.


Bi Siti membalikkan tubuhnya, membubarkan para pembantu baru yang terus meledek Ita.


"Sudah sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, urus dulu pekerjaan didapur yang masih menumpuk. "


Para pembantu baru lalu menurut kepada Bi Siti yang memerintahkan mereka semua.


Setelah kepergian para pembantu itu, di ruangan yang begitu megah.

__ADS_1


"Ita, tinggal kita berdua di ruangan megah ini."


Ita ternyata belum beranjak pergi dari hadapan Bi Siti, ia terlihat ingin melawan wanita tua yang ingin ia kalahkan. " Ita, kamu masih berani padaku."


Mengigit ujung bibir, Ita kini berkata," aku bukan ingin melawanmu, aku ingin mengantikan posisimu."


Tepukan tangan, tanda hebat dari Bi Siti di perlihatkan di depan Ita, " Wah, hebat sekali."


Bi Siti menatap tajam penuh dengan rasa benci pada Ita, yang ternyata berpura pura baik karena ada mauanya.


"Sudahlah, Bi Siti, saya tidak mau berdebat lagi dengan anda, saya pergi dulu."


Bi Siti kini memanggil lagi nama Ita," Ita. "


"Apa lagi?"


"Aku harap kamu bisa kuat saat aku berubah pada sifat asliku!"


Ita menelad ludah, ia sudah tahu jika resikonya akan seperti ini jadinya. Berusaha tidak memperlihatkan rasa takutnya, Ita kini berucap," Oke, saya tunggu sifat aslimu Bi Siti."


Ita terburu-buru pergi setelah menantang Bi Siti, wanita tua yang selalu mengajarkan dirinya banyak hal, yang ujungnya menjadi musuh Ita dalam pekerjaannya.


Bi Siti, mulai beranjak pergi ke dapur, menghentikan langkah kakinya, setelah mendengar percakapan para pembantu baru yang sedang menyiapkan makan siang.


" Aku nggak nyangka banget, si Ita yang tadinya dekat banget sama Bi Siti, jadi kayak gitu ya, padahal aku mengira tuh si Ita, benar-benar tulus sama Bi Siti. Baik banget gitu kayak dia ngerasa bahwa orang tuanya ya Bi Siti, tapi ternyata ujung-ujungnya si Ita itu malah jadi penjilat, ngeri gak sih."


" Apa yang kamu katakan memang ada benarnya juga sih, aku juga merasa terkejut saat Ita menyalahkan Bi siti atas perbuatannya sendiri, padahal dari dulu itu si Ita selalu membela Bi Siti kalau kita menyerang wanita tua itu. "


"Ya, iya. dengan sigapnya dia itu kayak Pahlawan Kesiangan gitu. "


Para pembantu itu tertawa ketika salah satu teman mereka mengatakan hal yang lucu.


"Ya elah lu, bisa aja."


"Jadi apa yang kalian bicarakan itu lucu?"


Deg ....


Semua berubah posisi, yang tadinya berkumpul sekarang begitu fokus mengerjakan pekerjaan masing masing.

__ADS_1


"Sekali lagi saya melihat kalian berdiskusi seperti itu, saya pastikan akan melaporkan semuanya."


Mereka tampak ketakutan sekali, mendengar hal itu, lalu fokus kembali.


Ita, baru saja datang ke dapur, terlihat ia seperti orang asing saat berhadapan dengan Bi Siti.


Mengambil sayuran dimana Bi Siti memanggil namanya.


" Ita."


"Ahk, iya."


"Tolong, kamu urus cucian piring itu."


Ita terkejut dengan pemandangan yang ia lihat, bisa bisanya memerintah yang bukan bagian dari pekerjaanya. " Itu bukan pekerjaan saya."


"Waw, benar kah."


"Lalu pekerjaan siapa?"


Ita memandangi semua tampak sibuk dengan pekerjaan masing masing, tak ada yang bersantai santai.


"Hai Ita."


Bi Siti mendekat lalu berkata lagi," kamu lihat kan semua tampak sibuk, jadi kerjakanlah sendiri."


Ita menunjuk dirinya sendiri," saya sendiri."


"Ya, karena yang terlihat bersantai saat ini cuman kamu seorang diri."


"Tapi."


"Kerjakan atau .... "


Bi Siti yang tadinya cuekin, kini memperlihatkan ketegasannya di hadapan para pembantu baru yang tengah bekerja dengan begitu fokus.


Ita menurut karena ia hanyalah seorang pembantu baru bawahan dari Bi Siti, berjalan dengan menundukkan pandangan, kesal bukan main iya harus mengerjakan pekerjaan sebagai cuci piring sendirian tanpa bantuan pembantu lain.


Bi Siti mendekat lalu tersenyum sinis di hadapannya," ini belum seberapa Ita masih ada yang akan aku lakukan terhadapmu, jadi bersiap-siaplah, tolong kuatkan mentalmu dan juga pikiranmu yang akan aku buat lelah bertubi-tubi. "

__ADS_1


Bi Siti kembali pergi untuk segera menyiapkan makanan untuk Daniel yang sebentar lagi akan pulang, Daniel sangat bergantung sekali dengan Bi Siti, karena semua yang ia kerjakan sangatlah cocok untuk Daniel, maka dari itu tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bi siti. Di rumah Daniel.


__ADS_2