
"Nyonya, di rumah besar ini pastinya ada rekaman CCTV kan?"
Deg .... Jantung Ita sudah berpacu dengan begitu kencang, seakan harapannya untuk mengeluarkan Bi Siti sia sia.
"CCTV? Ya pastinya ada lah."
"Ya sudah mau apa lagi, kita lihat pada rekaman Cctv untuk membuktikan siapa yang sebenarnya sudah bersalah. "
Menelan ludah, berusaha tetap pada posisinya, Ita sudah tak bisa berkutik lagi, memegang rambut panjang gadis itu lalu berbisik," Ita, kenapa kamu?"
Alenta berjalan menuju ke ruangan CCTV dimana semuanya ikut serta, untuk menyaksikan siapa yang sebenarnya sudah bersalah.
Bi Siti menatap ke arah Ita. " Loh, gadis baik. Kok kamu masih berdiri di sana, ayo kita ikut melihat Siapa yang sebenarnya sudah bersalah. kamu tahu sendiri kan, mana ada zaman sekarang maling itu ngaku, yang ada penjara penuh."
Bi Siti seakan sengaja menyindir Ita habis-habisan, saat mereka berjalan menuju ke ruangan CCTV. para pembantu yang merasakan rasa sakit pada kulit wajah dan juga tangan mereka.
Hanya bisa pasrah dengan ketentuan, diperlihatkan rekaman CCTV yang sebenarnya, mereka semua sebenarnya ingin berkata jujur kepada sang nyonya, bahwa yang sudah melakukan penyiraman itu adalah Ita.
Namun karena sorot wajah Ita yang menyeramkan, membuat mereka tak berani mengungkapkan semuanya, pada akhirnya mereka memalingkan kesalahan itu kepada Bi Situ.
Wanita tua yang tak pernah melawan ataupun membuat sebuah balasan, kepada pelayan baru yang mengatainya.
Berbeda dengan Ita yang berani membalas dan juga melakukan kejahatan kepada pembantu yang sudah menyakiti dirinya.
"Ita, coba kamu lihat. Ruang rekaman cctv-nya sudah sampai, tinggal kita lihat siapa yang sebenarnya bersalah, " ucap Bi Siti, sembari membisikan sebuah perkataan pada telinga Ita.
Ita merasa risih dengan bisikan Bi Siti, dimana ia berusaha menghindar dan mendekat ke arah Alenta.
"Nyonya, apa Nyonya akan membiarkan wanita tua itu terus bekerja di rumah ini?" Bisik Ita kepada Alenta.
__ADS_1
Ia lupa jika memang tujuannya saat ini adalah mengeluarkan Bi siti dari rumahnya, " cobalah membela saya agar wanita tua itu segera mungkin dipecat dan dikeluarkan dari rumah ini."
Bi Siti merasa curiga dengan Ita, yang perlahan berubah terlihat begitu akrab dengan sang majikan, apalagi di ruangan CCTV ia melihat. Jika Ita tengah membisikkan suatu perkataan kepada majikannya.
"Kenapa aku curiga kepada mereka berdua ya?"
Bi Siti mulai fokus pada satpam telah memutar rekaman CCTV di Kejadian 20 menit yang lalu.
Ia berharap jika rekaman CCTV itu bisa menunjukkan Siapa yang sebenarnya sudah bersalah, menyiram para pembantu baru.
Ita terlihat bersantai ketika ia membisikkan suatu perkataan kepada Alenta, seperti sudah mendapat dukungan baru yang begitu besar dari majikannya.
Rekaman CCTV mulai berjalan, semua memperlihatkan bahwa memang Ita yang bersalah. Bi Siti tampak senang melihat rekaman yang menunjukkan bahwa dirinya tidak salah.
"Kalian lihat, aku itu tidak bersalah, mau bagaimanapun kalian meng hujat ataupun menyakitiku. Aku tidak akan pernah membalas kalian semua, Karena aku tahu membalas itu bukanlah hal yang baik dalam hidupku," gumam hati Bi Siti melihat rekamannya.
Pembantu baru yang menerima siraman itu merasa bersalah sekali pada Bi Siti, dimana Alenta hanya menanggapinya dengan begitu santai, tidak seperti tadi. Iya langsung menyalahkan Bi Siti dan ingin memecatnya.
Hanya itu saja yang dikatakan Alenta, membuat semua pembantu tercengang kaget, mereka seperti dibodohi oleh, kejadian tadi.
Bi Siti sudah menduga, dengan perubahan Alenta yang membela Ita, ada maksud tertentu dari semua kejadian yang terjadi.
"Owh, jadi maksud kalian itu seperti itu, mm, lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan." Guman hati Bi Siti.
Alenta mulai menegaskan semua pembantu, dimana pembantu baru yang merasakan siraman itu kini angkat bicara.
"Nyonya, Kenapa itu yang bersalah tidak dipecat?"
Alenta terdiam, saat mendengar perkataan para pembantu barunya yang merasa tak adil akan hukuman yang diberikan sang tuan rumah.
__ADS_1
" Sudahlah masalah ini jangan diungkit lagi, Saya pusing melihat kalian berdebat, intinya kalian jangan saling menghujat ataupun membuat saling menghina sesama teman. Jika ada yang melakukan kesalahan itu lagi, saya pastikan akan memecat orang itu."
Alenta tak berkutik lagi dengan perkataannya, ia melangkahkan kaki berjalan menuju ke dalam kamar. Rasanya tak adil bagi mereka yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari Ita, sang nyonya lebih memilih diam dan tak membahas lagi perlakuan pembantunya yang begitu sadis.
Ita tersenyum sinis dihadapan para pembantu baru, apalagi pada Bi Siti, wanita tua yang akan ia singkirkan, karena ingin memiliki jabatan sebagai seorang pembantu yang berjaga gaji besar.
"Ita, tunggu."
Langkah gadis yang terlalu ramah kepada Bi Siti kini terhenti karena panggilan wanita tua itu. " Ada apa?"
"Tidak ada apa apa? Hanya ingin mengatakan, jika ingin menjadi penjilat, bermain lah lebih baik lagi, bukan seperti tadi, MEMALUKAN. "
Bi Siti pergi, sembari menyenggol bahu Ita dengan kasar, dimana gadis itu sedikit meringis kesakitan dan hampir saja terjatuh.
Pembantu baru itu ikut serta melangkahkan kakinya di belakang Bi Siti, mereka menatap sinis dan benci kearah Ita.
"Dasar penjilat."
Ita melipatkan kedua tangan yang merasa kesal dengan cacian yang dilontarkan para pembantu baru itu.
Ia tak segan segan, menjambak rambut salah satu pembantu baru itu dengan begitu kasar. " Ahk sakit. "
Bi Siti yang menyadari tingkah Ita, semakin menjadi-jadi membuat ia menarik kerah baju gadis itu, lalu.
Plakkk ....
Tamparan keras mendarat pada pipi kiri Ita, di mana ia terlihat begitu kesakitan, menatap tajam ke arah Bi Situ, lalu berkata," apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu menamparku?"
"Itu pelajaran untuk gadis yang selalu semena-mena kepada sahabatnya sendiri, kamu belum tahu di balik diamnya aku ini seperti apa, kamu tahu sendiri kan sifat kamu yang ramah itu ternyata menyimpan keburukan, begitupun dengan saya yang mempunyai sifat baik menyimpan semua kebaikan yang akan membuat kamu menyesali semuanya di rumah ini."
__ADS_1
Bi Siti yang penuh emosi kini mencengkram rambut panjang Ita, lalu berkata lagi, " Jika kamu sudah berani lagi kepadaku membuat sebuah kekacauan di rumah ini, dan menyalahkanku lagi. Aku tidak akan pernah diam aku bisa saja membuat kamu menderita di sini atau membuat kamu sudah tidak bisa berbicara. Ingat pesanku ini. "
Melepaskan rambut Ita, lalu mendorong tubuhnya, hingga dimana gadis manis itu terkulai lemah di atas lantai. " Hey Ita hanya itu saja kelebihan kamu dalam melakukan kejahatan. DASAR LEMAH. "