Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 185


__ADS_3

Sembilan bulan kini kehamilan Sarla, dimana perutnya yang membesar itu selalu membuat Dera tak suka. " Kenapa juga saat hamil ada di sini, bikin repot saja. "


Sarla duduk di atas sofa sembari mengusap pelan perutnya, terlihat ya begitu menyayangi anak dalam kandungannya itu," sebentar lagi kamu akan lahir nak, hanya saja bukan mamah yang bisa mengurusmu. "


Dera datang menghampiri anak tirinya itu, iya duduk disamping Sarla, mengusap pelan perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan. " Mm, tiga bulan kamu tinggal di sini, mamah tidak melihat suami datang?" pertanyaan sang ibu tiri membuat Sarla tak nyaman.


Anak tirinya kini bangkit dari tempat duduk," Mau kemana? Apa kamu merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mama tirimu ini!"


Sarla berusaha menghindari perdebatan, iya tak mau terus berdebat dengan sang mama tiri yang akan membuat Gunawan murka.


Melangkahkan kaki, " tunggu. " Dera bangkit dari tempat duduknya, menahan anak tirinya itu.


"Bukannya aku bertanya kepadamu, Kenapa kamu tidak membalas pertanyaanku?"


Dera semakin hari, semakin membuat Sarla muak. " Apa aku harus menjawab pertanyaan, bagiku menjawab pertanyaanmu rasanya itu tak penting."


Sarla melangkahkan kakinya kembali untuk segera masuk ke dalam kamar, dimana Dera menggerutu kesal mengepalkan kedua tangannya." Sialan sekali anak itu, bisa-bisanya dia membuat Aku murka. Awas aja aku akan memberi dia pelajaran karena tidak menjawab pertanyaan."


Wina mulai menghampiri Dera, iya mulai memperlihatkan telapak tangannya, " Kenapa kamu?"


" Saya hanya ingin meminta gaji saya yang sudah anda janjikan, bukannya selama 3 bulan ini anda harus membayar pekerjaan saya!" jawab Wina dengan begitu lantangnya di hadapan sang majikan.


Dera berusaha tetap tenang, seharusnya ia membayar gaji Wina, yang sudah berbulan-bulan selama Wina menjadi anak buahnya.


" Bukannya kemarin Sarla sudah memberikan kamu uang?"


Wina tersenyum kecil lalu menjauh," bukannya kamu tahu sendiri, jika gaji yang diberikan oleh Sarla. Adalah gaji seorang pembantu. "


Dera berusaha memalingkan wajahnya, merasa malu pada dirinya sendiri. Semenjak ia pergi dari dalam rumah, dan menemui lagi Gunawan.


Saat itulah kepercayaan memegang uang tidak sepenuhnya ia dapatkan, sudah berulang kali Dera merayu sang suami agar menuruti keinginannya.


Namun sayangnya semua itu hanyalah sia-sia, Uang sudah dialihkan kepada sarla, dengan alasan yang dikatakan Gunawan, bahwa sarla yang berhak memegang semua uang dan juga perusahaan, karena ia berjasa sudah menyelamatkan sang papah dari kebangkrutan.


"Nyonya Dera, Kenapa anda malah melamun, saya hanya meminta hak anda loh. "

__ADS_1


Berdesit kesal mendengar perkataan Wina, membuat Dera malah pergi begitu saja.


"Hey, kenapa nyonya malah pergi begitu saja, apa nyonya mau semua rahasia nyonya terbongkar?"


Mengepalkan kedua tangan setelah mendengar perkataan Wina yang sedikit mengancam, " berani kamu mengancamku?"


Menunjuk wajah Wina, Dera menyesal telah mempekerjakan Wina menjadi seorang pembantu.


Dimana ia malah tertekan.


Wina mendekat ke arah majikannya itu, " kenapa amda marah, sampai berani menunjuk wajah saya yang buruk rupanya. "


wanita tua yang bernama Wina itu memegang telunjuk tangan sang nyonya, " Jangan sampai aku memotong ataupun mematahkan jari telunjuk nyonya ini yang berani menunjuk-nunjuk wajahku."


Wina yang biasanya berkata formal, kini memperlihatkan watak aslinya.


Dera melihat perubahan Wina selama 3 bulan ini, malah membuat dirinya ketakutan.


Dera pergi dari hadapan Wina dengan terburu-buru, " ahk sialan sekali. Padahal aku sengaja mempekerjakan wanita tua itu untuk bisa membuat Lilia dan juga Sarla keluar dari rumah ini. Tapi kenapa malah sekarang aku menjadi seseorang yang terancam di rumah ini. Bodoh kamu Dera, apa yang harus aku lakukan."


Dera merasa pusing karena ia tak memegang uang sepeserpun, Gunawan tak memberikan jatah kepadanya untuk membeli kosmetik ataupun barang-barang mewah yang biasa ia beli.


Tok .... Tok ....


ketukan pintu terdengar dari kamar Dera, di mana wanita itu dengan sigap membuka pintu kamarnya.


Mengusap pelan dada, orang yang datang itu ternyata Lani. " Sayang ada apa kamu datang ke kamar mama?"


Lani mulai berjalan dengan menggunakan tongkat kayu, masuk ke dalam kamar sama mama.


Duduk diranjang tempat tidur sembari menatap tajam ke arah ibu kandungnya sendiri.


Dera berusaha mendekat, memperlihatkan kasih sayangnya terhadap Lani. " Kenapa kamu menatap Mama seperti itu? Apa ada sesuatu yang membuat kamu sakit hati sampai kamu menatap Mama sebegitunya."


"Mana cincin yang mama janjikan waktu itu?"

__ADS_1


Deg ....


Dera lupa jika ia harus mengganti cincin yang dulu ia jual.


Dera menggigit jari jari tangannya, terlihat seperti orang yang kebingungan," mama, Lani itu dari tadi tanya sama mama. Tapi Kenapa mama malah diam terus menerus?"


"Mm, sayang. Mama belum bisa mengganti cincin kamu yang Mamah sengaja jual itu!"


kekecewaan mulai diperlihatkan oleh Lani di hadapan sang mama," bukannya mama sudah berjanji kepada Lani akan segera mengganti cincin pemberian papah. "


"Ya, Mama sudah berjanji dari dulu, tapi kamu tahu sendiri kan Papa kamu sekarang tidak mempercayai Mama untuk memegang uang sepeserpun."


"Lani tidak punya urusan dengan hal itu, Lani ingin mama mengganti cincin Lani tanpa banyak basa-basi."


"Sayang, Tolonglah kamu mengerti keadaan Mama sekarang, kamu tahu sendiri kan papa kamu sekarang itu cuek sekali terhadap mama."


" Sudah lah ma, jangan banyak alasan, pokoknya Lani ingin cincin itu kembali lagi kepada Lani sendiri, Lani tak peduli mama mau bicara apapun, yang Lani inginkan saat ini, adalah cincin pemberian Papah yang mama jual."


Desakan Lani membuat Dera kesal, " Lani. Tiba-tiba saja suara bentakan keluar dari mulut Dera.


kedua mata anak berumur sepuluh tahun itu, tampak berkaca-kaca, merasa sakit hati dengan bentakan sang Mamah kandungnya sendiri.


"Mama, membentak Lani hanya karena Lani meminta hak Lani untuk mama mengembalikan cincin pemberian papah, di saat Lani berulang tahun. "


Lani mulai berdiri dari tempat duduknya, berjalan pergi meninggalkan mama. " Lani, bukan maksud Mama membentak kamu."


Dera meraih tangan anak gadis satu-satunya, " lepaskan tangan Mama sekarang juga, Lani benci mama. "


Dengan begitu cepatnya, menggunakan tongkat untuk pergi jauh dari hadapan sang mama, Lani menangis terisak-isak, Di mana Dera berusaha mengejar anak semata wayangnya itu.


"Lani tunggu." Panggilan Dera malah diabaikan Lani begitu saja, anak gadis itu tetap saja berjalan dengan air mata yang terus mengalir.


"Lani."


Lilia melihat pemandangan Ibu tiri dan juga adik tirinya, hanya bisa tersenyum kecut," norak. "

__ADS_1


Tiba tiba saja, Lani tanpa sengaja menabrak seseorang di hadapannya," Lani. "


Menatap ke arah wajah orang itu, " Lani, kamu kenapa?"


__ADS_2