Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
197


__ADS_3

" Gunawan cepat katakan, kejujuranmu itu, sebelum aku melaporkan kamu ke polisi. "


Tegas Wina, terlihat Gunawan masih memegang pisaunya.


Karena rasa kesal Wina, melihat tingkah lebay Gunawan membuat ia memutar rekaman itu, sontak saat rekaman diputar, Gunawan meleparkan pisau kearah belakang.


"Hentikan rekaman itu. " Tegas Gunawan pada Wina.


Rekaman terhenti saatnya mengatakan yang sejujurnya. " Kematian Maya memang ada hubungannya dengan papah."


Deg ....


Semua mata membulat, terlihat kedua anak anaknya masih tak percaya. " Apa yang dikatakan papah benarkah?" tanya Sarla, ketidak percayaannya.


Gunawan kini menganggukkan kepala, tubuhnya terlihat lemas, ia duduk lalu berkata. " Ya, Sarla. Papah sudah merencanakan semuanya, sebelum kematian ibu kamu, papah sudah menyuruh orang untuk membuat rem mobil ibu kamu blong. Sebenarnya papah menikah karena perjodohan dan keterpaksaan dengan ibu kamu. Setiap papah jalani, tetap tak ada rasa bahagia dan puas pada hati papah. Sampai dimana papah bertemu dengan pujaan hati papah, nyaitu Dera, mama tiri kalian. "


Air mata jatuh mengenai pipi, Gunawan seakan keluh menceritakan semuanya, tak sanggup hingga ia terdiam.


"Kenapa diam Gunawan, cepat ceritakan. Agar kedua anak anakmu itu tahu, " printah Wina, dimana Gunawan menatap sayu ke arah wajah kedua anak anaknya.


"Sudah satu tahun lamanya, papah berpacaran dengan mama tiri kalian, hidup papah merasa senang. Papah jarang pulang karena hati papah berada pada Dera, kami sering melakukan hubungan intim tanpa pernikahan. "


Sarla semakin kecewa dengan cerita yang dilontarkan dari mulut papahnya.


"Pantas saja semasa ibu hidup dan mengandung Lilia, ibu sering menangis tanpa sebab. Apalagi dulu Sarla melihat ibu menangisi jas papah tanpa mengatakan apapun," ucap Sarla, mengigat masa lalu sang ibunda.


Lilia penasaran dengan berkas tadi pagi yang dilemparkan sang papah pada wajah Dera. " Berkas tadi pagi?"


"Berkas itu menunjukkan jika Lani bukan anak kandung papah, papah sebenarnya sudah tahu, papah berpura pura hanya untuk berdrama agar Mama tiri kalian yang tersalahkan! Semanjak papah berpacaran dengan Dera, mama tiri kalian adalah seorang wanita malam!"


Deg ....


Inilah yang diinginkan Wina, pengakuan Gunawan yang sudah lama ia nantikan.


"Papah tega. " Ucap Lilia, tak percaya jika kematian sang ibunda adalah campur tangan papahnya sendiri.


"Kenapa papah melakukan semua ini kepada ibu, padahal jika memang papah tak mencintai ibu, alangkah baiknya papah berkata jujur, tanpa harus mengotori tangan papah sendiri." timpal Sarla, kedua mata sudah berkaca kaca, padahal baru kemarin ia mendengar sang papah berjaji akan berubah.


Tapi pada kenyataanya semua itu hanya drama untuk menyimpan kebohongan dan kesalahan dimasa lalu.


"Kalian sudah dengarkan apa yang dikatakan papah kalian," ucap Wina, membuat Sarla dan Lilia mengepalkan tangan.


"Sekarang silahkan kalian marah pada papah, atau menjebloskan papah ke dalam penjara. " Gunawan seakan pasrah menyerahkan dirinya pada polisi.

__ADS_1


Di satu sisi lain Sarla merasa tak tega," pah. "


Melangkahkan kaki menuju kearah sang papah, tiba tiba saja rasa kontraksi pada perut Sarla terasa, " ahk."


Sarla memegang perutnya yang semakin terasa sakit, " ahk. Sakit."


Semakin kesini rasa sakit itu semakin terasa, Sarla berusaha menahan rasa sakit pada perutnya. Sampai Gunawan berkata, "kenapa Sarla. "


Lelaki tua itu dengan sigap, merangkul badan anaknya, melihat darah berada dipingir kaki Sarla.


"Sepertinya kamu akan melahirkan. "


Semua nampak panik, Gunawan kini membopong tubuh anaknya, untuk segera membawa ke rumah sakit, sekilas ia menatap pada wajah Wina dengan tatapan tajam.


Lilia ikut serta masuk ke dalam mobil, menelpon ambulanpun tak ada guna. " Kamu tahan ya. "


Sebenarnya Sarla cukup lumayan lama menahan rasa sakit pada perutnya, namun puncak rasa sakit yang tertahan baru ia rasakan sekarang. Membuat ia tak bisa berucap apapun."


Tangan kanan kini memegang tangan sang papah, dimana Sarla sedikit terdengar mengiris kesakitan.


"Kamu yang kuat ya. "


Wina mulai menyusul Gunawan dan juga Sarla yang sudah masuk ke dalam mobil, dimana lelaki tua itu berusaha menghentikan langkah kaki Wina.


Gunawan sedikit mendorong tubuh Wina dengan jari tangannya, " aku berharap kamu tidak ikut ke rumah sakit. "


"Ahk."


Mendengar teriak Sarla membuat Gunawan terburu buru masuk ke dalam mobil, sedangkan Lilia memanggil sang papah. " Ayo pah. "


Menujuk jari tangan ke arah Wina, membuat sebuah teguran keras.


Pada akhirnya Wina hanya menunggu di rumah.


Gunawan melajukan mobil dengan kecepataan tinggi, " Yang kuat ya Sarla. "


Hanya butuh waktu dua puluh menit sang papah membawa anaknya ke rumah sakit, " ia langsung membopong Sarla, membawa anak pertama ya itu agar cepat ditangani."


Sarla masih memegang tangan sang papah, menjadi penguat untuk Sarla.


Kedua mata berkaca kaca, dimana suster menyuruh Gunawan untuk menghubungi pihak laki laki yang tak lain ialah sang suami.


Gunawan malah terdiam, ia tak berani. Karena ia tahu jika Daniel tak mengigat istrinya.

__ADS_1


"Pak, sesuai prosedur di rumah sakit ini.Bapak harus memanggil suami pasien ini untuk segera datang ke rumah sakit."


"Maaf Sus, apa tidak bisa diwakilkan oleh saya?"


"Tidak bisa, pak. Jika setatus kasihan ini masih bersuami, jika pasien ini tidak mempunyai suami baru bisa diwakilkan oleh bapaknya sendiri."


Gunawan nampak kebingungan, bagaimana caranya dia menghubungi Daniel, " bagaimana pak?"


"Baiklah sus. "


Entah kenapa rumah sakit ini mengharuskan suami menemani, padahal jika memang sudah waktunya melahirkan tak perlu menunggu namanya suami.


Gunawan tak mempunyai alasan lagi, keadaannya yang memang panik dan juga mendesak, membuat ia harus menelepon sang besan.


Merogoh saku celana mencari sebuah ponsel untuk segera menghubungi Alenta.


Perlahan Gunawan mulai menghubungi nomor telepon mertua anaknya.


"Halo, pak Gunawan. "


Untung saja tidak perlu menunggu waktu yang sangat lama, Alenta langsung mengangkat panggilan telepon dari Gunawan.


"Halo, Bu Alenta, apa bisa Ibu menyuruh anak ibu datang ke sini untuk menandatangani surat persetujuan dokter. "


Mendengar perkataan Gunawan membuat Alenta mengerutkan dahi," Apa Sarla akan melahirkan?"


"Iya bu. "


Alenta terlihat tersenyum begitu bahagia, bibirnya menampilkan sebuah lekukan, dimana ia sudah menantikan momen di mana dirinya akan mendapatkan seorang cucu


"Bu Alenta. "


"Iya."


"Bagaimana."


Alenta sampai lupa jika Daniel berpura-pura hilang Ingatan hanya untuk menjauhi sarla, sampai ia menjawab dengan nada sedikit terdengar sayu, agar Gunawan tak mencurigai kepura-puraan anaknya. " saya akan usahakan."


"Terima kasih. "


Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Gunawan tetap menunggu persalinan anaknya, Iya terus mengusap keringat yang terus keluar dari jidat Sarla, nampak terlihat Sarla begitu berjuang untuk segera melahirkan buah hatinya.


"Pak, kenapa dokter belum kesini? Sarla nggak kuat pak. "

__ADS_1


__ADS_2