Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 219


__ADS_3

"Apa yang dimaksud dokter tadi, kenapa perkataan dokter seakan menyalahkanku, " tegas Sarla, dihadapan Daniel dan juga Bi Siti.


"Maaf sebelumnya Nyonya Sarla, sebenarnya ini semua kesalahan bibi, Tuan Daniel tidak tahu menahu tentang hal ini, " timpal Bi Siti, yang belum meneruskan perkataanya.


"Maksud bibi, jadi bibi asal asalan memberikan susu untuk bayi Sarla?" tanya Sarla, dengan raut wajah penuh amarah.


Bi Siti kini menganggukkan kepala, lalu berucap, " saya .... "


Namun perkataan Bi Siti kini dibantah oleh Daniel, ia tak suka jika ada pembelaan untuk dirinya dan juga Wulan, yang jelas jelas bersalah.


Bi Siti menatap ke arah Daniel dengan tatapan sayu.


Namun Daniel kini berucap, " sudah bi, jangan membela yang salah, biar saya saja yang meluruskan semua ini. "


Mau tidak mau Bi Siti hanya bisa menurut dengan ketentuan sang majikan, dimana Bi Siti, melangkahkan kakinya kebelakang, pergi dari obrolan antara Daniel dan juga Sarla.


Ia tak bisa ikut campur, karena sang majikan yang akan menjelaskan semuanya," Sarla, tolong dengarkan penjelaskanku, sebenarnya ini juga diluar dugaanku, jangan salahkan Bi Siti, dia hanya menuruti perintah sang majikan, tak lebih dari itu. "


Sarla berusaha tetap tenang, ia mengusap pelan air matanya yang terus jatuh. " Sekarang ayo jelaskan, jangan menunda nunda lagi."


" Bayi kamu kelaparan, sampai Wulan menyuruh Bi Siti untuk memberikan susu kental manis pada bayi kamu. " penjelasan yang singkat, membuat Sarla pastinya murka dan marah besar.


"Lalu Bi Siti menuruti perintah Wulan?" tanya Sarla. Dimana Daniel menganggukkan kepala, " lantas kamu kemana saja, sampai tak mencegah kelakuan istri kamu. "


Daniel menatap tajam kearah Sarla, ia berusaha menerima pertanyaan yang terlontar dari mulut mantan istrinya itu.


"Kalian ini benar benar keterlaluan, tahu begini aku tidak akan menyerahkan bayiku sendiri, dan memberi amanah pada Wulan istri kamu yang munafik itu, " pekik Sarla dengan meluapkan emosinya.


Bagaimana pun juga, Sarla adalah wanita biasa. Bisa marah dan juga kesal terhadap orang. Karena itulah naluri manusia, jika sudah melampau batas. Ia akan mempelihatkan kemarahanya yang menggebu gebu.


"Sarla, jika aku tahu dari awal mungkin aku sudah mencegah kelakuan istriku sendiri. Saat bayi kamu dibawa oleh Wulan, aku tidak ada di rumah saat itu. Aku berada di rumah, menjaga Ibuku yang sekarang terkena struk, " keluh Daniel, Sarla baru saja mendengar berita tentang mertuanya, membuat ia tentunya terkejut.

__ADS_1


"Ibu terkena struk, kenapa? Bukannya Ibu Alenta selama ini baik baik saja," ucap Sarla, masih tak percaya dengan cerita yang dilayangkan mantan suaminya itu.


"Iya, ibu awalnya baik baik saja, sempat ibu berniat pergi mengambil bayi kamu. Tapi karena ada masalah sedikit, Wulan tak sengaja mendorong ibu," balas Daniel, memperlihatkan raut wajah sedihnya.


Dari kejadian seperti ini, Sarla tak bisa menghakimi siapa yang bersalah, karena semua sudah menjadi takdir, namun tetap saja, Sarla tidak akan tinggal diam.


"Aku akan melaporkan kasus ini ke pihak berwenang. "


"Apa."


Bi Siti mendengar hal itu, membuat lutut kakinya melemas, ia ketakutan sendiri. Walau terpaksa menuruti perintah sang nyonya, tetap saja. Hati dan pikirannya dipenuhi penyesalan.


"Sarla. Kalau kamu laporkan semua ini, aku juga akan tersered, " pekik Daniel. Sarla tak mempedulikan semua yang dikatakan Daniel, yang ia inginkan sekarang adalah keadilan.


"Aku tak peduli, " balas Sarla, terlihat begitu berbeda.


Wanita bercadar itu tak ingin lemah dihadapan mantan suaminya, ia tak mau jika bayinya menjadi korban Wulan berikutnya.


Gunawan membawa anaknya untuk pergi dari hadapan Daniel, terlihat raut wajah kekewaan pada diri Sarla membuat rasa sesal untuk Daniel.


"Tuan, maafkan bibi. Ya, andai saja kemarin itu bibi tak menuruti perintah nyonya, mungkin tidak ada kejadian seperti ini. "


"Sudahlah bi, semua sudah jalannya seperti ini. Sebagai seorang ayah, aku mengerti pada Sarla, karena wajar saja dia melakukan hal seperti ini, karena dia ibu dari anakku. "


"Tuan yang sabar ya, ini semua ujian yang harus tuan lewati. "


"Iya bi, terima kasih bi. "


"Sama sama Tuan, bibi menyesal sekali. "


Tiba tiba Sarla kembali lagi menghampiri Daniel, membuat lelaki berbadan kekar itu berdiri, mengira jika Sarla berubah pikiran akan niatnya.

__ADS_1


"Sarla, kamu kembali lagi. Ada apa?" Pertanyaan Daniel membuat Sarla tersenyum kecil. Ia kini menyodorkan sebuah kertas yang membuat hati Daniel sakit.


"Ini."


"Aku sudah menandatangani surat itu, jadi kita tidak ada hubungan apa apa lagi. "


"Sarla. Apa masih ada kesempatan untukku lagi. "


Daniel benar benar tidak tahu malu, padahal kemarin dia memelih Wulan dan berpura pura hilang ingatan agar bisa menghindar dari Sarla.


Namun sekarang setelah ada kejadian yang melibatkan Wulan, membuat Daniel berubah pikiran ia ingin mengajak Sarla kembali lagi kepangkuannya.


"Apa kamu bilang, kesempatan. Daniel kamu sudah gila ya, ayolah jangan seperti anak kecil yang selalu berubah ubah ketika memutuskan sesuatu. "


"Sarla, aku ingin, kita seperti dulu lagi. "


Sarla berusaha bersikap bijak, menghadapi Daniel yang selalu berubah ubah jalan pikirannya. " Tidak ada kita seperti dulu Daniel, semua hanya drama palsu, kita menjalankan rumah tangga sesuai berkas pada kertas yang kamu tulis sendiri. Sudahlah Daniel jangan menelan ludahmu sendiri, kamu harus terima semua yang kamu tulis dalam berkas berwarna biru itu, surat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani. "


Tangan kekar Daniel, kini memegang kedua tangan Sarla, dimana ia ingin membuat mantan istrinya luluh dan kembali kepangkuannya, sebelum surat itu diserahkan kepengadilan, namun seketika Sarla menepis tangan Daniel dengan kasar, ia berucap, " jangan sentuh aku lagi, kita bukan muhrim."


Kedua mata Daniel terlihat berkaca kaca, ia seakan tak terima dengan perkataan Sarla.


Wanita bercadar itu kini pergi meninggalkan Daniel.


kepergian Sarla membuat Daniel menatap pada surat yang ia urus urus sendiri, Daniel menggenggam erat surat yang akan diberikan ke pengadilan.


"Bi Siti, ternyata aku salah memilih seorang istri, harusnya aku mendengarkan perkataan ibu, yang lebih berat kepada Sarla, daripada Wulan yang ternyata sifatnya begitu jahat, Wulan memanfaatkan seseorang untuk menjadikannya sebuah pancingan, yang di mana ia sudah berhasil, dan kini menghancurkan semuanya. "


Bi Siti memegang bahu sang majikan," Bi Siti juga tak menyangka dengan sifat Nyonya Wulan yang benar-benar berubah drastis, setelah mendapatkan Tuan Daniel lagi, Nyonya Wulan kembali lagi pada sifat aslinya. " keluh Bi Siti yang selalu membantu Wulan.


Dan sekarang balasannya, hanyalah sebuah bentakan dan juga kekesalan Wulan, menjadikan Bi Siti pelampiasannya sesaat.

__ADS_1


__ADS_2