
Saat kursi roda itu didorong oleh Lilia, saat itulah perkataan sang kakak tiri terlontar. Tangan Lilia mulai mencengkram bahu Lani," Sepertinya kamu akan mengadu kepada papah?"
"Tunggu."
Tiba-tiba saja Lani, menyuruh Lilia untuk berhenti, " Wow Kenapa kita harus berhenti, apa ada sesuatu yang kamu inginkan kepadaku?"
Bisikan Lilia membuat Lani mengepalkan kedua tangannya, "Kamu kenapa, marah?"
Lilia seakan sengaja mengatakan hal seperti itu, memancing emosi dan juga rasa sedih yang dirasakan Lani. " Lani, ayo masuk kedalam kamar."
"Biarkan aku sendiri yang masuk. Aku tak butuh bantuan kamu sama sekali."
"Waw, mengejutkan sekali. Sudah berapa kali loh dari tadi aku mengatakan waw." Tawa dilayangkan Lilia dihadapan Lani.
Lani yang tak mau, banyak berdebat dengan kakak tirinya itu, mulai menjalankan kursi rodanya, pergi dari hadapan Lilia.
Namun Lilia yang memang usil menghentikan kursi roda itu, hingga dimana Lani berucap," Kenapa kamu menahanku. "
Membalikkan kursi roda itu, tatapan Lilia mengarah ke arah Lani dengan begitu serius." Urusan kita belum selesai, ingat itu. "
Deg ....
Nampak rasa takut dirasakan Lani saat itu, dimana ia berkata," jangan seenaknya kamu, aku bisa saja mengadukan semua ini pada Kak Sarla."
Menepuk tangan dan mejawab," Silahkan saja. Kamu adukan semuanya pada kak Sarla, aku tak akan takut, ingat itu. "
"Sialan." Gumam hati Lani.
Lilia kini melabaikan tangannya pergi dari hadapan Lani dengan senyum licik yang ia gambarkan dari raut wajahnya. Menjalankan kursi roda untuk masuk ke dalam kamar, Lani Mulai mengambil ponselnya, di mana ia mengadukan semua kelakuan Lilia kepada sarla.
__ADS_1
" Awas saja kamu Lilia, aku akan mengadukan semuanya kepada kak Sarla, agar kamu mendapatkan hukuman dari Kak Sarla, atas kejahatan kamu yang sudah kamu lakukan terhadapku."
Awalnya Lani ingin menghubungi sarla. Tapi beberapa kali dihubungi, Sarla tidak mengangkat panggilan teleponnya.
*********
Sarla yang baru saja pulang ke rumah, kini mendapatkan sambutan hangat dari suaminya, padahal Ia lebih dulu pulang ke rumahnya.
Namun tanpa Sarla sadari, Daniel lebih dulu sampai di rumah," Kenapa anda sudah ada di rumah?"
Pertanyaan Sarla membuat Daniel tertawa, " kenapa kamu malah bertanya seperti itu sayang, jelas saya lebih dulu, sampai di rumah."
Sarla menatap sekilas ke arah suaminya, ia mulai pergi dari hadapan Daniel, untuk segera masuk ke dalam rumah, tak peduli dengan omongan suaminya yang banyak sekali mengatur.
"Sarla, Saya belum selesai berbicara dengan kamu." Daniel berusaha menghentikan langkah kaki sang istri, menarik tangan Sarla hingga mereka bertatapan.
"Terserah anda mau berkata apapun, saya sudah lelah dengan sifat kasar anda. "
Melepaskan tangan dari cengkraman tangan Daniel, di mana sarla mulai menutup pintu rumahnya.
"Kenapa kamu malah menutup pintu rumah? Saya mau masuk. "
Sarla tak segan-segan mengunci pintu rumahnya, ia tak mengizinkan Daniel sama sekali masuk ke dalam rumah. Mengetuk pintu beberapa kali, Sarla tetap tidak membuka pintu rumahnya.
"Buka atau saya akan .... "
Sarla berteriak menghentikan perkataan suaminya, " bukannya sebagai suami anda harus adil kepada istri-istrimu."
"Maksud kamu."
__ADS_1
" Sudah hampir dua minggu anda berada di rumah saya, seharusnya sebagai seorang suami anda harus bersikap adil kepada istri pertama, jadi Pergilah dari rumah ini untuk segera menemui istri pertama anda. "
Daniel baru ingat, ketika Sarlamengingatkannya, memang ia terlalu betah tinggal di rumah istri keduanya, Karena rasa cemburu akan Rafa sang keponakan yang mengajaknya untuk bersaing mendapatkan Sarla.
" Jadi tunggu apa lagi cepatlah pulang dari rumah ini, segera temui istri pertama anda, dia itu lagi hamil dan dia sedang membutuhkan anda membutuhkan perhatian anda saat ini."
Menundukkan kepala, pada akhirnya Daniel mengalah, walau sebenarnya ia malas sekali pergi ke rumah Wulan, tapi bagaimanapun Wulan itu istri pertamanya ia harus tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, saya akan pergi dari rumah ini untuk segera menemui istri pertama saya, tolong jaga dirimu baik-baik di rumah, jangan sampai ada lelaki yang masuk ke dalam rumah, ingat perkataan saya ini. Jika kamu melanggar saya bisa saja membuat perusahaan papa kamu bangkrut hari ini juga. "
Ancaman yang terdengar membosankan oleh sarla dari mulut suaminya, ia harus mencari cara agar perusahaan sang Papah tidak bergantung dengan Daniel, apalagi Daniel bisa saja menghancurkan dan membangkrutkan kembali perusahaan Papanya. Jujur saja perjanjian itu rasanya tak adil, seakan perjual belikan seorang budak untuk sang majikan. Sarla semenjak menikah dengan Daniel, benar-benar tak di hargai, perlakuan Daniel makin ke sini makin gila membuat Sarla tak betah dan juga tak tahan. Daniel terlalu mengekangnya.
Padahal bukan hal seperti itu yang diinginkan seorang wanita, wanita akan merasa aman dan nyaman jika lelakinya dapat menghargai dan juga mempelakukan wanita dengan baik.
Sarla berjalan dengan tangan bergetar, ya masih merasakan ketakutan, karena bentakan dan juga ancaman yang terlontar dari mulut Daniel, padahal Ia berusaha untuk tetap tegar menghadapi situasi apapun, tapi pada kenyataannya ia lemah, tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menangis dan meratapi nasib.
Meminta bantuanpun sudah tidak ada yang mau menolongnya, sampai di mana suara ponsel Sarla terdengar berdering, satu pesan datang kepadanya, dari Lani.
Sarla sudah menduga isi pesan itu pasti aduan dari adik tirinya, perlahan Ia membuka pesan dari adik tirinya itu.( Kak Sarla, apakah kakak bisa bantu Lani.)
Sarla sebenarnya malas membalas pesan dari adik tirinya yang selalu berpura-pura itu, apalagi ia sudah mendengar cerita dari Lilia yang sebenarnya, kejadian kecelakaan itu baru ia ketahui, ketika Lilia berani mengucapkan semuanya. Kenapa Lilia baru sekarang mengatakan semuanya, karena ia mendapatkan ancaman dari sang papa, juga rasa traumanya akibat kecelakaan yang ia rasakan bersama ibu kandungnya sendiri.
Sarla yang biasanya selalu membela Lani, kini merasa kesal. Iya juga merasa menyesal sudah menuruti perkataan ibu tirinya, terlalu merasa kasihan kepada Lani, sampai pada ujungnya menyakiti diri sendiri untuk menikah dengan Pria beristri.
Bodoh, yang begitu pantas dijuluki pada Sarla saat ini, ya terlalu pasrah, menerima kenyataannya, terlalu lemah untuk bisa dimanfaatkan oleh Papah kandungnya.
Mengusap pelan air mata, saat itulah Sarla mulai membalas pesan dari Lani sang adik tiri, ( bantu untuk apa sayang, tumben sekali kamu mengirim pesan kepada kakak. Apa sesuatu terjadi pada kamu, atau jangan-jangan Lilia Sudah berani lagi menyakiti kamu?)
Sarla berpura-pura memberi perhatian lebih kepada Lani, yang di mana Iya ingin menghancurkan ibu tirinya itu, membalaskan dendam untuk membalikkan penderitaannya yang kini ia rasakan.
__ADS_1