
Pada akhirnya Wulan bersedia mengikuti apa yang dikatakan dokter dan juga suster, para perawat dengan sigap membawa Wulan ke ruang operasi untuk segera ditangani.
Ita berusaha tenang berdiri di dekat pintu ruang, perasaannya sudah tak karuan, entah apa yang akan ia katakan. Sebenarnya anaknya tidak selamat.
" Maafkan saya Nyonya sudah membohongi anda," gumam hati Ita.
Di ruang operasi yang begitu dingin, Wulan melihat lampu begitu menyala terang, di mana dokter berkumpul untuk menyiapkan segala keperluan alat pembedahan.
Wulan berusaha menutup kedua matanya, agar tidak mengingat masa-masa bahwa dia harus merasakan ruang operasi.
Ita masih merasakan rasa tak tenang, hingga suara ponselnya berdering. Pesan dari Bi Siti, membuat ia terkejut.
(Gimana keadaan Wulan?)
Ita sebenarnya enggan membalas pesan dari Bi Siti, ya takut mendapat teguran dari wanita tua itu.
(Ita balas pesanku, aku sangat menghuatirkan Wulan. )
Dengan terpaksa Ita langsung membalas dan mengatakan semuanya, jika Wulan terpaksa harus di Caesar karena bayi dalam kandungannya sudah meninggal dunia.
(Maaf bi, aku sudah membuat persetujuan jika Nyonya Wulan akan melakukan oprasi caesar.)
(Apa, kenapa kamu tidak kompirmasi dulu ke saya.)
(Kenapa saya tidak kompirmasi, karena semua ini mendadak, saya terpaksa melakukan semua ini, karena bayi dalam kandungan Nyonya Wulan sudah meninggal dunia.)
Bi Siti tak menyangka, dari kejadian kecelakaan Daniel, Wulan kehilangan anaknya, ia harus merasakan pahitnya kehidupan.
(Kalau alasannya begitu aku memaklumi semuanya.)
Ita kini bernapas lega, setelah mendapat pesan dari Bi Siti yang tak marah padanya.
"Syukurlah Bi Siti tak marah. "
Operasi selesai, Wulan kini keluar, dimana Ita melihat kedua matanya masih menutup.
Ita dengan senantiasa mengikuti para perawat yang membawa sang Nyonya menuju ke ruangan.
Setelah sampai di ruangan, Ita mulai duduk merehatkan tubuhnya yang lumayan terasa begitu melelahkan, ya belum merasakan tidur malam ini.
yang ia rasakan saat ini hanyalah kepanikan, rasa tak nyaman karena sang Nyonya belum juga siuman.
*******
Sedangkan Bi Siti yang berada di depan pintu ruangan Daniel, terus bolak-balik kesana kemari, ia merasa tak tenang karena Wulan masih berada di dalam ruangan operasi.
"Bi Siti. "
Alenta memanggil nama pembantunya itu, Bi Siti tak menyadari panggilan dari sang nyonya besar, dia hanya fokus memikirkan Wulan.
"Bi Siti. "
Alenta yang melihat tingkah pembantunya itu, kini menggerutu kesal, "Bi Siti. "
Wanita tua itu terkejut dari lamunannya, Iya langsung menatap ke arah sang nyonya besar, " Iya nyonya, ada apa?"
__ADS_1
"Dari tadi saya panggil panggil, malah diam saja?"
"Maaf nyonya."
Bi Siti terlihat begitu gelisah, pada akhirnya ia berkata lagi, " ada apa nyonya?"
" Kamu sudah kirim pesan kepada Ita, bagaimana keadaan Wulan sekarang?"
Bi Siti tak menyangka jika majikannya itu akan menanyakan sang menantu, padahal saat di dalam perjalanan Alenta begitu rewel mengapai menantunya sendiri.
"Bi Siti, dari tadi saya tanya sama bibi loh, Ih malah diam saja."
"Anu, maaf nyonya. "
"Gimana?"
" Baru saja saya konfirmasi kepada Ita, katanya Nyonya Wulan dioperasi karena bayi dalam kandungannya meninggal dunia. "
Alenta tak terkejut sama sekali setelah mendengar kabar dari pembantunya itu, ia tampak acuh, tak peduli sama sekali pada Wulan.
"Oh."
Alenta pergi dari hadapan Bi Siti, untuk masuk ke dalam ruangan anak semata wayangnya itu, tak ada tanda tanda Daniel bangun.
Keadaannya benar benar keritis, " Daniel, kapan kamu bangun. "
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Alenta mulai tidur, mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Bi Siti hanya duduk termenung memikirkan Wulan. " sepertinya aku harus membuat rencana, agar Nyonya Alenta sadar."
Bi Siti tampak sibuk sendiri, memikirkan Wulan.
"Andai tuan tak menikah lagi, mungkin Nyonya Wulan tidak akan mengalami keguguran."
Bi Siti hanya bergumam dalam hati, wanita tua itu pergi lagi meninggalkan ruangan.
Dimana Alenta berucap, " loh, bi. Kenapa?"
Kedua mata Alenta memerah, ia sepertinya kelelahan, membuat Bi Siti berucap, " Tuan tidak kenapa kenapa, sebaiknya nyonya istirahat saja. Biara saya yang berjaga. "
Alenta berucap dengan nada cetusnya. "ya lah, tumben banget bi, biasanya ngurusin si Wulan."
Alenta tertidur lagi setelah menyindir pembantunya itu, ia hanya bisa menghelap napas, memaklumi apa yang dikatakan sang nyonya.
Menggelengkan kepala, lalu duduk menjaga Daniel kembali. Berharap jika sang majikkannya itu bangun dari masa komanya, agar rasa sakit Wulan setelah kehilangan anaknya terobati.
Bi Siti mulai mengirim pesan pada Ita, untuk menanyakan keadaan Wulan yang sekarang.
(Ita, bagaimana keadaan Wulan sekarang?)
Menunggu jawaban dari Ita, membuat Bi Siti tak sabar dan cemas.
"Kenapa ya Ita belum membalas pesanku."
Bi siti tampak panik, ia mengirim pesan lagi pada Ita.
(Ta, kamu baik baik saja kan, saya sangat menghuatirkan Wulan.)
__ADS_1
Pesan yang terkirimpun belum terlihat dibuka, Bi Siti merasa tak tenang, ia kuatir sekali dengan keadaan Wulan.
Hingga beberapa menit kemudian.
Tring.
(Nyonya Wulan baik baik saja, bi. Cuman dia belum siuman.)
Bi Siti bernapas lega, ia belum tidur karena ingin mendengar kabar dari Ita.
Tring.
(Bi, Ita bingung nanti kalau nyonya bangun lalu menayakan bayinya gimana.)
Mendengar perkataan Ita ada benarnya, Bi Siti takut nanti Wulan mengamuk dan bersedih, hingga pemulihan luka ceasarnya lama.
(Bilang saja, setiap kali Nyonya Wulan tanya. Banyinya lagi di urus suster.)
(Bohong dong.)
(Nggak papa, dari pada nanti nyonya mengamuk dan kenapa kenapa.)
Setelah membaca pesan dari Bi Siti, membuat Ita menuruti, walau ia tampak ragu.
(Baiklah bi.)
Ita mendekat ke arah pasien yang terbaring lemah di rajang tempat tidur terlihat Wulan masih dalam obat bius sang dokter.
Sampai dimana, Ita terkejut dengan kedua mata Wulan yang terbuka lebar.
"Nyonya Wulan. "
Wulan berusaha bangkit dari tempat tidurnya, namun ia merasakan rasa kaku yang tak biasa. " Aduh. "
"Nyonya jangan dulu duduk, kata suster nyonya berlatih miring dulu. "
"Belatih miring. "
Ita menganggukkan kepala, dimana Wulan yang tak mau lama di rumah sakit, menuruti perkataan pembantunya itu.
"Begini bukan. "
"Iya nyonya. "
Suster datang, dimana ia memberi tahu tentang kematian anak Wulan. " Oh ya untuk keluarga Pasien Wulan, bayinya mau dimakamkan sekarang."
Deg ....
Wulan yang mendengar hal itu, sontak terkejut, dimana Ita berusaha membuat suasana tak nampak kaget.
"Suster, sepertinya anda salah orang, bayi nyonya Wulan kan ada?"
"Maksud anda! " Suster itu tak mengerti, akan perkataan Ita yang sengaja menutupi kematian bayi Wulan.
"Suster jangan bercanda, bayi itu ada di inkubator bukan?"
__ADS_1