
"Sudahlah kita anggap saja angin berlalu." Daniel begitu tega berkata seperti itu, dia tak memikirkan perasaan Wulan.
Wulan berusaha menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh mengenai pipinya dimana ia berucap lagi," Wulan? Ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan." Sarla mulai berucap, ia berusaha menenangkan istri pertama Daniel, agar tidak salah paham dengan apa yang dilihatnya.
Sedangkan Daniel, seakan sengaja melakukan hal itu di depan istri pertamanya, dimana ia mencium kedua pipi Sarla dengan penuh mesra.
Bertambahlah rasa sakit pada hati istri pertamanya, membuat Wulan tak berdaya dan tak ada harapan bagi dirinya." Daniel, seharusnya kamu jangan lakukan hal ini." Gumam hati Wulan.
Sebenarnya ia sudah mengerti, kenapa Daniel melakukan hal itu dihadapan Wulan langsung, karena Daniel ingin balas dendam.
Rasa sakit yang kini di rasakan Daniel belum puas ia balaskan pada istri pertamanya, karena bagi dirinya, membalas dendam hal yang terbaik untuk meleyapkan rasa kekecewaan.
Daniel penasaran sekali, ingin melihat Wulan menangis dihadapannya, tapi berulang kali ia lakukan kemesraan pada Sarla.
Wanita bernama Wulan itu tetap acuh." Kenapa Wulan, apa kamu sakit hati?"
Menatap ke arah Daniel, dengan mengusap pelan keringat dinginnya, Wulan berkata," silahkan lakukan sekuat hatimu.
Sarla tak suka dengan pemandangan memalukkan ini bagi dirinya, ia berusaha pergi dari lahunan Daniel, " sudah Sarla, jangan banyak bergerak, bisa bisa kamu membangunkan burungku yang sedang tidur."
Siapa orang yang tak kesal mendengar perkataan itu, bagi Wulan sangatlah menjijika dan tak pantas di dengar.
"Apa kalian bisa melakukan hal itu di tempat yang lebih layak. "
Daniel semakin sengaja ingin membuat hati Wulan , semakin sakit, ia kini berkata," Benar apa yang dikatakan Wulan, sebaiknya kita pindah, jangan melakukan adegan ini dihadapannya. "
Mengepalkan kedua tangan, ingin rasanya Wulan meninju suaminya itu, dimana Daniel dengan sengaja, mengangkat tubuh Sarla.
"Daniel, apa yang kamu lakukan ini, cepat turunkan tubuhku sekarang juga."
Tampak Daniel, malah sengaja menggangkat tubuh Sarla dengan tinggi, hingga dimana lelaki itu membopong tubuh istrinya.
Sarla mencari ide untuk bisa lepas dari cengkraman tubuh Daniel, ia tak suka jika harus mempelihatkan kemesraan ya dihadapan istri pertama.
Pasti yang dirasakan Wulan saat ini, sakit hati,
"Daniel lepaskan aku."
Sarla akhirnya meraih sebuah barang yang ia ambil, dimana barang itu langsung ia pukulkan pada kepala Daniel.
"Sarla apa yang kamu ingin lakukan."
Sarla tersenyum lalu, " Plukk. "
Daniel merasakan rasa sakit yang tak biasa, tubuhnya tak seibang, pada akhirnya Daniel jatuh pingsan. Dimana Sarla ikut jatuh ke atas lantai.
"Aduh, pinggangku."
__ADS_1
Wulan tak menyangka, jika Sarla bergitu berani memukul Daniel. Dimana wanita yang menjadi istri pertamanya menbantu Sarla berdiri.
"Ayo sini."
Sarla tentu saja terkejut dengan uluran tangan Wulan, bisa bisanya. Istri pertama membantu istri kedua, bukanya Wulan selalu menganggapnya pelakor.
Sarla yang sudah berdiri, lalu mengucapkan dua patah kata pada Wulan. " Terima kasih."
Wulan tampak senang mendengar tanda terima kasih itu, membuat hatinya yang tadi sakit sedikit terobati.
Sarla dan Wulan mulai membiarkan Daniel terbaring lemah di atas lantai, tanpa harus memindahkannya.
Sedangkan mereka berdua kini berjalan untuk duduk di atas sofa.
"Mbak Wulan, mau minum apa?"
Seperti tidak ada kata pertengkaran di antara keduanya, mereka terlihat baik baik saja.
"Terserah, saya hanya ingin yang hangat hangat saja!"
"Panas begini tidak mau yang dingin."
"Tidak usah."
"Ya sudah, aku panggilkan dulu pembantu."
"Ada apa, Nyonya?"
"Tolong buatkan minuman air hangat."
"Baik nyonya."
Sarla memandangi perut Wulan yang semakin bulan semakin membesar, ia kini berucap, " ada apa lagi anda datang ke sini, bukannya kemarin ada baru saja mengatai saya, sebagai seorang pelakor."
Wulan berpura pura batuk, dimana pembantu rumah terlihat menaruh minuman hangat di mejanya.
"Silah .... "
Belum berucap, Wulan langsung saja meminum air hangat itu, tanpa rasa panas pada bibirnya, " Loh itukan panas." Ucap pembantu di rumah Sarla, dimana Wulan tersenyum lalu, meletakan kemabali gelas yang ternyata sudah kosong tidak ada isinya.
Pembantu itu menggelengkan kepala, melihat atraksi yang dilayangkan oleh Wulan, saat meminum air hangat itu dengan begitu lahap tanpa sisa.
Sedangkan Sarla, hanya diam tanpa mempelihatkan ekspersi terkejutnya, karena ia tahu jika istri pertama Daniel tengah menahan kekesalnya, karena melihat adegan yang tak biasa ia lihat.
Adegan itu membuat hatinya pasti sakit sekali, dimana Sarla memulai percakapan, " Ada apa ya?"
Wulan berusaha mengatur diri, ia harus ingat akan pesan Bi Siti yang menyuruhnya agar menurunkan rasa ego, agar bisa menjalankan rencana selanjutnya, karena ini kesempatan emas untuk Wulan.
__ADS_1
Membuat Daniel jatuh sejatuhnya ke dalam jurang penderitaan.
"Sarla."
"Ya?"
Tergorokan terasa ada yang menutup, sedangkan mulut begitu berat, karena rasa gengsi yang menggebu gebu pada hati.
"Ada apa ya?"
Sarla dari tadi tampak bertanya terus menerus, sedangkan Wulan merasa berat berkata jika dirinya hanya ingin bekerja sama.
"Mbak Wulan, kenapa malah diam saja? Saya dari tadi tanya loh mbak. "
"Ahk, iya. kenapa?"
Wulan tanpak gugup, ia malah balik bertanya lagi, Dimana Sarla menggelengkan kepala, merasa heran dengan istri pertama Daniel.
"Saya datang ke sini, mau mengajak kamu untuk bekerja sama."
Pembantu dan juga Sarla, saling pandang, terkejut mendengar perkataan Wulan.
"Maksud mbak. Bekerja sama dalam hal apa?"
Wulan tak bisa membeberkan rahasiannya, apalagi di dekat pembantu Sarla, yang bisa saja membocorkan rencana.
"Apa bisa kita berbicara berdua saja."
Sarla menyadari jika disampingnya ada pembantu yang berdiri di sampingnya. Dimana ia memerintahkan pembantu itu untuk pergi.
"Mbok, maaf bisa pergi sebentar."
Pembantu itu menganggukkan kepala mengerti dengan perintah sang nyonya, ia langsung pergi dari hadapan mereka berdua.
Waktunya Wulan untuk menjelaskan semua rencana. Ia membisikan suatu perkataan pada telinga Sarla. Dimana Sarla tampak ragu.
" Bagaimana apa kamu setuju."
Mendengar perkataan Wulan terasa berat bagi Sarla, Karena ia merasa dalam rencana itu dirinya yang dirugikan sedangkan Wulan merasa di untungkan.
Sarla berpikir lagi jika harus melakukan hal sesuatu itu tidak boleh tergesa-gesa, apalagi sampai membuat dirinya rugi berat.
" Ayolah Sarla apa bisa kamu bekerja sama denganku?"
Sarla hanya tersenyum mendengar tawaran yang terlontar dari mulut Wulan, ia merasa ragu dengan perkataanmu istri pertama Daniel itu.
"Dalam rencana itu saya merasa bahwa saya itu seakan dirugikan. "
__ADS_1
Wulan tak menyangka jika istri kedua Daniel begitu cerdik dalam menanggapi hal yang ia katakan.