
qSarla turun dari mobil yang ia kendarai sendiri, menuju kampus pilihannya. Terlihat suasana begitu ramai oleh para remaja yang berlalu lalang untuk berkuliah.
"Impianku." Salra berjalan dengan penuh rasa bahagia, hidupnya terasa penuh arti, walau menikah karena keterpaksaan.
Ia berusaha sabar menjalani lika liku kehidupan, walau terkadang ada cacian dari istri pertama Daniel yang tak lain ilahan Wulan.
Menarik napas melupakan semua itu, Sarla harus berlajar ikhlas menjalankan semuanya, mungkin ada hal yang indah untuk kehidupannya nanti.
Melangkahkan kaki kembali, untuk masuk ke tempat yang dituju. Sarla kini bertemu dengan sosok seorang wanita yang begitu akrab dengan dirinya, ia tersenyum kecil dan menyapa dengan sedikit rasa malu.
"Sarla, kamu ada di sini?"
"Natasya!" Sarla tetap mempelihatkan keramahanya, ia tak mau menjadi sosok wanita yang engois.
"Sarla soal kemarin," balas Natasya. Dimana Rafa tiba tiba datang, menghampiri Natasya.
"Kemarin kenapa?" tanya Sarla, Natasya malah diam seribu bahasa, seperti ada rasa takut ketika Rafa datang.
"Natasya kenapa kamu ada disini, ayo kita masuk." Ajak Rafa hanya pada Natasya saja, sedangkan Sarla tak dianggap sama sekali.
"Natasya, tunggu. Tadi kamu mau bilang apa?" tanya Sarla, Natasya malah diam saja, dimana Rafa terus mengajaknya pergi.
"Natasya ayo. "
Sahabat masa kecilnya kini pergi, Sarla hanya seorang diri, " Ada apa dengan Natasya?"
Sarla mulai berjalan untuk mendaftarkan diri, ia ingin langsung mengikuti jam pelajaran hari ini juga. Sarla sudah membayangkan akan punya teman baru dan belajar tetang hal yang ia suka.
Baru saja masuk ke ruang pendaftaran, dosen sudah mau mempekenalkan Sarla ke murid yang lainnya. Bagitu cepat, sampai dimana dosen mengatakan jika Daniel sudah mendaptarkan Sarla lebih dulu ke kampus sebelum Sarla datang.
Ia tak menyangka jika Daniel begitu baik, dari wajah dinginya, ada kebaikan tersembunyi.
Baru saja masuk ke ruangan sekolah, Sarla kini bertemu lagi dengan Natasya, dimana jurusan yang mereka ambil sama.
Sarla mulai memperkenalkan diri, pada semua murid di kelasnya, sampai dimana dosen menyuruhnya untuk duduk.
Duduk bersebelahan dengan wanita cantik yang terlihat tak senang pada Sarla.
"Oh ya, katanya kamu menikah dengan pria beristri ya?" Pertanyaan yang tak sepantasnya ditanya saat jam kuliah.
Sarla tak suka jika ada yang ikut campur masalah pribadinya, kini menjawab dengan nada tegas." Kenapa kamu bertanya seperti itu!?"
Wanita disampingnya kini tertawa pelan, dijam pelajaran, dimana sang dosen tengah menjelaskan wanita itu berkata lagi." Jelas, aku bertanya seperti ini, karena tak mau dekat dan sebangku dengan wanita yang tidak punya harga diri seperti kamu."
"Oh, jadi itu yang kamu inginkan. Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan kamu, jadi terima ini, " balas Sarla, dimana ia sengaja mendorong kursi wanita disebelahnya, hingga wanita itu tersungkur jatuh.
__ADS_1
Brakkk ....
Semua mata tertuju pada wanita yang jatuh dengan kursinya, ia bernama Wina.
Sarla tersenyum kecil, berpura pura terkejut. Sang dosen yang melihat kejadian itu menghampiri Wina.
"Kamu ini kenapa Wina."
Sarla tak segan segan memberi pelajaran pada wanita itu dengan berkata." Ya ampun Wina, kamu kelelahan semalaman sampai tertidur dan jatuh pada kursi."
Mendengar apa yang dikatakan Sarla, membuat sang dosen menatap ke arah Wina.
"Loh, bukan seperti itu. Saya .... "
Dosen mulai memaafkan Wina, ia tak mau jika dikelasnya masih ada yang berani tidur. Jika ada lagi akan dikeluarkan dijam pelajaran.
Sarla tentulah senang dengan hal itu, ia ingin sekali tertawa terbahak bahak. Dimana Wina bangkit kembali dan duduk.
"Mm, gimana rasanya. Makanya jangan terlalu ikut campur akan masalah pribadi orang lain, kenali dulu lawan kamu seperti apa," bisik Sarla pada telinga Wina.
Wina terlihat kesal, ia mengerutkan bibirnya, merasa kesal. Sedangkan Sarla mencoba menatap ke sekelilingnya, melihat para wanita seperti saling membicarkan dengan mentap sekilas ke arahnya.
Menahan hati untuk tidak suudzon dan menyalahkan orang lain, Natasya menatap ke arah Sarla, tatapan tanpa bisa di tebak artinya.
Barusaha tetap tenang, walau sebenarnya hatinya sangatlah kesal dengan orang yang sudah menybar gosip.
Jam kuliah selesai, Sarla kini pergi lebih dulu dari pada anak anak lainnya, dimana Natasya mendekat dan berkata." Sarla, a-k-u."
"Apa kamu yang menyebar semua urusan pribadiku?" tanya Sarla pada Natasya.
Natasya menundukkan kedua matanya," sebenarnya. "
Tiba tiba saja Rafa datang, dimana lelaki itu menghampiri Natasya," Sya, ayo kita pulang bareng."
Natasya hanya menurut, ia mengikuti langkah kaki Rafa, dimana lelaki itu menatap penuh kebencian pada Sarla.
Sarla merasa heran dengan tingkah mereka berdua, sampai dimana Sarla menghentikan Natasya.
"Syah, tunggu. "
Mereka kini menghentikan langkah kaki saat suara Sarla memanggil nama Natasya.
"Syah, biarkan saja. Ayo kita pergi dari sini."
"Baiklah."
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih sebenarnya?"
Kedua sahabat yang selalu bersama Sarla, kini menjauh, seakan tak peduli.
"Natasya, Rafa selama ini aku salah apa pada kalian. Kenapa kalian sampai sebegitunya menjauhiku. "
Teriakan Syarla tetap saja tak dianggap sama sekali oleh kedua sahabatku itu.
"Natasya, coba jawab. Jangan selalu menghindar dari pertanyaanku."
Natasya tetap saja diam, dimana Rafa, membalikkan badan dan berkata. " kamu tanya kepada kami berdua, Di mana letak kesalahan kamu itu? Coba kamu intropeksi diri kamu."
Deg ....
Perkataan Rafa, membuat hati Sarla tak mengerti, perkataan yang lumayan tajam dan sedikit melukai hati.
"Intropeksi untuk apa, hah. Memangnya aku ada salah apa pada kamu Rafa? Sampai kamu sebencinya itu padaku? Bukannya kita ini baru bertemu lagi?"
Sarla berusaha mencari kesalah pahaman yang ada hingga dimana ia menunjuk wajah Natasya.
"Aku curiga pada kamu Natasya, apa kamu sudah memjadi flopokator pada persahabatan ini. Dan lagi aku ingin tanya akan surat yang dibahas oleh Rafa, apa kamu sengaja membuat fitnahan."
Rafa menatap ke arah Natasya. " apa kamu sudah benar benar memberikan surat yang aku amanahkan untuk kamu berikan pada Sarla?"
Natasya seperti salah tingkah, ia ketakutan, hingga akhirnya, Sarla angkat bicara lagi.
"Natasya kenapa kamu diam saat, Rafa bertanya? Aku ingin tahu memangnya surat apa yang diamanahkan Rafa untukku. Kenapa sampai aku tak tahu. "
"Itu."
Rafa menekan Natasya untuk berkata jujur." Rafa, apa ini nomor kamu?" Sarla menunjukkan nomor yang diberikan Natasya pada Rafa.
Dimana lelaki berparas tampan berkulit putih itu menatap pada layar ponsel Sarla. Natasya tak tinggal diam ia ketakutan, sampai dimana Natasya dengan beraninya melempar ponsel Sarla.
"Natasya, ponselku."
Wanita bercadar biru itu, tiba tiba saja menangis, ia berusaha membalikkan ke adaan agar dirinya tak tersalahkan.
"Kamu tega ya, Sarla menuduhku, sudah jelas aku memberikan surat itu, kamu berpura pura tidak tahu. "
Sarla mengambil ponselnya," kamu memfitnahku Natasya."
Sampai dimana sosok seorang wanita datang. Menghentikan perdebatan keduanya.
"Cukup."
__ADS_1