
Sambungan telepon terputus, terlihat jika Sarla masih syok berat, "Nyonya."
Sarla menitihkan air mata, ia merasa menyesal telah menyuruh Daniel pergi.
"Andai saja aku menuruti kekuatiranku, mungkin Daniel tidak akan mengalami kecelakaan ini. "
Wanita tua itu, berusaha menenangkan sang majikan." jangan menyalahkan diri sendiri nyonya, semua sudah takdir Allah, kita doakan saja Tuan Daniel baik baik saja. "
"Iya. Bi. "
Wanita tua itu mulai membantu Sarla untuk berdiri, "Bi, cepat suruh satpam siapkan mobil."
Sarla memerintah pembantunya itu, dimana sang pembantu berkata, " Loh nyonya mau pergi, bibi sarankan jangan pergi, karena keadaan nyonya sedang tidak baik. "
"Tapi bi, aku merasa menyesal."
"Sudah besok saja, sekarang hujan begitu deras. "
Sarla melihat keadaan diluar memang sangat tak memungkinkan untuk ia pergi. Karena diluar hujan begitu lebat, banyak angin kencang.
Sarla mulai berjalan menuju ke kamarnya, dibantu oleh sang pembantu. Langkahnya terasa gontai, ia merasa lemas, perasaanya tak karuan.
Sedangkan Wulan yang masih menunggu kedatangan sang suami, kini mendekat ke arah jendela, ia sadar jika cuaca diluar sedang tidak bagus membuat rasa kuatir kini merasuk hatinya.
"Daniel, apa dia baik baik saja, kenapa jam segini di belum pulang juga."
Hati dan perasaannya seakan tak karuan, ia menatap layar ponsel tak ada satu pesanpun uang datang, sampai dimana.
Tring ....
Sarla mengirim pesan pada Wulan.
(Mbak, Daniel mengalami kecelakaan.)
Deg ....
Wulan tak menyangka akan pesan yang dikirim sarla, jika Daniel kecelakaan.
(Jangan bercanda kamu Sarla.)
(Aku tidak bercanda mbak, sekarang Daniel ada di rumah sakit, jika mbak tidak percaya, silahkan hubungi Daniel.)
Karena rasa penasaran dari pesan Sarla, membuat ia mulai mengubungi Daniel.
"Semoga saja apa yang dikatakan Sarla tidak benar."
Panggilan teleponpun terhubung, Wulan sudah tak sabar ingin mendengarkan suara Daniel.
"Ayo angkat Daniel. "
Terdengar suara ganduh di depan ruangan tv, Wulan mendengar suara Alenta seperti orang sibuk.
"Ada apa ya kok, birisik."
Suara itu membuat Wulan membuka pintu kamarnya, ia melihat sang mertua bulak balik kesana kemari. Sedangkan Bi Siti mengikuti langkah kaki sang Nyonya.
Sopir sudah menyiapkan mobil, dimana Alenta bergegas pergi, sedangkan Wulan masih dengan perutnya yang buncit kini berjalan ke arah Bi Siti, " kenapa bi, kok sibuk sekali?"
Bi Siti nampak kelelahan, ia mulai membalas perkaraan Wulan, " Anu, Tuan Daniel nyonya?"
" Daniel kenapa, bi?"
__ADS_1
Pertanyaan Wulan, membuat Bi Siti berlari karena menuruti perintah Alenta.
"Bi Siti, cepat bi. "
"Iya, nyonya. "
Semua orang tampak sibuk dengan perintah Alenta, sedangkan Wulan belum mendapatkan kepastian kenapa dengan Daniel.
"Kenapa semua orang begitu sibuk."
Alenta mulai masuk ke dalam mobil, dimana Wulan berusaha mengejar sang ibu mertua.
"Bu, tunggu. "
Mendengar suara Wulan, Alenta menyuruh sopir berhenti, menurunkan kaca mobil. Bi Siti terlihat ikut ke dalam mobil.
"Ibu mau kemana?"
Pertanyaan Wulan, kini di jawab sang ibu mertua dengan ketus.
"Kamu ini bagaimana sih, jadi seorang istri masa tidak tahu jika suami mengalami kecelakaan, ibu juga tahu dari Sarla. "
Bagai di sambar petir di malam hari, Wulan tak menyangka dengan kabar yang diberikan Sarla.
"Bu, bu. Tunggu. "
"Apa lagi?"
"Wulan ikut ya, Wulan ingin tahu keadaan Daniel?"
"Kamu ikut?"
"Enggak, nggak, sebaiknya kamu diam saja di rumah, kamu kan lagi hamil. Aku takut nanti kehamilan kamu kenapa kenapa. "
"Tapi, bu. "
Alenta mulai menyuruh sopir untuk menyalakan mesin mobil dan segera pergi menuju ke rumah sakit.
"Bu."
Wulan benar benar bingung, ia tak tahu rumah sakit dimana Daniel di rawat. Bergegas pergi untuk mengambil ponsel, pada akhinya Wulan terjatuh.
Brakkk ....
"Ahkkk."
Wulan menjerit kesakitan, ia berusaha bangkit, sampai menatap ke arah paha, " Pendarahan."
Ita yang mendengar teriakan sang nyonya, kini berlari, " Nyonya Wulan, pendarahan. "
"Ita, tolong panggilkan sopir. "
"Baik Nyonya. "
Wulan terus meringis kesakitan, ia tak tahan dengan perutnya yang terus mengeluarkan darah.
"Bertahanlah, nak. "
Ita membawa sopir, untuk mengangkat sang nyonya, menuju ke dalam mobil.
"Aduhh."
__ADS_1
Wulan yang masih merasa kesakitan, sempat sempatnya memarahi sopir. " Kamu kemana, saya cari kamu untuk kejar Ibu Alenta."
"Maaf Nyonya saya ketiduran."
Wulan kini dibopong oleh sang supir, dimana ia masih meringis kesakitan." Nyonya bertahan."
Ita mulai masuk ke dalam mobil untuk menemani sang nyonya, ia tampak tak tenang, karena mendengar sang nyonya terus meringis kesakitan.
"Nyonya tenang saja ya. "
Perasaan sudah tak karuan, Wulan mulai dibawa ke rumah sakit untuk segera ditangani, di setiap jalan Wulan terus mengeluarkan suara karena menahan rasa sakitnya.
"Nyonya tenang ya."
Ita mencoba menghubungi Alenta, berharap jika Nyonya besar mau mengangkat panggilan telepon darinya.
"Ayo dong angkat nyonya. "
Berulang kali menelepon, tetap saja tak diangkat. Ita kini bertanya pada Wulan. " Nyonya, apa nyonya tahu NYONYA besar pergi dengan siapa?"
Wulan mulai memberitahu dengan nada meringis kesakitan, " Bersama Bi siti. "
Ita kini mecari nomor telepon Bi Siti, untuk segera menghubungi pembantu itu.
"Tidak diangkat juga. Apa bi siti lupa membawa ponselnya. "
Wulan yang masih meringis dalam rasa sakit, kini berucap pada Ita, " Sudahlah Ita, tak perlu kamu menghubungi mereka. "
"Tapi, nyonya mereka harus tahu. "
"Tak usah, sekarang aku ingin pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan anakku. "
"Baik nyonya, Ita tidak akan menelpon siapapun."
********
Alenta masih dalam perjalanan, ia mulai menatap layar ponsel setelah hatinya sedikit tenang, melihat pada layar ponsel itu.
"Ita, ngapain dia menelepon dijam malam begini. "
Bi Siti yang pensaran dengan tingkah sang nyonya kini bertanya?" Ada apa nyonya?"
"Entahlah ini si Ita tumben nelepon di jam malam begini, coba saya mau menghubungi dia lagi!"
Alenta mulai menghubungi Ita sang pembantu, dimana. " Halo, nyonya. "
Terdengar suara Ita begitu berat, " Ada apa Ita, kamu menelepon saya dijam malam seperti ini."
"Anu, nyonya, saya hanya ingin memberitahu nyonya jika Nyonya Wulan pendarahan. "
Alenta terkejut setelah mendengar perkataan dari pembantunya yang bernama Ita," Apa pendarahan, bukannya tadi Wulan itu baik-baik saja? Kenapa dia bisa pendarahan?"
Pertanyaan Sang Nyonya membuat Ita juga kebingungan, Iya tak tahu kronologi ketika Wulan mengalami pendarahan. " Saya kurang tahu nyonya, yang saya tahu itu Nyonya Wulan sudah duduk di atas lantai."
Wulan tak bisa fokus dengan pembicaraan antara Ita dan juga mertuanya, yang ia pikirkan saat ini penyelamatan bayi dalam kandungannya.
"Ya sudah nyonya, rumah sakit sudah sampai saya mau mengantarkan Nyonya Wulan untuk segera diperiksa. "
"Baiklah kalau begitu. "
Sambungan telepon pun dimatikan sebelah pihak, dimana Bi Siti mulai bertanya kepada Alenta.
__ADS_1