Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 191


__ADS_3

Dera tidak memperdulikan perkataan suaminya, ia memakan habis makanannya di atas piring, melahap dengan cepat karena perut yang terus berbunyi, membuat hawa napsu semakin bergejolak tinggi.


Gunawan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang begitu kelaparan.


"Dera."


Tak ada jawaban sama sekali, Gunawan melangkahkan kaki menuju keruang kerja. Banyak berkas yang dikirim asistennya untuk ia tanda tangani.


"Ahk, kenapa banyak pekerjaan numpuk seperti ini." Mumukul meja, Gunawan melihat sebuah poto almarhum istrinya yang terpajang pada album poto.


"Wulan, aku pusing menghadapi dunia ini. Sekarang aku sadar, dulu aku menghianatimu karena napsu, sekarang aku menyesal. "


Wanita tua yang bernama Wina itu, mengintip pada balik pintu yang sedikit terbuka. " Sepertinya dia sudah melihat album yang sengaja aku simpan. "


Wina tersenyum manis, entah apa yang ia rencanakan untuk keluarga Gunawan.


Rasa rindu mulai menggebu pada hati Gunawan, ia membuka perlahan demi perlahan album poto itu.


Air mata menetes mengigat masa lalu yang sudah terlupakan pada benaknya.


Dera baru saja selesai menikmati makananya, ia bergegas menemui sang suami.


"Karena kelaparan aku sampai lupa dengan Gunawan. "


Berjalan ke ruang kerja sang suami, Dera melihat Wina telah mengintip di balik pintu ruang kerja suaminya. " Wina, ngapain dia ada di sana?"


Dera terlihat kesel dengan pembantu baru yang menjadi suruhannya itu, iya memegang bahu Wina, lalu bertanya. " Sedang apa kamu disini?"


Wina malah menatap Dera dengan tatapan kesal, setiap kali bertemu tak ada keramahan sedikitpun pada wajah Wina.


"Itu bukan urusan anda."


Wina pergi setelah menjawab perkataan Dera, " heh, nggak sopan sekali kamu, pergi begitu saja."


Teriakan Dera tak di jawab oleh Wina sama sekali, membuat wanita yang menjadi istri Gunawan itu menghentakkan kakinya, mengepalkan kedua tangan menggerutu kesal," dasar pembantu sombong tidak tahu diri."


Dera penasaran, ia mulai membuka pintu ruangan kerja suaminya. Mendekat, melihat apa yang sedang dilihat oleh Gunawan.


Kedua mata Dera membulat, tak percaya jika sang suami masih mengingat mantan istrinya yang sudah meninggal dunia.


Dera kini menarik album foto yang tengah ditatap oleh Gunawan," oh jadi kamu masih rindu almarhum istri kamu ini?"

__ADS_1


Gunawan kini berdiri, menatap kesal ke arah istrinya, " kembalikan album poto itu. "


Dera malah, membuang album poto yang tengah ditatap sang suami. Mengijak ginjaknya dengan rasa tak suka. " Kamu itu sudah jadi suamiku, ngapain juga masih memandangi poto orang yang sudah mati. "


Gunawan berusaha mengambil foto yang diinjak oleh istrinya, menunjuk wajah Dera. " kamu keterlaluan. "


Melipatkan kedua tangan, Dera terlihat begitu santai. Seakan tak ada rasa bersalah sedikitpun pada dirinya, " aku keterlaluan. Apa bedanya dengan kamu?"


Gunawan mengambil album foto itu, membersihkan setiap debu yang menempel pada album foto almarhum istrinya.


"Dera, kamu harus ingat ya. Wulan mati gara gara kamu juga, " ucap Gunawan, tanpa sadar mengatakan semua rahasia yang sudah lama disimpan.


Dera terkejut dengan sang suami yang mengatakan sebuah rahasia yang tak boleh diucapkan.


Terburu buru, menutup pintu kerja suaminya," jaga ucapan kamu, bukan aku saja yang bersalah. Tapi, kamu juga terlibat dalam kematian Wulan."


Gunawan menundukkan wajah, ia menarik napasnya mengeluarkan secara perlahan, terasa sesak yang kini ia rasakan, tak kuasa menahan Sesal yang mendera.


Telunjuk tangan Dera kini menunjuk tepat pada wajah Gunawan," kamu bisa saja menyalahkanku dan membeberkan semuanya, tapi kamu harus ingat kamu juga akan terseret dalam masalah."


Dera tak mau membahas rahasia yang mereka simpan, dia pergi dari hadapan Gunawan membuka pintu, melihat apa ada orang yang mendengar percakapan.


"Aman."


Gunawan melemparkan semua barang berharga miliknya, mengacak rambut dengan begitu kasar. Ia masih ingat kejadian yang menimpa Wulan.


"Ahk, sialan. Kenapa penyesalan itu datang begitu lambat, jika aku sampai mengakui semua kepada polisi, apa anak-anakku akan menerimaku sebagai seorang ayah lagi."


Gunawan duduk di atas lantai dengan air mata yang mengalir, ia kuasa menahan kesedihan.


Wina yang melihat rekaman CCTV yang sengaja ia pasang, tanpa diketahui Gunawan sama sekali.


Kedua matanya memerah, Wina tak menyangka jika Gunawan pembunuh yang sebenarnya.


Padahal dari awal ia menyangka jika Dera lah pembunuh aslinya.


Mengepalkan kedua tangan, ya belum tahu pasti motif pembunuhan itu bagaimana, karena yang ia lihat adalah kecelakaan tunggal.


"Gunawan, dari tampang baiknya itu ternyata kamu seorang pembunuh." Gumam hati Wina.


Dera semakin merasa tak tenang setelah melihat kemarahan suaminya sendiri, membahas tentang pembunuhan berencana yang mereka lakukan.

__ADS_1


" Sebagai seorang istri Gunawan aku harus berhati-hati, kasus ini sudah lama ditutupi, polisi hanya tahu jika Wulan mengalami kecelakaan tenggelam, dan Lilia adalah saksi bisu, di mana aku meninggalkan mobil Wulan yang mengeluarkan asap dan kobaran api."


"Hem."


Suara itu membuat Dera, " Wina, apa apaan kamu ini, mengejutkanku tiba tiba."


Wina terus menagih hutang yang akan dibayarkan oleh Dera, di mana ia memperlihatkan telapak tangannya. " Mana uang. "


Baru saja Dera ingin meminta uang pada suaminya, namun permintaan itu tak jadi, karena Gunawan yang membahas mantan istrinya.


"Besok saja, sekarang aku banyak urusan."


Dera melangkahkan kakinya begitu cepat, melewati Wina pembantu yang ia buat menjadi suruhannya.


"Tunggu, Dera. " Langkah kaki Dera terhenti, saat Wina menyebut namanya.


" Apa kamu benar-benar tidak takut dengan ancamanku kemarin. Jika kamu tidak membayarku, aku bisa saja membeberkan waktu yang sudah aku dapatkan selama di rumahnya."


Menatap tajam lalu menjawaba, " Apa maksud dari ucapan kamu ini, jangan karena aku lemah, kamu seenaknya mengatakan hal itu kepadaku.'


"Waw, menarik, aku tidak memandang kamu lemah ataupun kuat. Aku hanya ingin meminta hakku."


Dera sudah tak tahan dengan omongan Wina, Iya terburu-buru pergi, untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


"Masuk lagi ke dalam kamar. Hah. "


Lilia baru saja selesai memakan masakan dari Tari, ya keluar dari kamar sampai bisa berpapasan dengan Wina.


"Halo Nona Lilia."


Sapaan Wina membuat menyunggingkan bibirnya, Wina sudah tahu jika Lilia tidak menyukai wajahnya.


Wina tetap menanggapi semua itu dengan senyum, Lilia mendekat, " Kenapa kamu tidak operasi plastik saja, agar wajah kamu itu enak dipandang mata."


"Mm, sepertinya saya tidak bisa operasi plastik."


"Kenapa, selama kamu bekerja kamu mendapatkan gaji yang cukup lumayan besar, Kenapa kamu tidak mau dioperasi plastik?"


" Ada satu hal yang aku ingin katakan kepada kamu Nona Lilia."


"Apa itu. "

__ADS_1


Wina mendekat pada telinga kiri Lilia, lalu berbisik, " jika aku mau, aku bisa melepaskan luka ini. "


__ADS_2