
Dera masuk ke dalam kamar menyusul sang suami, terlihat kemarahan diperlihatkan Gunawan pada istrinya sendiri.
"Pah, apa kamu tidak menyambut kedatangan Lani, dia sangat merindukkanmu. "
Gunawan tetap sibuk membuka pakaianya untuk segera mandi di malam hari, karena bau badan sehabis jalan jalan bersama kedua anaknya membuat ia tak nyaman.
"Pah."
Dera mulai menarik tangan Gunawan, lelaki tua itu menghempaskan tangan sang istri dengan berkata, " apa bisa kamu tak menggangguku saat ini, aku cape. "
Deg ....
Perasaan Dera seakan tak karuan, ia merasa bahwa kehadirannya seakan tak diinginkan oleh sang suami.
"Pah, Lani. "
Gunawan yang kesal dengan teriakan istrinya kini membalas. " Kamu tak usah banyak bicara, masalah Lani, nanti aku akan temui dia. "
Mendengar Gunawan berkata seperti itu, membuat Dera menghembuskan napasnya, ia kesal karena dari tadi perkataanya seakan diabaikan.
Namun saat membahas Lani, baru Gunawan angkat bicara.
Melipatkan kedua tangan, Dera duduk di ranjang tempat tidur, Gunawan baru saja keluar dengan raut wajah juteknya.
"Pah."
"Sudah jangan banyak bicara, aku malas mendengarnya. "
Dera mulai menutup mulutnya, padahal banyak sekali yang ia ingin bicarakan kepada sang suami, namun perkataan suaminya itu malah membuat hatinya kecewa.
Gunawan mulai memakai baju tidur, ia kini berjalan keluar dari kamar tidurnya, tak mengajak sang istri sama sekali.
"Pah."
Langkah kaki Gunawan semakin cepat, membuat Dera tak bisa mengejarnya." Ish, kenapa dia, kenapa jalannya cepat sekali."
Dipertengahan jalan, Dera merasakan sesuatu yang tiba tiba saja membuat perutnya sakit.
"Ahk, perutku sakit. Kenapa ini."
Ia berlari terburu buru, untuk segera pergi ke kamar mandi. " Ahk sakit sekali."
Tari yang melihat pemandangan di hadapannya, dimana sang majikan kesakitan dengan berlari sembari memegang perutnya.
__ADS_1
"Ahahah, rasain. Emang enak aku kerjain. Sakit rasanya pasti tuh perut."
Tari semakin senang dengan kesakitan yang dirasakan Dera, karena pertama kali bertemu dengannya, Tari sangatlah tak suka. Apalagi saat memerintah selalu dengan bentakan.
Gunawan baru saja sampai di depan kamar Lani, ia perlahan mengetuk pintu kamar anak ketiganya.
"Lani, ini papah sayang. Buka pintunya." Tak ada jawaban sama sekali, Gunawan mulai membuka pintu kamar Lani.
Anak itu tengah tertidur pulas, Gunawan mendekat mengusap pelan kepalanya. " Lani sayang kamu sudah tidur." Gunawan mulai mencium kening Lani.
Melangkahkan kaki pergi dari hadapan anaknya.
"Papah."
Lani ternyara terbangun dari tidurnya, ia langsung memanggil Gunawan. " Papah."
Membalikkan badan, Gunawan mendekat pada Lani, ia kini duduk disamping anak ketiganya.
"Lani sayang. Kamu bangun. "
Gunawan mengusap pelan rambut pendek Lani.
Bibir anak berumur mengijak sepuluh tahun itu mengkerut, " kenapa bibirnya, kaya bete gitu. Marah ya sama papah?"
Lani tetap saja diam, Gunawan mulai membujuk dan merayu anaknya agar tidak kesal kepadanya. " Ayo sayang kenapa, papah tanya loh sama kamu."
Anak gadis itu mulai menitihkan air mata, ia menatap ke arah sang papah dengan tatapan sayu, " papah jahat, papah lebih sayang Lani dari pada Lilia."
Keluhan Lani membuat sang papah terkejut, ia kini berucap. " Loh kok ngomongnya gitu, papah sayang sama Lani dan juga Lilia, papah tidak pernah membeda bedakan kalian berdua. Kasih sayang papah selalu untuk kalian. "
Pelukan Gunawan, membuat Lani berusaha melepaskannya, ia merasa tak nyaman karena kesal melihat poto yang terpajang.
"Kalau papah sayang Lani, kenapa papah tidak menyusul Lani dan mama. Papah lebih memetingkan kebahagiaan Lilia dari pada Lani." Anak ketiga Gunawan terus meluapkan kekesalannya.
"Lani, kenapa papah tidak menyusul kalian, karena papah tidak tahu alamat kalian tinggal, papah sudah cari kalian kemana mana. Tapi nihil, kalian tak dapat papah temukan, dan lagi nomor ponsel kamu dan mama kamu semua tak aktif." Gunawan mencoba menjelaskan semuanya kepada Lani.
Namun Lani seakan tak terima dengan penjelasan sang papah, " papah bohong, papah jahat. "
Lani berusaha mengusir sang papah dari kamarnya, ia membentak lelaki tua itu. " Sebaiknya papah pergi dari kamar Lani, Lani tak butuh seorang papah jahat di hidup Lani. "
Mendorong tubuh sang papah, Gunawan mencoba menghibur anak ketiganya itu.
Sampai dimana ia keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Papah sudah ada di kamar Lani?"
Dera bertanya dengan memegang perutnya yang terasa sakit.
"Dera." Gunawan mulai menarik tangan istrinya itu, ia ingin mendengar penjelasan dari istrinya.
"Pah."
Dera dibawa paksa oleh Gunawan ke dalam kamar, lelaki tua itu kini menunjuk sang istri dengan berkata, " apa yang sudah kamu katakan kepada Lani, sampai ia memanggilku papah jahat."
Dera berusaha melepaskan tangan suaminya, ia merasa tak nyaman dengan pelakuan Gunawan.
"Lepaskan tanganmu ini, mas. "
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu ini, Dera, sebelum kamu mengakatan apa yang sudah kamu katakan pada Lani. "
Rasa kesal menyelimuti hati Dera, ia kini mendorong tubuh suaminya, agar cengkraman tangan menyakitkan itu terlepas.
"Pah, apa kamu tidak sadar, saat ini kamu menyakiti hatiku dan hati Lani, aku datang kesini memberi kabar padamu, tapi kamu seakan sengaja tak membalas pesan ataupun meneleponku. Kamu malah sengaja mematikkan ponselmu demi membahagiakan kedua anak anakmu itu. " Pekik Dera, meluapkan semua kekesalanya.
"Kenapa kamu diam saja, coba kamu lihat pada ponselmu, beberapa kali panggilan dan pesan Lani kamu abaikan, " pekik Dera, mendekat ke arah suaminya, mencekram kerah baju, " apa kamu mengerti perasaan Lani saat ini?"
Gunawan memalingkan wajah, ia seakan enggan menatap Dera sedikitpun.
Gunawan kini merogoh saku celana, menatap ke arah Dera, ia memuncul kan ponselnya.
"Kenapa hanya mempelihatkan poselnya, ayo kamu baca. " Teriak Dera.
Pada akhirnya Gunawan mulai membuka layar ponselnya, melihat siapa saja orang yang menelpon saat itu.
Gunawan merasa menyesal. Jika ia tak mengangkat panggilan telepon dari Lani, ia mengira jika yang menelepon hanyalah Dera saja.
" kamu sudah melihat jika anakmu Lani itu terus meneleponmu?"
Gunawan menundukkan pandangan.
" kamu itu dari dulu memang tak pernah adil, selalu mementingkan kedua anak-anakmu itu."
Ingin rasanya Gunawan menampar pipi sang istri, karena perkataannya yang selalu membentak dan berteriak," cukup jangan pernah berteriak ataupun membentakku lagi, atau aku akan mengusirmu dari rumah ini. "
Dera tak menyangka dengan perkataan Gunawan, suaminya itu kini berani mengusirnya, " Apa kamu mau aku usir sekarang juga agar kamu menjadi gelandangan di luar sana?" tawaran Gunawan membuat Dera tak lagi membantah perkataan suaminya.
"cck."
__ADS_1
Dera kini pergi dari hadapan sang suami, ia berusaha menenangkan diri.