
Ditengah kegaduhan keluarga Gunawan, Sarla tengah menunggu sosok orang yang sudah menyebarkan foto tak senonoh kepadanya.
Rasa gelisah menghampiri Sarla, sudah satu jam menunggu, namun tak ada tanda tanda orang itu datang menghampiri Sarla.
"Sarla."
Sosok lelaki yang selalu dijauhi Sarla tiba-tiba saja muncul, lelaki itu ternyata Rafa.
"Kamu." telunjuk tangan menunjuk ke arah Rafa, di mana Sarla membulatkan kedua matanya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Rafa, Sarla hampir saja mengira jika pesan yang datang kepadanya adalah nomor baru Rafa.
"Mm, aku sedang menunggu seseorang!" jawab Sarla menundukkan wajah, dia hampir saja memfitnah orang lain.
Rafa tiba-tiba saja duduk, membuat rasa penasaran pada hati Sarla menggebu. Wanita bercadar itu mencoba menghubungi orang yang sudah mengirim pesan tak senono padanya.
Namun tak ada nada ponsel berbunyi pada Rafa, ternyata dugaannya sudah salah. " Sarla, kenapa?"
"Mm, tidak apa apa?" Wanita bercadar itu mulai memanggil pelayan, di mana ia berniat untuk segera membayar makanan yang sudah ia pesan.
"Mbak."
Pelayan datang memberitahu rincian harga makanan yang sudah dipesan oleh Sarla.
Namun saat Sarla mulai membayar ricihan pesanan makanannya, tiba tiba Rafa mengambil rincihan itu lalu berkata. " Biar aku saja yang bayar. "
Sarla mendengar perkataan dari mulut Rafa, berusaha menolak kebaikan lelaki yang selalu mengejar cintanya. " Tak usah, saya bisa bayar sendiri. "
Mengambil lagi kertas putih itu, Sarla mulai membayar semuanya. " Ini mbak. "
Selesai membayar total makanan yang dipesan Sarla, wanita bercadar itu mulai bangkit dari tempat duduknya. Rafa tiba-tiba saja menahan tangan Sarla menghentikan langkah kaki wanita bercadar itu.
"Sarla, kenapa setiap aku mendekatimu. Kamu selalu menghindar. "
Sarla kini menghempaskan tangan Rafa, yang memegang erat tangannya." Maaf kita bukan muhrim, sebaiknya kamu cepat lepaskan tanganku ini. "
Rafa perlahan melepaskan tangan Sarla, dengan rasa kecewa dalam hatinya. Ia menatap kepergian wanita yang menjadi istri pamannya itu pergi menjauh.
"Bagaimana caranya agar bisa meluluhkan hatimu Sarla?"
Sarla sudah pergi menjauh, sekarang hanya tinggal dirinya sendirian di meja makan. Ia mengira pertemuan yang mendadak itu akan menjadi sebuah obrolan yang menarik, namun kenyataannya hanyalah sebuah sakit hati, dari penolakan Sarla yang terus-menerus terlontar dari mulutnya.
Sarla berjalan terburu-buru untuk segera masuk ke dalam mobil, dia melihat sang sopir tengah tidur. Karena terlalu lama menunggu dirinya, Sarla membuka pintu mobil.
Dimana suara ponselnya berbunyi.
(Kenapa kamu pergi?)
Ternyata orang yang mengirim foto tak senono kepadanya, baru saja membalas pesan dari Sarla.
__ADS_1
wanita bercadar itu mulai menatap kesana kemari, mencari sosok orang yang ingin ia temui.
"Sepertinya orang itu ada di sekitar sini. "
Rasa penasaran mulai menggebu hati Sarla, tak ada orang yang mencurigakan dari pandangan Sarla.
Wanita bercadar itu mulai membalas pesan dari orang yang terus menerornya.( Di mana kamu sekarang?)
Berharap Sarla mendapatkan balasan yang pasti, namun orang itu malah mengirim emoji tertawa, membuat rasa kesal menggebuk pada hati Sarla.
"Apa maksud dari orang ini. "
Sarla masuk ke dalam mobil, yakini tak membalas pesan dari orang yang sudah membuatnya kesal.
(Jika kamu pergi begitu saja, aku akan menyebarkan foto ini kepada Daniel suami kamu sendiri, agar Daniel tidak mempercayai jika anak dalam kandunganmu itu adalah anaknya. )
Mengepalkan kedua tangan, padahal Sarla sudah tak ingin mempunyai masalah lagi, setelah kelahiran anak dalam kandungannya ia ingin bebas.
(Siapa kamu sebenarnya, beraninya kamu memfitnahku.)
Balasan emoji tertawa, ini dikirim lagi oleh seseorang yang tak dikenal Sarla.
(Hey, jelas aku tidak memfitnahmu. Aku hanya berkata sesuai fakta yang aku dapatkan.)
Sarla menggenggam erat ponselnya, iya tak mengerti kenapa bisa ada foto wanita yang percis dengan wajahnya. Berpelukan dengan seorang lelaki.
Menyadarkan tubuh, mengusap kasar wajah, kepala terasa pusing.
Drettt pesan datang lagi.
Sarla mengira jika orang yang mengirim pesan kepadanya, adalah nomor yang ia blokir dengan menggunakan nomor baru.
Namun pada kenyataannya. Ternyata bukan, orang yang mengirim pesan kepadanya adalah Tari, pembantu yang berada di rumahnya.
(Nyonya Sarla ada dimana?)
Sarla terkejut dengan pesan yang dikirim oleh Tari, Iya langsung membalas pesan Tari saat itu juga. ( Ada apa Tari, tumben sekali kamu mengirim pesan kepadaku.)
(Nyonya Sarla sebaiknya cepat pulang ke rumah, Tuan Gunawan dan juga Nyonya Dera sedang tidak baik-baik saja.)
(Memangnya kenapa?)
(Saya juga tidak tahu masalahnya apa, yang saya dengar dan lihat, Tuan Gunawan melemparkan kertas putih pada wajah Nyonya Dera, lalu berkata jika Lani bukan anak Tuan.)
Deg ....
Mengerutkan dahi, masalah Sarla juga belum selesai, sekarang ditimpal dengan masalah keluarganya.
(Ya sudah saya pulang sekarang.)
__ADS_1
(Iya nyonya.)
Sarla langsung membangunkan sopir yang tengah tertidur begitu lelap, memanggil sang sopir berulang kali agar cepat bangun dari tidurnya.
"Pak."
"Pak."
Dua kali Panggilan dilayangkan oleh Sarla, akhirnya Sopir itu bangun dari tidurnya, " Ya nyonya. "
"Ayo kita pulang. "
"Baik nyonya. "
Di dalam perjalanan menuju pulang, Sarla melihat layar ponselnya tak berkedip lagi, ia mengira jika sudah memblokir orang yang iseng terhadapnya hidupnya tidak akan terganggu lagi.
Namun pada kenyataanya, pesan itu datang lagi. Pesan dari orang yang tak dikenal sarla sama sekali, ( Berani sekali kamu membelokir nomorku Sarla.)
"Nomor baru lagi. Sebenarnya siapa sih sebenarnya orang ini, kenapa dia terus-menerus mengganggu kehidupanku. "
Sarla mengabaikan pesan dari orang itu, ( Sarla Kenapa kamu tidak membalas pesan dariku, apa kamu takut. )
Sarla tetap acuh, ia berusaha tenang. Tak terpancing akan emosi.
(Aku bukan takut kepadamu, tapi aku malas mempunyai masalah denganmu, jadi silahkan saja kamu kirim semua bukti poto itu pada Daniel aku tak perduli.)
(Wah, kamu tidak akan menyesal.)
(Aku tidak menyesal sama sekali, apalagi takut. Aku hanya ingin tahu siapa kamu. Tapi nyatanya saat aku menjajikan bertemu dengan kamu, kamu sama sekali tak muncul dihadapanku. Kamu tak jauh berbeda seperti seorang pengecut.)
(Sialan kamu mengataiku, pengecut )
(Bukannya sesuai fakta. )
Sarla membalikkan perkataanya orang itu, ia sedikit menyungingkan bibirnya.
(Oh, baiklah jika itu yang kamu mau, akan aku sebarkan semua poto kamu ini kepada Daniel.)
(Silahkan.)
Sarla ternyata menantang orang yang akan menyebarkan potonya pada Daniel.
Dimana ia bergumam dalam hati, " orang ini ternyata kurang pintar dalam mengancam lawannya."
(Aku sudah mengirimkan semuanya pada Daniel.)
(Oke tak masalah, palingan Daniel bertanya tanya siapa aku ini. Dan laki laki yang bersamaku. Danielkan hilang ingatan.)
Menggelengkan kepala, padahal Sarla ingin sekali bertemu dengan orang yang memfitnahnya dalam sebuah poto.
__ADS_1