Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 249


__ADS_3

Sepertinya Sarla tak memperdulikan hal itu, toh dia sudah melepaskan Daniel dari dulu, mengikhlaskan lelaki yang menjadi suami kontraknya itu pergi dari dalam hidupnya.


Sarla mendekat ke arah Daniel, lelaki yang menjadi mantan suaminya itu," kamu tak usah susah payah menalakku saat ini juga, bukannya kita ini sudah bercerai. Jadi jangan terlalu menganggap bahwa aku ini masih menjadi istri sah. "


Perkataan Sarla membuat Daniel mengacak rambutnya dengan begitu kasar, terlihat raut wajahnya nampak malu dengan perkataan yang terlontar dari mulut mantan istrinya itu.


Menarik napas lalu mengeluarkan secara perlahan, Sarla kini berucap kembali," setelah aku melihat kalian hari ini, aku pastikan tidak akan pernah melihat kalian lagi, aku akan membawa anakku."


Sarla melangkahkan kaki pergi dari hadapan Daniel, di mana lelaki itu berteriak memanggil mantan istrinya, " Sarla, bayi itu tetap akan tinggal bersamaku."


Sarla mendelik kesal, kini menjawab," kita lihat saja di pengadilan besok, sekarang aku akan menuruti keinginan Wulan."


"Sarla, tunggu. Apa maksud kamu menuruti keinginan Wulan?"


Sarla membalikkan badan menatap ke arah mantan suami," kamu masih bertanya lagi, Daniel, Daniel, Wulan itu menaruhkan hidupnya hanya untuk kamu. Dia akan menggantikan kamu di dalam penjara, jadi kamu bisa berkeliaran bebas."


Wulan hanya menundukkan wajahnya, ia sudah mengakui keinginannya saat itu, " Daniel, jangan pernah bertanya lagi pada Sarla. Semua keputusan sudah berubah, jadi terima saja. "


Sarla wanita bercadar itu menatap sinis ke arah Daniel, " kamu dengarkan apa yang dikatakan istri kamu itu. "


"Ya aku dengar. "


"Baguslah kalau begitu. Jadi sekarang keinginan kalian sudah aku penuhi, dan kamu Daniel setelah pengadilan berlangsung, aku berharap aku yang memenangkan pengadilan itu, agar anakku bisa aku menjadi hak asuhku. "


Daniel hanya bisa menahan rasa kesal, menerima semua yang dikatakan mantan istrinya itu, di mana Sarla kini pergi, meninggalkan Wulan dan juga yang lainnya.


Perasaan Sarla saat itu merasa tampak bebas, sepertinya ia akan memulai hidup baru, tanpa lelaki bernama Daniel dan wanita yang selalu menyaingi dirinya.


Sarla merasa hidup saat ini, dimana kehidupannya sudah t mengajari dirinya apa arti memahami dan bersikap adil.


Menjadi seorang istri kedua adalah pengalaman yang benar benar menguras tenanga dan pikiran Sarla, karena sang lelaki terlalu mengadalkan napsu untuk memiliki keturuanan. Sampai istri pertama yang ternyata ketahuan berselingkuh, dan tak tahu jika suaminya menikah lagi, membuat keduanya saling menghancurkan satu sama lain.


Dan jika penghianatan dibalas dengan penghianatan, bukan malah menyelesaikan masalah, tapi malah memperkeruh masalah itu semakin besar.


Sarla ingin menyelesaikan masalah adiknya yang belum di temukan saat ini juga, ia bergegas menyusul sang papah yang sudah sampai di kantor polisi.

__ADS_1


Mengendari dengan kecepatan tinggi, Sarla berharap bisa sampai tepat waktu, karena ia penasaran dengan wajah lelaki yang sudah memperk*s* ibu tirinya.


Sampai, mobil itu kini berhenti di sebuah kantor polisi, Sarla melihat sosok lelaki yang menjadi papahnya berdiri, seperti sengaja menunggu kedatangannya saat itu juga.


"Papah, Sarla kira papah sudah masuk duluan, membahas tentang kematian ibu dengan para pereman itu. "


Gunawan terlihat gelisah, sepertinya ia tak sanggup mendengar kesaksian para pereman itu.


"Pah, kenapa papah malah melamun. "


"Ahk, iya Sarla. Papah ingin kamu ikut dengan papah. Kita masuk bersamaan. "


"Ya sudah. "


Masuk ke dalam ruangan, terlihat pereman itu berdiri bersejajar, dimana mereka menundukkan wajah.


Raut wajah mereka membuat Sarla kesal, pereman yang tak tahu diri sudah membunuh dan melakukan hal keji terhadap ibu tirinya.


Mereka semua meninta maaf, hingga menjelaskan semua yang terjadi. Sampai Sarla bertanya, " siapa yang sudah memerintah kalian?"


Sarla dan Gunawan saling menatap satu sama lain, mendengar semua pereman itu mengatakan siapa orang yang sudah memerintah mereka untuk melakukan pemerkosaan terhadap ibu tiri Sarla.


Sarla, benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka ucapkan. Sampai Sarla bertanya terus menerus, sesekali Sarla menekan para pereman itu.


Dimana mereka tetap mengatakan orang yang sudah memerintahnya adalah Lilia.


"Kalian jangan berbohong, jika kalian berbohong, kami tak akan segan-segan membuat kalian membusuk di dalam penjara. "


"Kami tak peduli, karena Lilia akan menyelamatkan kami. "


Sarla benar benar heran, ia tak mempecayai perkataan para pereman di hadapannya.


"Sudahlah, kalian jangan berusaha mengelabui kami. "


"Kami berkata jujur, karena itu janjinya. "

__ADS_1


semua itu benar-benar di luar akal pikiran Sarla, karena mana mungkin Lilia pemerintah para preman untuk melakukan hal yang terhadap ibu tirinya.


Masih tak percaya, sampai Sarla menunjukkan sebuah foto di hadapan para preman itu.


"Siapa yang kalian kenal sebagai Lilia."


Sarla berharap jika preman itu mampu berkata jujur di hadapan Sarla dan juga Gunawan, karena ini jalan satu-satunya untuk mengetahui orang yang sudah membuat rencana dibalik kematian ibu tirinya.


Preman itu seperti enggan menunjuk kedua foto anak gadis yang berada di tangan Sarla," jadi siapa yang kalian anggap sebagai Lilia."


Polisi mulai membantu pertanyaan Sarla dengan tegas kepada para tahanan. " Jadi siapa yang sudah memerintah kalian?"


Saling menatap satu sama lain, apa mereka akan berkata jujur dan menunjuk foto orang yang sudah memerintah perlakuan yang sangat keji terhadap ibu tirinya.


"Ayo tunjukan. "


Satu persatu, pada akhirnya mereka menunjuk wajah pada foto yang diperlihatkan oleh Polisi.


Setelah melihat kesaksian para preman yang menunjuk gadis yang sudah memerintah mereka, membuat Sarla sedikit terkejut, bisa bisanya gadis berumur 10 tahun itu bisa Merencanakan hal yang jahat.


"Jadi semua ini gara-gara Lani, Kenapa dia melakukan hal ini, Lani berpura-pura menjadi Lilia, seolah-olah Lilia yang sudah melakukan Kejadian ini." Sarla hanya menggelengkan kepala.


******


Setelah penjengukan itu selesai, Sarla tak sabar ingin pulang dan segera menemui adik tirinya itu yang begitu keterlaluan.


"Pah, sebaiknya kita harus segera menemui Lani, bertanya kepada dia. Apa maksud dan tujuannya sampai fitnah Lilia. "


" Papa juga berpikir seperti itu, sebaiknya kita harus menemui Lani, membawa dia ke rumah sakit, untuk mengobati mentalnya yang terus tidak baik-baik saja."


Setelah sampai di rumah, Sarla masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, berjalan ke arah kamar adik tirinya itu,


"Lani." Panggilan Sarla, membuat Lan merasa heran, Sarla mendekati Lani, ingin bertanya dengan hal-hal yang membuat pikiran dan juga perasaannya masih tak percaya.


Lani tersenyum lebar menyambut kedatangan sang kakak, di mana Lani menyuruh Sarla untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2