
Lilia yang masih berkumpul dengan sahabatnya, mendengar suara ambulan dan polisi, ia melihat letak suara itu ditempat dimana Lilia menyelamatkan mama tiri dan juga adik tirinya.
"Bukannya tempat itu, tempat dimana Mama Dera dan Lani?" Lilia terus bertanya pada dirinya sendiri, ia tergiang ngiang akan kejadian mengenaskan yang dialami mama tirinya.
Para sahabat mulai bertanya pada Lilia, mereka tampak kuatir dengan keadaan Lilia yang tiba tiba saja diam tak bersuara.
"Lilia, kenapa?" tanya beberapa anak jalanan yang berada di dekatnya.
Lilia berusaha cuek dan acuh, ia menggelengkan kepala, " mm. Apa apa, aku hanya mengantuk saja. "
Sifat tidak pedulinya sudah mendarah daging, Lilia terlihat kesal dan benci, ia mengigat kejadian dimana dirinya hampir mati dan tak niat, Dera untuk mencari keberadaannya saat itu juga.
"Ayo Lilia, kita tidur. "
Ajakkan para anak jalanan itu membuat semangat Lilia bangkit kembali, ia merasa tak kesepian, karena ada sosok penyemangat dalam lingkungan dan kehidupannya.
Menatap sekilas kearah belakang, ada perasaan tak terduga dalam hati Lilia, ia mendengar suar jeritan Lani yang berulang kali menyebut kata mama.
"Mama."
"Mama."
Membuat jeritan itu terus terngiang ngiang pada hati dan pikiran Lilia.
"Lilia, kami tahu hatimu itu sangatlah baik. Jadi kamu masih mengkuatirkan adik dan mama tirimu yang jahat itu kan, " ucap anak jalanan yang menatap sayu pada Lilia.
"Kalian memang terbaik. "
Senyuman tergambar pada diri Lilia, terlihat ia tampak senang dengan kebaikan dan ketulusan para sahabatnya.
"Kami terbaik, karena kamu adalah sahabat kami yang selalu membuat senang. "
Pelukan dilayangkan oleh Lilia dengan anak jalanan itu, terlihat semua tampak senang.
**********
Ambulan datang menghampiri jenazah Dera, mereka mengangkat jenazah itu dan membawa ke rumah sakit.
Lani yang melihat pemandangan sang mama ketika diangkat, membuat hatinya teriris sakit perasaanya tak menentu. Memegang jendela dengan tangan kanan dan berkata, " mama. Sekarang mama tidak akan merasakan penderitaan lagi. "
Polisi yang berada di samping Lani berusaha menenangkan anak itu, terlihat senyuman terpancar dari polisi yang sudah membantunya.
Lani diamankan sementara waktu, " kamu tinggal dulu sama bapak ya. "
Menganggukkan kepala Lani tak bisa apa apa, dia hanya memiliki sang mama yang selalu ada di dekatnya.
"Mama, selamat tinggal. "
__ADS_1
********
Pagi menjelang, setelah kejadian mengenaskan yang dialami Dera, pihak polisi kini menghubungi Gunawan.
"Pah, ada telepon. "
Sarla yang terlihat sibuk di dapur membuat ia memanggil sang papah.
Lelaki tua yang tengah bersantai di atas sofa, kini bangkit berdiri untuk mengangkat panggilan telepon.
"Halo."
"Iya Halo, apa ini dengan Pak Gunawan. "
"Ya, saya sendiri."
"Kami dari pihak kepolisian, hanya ingin memberitahu. Bahwa istri bapak bernama Dera almaida meninggal dunia, karena pemerkosaan. "
Siapa yang tak terkejut mendengar berita yang tiba tiba saja mendadak terdengar pada telinga Gunawan. Apalagi dengan kematian istrinya sendiri.
"Baik pak, saya akan segera kesana. "
Wajah gelisah tampak terlihat oleh Gunawan, Sarla baru saja selesai memasak, kini melihat raut wajah itu dengan rasa heran.
"Kenapa, pah?"
Pertanyaan Sarla, membuat Gunawan berusaha tetap tenang. Ia menjawab dengan rasa tak percaya. " Papah, ini kenapa, ayo jawab pah?"
Setelah mendengar perkataan anak satu satunya itu, perasaan Gunawan sedikit terlihat tenang, ia mulai menghelap napas mengeluarkannya perlahan.
"Gimana sekarang perasaan papah? Tenang?"
Pertanyaan Sarla, membuat Gunawan mengganggukan kepala," ya, sekarang sedikit tenang. "
"Jadi apa yang ingin Papa katakan!"
Kedua mata lelaki itu berkaca-kaca, ia memegang tangan Sarla dan berkata, " Mama Dera. "
Sarla mengerutkan dahinya, karena sang papa tak meneruskan perkataannya itu. " kenapa dengan Mama Dera. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?"
"Mama kamu meninggal dunia. "
Sontak Sarla terkejut mendengar hal itu, iya tak percaya dengan apa yang dikatakan Gunawan. Menutup mulut, berusaha tidak menangis.
Sarla tidak mau menambahkan kesedihan sang papah. " jadi sekarang Mama Dera ada di mana? Lalu, bagaimana keadaan Lani?"
Gunawan terlihat belum siap mengatakan semuanya," coba papah katakan dengan perlahan. "
__ADS_1
"Lani baik baik saja, sedangkan Mama Dera ada di rumah sakit, sedang diotopsi, karena kematian Mama Dera .... "
Gunawan seperti tak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu," coba papah cerita, kenapa dengan kematian Mama Dera. "
Sampai pada akhirnya, Gunawan berusaha tegar dan menjawab," Mama Dera mati karena di perkosa. "
Mendengar kenyataan itu Sarla tak percaya, ia terdiam sejenak. Sampai dimana Gunawan bangkit mengambil kunci mobil untuk segera pergi menghampiri Dera dan juga Lani yang berada di rumah sakit.
"Papah tunggu, Sarla ikut. "
Gunawan menganggukan kepala, ia menunggu anaknya yang akan ikut bersamanya.
"Ayo."
Mereka kini bergegas pergi untuk segera melihat jenazah Dera, saat di perjalanan hati dan perasaan mereka tak karuan.
Karena Sarla tak tahu bagaimana keadaan Lani dan juga Lilia bagaimana.
"Sarla kuatir dengan keadaan Lani dan juga Lilia, takut mereka kenapa-napa."
"Kamu jangan kuatir, kata polisi anak-anak sudah aman. "
"Syukurlah."
Sarla mengira jika Lilia, masih bersama dengan Lani. Gunawan mengencangkan mobil untuk segera sampai di rumah sakit.
Mereka tak memperdulikan jalanan yang begitu macet, bagi mereka saat ini hanyalah bertemu dengan Dera dan juga Lilia, Lani .
Setelah sampai di rumah sakit, Sarla dan Gunawan berlarian mencari ruangan di mana Dera di otopsi.
Setelah bertanya pada beberapa suster, akhirnya mereka berdua menemukan ruangan jenazah Dera.
Terlihat di balik pintu ruangan itu adalah Lani yang pernah menunggu sendirian, terlihat kedua mata anak itu merah bengkak, mungkin seharian menangis melihat keadaan ibunya yang tragis.
"Lani."
Mendengar namanya si sebut, Lani perlahan bangkit dari tempat duduknya, menatap pada Gunawan dan juga Sarla.
"Mama sudah meninggal dunia, pah. Kak. "
Lani menangis kembali sembari memeluk Gunawan dengan begitu erat," kamu yang sabar ya sayang, Allah itu sayang pada Mama kamu."
Lani hanya menganggukkan kepala dalam pelukan Gunawan, sampai di mana Sarla menanyakan keberadaan Lilia.
"Oh ya Lani, kemana Lilia? Kok kamu sendirian saja di sini, Siapa yang menemanimu tadi malam?"
Pertanyaan Sarla membuat Lani hanya menundukkan pandangan, Sarla mengerutkan dahi, melihat perubahan dari wajah Lani yang tiba-tiba saja terlihat marah.
__ADS_1
Sarla memegang bahu adik tirinya itu, " Lani, kakak tanya sama kamu, kenapa kamu malah diam saja begini? Kemana Lilia?"
Gunawan mencoba menenangkan Lani dengan menimpal, " ya Lani, kemana Lilia? Kenapa kami tidak melihat kakak kamu?"