
"Kamu ini kok nanya begitu sih, " ucap Wulan, berusaha membuat suasan tak terasa kaku.
"Aku tanya sama kamu, laki laki atau perempuan?" tanya kembali Daniel tegas.
"Sayang, apa harus aku ceritakan gitu. Dia perempuan atau laki laki, nggak banget deh. Sejak kapan kamu jadi .... "
Belum perkataan Wulan terlontar semuanya, Daniel kini bertanya lagi." Aku tanya lagi sama kamu, laki laki, apa perempuan, tinggal ngomong kaya gitu. Susah amat."
Menelan ludah berusaha tetap tenang, kini Wulan menjawab. " War*@, memangnya kenapa sih. Kan kamu tahu sendiri, aku ini model. "
Terdengar suara napas Daniel pada sambungan telepon, dimana lelaki tampan yang menjadi suaminya itu terlihat menahan rasa kesal.
"Kata ibu, kamu muntah muntah semalaman. Apa benar itu?"
Pertanyaan Daniel tentu saja membuat Wulan terdiam kaku.
"Wulan, apa kamu mendengar perkataanku?" tanya kembali Daniel. Wulan tetap saja tak menjawab. Sampai dimana Daniel berkata." Apa yang dikatakan ibu memang benar kamu hamil."
Deg ....
"kamu ini hanya menduga duga saja sayang, ibu mungkin salah tebak, toh sekarang aku baik baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, jika memang kamu tidak kenapa kenapa? Aku curiga saja jika kamu mual mual dan benar hamil. "
Wulan berusaha membuat suasa dalam sambungan telepon penuh canda dan tawa," Masa ia aku hamil, kamu tahu sendirikan kita selama berhubungan badan tidak lepas dengan alat pengaman."
"Apa yang dikatakan kamu benar juga, kamu tidak mungkin hamil, kita kan selalu pakai pegaman. Dan lagi jika kamu hamil, anak siapa coba?"
Deg ....
"Kamu ini ya sayang, kadang kadang kalau ngomong."
"Ya habisnya ibu membuat aku kuatir."
Wulan berusaha mengeluarkan nada suaranya yang penuh tawa, agara Daniel tidak mencurigainya.
"Oh ya sayang, ibu pergi ke rumah Sarla, katanya ia mau menginap di sana. Jadi malam ini aku akan temani kamu tidur di rumah, karena tak mau lihat kamu sakit, seperti yang diceritakan ibu."
Bentuk perhatian itu, malah membuat Wulan ketakutan, karena jika Daniel menginap di rumah Wulan, otomatis Daniel akan tahu masa ngidam Wulan saat ini.
Bulak balik ke sana ke mari mencari sebuah ide, berharap jika Daniel mengurungkan niatnya. Untuk tidak menginap di rumah Wulan.
"Sayang, bukanya seminggu ini kamu harus di rumah Sarla, bukannya kamu yang sudah membuat peraturan."
Semoga saja dengan Wulan berkata seperti itu, Daniel mengurungkan niatnya menginap di rumah Wulan malam ini.
"Tak apa jika hanya semalam saja. Sarla pasti memakluminya kok, sayang. Kan yang berhak atas aku tetap kamu."
Gombalan yang selalu di rindukan Wulan dari mulut Daniel, tapi kini Wulan harus bisa bejaga jarak dengan Daniel.
Wulan sebenarnya ingin sekali ditemani Daniel, karena malam ini ia butuh sekali dekapan dan kehangatan dari tubuh lelaki. Agar dirinya tenang, bisa menyelesaikan masalah dengan penuh semangat.
__ADS_1
Hari ini Wulan tidak bisa menolak perkataan suaminya, karena jika ia menolak, pasti akan ada kecurigaan dalam diri Daniel yang semakin membesar membuat keretakan pada rumah tangga mereka berdua.
"Aku tunggu malam ini kedatangan kamu."
Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, tinggal dimana Wulan menyiapkan diri agar dirinya tak mual mual dihadapan Daniel.
"Bagaimana caranya ya?"
Saat itulah, Wulan mencari pembantu yang ia percaya bisa membantu dirinya.
"Bu Santi. " Teriak Wulan.
Wanita bermata sipit itu kini bertanya pada pembantu lainnya." kalian lihat Bi Santi tidak?"
"Sepertinya tidak, non!"
"Oh ya, kalau kalian melihat Bi Santi. Tolong suruh dia ke kamar saya."
"Baik, Non."
Wulan mulai berjalan menuju kamarnya lagi, ia merasakan rasa cemas berlebihan dalam dirinya, hingga dimana suara ketukan pintu terdengar.
Tok .... Tok
Ketukan dilayangkan oleh Bi Siti, dimana Wulan langsung menyuruh pembatunya masuk.
"Masuk."
"Bi."
Wulan membalikkan badan ke arah Bi Santi, mempelihatkan wajah memelas dan penuh rasa cemas.
Memegang kedua tangan wanita tua itu lagi." Bibi, bisa bantu aku sekarang nggak?"
"Bantu apa, non!"
"Apa bisa bibi membuat ramuan jamu, agar aku tak mual terus menerus?"
"Bisa non, nanti bibi buatkan!"
"Yang benar ya bi."
"Iya non. Tenang saja, bibi usahakan deh, ya."
"Terima kasih ya, bi. Bibi memang baik. "
Wanita paruh baya itu berangkat pergi, menuju ke dapur, untuk menyiapkan bahan membuat obat.
Sedangkan Wulan tanpak senang, ada yang membantunya saat ini, membuat ia tak kuatir sama sekali.
*******
__ADS_1
Daniel terus menatapi nama Angga dan nomor rekeningnya, ia berharap akan ada informasi yang jelas dari Alex.
Agar bisa menguak semua rahasia yang sedang di sebunyikan istrinya.
"Pak, ini berkas yang harus bapak tanda tangani."
"Baiklah."
Daniel mulai menandatangani berkas yang diberikan Varel, " Ini semua sudah saya tanda tangani."
Varel mulai berajak pergi dari hadapan Daniel, dimana lelaki yang menjadi atasannya kini berteriak. " Tunggu."
Menghentikan langkah kaki, kini Varel membalikkan badan dan bertanya." Ada apa, pak."
"Oh ya, soal obrolan di dalam mobil, kamu bercanda kan?" Pertanyaan yang membuat Varel tersenyum kecil.
"Kenapa anda bertanya seperti itu, pak!?" Varel malah bertanya kembali, membuat Daniel tiba tiba saja diam.
Sang asisten kini mendekat dan bertanya lagi," Apa Pak Daniel takut kehilangan Sarla, sampai bertanya lagi pada saya."
"Ckk, mana ada saya takut kehilangan wanita bernama Sarla itu, saya hanya menyakini saja, jika benar kamu mau bersama Sarla setelah saya menceraikannya."
"Bapak tenang saja, tak perlu risau dan kuatir, masalah itu, saya pasti akan mendekati Sarla setelah bapak buang, soalnya sayang benget pak, buang berlian berharga seperti Sarla, kalau tidak di ambil rasanya rugi. "
"Kenapa kamu begitu memuji wanita itu, padahal apa sepecialnya dia. Aku sebagai suaminya beranggap dia itu membosankan. "
"Wah, apa bapak yakin dengan perkataan bapak. Sekarang Pak Daniel bisa berbicara seperti itu, tapi nanti setelah Sarla tidak ada di samping bapak, baru kerasa rasa kecewa itu. Bapak tahu, apa jadinya nanti. Sakit hati."
"Kamu ternyata pintar menasehati saya, jujur dalam kamus kehidupan saya tidak ada namanya rasa kecewa kamu paham itu."
"Terserah Pak Daniel saja."
Varel kini pergi dari hadapan Daniel, ia membawa berkas yang sudah ditanda tangani sang atasan.
Duduk di meja kerjanya, " Pak Daniel, sepertinya anda ketakutan, terus bertanya prihal tentang Sarla." Gumam hati Varel, tertawa dalam hatinya.
Varel meneruskan pekerjaanya, dimana Daniel terus mengawasi sang asisten.
Semenjak candaan Varel, membuat Daniel sedikit was was, bukannya Daniel menjelekan Sarla dan tak peduli.
Namun kenapa dalam hati kecilnya merasakan rasa takut yang berlebihan, padahal Sarla hanya sosok seorang Wanita yang harus melahirkan garis keturunannya.
Tak fokus dalam pekerjaannya, Daniel kini mengirim pesan pada Sarla.
(Bagaimana kuliah kamu?)
Namun pesan itu malah tertunda, terlihat Daniel begitu malu sekali harus mengirim pesan terlebih dahulu.
Kirim tidak, kirim tidak. Perkataan itu terus melayang diisi kepalanya, ada rasa gensi yang menggebu, karena ia hanya menganggap Sarla barang yang dibutuhkan saja.
"Kirim saja, pak."
__ADS_1
Terkejutnya Daniel, Varel tiba tiba saja ada dihadapanya.