Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 102


__ADS_3

Wulan keluar dari kamarnya, setelah ia melewati masa masa dimana Daniel benar benar murka padanya.


"Daniel, kamu mau kemana?" Tanya Wulan, dengan nada sedikit meninggi.


Padahal Wulan tadi terlihat lemah, namun sekarang berubah. " Aku mau pergi menemui Sarla!" Jawaban yang menyakiti untuk Wulan.


"Sekarang itu jatah aku bersama kamu, kenapa kamu malah mau menghampiri Wanita itu."


"Loh, kok kamu marah, itu kan hak aku."


"Bukan hak itu namanya, tapi tak adil. "


"Hoh, sekarang sudah mulai berani ya, tidak seperti tadi."


"Aku bukan tidak berani Daniel, tapi aku berhak mendapatkan perhatian dan kebersaman bersama kamu."


"Kebersamaan?" Daniel malah tertawa terbahak bahak, setelah mendengar istrinya butuh rasa adil dari suaminya.


"Kenapa kamu tidak bersama selingkuhanmu itu saja, biar adil."


Apa yang dikatakan Daniel, bukan malah sebuah kesadaran, ia malah mengatakan hal yang tak terduga. " Daniel, berulang kali kamu mempelakukan aku seperti ini, apa kamu tidak mempunyai hati nurani sedikit pun kepadaku."


Daniel malah tertawa kembali, dimana ia kini memegang dagu Wulan, lalu berkata lagi. " Kamu ini tak perlu dikasihani, apalagi diberikan hati nurani dariku, karena kamu sudah menjadi orang terhina di muka bumi ini, kamu berselingkuh dengan lelaki lain, hingga menghasilkan anak yang kamu kandung ini. Jangan harap aku mengasihanimu."


Pergi seenak yang diingkan Daniel, Wulan sudah lelah menangis, air matanya sudah habis, taj tersisa dan keluar lagi.


"Nyonya Wulan."


Bi Siti mencari keberadaan Wulan, sembari berteriak memanggilan sang majikkan.


"Nyonya kenapa ada di sini?"


"Wulan berusaha menahan Daniel, agar tidak pergi ke rumah Sarla, tapi Daniel malah keras kepala, dia pergi dan tak mempedulikan aku sebagai istrinya, aku harus apa, Bi. Agar Daniel tidak bersikap dingin padaku."

__ADS_1


"Nyonya yang sabar ya, semua itu butuh proses."


"Iya bi."


Wulan sudah tak bisa berbuat apa apa lagi, dia hanya bisa menuruti perkataan Bi Siti, untuk merubah diri agar Daniel kembali lagi padanya, jika tidak berhasil, Bi siti menyuruh Wulan untuk bekerja sama dengan Sarla.


Namun Wulan benar benar menolak, akan perkataan Bi Siti yang menyuruhnya untuk bekerja sama dengan Sarla, karena yang ia inginkan saat ini. Yaitu perhatian Daniel.


"Nyonya, sekarang nyonya jangan berharap diperhatikan oleh Tuan Daniel, karena Bibi yakin, sampai kapanpun Tuan Daniel itu tetap jadi orang yang egois, tak bisa memaafkan kesalah istri sedangkan dia seenaknya membuat kesalahan sendiri berulang kali."


"Kalau Sarla tak bisa di ajak kerja sama gimana?" Tanya Wulan dengan rasa takutnya. "Nyonya tak usah kuatir, sepertinya Sarla itu wanita baik.


" Dari mana bibi bisa menilai jika dia itu wanita baik!"


"Dari cerita nyonya, karena bibi yakin. Sarla bukan wanita yang biasanya suka sama suami orang, dia hanya diperbudak oleh kedua orang tuanya, agar menghasilkan uang."


Wulan sempat berpikir, apa yang dikatakan Bi Siti, memang ada benarnya. Sarla bukan sembarang orang yang bisa tergoda dengan harta dunia, Wulan melihat dari penampilan Sarla cukup sederhana. Tak ada kemewahan yang ia tampilkan saat bertemu dengan Sarla, raut wajahnya pun tak menampilkan kesombongan, bahwa ia ingin sekali memiliki Daniel dalam hidupnya.


" Makanya itu Nyonya harus mendekati dia, berusaha untuk akur dan tidak menghina ataupun mengungkap kekesalan nyonya. "


Wulan terdiam sejenak, ia banyak sekali berpikir. Karena di zaman sekarang mana ada istri pertama dan istri kedua akur, itu rasanya jarang sekali.


kalaupun ada, betapa indahnya hidup mereka.


karena Wulan memang dari dulu, tidak suka namanya di dua. Iya adalah wanita pencemburu, yang udah larut dalam kemarahan.


Bi Siti mengagetkan sang majikan, di mana Wulan langsung menatap ke arah pembantunya itu," gimana, Nyonya. "


Berat rasanya bagi Wulan harus menjalankan rencana bersama istri muda suaminya," apa Bibi yakin rencana ini akan berhasil. "


" Tentu saja, karena lelaki yang bernama Tuan Daniel itu harus segera diberi pelajaran, enak saja dia mau untung sendiri."


Bi Siti melihat majikannya terlalu banyak berpikir, " Sudahlah nyonya, jangan banyak dipikirin, lakukan saja. Ini pasti seru. "

__ADS_1


mengeluarkan napas yang terasa berat, pada akhirnya Wulan setuju dan mengganggukan, membantu itu tanpa senang jika majikannya mau menuruti apa yang ia rencanakan.


memperlihatkan sebuah jempol tangan, di mana Wulan tersenyum kecil, merasa tak siap harus bertemu lagi dengan sarla.


karena jika ia bertemu lagi istri kedua Daniel, mungkin iya harus menahan rasa malu pada dirinya, karena sudah menghina dan juga meledek Sarla.


Wulan kini mem bisikan suatu perkataan kepada pembantunya itu, " Sebenarnya aku malu Bi. Kalau bertemu dengan Sarla, karena kemarin aku merasa berdosa sekali, sudah menyebut dia sebagai seorang pelakor."


Bi Siti tampak terkejut, yang mengusap perlahan dadanya," Nyonya bilang begitu sengaja?"


" Ya iyalah Bi namanya orang kalau menghina itu ya disengaja."


Bi siti menunjukkan giginya ia tersenyum lalu menggaruk belakang kepalanya," Ya sudah nggak apa-apa. Nyonya tinggal minta maaf saja sama si sarla itu."


mendengar perkataan pembantunya membuat Wulan, melambai-lambaikan kedua tangannya." Loh kenapa nyonya kepanasan? "


" Bukan kepanasan bi, tapi aku males sekali, di mana. Harga Diriku kalau aku harus meminta maaf kepada maduku sendiri, itu rasanya .... " Wulan tak bisa meneruskan perkataannya, hingga di mana iya berucap lagi, " kalau untuk minta maaf aku tidak bisa. "


pembantu itu mulai menasehati majikannya untuk tidak egois pada dirinya sendiri, hanya karena miminta maaf Wulan sampai begitu gengsinya.


" Nyonya. Apa salahnya Nyonya itu menurunkan dulu harga dirinya dan rasa malu Nyonya menghilangkan semua kegengsian Nyonya hanya untuk kebaikan Nyonya ke depannya."


Apa yang dikatakan Bi Siti ada benarnya, jika Wulan terus egois dan mementingkan harga dirinya sendiri, tanpa mau meminta maaf kepada Sarla, kemungkinan besar rencananya tidak akan berjalan.


Iya akan terus dihina dicaci dimaki dan disiksa oleh Daniel, sampai dirinya benar-benar lemah dan tak berdaya atau mati sekalian di tangan Daniel saat itu juga.


"Nyonya, percayalah pada saya, Sarla itu pasti mau memaafkan Nyonya, dia wanita yang baik hati tidak mau membuat orang lain kecewa."


Bi Siti berusaha meyakinkan majikannya itu, di mana Wulan menggelengkan kepalanya, merasakan rasa pusing yang amat sakit sekali hingga menyerang ke kepala bagian belakangnya.


"Bi, Wulan mau istirahat saja dulu, Wulan tidak mau memikirkan masalah itu dulu, biarkan besok Wulan yang menentukan semuanya, mudah-mudahan pikiran Wulan ini menjadi agak tenang dan tak terlalu kacau seperti sekarang."


Wulan pergi, ia masuk ke dalam kamarnya, setelah berpamitan dengan Bi Siti.

__ADS_1


__ADS_2