Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 168


__ADS_3

Wulan mendekat pada kedua wanita yang duduk di atas sofa sembari bercanda bergurau, dengan berkacak pinggang Wulan dihadapan keduanya. "Bu, bisa tidak jangan melakukan hal seperti tadi, aku lihatnya merasa jijik."


Wulan meluapkan kekesalannya dihadapan Sarla dan juga ibu mertua. " Kenapa jijik, Sarla juga kan istri Daniel. "


"Memang Sarla istri Daniel, tapi kan Daniel sudah lupa dengan dia, jadi sudahlah bu. Jangan mendekatkan lagi Sarla dengan suamiku, toh anak itu lahir, Sarla akan pergi dari sini. " Cecar Wulan pada sang ibu mertua.


"Wulan." Alenta tak diberi kesempatan untuk berbicara sedikitipun. Sampai dimana Wulan menatap tajam kearah Sarla. " Heh, Sarla, jangan karena kamu di sini mendapatkan pembelaan dari ibu bisa bisanya hanya pasrah saja, saat ibu suruh Daniel dekat denganmu. Tolong dong tetap berpegang teguh pada pendirianmu, kamu sendirikan kan yang menjanjikan akan memberikan anak itu dan menjauhkahkan diri dari Daniel. Harusnya nie ya, kalau ibu suruh kamu dekat dekat dengan Daniel kamu itu cari cara buat menjauh, bukan malah kesenangan kaya cacing kepanasan. Yang butuh belaian kasih sayang. "


Sarla menundukkan pandangan, dari tatapan Wulan yang seakan ingin menelannya. Kedua pipinya memerah, ia seperti orang munafik yang menelan ludahnya sendiri.


Karena butuh kehangatan dan kepedulian hingga Sarla lupa akan pendiriannya. " Maafkan aku Wulan, aku tidak akan mengulangi kejadian tadi. Sebisa mungkin aku akan menghindar. "


"Nah, gitu dong bagus. Akhirnya kamu sadar diri, oh ya ibu jangan marah padaku. Aku melakukan semua ini atas keinginannya, " balas Wulan, menunjuk ke arah Sarla. " Jadi wajar dong aku melakukan semua ini, toh demi kebaikan dia. Benar tidak apa yang aku katakan Sarla?"


Sarla menganggukkan kepala, dihadapan ibu mertua. " Benar. "


"Tuh kan ibu dengar sendiri dari mulutnya yang seksi itu, " ucap Wulan seakan menyindir habis habisan istri kedua Daniel itu.


"Wulan, tapi tidak .... "


Wulan langsung memotong pembicaraan Alenta," Maaf bu, aku potong perkataan ibu. Jika orang sudah berjanji, pastinya harus di tepati. Dan ibu juga harusnya menjadi mertua bijak yang mengerti akan kondisi dan keinginan kedua menantunya, jangan condrong ke satu pihak saja. Harus adil dong bu. "


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Wulan mulai pergi dari kedua wanita yang ia anggap orang orang tidak tahu diri.


Kepergian Wulan, membuat Alenta kini berucap, " Sarla kenapa kamu malah mengorbankan kebahagiaanmu. "


"Ibu ngomong apa. Sarla tidak mengorbankan kebahagiaan yang Sarla rasakan saat ini, Sarla bahagia dengan apa yang Sarla lakukan. "


Alenta meraih dagu Sarla, mengangkatnya secara perlahan. " Jangan membohongi diri kamu sendiri, Sarla. "


Sarla meraih tangan yang terlihat mengkerut itu , "Aku tidak sedang membohongi diriku sendiri bu, sudahlah bu, yang terpenting sekarang ibu doakan Sarla melahirkan anak Daniel, cucu ibu. "


"Tapi Sarla. "


Tatapan sayu Sarla membuat wanita tua itu merasa tak tega. " Bu, percaya ya pada Sarla. "


"Baiklah kalau begitu ibu tidak akan pernah memaksa kamu sayang. "


"Terima kasih atas pengertiannya bu. "


Sarla beranjak pergi, dari hadapan ibu mertua.


"Sarla, ibu merasa kamu tertekan dengan keadaan ini. Aku terlalu memaksakan Sarla untuk tinggal di sini. "


********


Daniel masih dalam perjalanan ke kantor, ia nampak gelisah. Terlebih lagi Daniel merasakan hal yang tak biasa dalam hidupnya.

__ADS_1


Tangan yang mengelus perut Sarla, membuat hati dan perasaannya berdebar.


"Ahk, sejauh ini aku menyiksa diriku demi kebahagian Sarla."


Air mata menetes, seorang Daniel lelaki keras kepala dan jutek, bisa bisanya menangis di dalam mobil. " Bodoh ngapain aku menangis, inikan rencanaku untuk melupakan Sarla. Lepaskan Daniel, lepaskan Sarla dari hidupmu. "


Daniel menasehati dirinya sendiri, berusaha keras untuk tetap melupakan Sarla dengan caranya sendiri. " Ngapain coba ibu bawa Sarla ke rumah, dan Wulan lagi. Ahk, bodoh mereka semua. Aku terpaksa melupakan Sarla dengan cara ini, agar tidak menyakiti hatinya."


Sampai di depan kantor, Varel datang, lelaki berparas tampan itu kini menghampiri Daniel.


"Pak Daniel, apa kabar. "


"Baik."


Mereka berjalan, sampai di mana. Brukk. Pukulan dari seseorang datang. Terlihat lelaki itu tampak murka, " Heh, anj*ng pembunuh. "


Daniel terkejut dengan sosok mantan selingkuhan Wulan yang tiba tiba saja memukulnya.


"Gara gara kamu anakku mati. "


Satpam dan para penjaga mengamankan Angga, dimana Daniel yang berpura pura hilang ingatan kini memukul Angga hingga bapak belur.


Varel yang melihat pemandangan itu kini berusaha menenangkan Daniel.


"Pak Daniel, sebaiknya anda tenang. Biar satpam yang mengamankan orang itu. "


Emosi yang meluap membuat Daniel menyuruh para satpam yang mengamakan Angga, untuk membawanya ke kantor polisi.


"Bawa dia ke kantor polisi, kalau bisa jebloskan saja. Atas penganiayaan."


"B*ng*at kau. Daniel. "


Angga kini di seret paksa oleh para satpam yang berjaga di kantor Daniel.


Sedangkan Daniel mulai masuk ke dalam kantor, dengan kemarahan yang ia rasakan, duduk di atas kursi. Asisten di kantornya, mulai membawakan obat p3k.


"Biar saya obati, pak. "


. Daniel menolak dengan menjawab." Biar saya sendiri saja. "


"Baik pak. "


"Sekarang kamu tinggalkan saja saya sendiri di sini. "


Asisten di kantornya kini pergi dari ruangan Daniel. " Sialan, si Angga itu tidak ada kapoknya. Sudah aku peringatkan juga. "


Daniel mencoba meraih ponselnya untuk segera menelepon Wulan, ia ingin menanyakan tentang Angga, di saat kepura puraannya, apakah Wulan akan berkata jujur.

__ADS_1


"Halo, Wulan. "


"Sayang, tumben kamu menelepon. Ada apa?"


"Tadi ada orang yang memukulku, dia berkata bahwa aku sudah membunuh bayinya!"


"Eeh, siapa?"


Daniel mulai menjelaskan fisik lelaki itu, dimana wulan terlihat gelisah. " Apa dia ada hubungannya denganmu Wulan."


"Hubungan, apa maksud kamu sayang. Jelas tak ada kok, aku tak tahu dia siapa?"


Tetap saja Wulan tak mengaku, padahal Daniel dari dulu ingin kejujuran dari mulut istrinya. "Benarkah itu?"


"Iya!"


"Ya sudah, aku tutup panggilan teleponnya ya. Kebetulan ada metting sekarang. "


"Ya sudah, hati hati sayang."


Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, dimana Wulan gelisah saat sang suami membahas tentang Angga.


"Sialan, kenapa si Angga itu muncul lagi, seharusnya dia itu hilang dari muka bumi ini, aku harus mencari cara untuk meleyapkan dia. "


Gerutu Wulan.


"Siapa yang akan kamu musnakan Wulan?" tanya Alenta tiba-tiba saja muncul di hadapan Wulan.


"Bu, ee. Ibu salah dengar, tadi ada kecoa lewat, gitu!" jawab Wulan, pada sang ibu mertua.


"Tadi kamu habis mengobrol dengan siapa?" tanya Alenta begitu penasaran.


Sedangkan Wulan malas membalas perkataan mertuanya, " itu bu, Daniel menelepon, katanya tadi ada orang gila yang mukul wajahnya. "


"Apa? Orang gila?" sontak wanita tua itu terkejut dengan perkataan Wulan, " bagaimana bisa ada orang gila masuk ke kantor Daniel, kamu ini ngaco, kantor Daniel kan tidak sembarang orang masuk. "


"Ya bisa saja bu, orang gila itu tiba tiba masuk saat satpam lengah. Oh ya bu, Wulan pergi dulu, banyak urusan. " Wulan berusaha menghindar dari hadapan sang ibu mertua, ia malas mejawab pertanyaan Alenta terus-menerus, yang malah memojokkan dia untuk berkata jujur.


"Wulan tunggu. "


Wulan mengabaikan teriakan Alenta, di mana menantunya itu terburu-buru pergi, " Kenapa dengan si Wulan itu?"


Wulan yang berhasil menghindari, kini terburu-buru mengambil tas dan mengganti pakaiannya untuk segera pergi.


Alenta mengikuti langkah menantunya itu. " Mau pergi kemana?"


Pertanyaan sang mertua membuat Wulan kembalikan badan kalau menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku jawab. " Gumam hati Wulan


__ADS_2